iklan

Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

Sosok

» » » Nabi Ibrahim dan Penyembah Patung


Pedoman Karya 9:00 PM 0


PATUNG HANCUR. Saat kampung menjadi kosong, saat itulah Nabi Ibrahim pergi ke rumah berhala, pusat pemujaan berhala, menghancurkan benda-benda itu satu persatu. Ia sengaja meninggalkan satu berhala besar utuh dengan sebuah kapak dikalungkan pada lehernya. Ketika penduduk dan Raja Namrud pulang, mereka melihat berhala-berhala sudah hancur. (int)




------
PEDOMAN KARYA
Sabtu, 21 Januari 2017


Nabi Ibrahim dan Penyembah Patung


Nabi Ibrahim alaihissalam, dilahirkan di sebuah tempat bernama Faddam, A’ram, Mausul, Irak, yang termasuk wilayah Kerajaan Babilon. Waktu itu, Kerajaan Babilon diperintah oleh seorang raja yang bengis dan mempunyai kekuasaan yang absolut, yaitu Raja Namrud.
Ayah Ibrahim bernama Azar (Tarih) bin Tahur bin Saruj bin Rau’ bin Falij bin Aabir bin Shalih bin Afrakhsyad bin Sam bin Nuh AS. Ia adalah seniman membuat patung yang ulung, dan sangat dicintai oleh Raja Namrud. Patung-patung buatan ayahnya itu dijadikan sesembahan. Patung-patung itu dianggap sebagai Tuhan.
Suatu saat, Raja Namrud mendapat firasat, bahwa suatu waktu akan lahir anak laki-laki yang akan menjatuhkan takhta kerajaannya. Sejak itu, Raja Namrud yang mengaku dirinya sebagai Tuhan, memerintahkan tentaranya agar menjaga seluruh pelosok negeri.
Bila menemukan bayi lelaki, mereka harus segera membunuhnya. Hal ini leluasa dilakukannya, sebab memang negeri Irak pada saat itu tidak mempunyai undang-undang. Semua keputusan ada di tangan Raja.
Maka banyak sekali bayi lelaki yang mati pada masa itu. Pada masa itu pula, isteri Azar (dalam Kitab Taurat, Azar disebut dengan nama Taroh) melahirkan seorang bayi laki-laki. Mendengar berita buruk itu dan karena takut anaknya dibunuh oleh tentara kerajaan, Azar kemudian membuang Ibrahim ke sebuah gua di dalam hutan.
Atas kehendak Allah, Ibrahim tidak diganggu binatang buas. Dia pun tidak pernah kelaparan dan kehausan. Atas kehendak Allah pula, jari-jari Ibrahim dapat mengeluarkan cairan madu.
Mulut Ibrahim tinggal mengulum dan mengecup jari-jemarinya yang dapat mengeluarkan madu itu, bila dia lapar dan haus. Menurut perkiraan Azar, bayi yang dibuangnya itu sudah mati dimakan binatang buas, atau mati karena kelaparan dan kehausan.
Ternyata dugaan Azar meleset. Ibrahim malah sehat segar-bugar dan makin besar. Azar senang sekali. Ibrahim ingin pulang, tetapi Azar melarang, karena keadaan di dalam kota tidak aman bagi anak-anak laki-laki. Setelah remaja Ibrahim pun keluar dari dalam gua untuk mencari ibu dan ayahnya. Saat itu, dia makin memahami keadaan dengan pikirannya yang cerdas.
Keajaiban atau keanehan ini disebut irhash, yaitu suatu keajaiban yang luar biasa yang terjadi pada diri seorang Rasul semasa kecilnya, dengan izin Allah SWT.
Ketika dewasa, Ibrahim diutus Allah menjadi Rasul-Nya. Nabi Ibrahim heran menyaksikan ayahnya menyembah patung buatannya sendiri. Penduduk negeri pun menyembah berhala. Raja Namrud begitu juga.
Patung-patung yang disembah ayahnya, yang dijadikan Tuhan oleh penduduk, juga oleh Raja Namrud, menggangu pikiran dan perasaannya.
Dia selalu termenung dan bertanya-tanya: “Mengapa manusia menyembah patung atau berhala-berhala itu? Padahal patung-patung itu tidak dapat mendengar dan melihat, apalagi menghidupkan dan mematikan? Kalau berhala-berhala itu adalah Tuhan, yang dibuat manusia, siapakah yang menciptakan manusia?”
Siang dan malam Ibrahim mencari-cari Tuhan yang sebenarnya dengan akalnya sebagaimana diterangkan dalam Al-Qur’an. “Ketika hari telah malam, Ibrahim melihat bintang. Katanya: Inilah Tuhanku. Tetapi setelah dilihatnya bintang itu terbenam, ia berkata, aku tidak akan ber-Tuhan kepada yang terbenam. Sesudah itu ia juga melihat Bulan Purnama yang memancarkan cahayanya gilang gemilaang, ia pun berkata: Inilah Tuhanku. Tetapi setelah bulan itu lenyap, lenyap pula pendapatnya ber-Tuhan pada bulan itu. Dan ia pun berkata, kalau tidak Tuhanku yang sebenarnya yang menunjukkan, tentu aku akan menjadi sesat. Pada waktu siang dilihatnya matahari (yang lebih besar dan lebih bercahaya dari pada apa-apa yang dilihat sebelumnya) maka iapun berkata: Oh, inilah Tuhanku yang sebenarnya, inilah yang paling besar, tetapi setelah matahari terbenam ia pun berkata: Hai kaumku, aku tidak mau menyekutukan Tuhan sepertimu, aku hanya ber-Tuhan kepada yang menjadikan langit dan bumi dengan ikhlas dan sekali-kali tidak mau mempersekutukan-Nya.” (Al-An’am: 76-78).
Setelah Nabi Ibrahim melakukan dakwahnya, menyiarkan agama Allah, dia berani membersihkan kepercayaan-kepercayaan yang tidak benar. Dia pun berani menghancurkan berhala-berhala yang tidak memberi manfaat.

