iklan

Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

Sosok

» » » Pendidikan yang Membebaskan untuk Indonesia Berkemajuan


Pedoman Karya 4:22 AM 0



MEMBEBASKAN. Pendidikan yang menghidupkan dan membebaskan, membutuhkan proses interaksi yang menghargai kemerdekaan dan kemandirian, serta potensi diri peserta didik. Strategi yang dapat dilakukan adalah dengan membuka ruang dialog antara pendidik dan peserta didik, yang berlangsung dalam suasana sejuk dan saling menghargai yang ditunjukkan dengan komunikasi dua arah, yang dipandu dengan akhlakul karimah.  





-----------
PEDOMAN KARYA
Rabu, 28 Februari 2018


Pendidikan yang Membebaskan untuk Indonesia Berkemajuan



Irwan Akib
(Guru Besar Pendidikan Matematika FKIP Unismuh Makassar / Wakil Ketua Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan PP Muhammadiyah)

Pendidikan yang menghidupkan dan membebaskan, membutuhkan proses interaksi yang menghargai kemerdekaan dan kemandirian, serta potensi diri peserta didik.
Strategi yang dapat dilakukan adalah dengan membuka ruang dialog antara pendidik dan peserta didik, yang berlangsung dalam suasana sejuk dan saling menghargai yang ditunjukkan dengan komunikasi dua arah, yang dipandu dengan akhlakul karimah.

Sebelum bangsa dan negeri ini diproklamirkan menjadi bangsa dan negeri yang merdeka dan berdaulat, para pendiri bangsa telah melakukan pergumulan pemikiran dengan proses yang panjang, untuk memberi makna kemerdekaan bangsa.
Pergumulan pemikiran tersebut akhirnya menemukan sebuah titik temu tentang makna dan tujuan kemerdekaan sebagai cita-cita nasional yang harus diwujudkan dalam seluruh kehidupan berbangsa dan bernegara.
Cita-cita nasional kemerdekaan sebagaimana tertuang  dalam Pembukaan UUD 1945,  yakni terbentuknya “Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.”
Sedangkan tujuan dibentuknya Pemerintahan Negara Indonesia ialah “melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.”
Cita-cita ini merupakan kristalisasi dari jiwa perjuangan bangsa sebelum maupun sesudah kemerdekaan sekaligus mengandung cita-cita negara ideal Indonesia.
Muhammadiyah sebagai bagian tak terpisahkan dari bangsa dan negeri ini, bahkan menjadi bagian hadirnya negeri yang merdeka ini, memiliki tanggungjawab yang besar dalam mewujudkan cita-cita luhur kebangsaan negeri ini, oleh karena itu melalui Tanwir Muhammadiyah pada bulan Mei 2014 di Samarinda, dihasilkan konsep visioner Muhammadiyah yaitu Indonesia Berkemajuan. Rekonstruksi Kehidupan Kebangsaan yang Bermakna.
Pemikiran tersebut merupakan bukti dari kebesaran Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang berusia lebih tua dan menjadi bagian dari kekuatan nasional yang ikut mendirikan Republik Indonesia tercinta.
Muhammadiyah selain berkiprah melalui amal usaha dan usaha-usaha lain untuk mencerdaskan dan memajukan bangsa ini secara praksis, pada saat yang sama berperan melalui sumbanigan pemikiran, yang menunjukkan kiprah strategis sebagai gerakan Islam modern.
Konsep “berkemajuan” dalam pandangan Muhammadiyah,  melekat dengan tingkat perkembangan kehidupan umat manusia, yang merujuk pada kata dasar “maju” atau “kemajuan” sebagai idealisasi suatu masyarakat, bangsa, dan negara.
Semua negara atau bangsa mencita-citakan kemajuan yang di dalamnya terkandung segala sesuatu yang bersifat kebaikan, keadilan, kesejahteraan, kemakmuran, dan hal-hal lainnya yang menunjukkan keadaan yang lebih baik.
Kata “berkemajuan” mengandung makna proses sekaligus tujuan yang bersifat ideal untuk mencapai segala kondisi yang lebih berkembang ke tingkat keunggulan atau berada di depan dalam kehidupan yang dicita-citakan.
Indonesia yang “berkemajuan” mengandung arti perikehidupan kebangsaan yang maju di segala bidang, baik yang bersifat fisik-materi, maupun ruhani secara menyeluruh diukur dari jiwa dan cita-cita nasional.
“Indonesia Bekemajuan” dalam konteks berbangsa dan bernegara dalam pandangan Muhammadiyah, mengandung subtansi dan senapas dengan cita-cita nasional yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945 yaitu “Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.”
Indonesia yang “Berkemajuan” sejalan dengan semangat “Memajukan Kesejahteraan Umum”, baik kesejahteraan yang bersifat jasmani maupun ruhani, fisik maupun non-fisik.
Dalam tafsiran Muhammadiyah sebagaimana dirumuskan dalam buku “Revitalisasi Visi dan Karakter Bangsa” tahun 2007, bahwa cita-cita nasional Indonesia yang disusun oleh pendiri bangsa tahun 1945 itu diformulasikan dalam pemaknaan “Negara Indonesia yang maju, adil, makmur, bermartabat, dan berdaulat”.
Cita-cita luhur negeri tersebut, hanya dapat diraih bila dikelola dengan baik oleh sumber daya insani yang memiliki kecerdasan dan karakter utama.
Dalam pandangan Muhammadiyah, manusia cerdas adalah manusia Indonesia seutuhnya yang memiliki kekuatan akal budi, moral, dan ilmu pengetahuan yang unggul untuk memahami realitas persoalan, serta mampu membangun kehidupan kebangsaan yang bermakna bagi terwujudnya cita-cita nasional.
Manusia Indonesia cerdas memiliki fondasi iman dan taqwa yang kokoh, kekuatan intelektual berkualitas, kepribadian utama, dan menjadi pelaku kehidupan kebangsaan yang positif sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.
Untuk melahirkan manusia Indonesia yang cerdas dan berkarakter utama seperti yang digambarkan di atas, maka dibutuhkan suatu sistem pendidikan yang tidak hanya memberikan penekanan pada kemampuan kognitif semata, tetapi lebih dari itu, dibutuhkan suatu sistem pendidikan yang menghidupkan, mencerahkan, dan memerdekakan.

