iklan

Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

Sosok

» » » » » » Indahnya Eceng Gondok Bila Sedang Berbunga


Pedoman Karya 10:44 AM 0


ECENG GONDOK BERBUNGA. Pemandangan indah gerombolan eceng gondok yang sedang berbunga terhampar begitu indahnya di Sungai Jeneberang, tak jauh dari Jembatan Kembar Gowa, di sekitar Desa Taeng, Kecamatan Pallangga, menuju daerah Malengkeri Makassar yang berbatasan dengan Kelurahan Mangasa, Kabupaten Gowa, yang merupakan daerah perbatasan Gowa-Makassar. (Foto: Asnawin Aminuddin / PEDOMAN KARYA)



--------
PEDOMAN KARYA
Selasa, 16 Oktober 2018


Indahnya Eceng Gondok Bila Sedang Berbunga


Saya sudah terlalu sering melihat rombongan atau gerombolan eceng gondok, terutama pada musim kemarau, karena saya cukup sering menyeberang sungai menggunakan perahu, tetapi melihat rombongan eceng gondok berbunga dan ternyata pemandangannya sangat indah, rasa-rasanya baru pertama kali saya saksikan langsung pada Selasa sore, 16 Oktober 2018.

Aktivitas sehari-hari saya kebanyakan di Koa Makassar, tetapi saya menetap di Desa Jenetallasa, Kecamatan Pallangga, Kabupaten Gowa.

Untuk menuju atau kembali dari Makassar ke Gowa, saya dan banyak warga lainnya memiliki dua opsi perjalanan, yakni perjalanan darat melewati Jembatan Kembar (orang Gowa menyebutnya Jambatan Kambara’) di Gowa, atau menyeberang sungai menggunakan perahu ketinting (orang Makassar dan orang Bugis menyebutnya Katinting) bagi pejalan kaki atau pengendara sepeda motor.

Saya cukup sering memilih opsi kedua, yakni menyeberang sungai menggunakan perahu ketinting tanpa harus turun dari sepeda motor yang kita kendarai, dari daerah Desa Taeng, Kecamatan Pallangga, menuju daerah Kelurahan Mangasa, Kabupaten Gowa, yang merupakan daerah perbatasan Gowa-Makassar.

Setelah naik dari perahu, maka hanya sekitar seratus meter perjalanan jalan kaki atau naik sepeda motor, kita sudah tiba di daerah Malengkeri, dekat pintu gerbang perbatasan Gowa-Makassar dan juga dekat dengan Terminal Malengkeri atau Terminal Tamalate.

Saya memilih opsi menyeberang sungai, terutama pada pagi hari dan sore hari, karena perjalanan kita terjamin tidak terganggung kemacetan arus lalu-lintas.

Jika memilih opsi pertama perjalanan darat melewati Jembatan Kembar, maka hampir pasti kita akan terganggu kemacetan arus lalu-lintas di beberapa titik, terutama di jalan poros Pallangga, di jembatan kembar, di perlimaan poros Malino, di Pasar Sungguminasa, serta di perbatasan Gowa-Makassar, dan di Jalan Sultan Alauddin Makassar.

Sungai tempat penyeberangan perahu ketinting yang sering saya lewati, selalu ditumbuhi rombongan eceng gondok. Tentu saja sangat mengganggu perjalanan perahu ketinting menyeberang sungai bila jumlah gerombolan eceng gondok sudah sangat berlebihan.

Untuk mengatasi masalah tersebut, masyarakat setempat, khususnya mereka yang mengelola usaha jasa penyeberangan perahu ketinting, membuat patok bambu dari bibir sungai di Taeng hingga bibir sungai di Mangasa.

Patok-patok bambu tersebut dihubungkan dengan bambo yang diikat satu sama lain dan mengapung di permukaan air sungai. Bambu-bambu yang mengapung di permukaan sungai itulah yang menjadi penghalang bagi gerombolan eceng gondok untuk berkeliaran di seluruh permukaan sungai.

Dengan terhalangnya gerombolan eceng gondok tersebut, maka perahu ketinting dapat menyeberang dengan leluasa. Saat menyeberang dengan leluasa itulah, pada Selasa, 16 Oktober 2018, saya dan para penumpang perahu ketinting lainnya dapat menyaksikan indahnya pemandangan eceng gondok yang sedang berbunga.

Bungan Berwarna Putih

Melihat pemandangan yang sangat indah itu, naluri saya sebagai wartawan langsung “memerintahkan” tangan saya untuk mengeluarkan kamera hape (handphone, telepon genggam) dari saku celana untuk mengabadikan pemandangan indah tersebut.

Tangan saya harus bergerak cepat mengabadikan pemandangan indah gerombolan eceng gondok yang sedang berbunga, karena perjalanan menyeberang sungai sangat singkat. Hanya sekitar tiga sampai limat menit.
 
Saya merasa pemandangan gerombolan eceng gondok yang sedang berbunga, begitu indah, karena biasanya hanya semacam hamparan gerombolan gondok berwarna hijau tua di permukaan sungai, tapi kini bunga-bunganya yang secara sepintas lalu tampak berwarna putih, menjadi penghias dan tampak sangat indah. (asnawin aminuddin)

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments

Leave a Reply