iklan

Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

Sosok

» » » » SouthGreat bukan Southgate


Asnawin Aminuddin 12:33 AM 0


Di usia 25 tahun, saat masa jayanya sebagai pemain sepakbola, Gareth adalah salah seorang punggawa Timnas Inggris. Pemain belakang yang tenang ini adalah seorang eksekutor pinalti yang sangat piawai.  (int)





------
PEDOMAN KARYA
Rabu, 11 Juli 2018

SouthGreat Bukan Southgate

(Tentang Sosok Pelatih Timnas Sepakbola Inggris)


Catatan Pinggir: Andi Afdal Abdullah

Apa arti belajar dari pengalaman? Banyak yang sering mengucapkan ini, tapi sulit dalam pelaksanaanya. Namun tidak dengan Gareth. Lelaki kelahiran Watford, 48 tahun lalu, adalah contoh yang baik.

Di usia 25 tahun, saat masa jayanya sebagai pemain sepakbola, Gareth adalah salah seorang punggawa Timnas Inggris. Pemain belakang yang tenang ini adalah seorang eksekutor pinalti yang sangat piawai.

Namun kenangan Euro 96, tak mungkin terlupa baginya. Dialah penyebab Inggris harus menelan kekalahan melawan Jerman lewat drama adu pinalti yang menyesakkan dada.

Pasca kejadian Euro, Gareth adalah korban nasional fans Inggrish hingga bertahun tahun, hingga sebuah lagu anthem yang cukup kesohor : “Southgate’s going home but he’s missed the bus” menjadi sangat viral dan dinyanyikan di seantero Inggris Raya, bahkan jadi objek ledekan iklan Pizza Hut kala itu, dengan menggunakan model pria memakan pizza hut, tapi kantong kertas dipakai menutupi kepalanya karena malu.

Sebuah tamparan emosional yang sangat menyiksa. Tapi apa yg terjadi dengan Gareth? Dia tetaplah pemain belakang yang kalem di era keemasan Aston Villa dan Middlesborough.

Dia tetap terpilih menjadi pemain Timnas Inggris di gelaran Piala Dunia 98. Bahkan kulminasinya di era kepelatihannya sebagai pelatih Timnas Inggris, yaitu mencatatkan rekor yang cukup mentereng. Inggris melangkah ke semifinal Piala Dunia 2018, di Rusia, setelah 25 tahun lalu terakhir kali mengecap kontestasi di level itu.

Pertarungan adu pinalti melawan Colombia pada laga 16 besar, tentulah menguras emosi Gareth. Seakan de javu, dia mengulang kejadian 23 tahun lalu saat dirinya gagal mengeksekusi pinalti.

Namun kali ini dia melewati dengan tenang dan mulus. Sebagai pelatih, dia telah mempersiapkan segala sesuatunya dengan sangat baik. Dia melakukan analisis khusus pada setiap pemain lawan terkait statistik  preferensi arah bola, psikologi para pemain dan hal detail lainnya. Dan hasilnya berbeda. Inggris melaju ke perempat final kemudian ke semifinal.

Dan ini tentu belum berakhir. Besok (Kamis dinihari, 12 Juli 2018, red), kita akan saksikan bagaimana Gareth akan meramu pasukannya saat menghadapi timnas Kroasia, untuk selanjutnyas membwa Inggris masuk final untuk kedua kali dalam sejarah mereka.

Sejarah sepakbola yang diklaim bermula dari daratan Inggeris Raya.a Saatnya membuktikan Gareth Southgate adalah SouthGreat yang sesungguhnya.
Bravo England.

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments

Leave a Reply