iklan

Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

Sosok

» » » » » Menguji Kemampuan Menulis Tanpa Beban


Pedoman Karya 4:06 AM 2


"Dear kawan-kawan pemula, tutuplah telingamu rapat-rapat. Kalian tak bisa menutup mulut orang, apalagi banyak orang. Tekan terus tombol keyboard-mu. Sehancur apapun menurutmu gagasan yang kau keluarkan, ia adalah ide murni. Ia benih yang akan tumbuh, suatu saat akan menjadi mercusuar. Jangan berhenti, jangan hentikan. Ide-ide murni itu akan terbang bersama sejarah, ia tak akan mati.
- Fajlurrahman Jurdi -

 



-------
PEDOMAN KARYA
Selasa, 31 Juli 2018


Menguji Kemampuan Menulis Tanpa Beban


Oleh: Fajlurrahman Jurdi
(Dosen Fakultas Hukum, Universitas Hasanuddin, Makassar)


Saya menguji kembali kemampuan lama, yakni menulis tanpa beban. Hasilnya mengejutkan, dalam satu kali duduk, bisa menyelesaikan empat (4) artikel sekaligus. Saya pikir sudah mulai menurun, tetapi masih tetap stabil.
Jika dulu dalam satu kali duduk kadang bisa menghasilkan satu Bab, maka sekarang kadang butuh waktu 2 (dua) pekan hingga kadang 1 (satu) bulan. Ini perlambatan yang cukup mengkhawatirkan.
Daya menulis memang ditentukan oleh banyak factor, tetapi setiap selesai bergumul dengan novel, saya selalu berhasil menemukan gaya baru dalam menulis. Tulisan kadang lebih peka dan sedikit sensitif.
Tetapi yang paling penting dari itu semua adalah kestabilan waktu. Kita kadang memang butuh kesunyian, butuh kesendirian untuk menyelesaikan suatu naskah. Semakin sering gangguan datang, maka tulisan pasti sulit diselesaikan.
Hal penting lain adalah kita tidak perlu terlalu pusing dengan tujuan tulisan kita. Maksudnya adalah, jangan ada pertanyaan; “bisa gak diterbitkan ya”, “Bagus gak isinya ini”, atau “aduhhh, kenapa gak karuan begini.”
Biasanya perasaan atau cara kita menghakimi tulisan kita sendiri memberi efek yang kurang baik bagi energi yang tumbuh. Kita sendiri yang kadang mematikkan kreativitas kita. Belum lagi teman yang suka komentar “miring”, bahkan yang tidak pernah menulis sekalipun, mereka paling pandai berkomentar.
Komentar mereka misalnya, “Apa maksud tulisanmu”, atau “Deh, kau anak hukum, kok nulis novel”, atau dalam pengalaman saya misalnya, saya seringkali dicemooh karena saya suka menulis politik dan Islam, bahkan seringkali dibilangi, “kau ini anak hukum, ngapain menulis politik, bagusnya kuliah di politik”. Atau kadang di belakang kita nyeletuk, “apa itu, gak jelas pemahaman hukumnya.”
Dear kawan-kawan pemula, tutuplah telingamu rapat-rapat. Kalian tak bisa menutup mulut orang, apalagi banyak orang. Tekan terus tombol keyboard-mu.
Sehancur apapun menurutmu gagasan yang kau keluarkan, ia adalah ide murni. Ia benih yang akan tumbuh, suatu saat akan menjadi mercusuar. Jangan berhenti, jangan hentikan. Ide-ide murni itu akan terbang bersama sejarah, ia tak akan mati.

menulislah... menulislah... menulislah.... dengan itu kau akan abadi.

#salam lietrasi

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

2 comments Menguji Kemampuan Menulis Tanpa Beban