Menghidupkan dan Mencerahkan

Pendidikan yang menghidupkan dimaknai sebagai suatu sistem pendidikan yang mampu mengembangkan secara maksimal potensi manusia sedemikian rupa, sehingga semua pengetahuan yang diperoleh akan menjadi unsur penting pada keseluruhan pribadi yang mampu berpikir kritis, analisis, dan kreatif.
Pendidikan yang diharapkan dapat mengatasi masalah yang dihadapi umat manusia yang demikian komplek saat ini dan kehidupan di masa depan.
Pendidikan yang menghidupkan seperti ini di samping diperlukan strategi metode yang bersifat dialogis, juga dibutuhkan integrasi ilmu dari berbagai disiplin yang berbeda, tidak hanya integrasi pengetahuan agama dengan pengetahuan umum tetap integrasi antardisiplin ilmu kealaman dan ilmu sosial.
Hal ini dapat dilakukan dengan memandang pendidikan dalam hal ini persekolahan sebagai miniatur masyarakat.
Pendidikan yang menghidupkan dan mencerahkan, memandang manusia secara utuh, baik dari aspek fisik dan psikisnya, maupun dari sisi tugas dan tanggungjawab kehadiran manusia di muka bumi ini.
Dengan demikian arah dan kebijakan pendidikan tidak hanya berbicara pada tataran bagaimana terjadinya transfer pengetahuan, tetapi juga pembetukan sikap dan keterampilan, serta kemampuan mengimplementasikan pengetahuan dan keterampilan dalam kehidupan manusia termasuk dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Pendidikan yang menghidupkan dan mencerahkan tidak sekadar membekali peserta didik dengan setumpuk pengetahuan, memberikan bekal keterampilan, tetapi lebih dari itu, pendidikan memberikan kesempatan kepada peserta didik menguasai ilmu dan mampu mengembangkan dan memanfaatkan ilmu bagi sesama.
Selain itu, pendidikan memiliki tanggungjawab kepada bangsa dan negara, serta kepada umat manusia untuk menghasilkan insan cerdas yang tercerahkan, membebaskan dan memerdekan manusia dari berbagai rasa takut, serta memiliki jiwa dan semangat kemanusiaan, yang akan membawa bangsa dan negara dalam kehidupan yang menghidupkan dan mencerahkan, kehidupan yang menghargai harkat dan martabat manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan.
Dalam konteks tanggungjawab kebangsaan, pendidikan yang menghidupkan dan mencerahkan memiliki peran strategis untuk memberikan pencerahan terhadap anak-anak bangsa ini sebagai bagian integral dari tugas kemanusiaan.
Peran strategis ini tentu dalam praksisnya untuk melahirkan sumber daya insani yang memiliki pengetahuan dan keterampilan yang mampu memberikan kontribusi terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara, dan di sisi lain pendidikan juga harus mampu melahirkan pemikiran dan tindakan dalam membangun bangsa dan negara ini ke arah yang lebih baik.
Peran kebangsaan dalam konteks pendidikan tidak lepas dari kehidupan global abad 21, dimana Indonesia menjadi bagian dari dunia yang tanpa sekat geografis, sehingga konteks baru pendidikan menghadapi kompetensi yang tidak hanya bersifat local, tetapi bersifat global dihadapkan berbagai situasi kehidupan dan kebutuhan hidup dalam era globalisasi ini.
