iklan

Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

Sosok

» » Sapaan Manis Allah kepada Manusia


Pedoman Karya 7:53 PM 0


IDUL FITRI. Rektor Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Dr Irwan Akib, tampil sebagai khatib shalat Idul Fitri 1437 H, di Lapangan KH Sanusi Maggu, Kampus Universitas Muhammadiyah parepare (Umpar), Rabu, 6 Juli 2016. (ist)










---
Kamis, 07 Juli 2016


Sapaan Manis Allah kepada Manusia


PAREPARE, (PEDOMAN KARYA). Allah SWT menyapa manusia dengan sapaan manis: “Wahai hamba-hambaku”. Allah SWT menyapa menusia dengan manis, meskipun hamba-hamba-Nya telah larut dalam dosa dan petualangan.
“Sapaan manis itu diharapkan akan mampu membangkitkan relung hati kita yang paling dalam untuk berubah, untuk siuman, ke arah perbaikan dan koreksi diri secara total dan sungguh-sungguh,” kata Rektor Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Dr Irwan Akib.
Hal tersebut dikemukakan Irwan saat tampil sebagai khatib shalat Idul Fitri 1437 H, di Lapangan KH Sanusi Maggu kampus Universitas Muhammadiyah parepare (Umpar), Rabu, 6 Juli 2016.
Dalam Al-qur'an, Surah Az-Zumar ayat 53 & 54, kata Irwan Akib, Allah berfirman: “Katakanlah! Wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas atas diri mereka (telah berkubang dalam dosa dan dusta), janganlah kamu putus harapan dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah akan mengampuni semua dosa, sesungguhnya Ia Maha Pengampun, penyayang. Dan kembalilah kepada Tuhan-mu, dan berserah-dirilah kepada-Nya sebelum azab datang kepadamu, kemudian kamu tidak dapat ditolong lagi.”
Dia mengatakan, Hari Raya Idul Fitri tahun ini dirayakan di tengah keprihatinan yang melanda umat dan generasi masa depan bangsa. Kerusakan akhlak yang melanda sebagian besar generasi muda kita hampir sempurna.
Pergaulan bebas, meminum minuman keras, penggunaan narkotika, dan berbagai perilaku menyimpang lainnya, terasa akrab dan menjadi bagian dari kehidupan generasi muda.
“Generasi masa depan yang diharapkan membawa perubahan dan kebaikan di negeri ini, semakin jauh merosot ke lembah kehinaan, mereka telah dikuasai nafsu dan mereka kehilangan arah,” sebut Irwan.
Fenomena lain yang masih akrab dalam keseharian kita yaitu penderitaan rakyat yang kadang hanya menjadi jualan para elit, sementara sebagian elit semakin menunjukkan kerakusannya, menumpuk harta, seakan-akan tidak akan berpisah dengan hartanya.
Mereka berlomba menunjukkan kekuasaan dan keunggulan kelompoknya, mereka berlomba menunjukkan kemewahan tanpa peduli bagaimana cara memeroleh harta tersebut, bahkan bila perlu harus melenyapkan nyawa saudaranya demi kemewahan, merampas hak orang lain, mengeruk isi perut bumi. Semua itu mereka lakukan dengan penuh kebanggaan.
“Pada sisi lain, sebagian besar rakyat bersusah payah mengais rezeki untuk sekadar bertahan hidup, untuk sekadar mengganjal perutnya dengan sebiji nasi,” papar Irwan.
Indonesia tercinta dengan jumlah penduduk lebih dari 200 juta, kini masih saja tertatih-tatih dalam memetakan masa depannya, sementara negara-negara tetangga sudah semakin melaju dan melaju dalam upaya memberi kesehjahteraan kepada rakyatnya.
Kita masih disibukkan oleh kepentingan diri masing-masing, para elit sibuk dengan dirinya, para koruptor sibuk mencari cara agar harta hasil korupsinya tidak ketahuan, para pelanggar hukum yang notabene orang-orang yang sangat paham tentang hukum, justru sibuk menyembunyikan pelanggarannya, sementara rakyat semakin menampakkan kesengasaraannya, kemiskinan semakin meningkat, pengangguran tidak semakin berkurang, kekerasan semakin menjadi-jadi, rakyat kehilangan arah, tidak ada panutan di tengah kebingungan anak-anak bangsa dalam mencari jati dirinya.
Kita sebenarnya tidak kekurangan orang pintar, tapi yang kurang adalah sosok-sosok manusia yang peka dan arif dalam menyikapi masalah-masalah besar yang datang silih berganti.
"Dengan demikian, kecerdasan otak semata sudah tidak memadai lagi. Kecerdasan otak perlu dilengkapi dengan kecerdasan rohani, yang seharusnya lahir antara lain dari praktek berpuasa. Rasa lapar dan dahaga selama satu bulan (berpuasa), semestinya membangunkan kepekaan batin akan tanggungjawab kolektif untuk memperbaiki keadaan yang terlanjur rusak,” tutur Irwan.
Kita berharap, lanjutnya, mudah-mudahan dusta dan dosa kolektif kita belum sampai kepada batas yang tidak dapat ditolong. Mudah-mudahan kita akan segera siuman.
“Ini harapan kita semua. Kita harus bangkit kembali dengan stamina baru yang lebih segar dan prima, berkat puasa Ramadhan selama satu bulan penuh yang sudah dilewati,” ujar Irwan. (an)



«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments

Leave a Reply