iklan

Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

Sosok

» » Memilih Ber-IMM, Memilih Tidak Menjadi “Pelacur Intelektual”


Pedoman Karya 5:50 AM 1


“Ketika Anda memilih jalan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah”, berarti Anda memilih mengikatkan diri dalam barisan yang rapi, berdiri tegak lurus dalam sikap yang benar, dan tidak menjadi pelacur intelektual.”

Fajlurrahman Jurdi -
(Dosen Fakultas Hukum Unhas Makassar/mantan Ketua DPP IMM)








----
PEDOMAN KARYA
Selasa, 14 Maret 2017


Memilih Ber-IMM, Memilih Tidak Menjadi “Pelacur Intelektual”


Oleh: Fajlurrahman Jurdi
(Dosen Fakultas Hukum Unhas Makassar/mantan Ketua DPP IMM)

Bersama adalah pilihan rasional, karena sendiri kadang bisa berakhir tak berdaya. Jika rumah punya tiang-tiang sebagai penyangga, Muhammadiyah punya anak-anak muda perekat, yang berjejal dalam rantai jaringan yang panjang.
Anak-anak muda itu dimulai dari tunas-tunas baru di Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), homo academicus di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), serta benar-benar anak muda di Nasyiatul Aisyiyah (Nasyiah) dan Pemuda Muhammadiyah.
Orang yang berorganisasi punya tujuan, seperti halnya Anda naik kendaraan, tentu memiliki tujuan. Ketika Anda hendak masuk ke dalam organisasi, mesti ada tujuan-tujuan yang hendak dikejar. Semakin kencang Anda bekerja dan memenuhi target, maka akan semakin kuat organisasi yang Anda tumpangi. Kuatnya organisasi biasanya selaras dengan target yang akan dicapai.
Beberapa “tiang”, “penyangga”, atau wadah “tunas-tunas” muda Muhammadiyah yang saya sebutkan di atas, IMM menjadi penentu, karena ia berada di saat situasi transisi, dari remaja yang dilakoni IPM menuju Pemuda yang dinakhkodai oleh Pemuda Muhammadiyah.
Maka jangan heran jika di IPM, pengkaderan kadang bersifat indoktrinasi, sedangkan di IMM sudah mulai reflektif. Jika masih ada yang menggunakan pola indoktrinasi di IMM, berarti ia “ketinggalan kereta”, karena gerbong rasionalitas dan pemikiran sudah jauh melaju ke depan.
Dua organisasi tunas, yakni IPM dan IMM, dimulai dengan nama “ikatan”, bukan “lembaga”, bukan “himpunan”, bukan persatuan”, juga bukan “aliansi”. Makna transendensi dari nama “ikatan” sebenarnya mengacu kepada sesuatu yang “batin”, perekat.
Jika Anda pernah melihat penjual kayu bakar, maka Anda akan menemukan tali pengikat untuk menyatukan kayunya, sehingga tidak berjejal. Kayu bakar yang diikat harus diletakkan secara “sejajar” dan “sama lurus” agar gampang diikat. Semakin rapi posisinya, maka tali untuk mengikat akan gampang dikuatkan.
Secara transendental, “ikatan" sebagai nama “Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah”, merupakan “penyatuan manusia yang rapi dan lurus”. Maksudnya adalah berbaris rapi dalam organisasi dan bekerja secara lurus dan ikhlas.
Jika ada kader IMM yang berharap imbalan, maka sebaiknya ia menyingkir, karena bisa jadi ia pengkhianat. Jika ada pengurus organisasi yang menggunakan kendaraan IMM untuk mencari makan, menipu teman dan sejenisnya, maka ia tidak cocok berada di sana, karena watak yang demikian lebih cocok berbisnis atau berpolitik.
Itulah sebabnya kader IMM disebut “cendekiawan berpribadi”, “susila, cakap, takwa kepada Allah”. Hal ini merupakan konsekuensi dari nama yang berawal dari kata “ikatan.”
Kata “ikatan” diikuti dengan kata “mahasiswa”, yang dalam istilah Pierre Boudieu disebut sebagai homo academicus. Mahasiswa secara harfiah adalah “terpelajar”. Kata terpelajar ini menjadi beban sosial dan beban psikologis tersendiri bagi mereka yang menjalani kuliah di kampus, khususnya bagi yang mengerti tugas dan tanggungjawab insan akademis.
Karena itu, ketika Anda memilih jalan “Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah”, berarti Anda memilih “mengikatkan diri” dalam barisan yang rapi, berdiri tegak lurus dalam sikap yang benar, dan tidak menjadi “pelacur intelektual”.
Pertanyaannya sekarang adalah, apakah tidak ada kader IMM yang menjadi “pelacur intelektual?” Ada, banyakk.... Jika Anda merasa, menyingkirlah dari ikatan ini, karena jika tidak, Anda adalah kawanan yang lepas dari “ikatan.”
Selamat milad ke-53 IMM!

Keterangan:
- Tulisan ini dibuat di Perpustakaan Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin, Makassar, Selasa, 14 Maret 2017


«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

1 comments Memilih Ber-IMM, Memilih Tidak Menjadi “Pelacur Intelektual”