Menghancurkan Berhala

Bangsa Babilon pada masa itu, setiap tahun punya tradisi memperingati hari raya besar, dengan cara meletakan sesajian, berupa makanan dan minuman di pusat pemujaan berhala, di Haekal.
Beragam Makanan dan minuman diletakan di antara patung-patung. Bangsa Babilon ingin melakukan pemujaan terhadap berhala secara bersama-sama sembari menggelar pesta makanan dan minuman. Yang datang terutama adalah Raja Namrud dan para pembesar kerajaan, disertai bala tentaranya.
Seperti biasanya, sebelum acara pemujaan dan pesta dimulai, semua orang harus pergi ke luar kota untuk berburu. Mereka keluar kampung bersama Raja Namrud.
Saat kampung menjadi kosong, saat itulah Nabi Ibrahim pergi ke rumah berhala, pusat pemujaan berhala, menghancurkan benda-benda itu satu persatu. Ia sengaja meninggalkan satu berhala besar utuh dengan sebuah kapak dikalungkan pada lehernya.
Ketika penduduk dan Raja Namrud pulang, mereka melihat berhala-berhala sudah hancur. Mereka menduga Nabi Ibrahim-lah yang memecahkan tuhan-tuhan mereka itu. Raja Namrud murka. Nabi Ibrahim pun dipanggilnya.
“Wahai Ibrahim, engkaukah yang memecahkan berhala-berhala itu?” tanya Raja Namrud setelah Nabi Ibrahim menghadap.
“Bukan aku. Berhala besar itu yang menghancurkan berhala-berhala yang kecil itu, buktinya kapak masih tergantung di lehernya,” jawab Nabi Ibrahim.
Raja Namrud bertambah marah; “Mana mungkin patung dapat berbuat semacam yang engkau katakan itu!”
“Kalau patung itu tidak dapat berbuat apa-apa, mengapa kalian sembah?” tanya Nabi Ibrahim.
Raja Namrud kehilangan kesabarannya, rakyat disuruh mengumpulkan kayu bakar sebanyak-banyaknya untuk membakar Ibrahim. Setelah kayu bakar itu terkumpul bertimbun-timbun, maka api unggun besar pun dibuatnya.
Tapi mereka merasa kebingungan sendiri, bagaimana caranya memasukkan Ibrahim ke dalam api yang sedang berkobar-kobar itu. Akan diantarkan sendiri oleh mereka tentu tidak mungkin, sebab mereka tidak mampu mendekati kobaran api besar itu dari jarak yang agak dekat.
Kemudian Ibrahim dibakar di dalam api unggun yang berkobar-kobar itu dengan memasukkan Nabi Ibrahim ke dalam api dari jarak yang jauh dengan cara Nabi Ibrahim diletakkan di suatu tempat yang dapat dilentingkan seperti anak panah yang dapat dilentingkan dari jarak jauh ke arah sasaran yang dituju.
Merekapun merasa puas dan berkerumun menonton dari jauh peristiwa yang sangat mengerikan itu. Mereka mengira bahwa Nabi Ibrahim telah berakhir hidupnya dan merekalah yang menang dalam hal ini.
Tetapi alangkah terkejutnya mereka sewaktu api sudah padam, kayu bakar sudah habis, Nabi Ibrahim keluar dari dalam api dengan selamat, bahkan sehelai rambut pun tak ada yang terbakar dan tak sedikitpun merasakan panasnya api tersebut.
Allah berfirman kepada api, sebagaimana tertulis dalam Al-Qur’an: “Wahai api, hendaklah dingin dan selamatkan Ibrahim!” (Al-Ambiya: 69).
Nabi Ibrahim selamat, ia  merasakan api yang berkobar-kobar itu dingin saja.

Hijrah ke Palestina

Setelah selamat dari kobaran api, Nabi Ibrahim mengajak ayahnya untuk cepat bertobat dan memeluk agama Allah, seperti tercantum di dalam AL-Qur’an, surah Maryam, ayat 41–45: “Sesungguhnya ia adalah Nabi yang benar. Ketika ia berkata kepada bapaknya: Wahai bapakku, mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar dan tidak melihat dan tiada bermanfaat kepada Engkau sedikitpun? Wahai bapakku, jangan engkau sembah setan, sesungguhnya setan itu durhaka kepada Allah. Wahai bapakku, sesungguhnya aku takut kepada siksaan Allah yang akan menimpa engkau, maka engkau akan berteman dengan setan di dalam neraka.”
Azar, ayah Nabi Ibrahim menjawab: “Adakah engkau membenci kepada sesembahanku (patung-patung) ya Ibrahim? Ingatlah, jika engkau tidak berhenti menghina Tuhanku, niscaya aku akan melempar (menyiksa)-mu, dan enyahlah engkau dari sini selama-lamanya.” (Maryam: 46).

Karena Negeri Babilon tidak aman lagi bagi Nabi Ibrahim, maka ia memutuskan untuk hijrah ke Syam (Palestina), bersama Luth yang kemudian juga menjadi Nabi, dan beberapa pengikutnya ia meninggalkan Babilon. (Ditulis ulang oleh Asnawin, dari berbagai sumber)

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments

Leave a Reply