Oleh karena itu, pendidikan diharapkan mampu memberikan kesadaran kehidupan global, melek teknologi, kreatif dan inovatif, kempauan berpikir kritis, kemampuan menyelesaikan masalah, kemampuan bekerja dalam team work dengan berbagai latar berbeda serta kemampuan entrepreneurship.
Lahirnya insan cerdas tercerahkan dan mencerahkan menjadi faktor penting untuk berkontrbusi dan menjadi penentuan arah perjananan bangsa ini menuju Indonesia berkemajuan.
Namun demikian, melahirkan insan cerdas tercerahkan dan mampu mencerahkan bukanlah semudah membalikkan telapak tangan, karena tidak sedikit tantangan dan kendala yang harus dihadapi di tengah karut-marutnya kehidupan kebangsaan kita dewasa ini, demikian juga adanya pengaruh globalisasi yang ikut menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita ini.
Berbagai persoalan yang melingkupi kehidupan kemasyarakatan, kebangsaan dan keberagamaan kita dewasa ini, seperti kesenjangan sosial, ekonomi yang masih mendera masyarakat bangsa kita.
Korupsi yang tak kunjung berkurang, bahkan semakin menjadi-jadi, masalah disintegrasi, sistem perpolitikan yang belum menemukan arah yang benar, serta berbagai faktor sosial, ekonomi, dan budaya lainnya.
Rekonstruksi sistem pendidikan yang dapat melahirkan insan cerdas dan mencerahkan, menjadi suatu keniscayaan. Rancang bangun sistem pendidikan tersebut, tidak lepas dari hakekat dan tugas kemanusiaan itu sendiri, sehingga dengan demikian visi yang perlu dikedepankan adalah lahirnya insan cerdas yang mantap dalam keimanan, unggul intelektual, anggun dalam berakhlak dan sigap berkarya nyata.
Insan yang mantap dalam keimanan diharapkan mampu memiliki kesadaran ketuhanan yang menghidupkan dan membebaskan, memiliki jiwa dan semangat kemandirian.
Sementara keunggulan intelektual akan mengantarkan keunggulan terhadap penguasaan ilmu dan teknologi, keunggulan intelektual diharapkan mengantar insan cerdas yang dapat mengoptimalkan akal sehatnya, memilah dan memilih sesuatu dalam menyelesaikan permasalahan,  dan kesigapan berkarya merupakan suatu aktivitas memanfaatkan ilmu dan teknologi dalam kehidupan nyata untuk kesejahteraan dan kemajuan peradaban umat, yang semua ini harus ditampilkan oleh insan yang memiliki karakter mulia yaitu akhlakul karimah.
Pendidikan yang memiliki visi mantap keimanan, unggul intelektual, anggun berakhlak dan sigap berkarya, bukan pendidikan yang merampas hak dan kemerdekaan peserta didik, bukan pendidikan yang memenjarakan peserta didik dan menjadikan mereka manusia dalam posisi yang inferior.
Perampasan hak atas nama pendidikan justru menghambat perkembangan potensi pesertadidik, termasuk perkembangan mental dan intelektualnya. Hal ini dapat berakibat terhambatnya transfer pengetahuan, dan sekaligus menghambat perkembangan mental peserta didik.
Akibat lanjutannya, peserta didik menjadi apatis, pesimis, dan cenderung lepas tanggungjawab dan lebih parah lagi mereka akan lari dari lingkungannya dan mencari kehidupan lain yang menurut mereka dapat mengembalikan hak dan kemerdekaannya yang telah dirampas dan kemungkinan melakukan tindakan-tindakan destruktif serta merusak diri dan lingkungannya.

