iklan

Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

Sosok

» » RRI Diminta Tingkatkan Program Siaran Anak


Pedoman Karya 5:46 AM 0


RAKER RRI. Ketua FKP RRI Makassar, Rusdin Tompo (paling kanan), saat menghadiri Rapat Kerja FKP RRI, di Hotel Grand Keisha, Yogyakarta, 7-9 Mei 2018. (ist)







---
Rabu, 09 Mei 2018


RRI Diminta Tingkatkan Program Siaran Anak


-          Rini Riyatika Djohari Lantik Empat Kasubbid dan Dua Kasubag


YOGYAKARTA, (PEDOMAN KARYA). Anak-anak dalam UU Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran disebut sebagai khalayak khusus. Namun porsi siaran yang memperhatikan kebutuhan anak tidak cukup banyak, termasuk di Radio Republik Indonesia (RRI).
Padahal, menurut Sekjen Pengurus Pusat Forum Komunikasi Pemerhari (FKP) RRI, Ulfa Matoka, program siaran yang melibatkan anak-anak sebaiknya dimulai dari anak-anak yang duduk di PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini). Karena dengan begitu, orangtuanya juga akan mendengarkan RRI.
Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Haluoleo Kendari itu menyampaikan hal tersebut di hadapan peserta Rapat Kerja FKP RRI, bertema "Sinergitas Forum Komunikasi Pemerhati (FKP) LPP RRI dalam Mendukung Program-Program Siaran RRI dalam Rangka Penguatan Kelembagaan RRI Melalui FKP RRI", di Hotel Grand Keisha, Yogyakarta, 7-9 Mei 2018.
Direktur Program dan Produksi LPP RRI, Soleman Yusuf, mengakui bahwa program siaran anak masih perlu mendapat perhatian. Padahal, sejauh ini respons atas program anak cukup baik. Dia mencontohkan program teater radio “Dapunta” yang disiarkan di RRI Pro2 Network. Dikatakan, program ini sebenarnya menyasar segmen remaja di atas 13 tahun.
“Kenyataannya, ada anak-anak usia enam tahun yang mendengarkan siaran itu,” ungkap Soleman Yusuf.
Acara lain yang juga ditujukan untuk anak-anak di RRI, yakni program siaran “Anak Cerdas Indonesia” (ACI). Sayangnya, belum semua stasiun RRI di daerah punya siaran ACI.
Rusdin Tompo, Ketua FKP RRI Makassar, kemudian menceritakan pengalamannya ikut menghadirkan anak-anak di program siaran ACI RRI Pro1 Makassar.
Dalam sesi yang menghadirkan Ketua Dewas LPP RRI, Mistam, Kepala Puslitbangdiklat LPP RRI, Martoyo, dan Dewan Penasihat LPP RRI, Paulus Widiyanto, Rusdin Tompo menyampaikan bahwa sekolah-sekolah yang pernah diundang merasa gembira dan memberi apresiasi kepada RRI.
Karena dengan begitu, katanya, anak-anak mereka mendapat pengalaman diwawancarai dan bisa unjuk kebolehan terkait bakat mereka di bidang seni suara, sastra dan lain-lain.
Bahkan, kata aktivis perlindungan anak itu, pihak sekolah mengaitkan kehadiran mereka di studio RRI dengan program-program yang tengah dikembangkan di sekolahnya, seperti SDN Kompleks Sambung Jawa dan SDN Borong, yang mengaitkan tema pembahasan di RRI dengan program Sekolah Adiwiyata, program Dokter Kecil Mahir Gizi (DKMG), serta program Sekolah Ramah Anak (SRA).
UU Penyiaran maupun Peraturan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) tentang Pedoman Perilaku Penyiaran (P3) dan Standar Program Siaran (SPS) mengatur bahwa anak-anak perlu dilindungi dari siaran-siaran yang tidak sehat, antara lain siaran bermuatan kekerasan, pornografi dan mistik/horor.
Tapi, selain itu, anak-anak juga perlu diberi ruang untuk berpartisipasi dalam program siaran. Kehadiran anak-anak sebagai pengisi acara, baik dalam kapasitas tamu/narasumber maupun penyiar merupakan wujud pelaksanaan hak partisipasi itu.
Paulus Widiyanto mengatakan, bila perlu RRI bikin kanal khusus untuk anak di mana siaran anak-anak merupakan yang dominan. Supaya anak-anak mendapat pembelajaran dan kita mengedukasi anak-anak sebagai bagian dari pendidikan karakter.
“Ini jika kita menganggap anak sebagai aset dan masa depan bangsa,” katanya.

Segmen Anak dan Pendengar Baru

Lebih jauh Rusdin Tompo, yang pernah jadi Ketua KPID Sulsel, mengusulkan agar RRI menjadi lokasi bagi wisata literasi media bagi anak-anak. Dengan menyasar segmen anak berarti RRI sekaligus menjaring pendengar baru.
Sebaliknya, anak-anak dan orangtua mereka juga biasanya memposting penampilan mereka di medsos, sehingga, mereka ikut menginformasikan tentang program RRI kepada sesama generasi milenial.
RRI, lanjut Rusdin Tompo, punya halaman yang cukup luas untuk sebagian dijadikan fasos dalam bentuk taman bermain anak.
“Alangkah bagusnya jika anak-anak ketika ke RRI bisa belajar sambil bermain,” harap Rusdin Tompo. (win/r)

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments

Leave a Reply