iklan

Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

Sosok

» » » » » Subari Damopolii, Tokoh Sepuh Muhammadiyah Sulsel


Pedoman Karya 7:48 PM 0


TOKOH SEPUH. Foto bersama tokoh sepuh Muhammadiyah Sulsel, dokter Subari Damopolii, di halaman Kantor Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Makassar, Jl Gunung Lompobattang, Makassar, Kamis, 25 Oktober 2018. (Foto: Suciati Subari Damopolii)










-----
PEDOMAN KARYA
Jumat, 26 Oktober 2018


Subari Damopolii, Tokoh Sepuh Muhammadiyah Sulsel


Seusai shalat lohor di Masjid Subulussalam Kampus Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, saya menerima telepon dari ustadz Dr Achmad AC, salah seorang pengurus harian Muhammadiyah Makassar.

Beliau mengabarkan bahwa sebentar lagi akan dilaksanakan pelantikan Direktur Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Khadijah III (Jl Veteran Selatan) Makassar, di Kantor Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Makassar, Jl Gunung Lompobattang, Makassar, Kamis, 25 Oktober 2018.

Tanpa pikir panjang karena kebetulan memang sedang tidak ada kegiatan mendesak, saya segera meluncur ke Kantor Pusdim (sebutan untuk Kantor Muhammadiyah Makassar. Pusdim adalah singkatan dari Pusat Dakwah Pimpinan Daerah Muhammadiyah Makassar).

Saat tiba di sana, saya bertemu beberapa pengurus Muhammadiyah Makassar, antara lain Achmad AC, Chaeruddin Hakim, dan Muflih Razak. Setelah bercanda dan berbasa-basi, saya bertanya siapa nama Direktur RSIA Khadijah III yang dilantik.

“Ibu Dokter Suciati Subari Damopolii,” jawab mereka.

“Berarti Pak Subari (ayah dari dokter Suciati) juga datang,” kata saya dengan nada tanya.

“Betul. Itu Pak Dokter (maksudnya dokter Subari Damopolii) duduk di kursi depan,” tunjuk Muflih.

“Kalau begitu saya mau ketemu beliau. Sudah lama tidak ketemu,” kata saya dan langsung mendatangi ustadz Subari Damopolii, menyalami, dan memeluknya.

“Kapan datang ustadz?” tanya saya.

“Sudah dua hari,” jawabnya

Saya pun menanyakan aktivitasnya di Kotamobagu, Sulawesi Utara, tempat ia lebih banyak menghabiskan hari tuanya, setelah puluhan tahun menetap dan beraktivitas di Makassar, baik sebagai dokter (pensiun sebagai dokter di RSUP Wahidin Sudirohusodo, Makassar), maupun sebagai pengurus Muhammadiyah Sulawesi Selatan.

Selama menetap di Makasar, ustadz Subari selain tidak pernah absen ber-Muhammadiyah, juga pernah menjabat Direktur RSIA Khadjah III, dan kini anaknya, dokter Suciati Subari Damopolii yang mendapat amanah menduduki jabatan tersebut.

Selain pernah menjabat Direktur RSIA Khadijah III, Subari Damopolii juga pernah menjabat Direktur Akademi Kebidanan (Akbid) Muhammadiyah Makassar, dan Wakil Rektor II Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar.

Ustadz Subari adalah tokoh sepuh Muhammadiyah Sulsel. Saat masih kuliah sebagai mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin (Unhas) tahun 60-an, dirinya sudah mendapat amanah sebagai Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Mamajang, Makassar.

Beliau juga pernah menjadi pengurus Muhammadiyah Makassar, Muhammadiyah Takalar, hingga pengurus Muhammadiyah Sulsel.

Di Muhammadiyah Sulsel, ustadz Subari Damopolii bahkan pernah dua kali mendapat suara terbanyak pemilihan calon Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulsel, yakni pada Musyawarah Wilayah (Musywil) Muhammadiyah Sulsel di Pinrang tahun 1995, dan pada Musywil Muhammadiyah Sulsel di Takalar tahun 2000.

Tapi ustadz Subari tidak pernah berambisi menjadi ketua, maka jabatan Ketua Muhammadiyah Sulsel diserahkan kepada fomatur 13. Pada Musywil Muhammadiyah Sulsel di Pinrang, jabatan ketua diserahkan kepada (alm) KH Djamaluddin Amien, sedangkan pada Musywil Muhammadiyah Sulsel di Takalar, jabatan ketua diserahkan kepada KH Nasruddin Razak.

“Kasi yang lain saja. Yang penting, kita ikhlas mengurus umat melalui persyarikatan Muhammadiyah,” kata ustadz Subari.

Sebelum berpisah, kami foto bersama di halaman Kantor Pimpinan Daerah Muhammadiyah Makassar, dengan latar papan nama Muhammadiyah Makassar, Aisyiyah Makassar, dan Organisasi Otonom Muhammadiyah Tingkat Kota Makassar lainnya.

“Sehatiki’ ustadz,” kata saya setelah ustadz Subari sudah naik ke mobil bersama anaknya dokter Suciati, dan menantunya (suami dari dokter Suciati) dan kami pun saling melambaikan tangan setelah mobilnya melaju. (asnawin)

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments

Leave a Reply