Proses Interaksi

Pendidikan yang menghidupkan dan membebaskan, membutuhkan proses interaksi yang menghargai kemerdekaan dan kemandirian, serta potensi diri peserta didik.
Strategi yang dapat dilakukan adalah dengan membuka ruang dialog antara pendidik dan peserta didik, yang berlangsung dalam suasana sejuk dan saling menghargai yang ditunjukkan dengan komunikasi dua arah, yang dipandu dengan akhlakul karimah.
Strategi dialogis terjadi saling pemahaman, saling pengertian, kemauan menerima dan kerjasama. Selain itu dalam dialog ini terjadi kesetaraan, sehingga tidak terjadi monopoli pembicaraan dan kebenaran.
 Dari dialog diharapkan terbentuk saling pengertian dan pemahaman bersama yang lebih luas dan mendalam tentang hal yang menjadi bahan dialog.
Dialog merupakan ciri masyarakat maju dan demokratis. Tanpa dialog tidak mungkin terjadi kesejahteraan dan kemajuan hidup bersama, tidak mungkin tercipta masyarakat demokratis di mana para anggotanya mempunyai hak dan kewajiban yang sama.
Dialog dapatmeningkatkan sikap saling memahami dan menerima, serta mengembangkan kebersamaan dan hidup yang damai saling menghormati dan saling percaya.
Dialog dapatmenjadi sarana untuk saling memahami, menerima dan kerjasama antarberbagai kelompok yang berbeda latar belakang budaya, tingkat ekonomi, ideologi, kepercayaan, dan agama.
Strategi ini, disamping memberi ruang terhadap peserta didik sebagai individu yang merdeka dengan potensi yang dimilikinya, juga memberikan ruang terhadap peserta didik sebagai makhluk sosial, sehingga dengan demikian, seluruh potensi peserta didik dapat dimaksimalkan dalam proses transfer pengetahuan dan sekaligus terjadi komunikasi dan dialog kemanusiaan pada diri peserta dalam menghargai membangun hubungan sosial dengan sesamanya dan terhadap pendidik, serta lingkungan sosial budayanya.
Pendidikan yang menghidupkan dan memajukan dipandang sebagai miniatur masyarakat yang mampu menghadirkan kondisi sosial ekonomi dan kultural masyarakat religius ke dalam ruang-ruang pendidikan, membutuhkan pendekatan multidisipliner dalam aktivitas pendidikan dan pembelajaran.

Dalam hal ini, selain memandang ilmu tanpa dikotomi, juga dibutuhkan aktivitas pembelajaran berdimensi kontekstual, yaitu suatu pendekatan yang menghadirkan seluruh siatuasi dan suasana kehidupan kemasyarakatan dalam ruang-ruang pendidikan. (Diringkas dari orasi ilmiah yang disampaikan dalam rapat senat terbuka luar biasa STKIP Muhammadiyah Bulukumba, Sabtu, 30 Desember 2017)

---------

@Copyright Majalah PEDOMAN KARYA
Edisi 3, Vol.4, Januari 2018

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments

Leave a Reply