iklan

Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

Sosok

» » Haedar Nashir: Dulu, MPR-RI Sangat Refresentatif


Pedoman Karya 6:25 PM 0


TAUZIYAH. Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, memberikan tauziyah pada acara Silaturrahim Keluarga Besar Muhammadiyah Sulsel, di Kampus Unismuh Makassar, Sabtu, 16 Juli 2016.





--------
Senin, 18 Juli 2016


Haedar Nashir: Dulu, MPR-RI Sangat Refresentatif


MAKASSAR, (PEDOMAN KARYA). Dulu, Majelis Permusyawatan Rakyat Republik Indonesia (MPR-RI) sangat refresentatif dan merupakan penjelmaan seluruh rakyat Indonesia, karena di dalamnya ada perwakilan politik, ada perwakilan daerah, dan juga ada utusan golongan.
Setelah dilakukan perubahan UUD 1945, perwakilan politik dan perwakilan daerah tetap ada melalui Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) dan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD-RI) yang dipilih melalui Pemilihan Umum (Pemilu), sedangkan utusan golongan dihilangkan.
“Itu kesalahan fatal. Ormas-ormas (organisasi kemasyarakatan) akhirnya tersisih dan ini berimplikasi terhadap sistem ketatanegaraan kita,” tandas Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, saat berbicara pada acara Silaturrahim Keluarga Besar Muhammadiyah Sulsel, di Kampus Unismuh Makassar, Sabtu, 16 Juli 2016.
Meskipun tersisih, katanya, Muhammadiyah dan Ormas-ormas lainnya harus tetap mengambil peran dalam membangun bangsa dan juga harus tetap senantiasa menjalin silaturrahim dengan pemerintah.
“Pimpinan di pemerintahan, mulai dari atas sampai ke bawah, boleh berganti. Yang penting, kita tetap menjalin silaturrahim,” ujar Haedar.
Inti dari silaturrahim, lanjutnya, adalah mempertautkan atau menjalin kebersamaan dan persaudaraan. Sebaliknya, musuh dari silaturrahim adalah memutus persaudaraan.
Memutus persaudaraan jauh lebih gampang dibandingkan menjalin persaudaraan. Musuh silaturrahim adalah benih-benih konflik dan perpecahan. Sekali konflik itu dimulai, maka menyambungnya itu tidak akan gampang, apalagi kalau konlik itu menyangkut kepentingan.
“Maka kalau ada konflik, selesaikanlah dengan saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya,” kata Haedar yang disambut senyum dan tepuk-tangan para tamu dan undangan.
Acara silaturrahim tersebut dihadiri Anggota DPD-RI Iqbal Parewangi, Ketua Muhammadiyah Sulsel Prof Ambo Asse, Gubernur Sulsel, Kapolda Sulsel, Pangdam VII/Wirabuana, Walikota Makassar Mohammad Ramdhan Pomanto, Pimpinan Daerah Muhammadiyah se-Sulsel, pimpinan amal usaha Muhammadiyah se-Sulsel, sejumlah undangan, serta ratusan kader dan simpatisan Muhammadiyah. (an)


«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments

Leave a Reply