iklan

Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

Sosok

» » PUI Sulsel: Waspadai Munculnya Simbol Partai Komunis


Pedoman Karya 12:07 AM 0


“Isu komunisme ini perlu diwaspadai. Meskipun saat ini belum terang-terangan, tetapi simbol-simbol partai komunis sudah muncul di beberapa tempat.”
-- Abubakar Wasahua --
(Ketua Persatuan Umat Islam, Provinsi Sulsel)







-------Sabtu, 14 Mei 2016


PUI Sulsel: Waspadai Munculnya Simbol Partai Komunis


MAKASSAR, (PEDOMAN KARYA). Pemerintah dan masyarakat perlu mewaspadai munculnya simbol-simbol partai komunis, karena munculnya simbol-simbol partai komunis itu dapat diartikan sebagai sebuah gejala bangkitnya kembali aliran komunisme di Indonesia.
Di sisi lain, pemerintah dan masyarakat juga perlu menyadari bahwa generasi muda kita sekarang sedang mengalami krisis identitas, krisis harga diri, dan krisis moral, terbukti dengan mudahnya generasi muda terpengaruh godaan penggunaan simbol-simbol partai komunis, godaan narkoba, dan keterlibatan dalam aksi-aksi anarkis seperti rampok dan begal.
“Isu komunisme ini perlu diwaspadai. Meskipun saat ini belum terang-terangan, tetapi simbol-simbol partai komunis sudah muncul di beberapa tempat,” ungkap Ketua Persatuan Umat Islam (PUI) Provinsi Sulsel, Drs H Abubakar Wasahua, kepada wartawan di Makassar, belum lama ini.
Sehubungan dengan banyaknya masalah yang tengah dihadapi dewasa ini, katanya, maka pengurus PUI Sulsel melakukan safari kunjungan ke sejumlah ulama kharismatik di Sulsel untuk meminta masukan dan menyamakan persepsi guna mencari solusi atas berbagai masalah tersebut.
Salah seorang ulama yang telah dikunjungi yaitu Prof Dr H Ghalib MA, dosen yang juga Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulsel, pada Rabu malam, 11 Mei 2016. Dalam kunjungan tersebut, Ketua PUI Sulsel, Abubakar Wasahua antara lain didampingi Dr Nur Yamin, Andi Ahmad Agung, Rahim Mayau, Mohammad Yahya Mustafa, Supardi, dan Nasrullah Rahim.
“Selain meminta masukan dan menyamakan persepsi, kami juga ingin memperkenalkan organisasi kemasyarakatan Persatuan Umat Islam yang berdiri pada tahun 1952,” papar Abubakar.
Isu lain yang telah dan akan dibahas bersama para ulama kharismatik se-Sulsel tersebut, katanya, yaitu tentang pemikiran orang-orang Islam dan musuh-musuh Islam soal pembubaran sejumlah ormas Islam yang dianggap tidak Pancasilais.
“PUI Sulsel ingin mengambil peran yang banyak dalam memperbaiki bangsa ini, terutama di dalam meluruskan adanya paham-paham yang bertentangan dengan Al-qur’an dan sunnah nabi. PUI Sulsel juga ingin membantu mensosialisasikan kebijakan yang difatwakan oleh MUI, yang selama ini dianggap tidak maksimal,” jelas Abubakar. (ulla/yahya/win)

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments

Leave a Reply