iklan

Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

Sosok

» » » Bulukumba Mendunia Berkat Bira dan Phinisi


Asnawin Aminuddin 3:30 PM 0


Banyak orang luar Sulsel dan luar negeri yang tidak mengenal Bulukumba, tetapi mereka mengagumi pantai pasir putih Bira dan perahu phinisi. Dari situ barulah mereka mengenal Bulukumba. Illutrasi foto direkam dari www.boatquest.com.






------------------------------------------


Bulukumba Mendunia Berkat Bira dan Phinisi


Oleh: Asnawin Aminuddin

Pengantar:
Bulukumba adalah salah satu kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan. Bulukumba berjarak kurang lebih 150 km dari Kota Makassar (ke arah selatan).

Ada beberapa kelebihan yang dimiliki kota berjuluk “Butta Panrita Lopi” ini, antara lain lahirnya seorang pahlawan nasional bernama Andi Sultan Daeng Radja, kawasan adat “desa hitam” Kajang, kawasan pantai pasir putih Tanjung Bira, makam Dato Tiro (salah seorang pembawa agama Islam di Sulawesi Selatan), serta pembuatan perahu tradisional Phinisi.

Guna mengenal lebih jauh daerah yang juga memakai motto “Bulukumba Berlayar” itu, saya mencoba menulis artikel bersambung yang dikutip berbagai sumber, serta pengetahuan dan pengalaman pribadi sebagai anak Indonesia yang lahir dan besar di Bulukumba.
***

NAMA Bulukumba mungkin tidak terlalu dikenal di pentas nasional. Banyak orang yang berkerut keningnya kalau ditanya tentang Kabupaten Bulukumba. Namun bagi mereka yang suka berekreasi atau berkunjung ke objek-objek pariwisata, nama Tanjung Bira bukanlah sesuatu yang asing.

Para penggemar alam bawah laut juga banyak yang telah menyelam (diving) dan menikmati indahnya pemandangan alam bawah laut di Tanjung Bira.

Perahu phinisi juga lebih terkenal dibandingkan nama Bulukumba, padahal perahu phinisi awalnya berasal dari Bulukumba.

Banyak hotel yang menamakan salah satu ruangan pertemuan mereka dengan sebutan Bira Room atau Phinisi Room.

Sepintas lalu sebagian orang tidak terlalu mengenal apa itu Bira dan atau Phinisi, tetapi setelah melihat lukisan, foto, miniatur perahu phinisi, dan berbagai suvenir yang berada di dalam atau di sekitar ruangan tersebut (Bira Room dan Phinisi Room), maka mereka akan segera tahu bahwa Bira itu adalah salah satu pantai pasir putih yang indah di Kabupaten Bulukumba. Mereka juga akan segera tahu bahwa perahu phinisi itu adalah perahu tradisional dari Kabupaten Bulukumba.

Nama Bulukumba juga dikenal karena adanya kawasan adat Kajang. Kawasan ini dihuni etnis Kajang yang hingga kini masih menjaga tradisi kehidupannya secara turun-temurun, antara lain selalu memakai pakaian hitam, tidak menggunakan alas kaki, dipimpin oleh seorang kepala suku (Ammatoa), serta menjaga kelestarian hutan.

Konon, Ammatoa dan sejumlah orang Kajang memiliki ”ilmu” yang bisa meramalkan atau ”melihat” kejadian yang datang, dapat menyembuhkan orang sakit, serta kebak terhadap api dan benda-benda tajam.

Bagi para ahli sejarah Islam, nama Bulukumba juga ditemukan karena pernah ada salah seorang penyebar agama Islam di Sulawesi Selatan yang kemudian bermukim dan akhirnya meninggal dunia di Bulukumba.

Orang tersebut bernama asli Abdul Jawad, yang menyebarkan Islam di wilayah bahagian selatan Sulawesi Selatan, utamanya di Kabupaten Bulukumba yang menekankan pelajaran tasawwuf kepada rakyat.

Abdul Jawad mengajarkan tasawwuf karena masyarakat Bulukumba ketika itu lebih menyukai hal-hal yang bersifat kebatinan. Abdul Jawad kemudian meninggal dunia di Kecamatan Bontotiro dan digelari Dato Tiro atau Datok ri Tiro. Makamnya hingga kini selalu ramai dikunjungi orang dari berbagai penjuru tanah air dan dari luar negeri. (bersambung)

----------
Daftar Pustaka:
-www.bulukumbakab.go.id
-Djumbia, Amir, Menelusuri Awal Masuknya Islam di Sulsel, 14 September 2007, www.tribun-timur.com
-Afif, Afthonul, Hidup Selaras dengan Alam sebagai Kosmologi Suku Kajang, Bulukumba, Sulawesi Selatan, direkam dari http://melayuonline.com/culture/, pada hari Minggu, 26 Juli 2009

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments

Leave a Reply