iklan

Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

Sosok

» » » Bukan Negara Islam, tapi Thailand Jadi Pusat Penelitian Halal di Dunia


Asnawin Aminuddin 8:29 PM 0


Guru Besar FKM Unhas Makassar, Prof Veni Hadju, tampil sebagai salah satu pembicara mewakili Rektor Unhas, pada Diskusi Nasional bertema “Pola Hidup Halal untuk Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Gafuur”, yang digelar MUI Sulsel, di Hotel Aston, Jl Sultan Hasanuddin, Makassar, Sabtu, 04 Mei 2019. (Foto: Asnawin Aminuddin / PEDOMAN KARYA)





Sabtu, 04 Mei 2019


Bukan Negara Islam, tapi Thailand Jadi Pusat Penelitian Halal di Dunia



MAKASSAR, (PEDOMAN KARYA). Thailand bukan negara Islam, bahkan penduduknya hanya sekitar 5-6 persen yang beragama Islam, tapi Thailand kini menjelma menjadi pusat penelitian ilmu halal di dunia.

“Perguruan tinggi terbaik pusat penelitian ilmu halalnya di dunia, ada di Thailand, yaitu Chulalongkorn University,” kata Guru Besar Fakultas Ilmu Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Prof Veni Hadju.

Hal itu disampaikan Prof Veni Hadju saat tampil sebagai salah satu pembicara mewakili Rektor Unhas, pada Diskusi Nasional bertema “Pola Hidup Halal untuk Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Gafuur”, yang digelar Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulsel, di Hotel Aston, Jl Sultan Hasanuddin, Makassar, Sabtu, 04 Mei 2019.

“Raja Thailand memberi support dengan menggelontorkan dana dalam jumlah yang sangat besar, karena ingin semua orang di dunia yang ingin mengetahui soal ilmu halal, datang ke Thailand,” ungkap Veni Hadju.

Maka pemerintah Thailand, lanjutnya, juga membuat hotel syariah, penerbangan syariah, rumah sakit syariah, dan tentu saja pusat penelitian ilmu halal.

Diskusi Nasional dengan sub tema “Pola Hidup Halal dalam Kajian Akademik dan Implementasi Civitas Akademika”, dibuka secara resmi oleh Sekum MUI Sulsel Prof Ghalib, dan menampilkan beberapa pembicara.

Pembicara yang tampil pada diskusi yang dipandu Dr Husban Abadi itu, ialah Prof Tahir Kasnawi (Ketua MUI Sulsel Bidang Pendidikan dan Kaderisasi), dan Prof Abdul Rahim Yunus (Wakil Koordinator Kopertais Wilayah VIII Kawasan Timur Indonesia).

Diskusi Nasional diikuti puluhan dosen dari berbagai perguruan tinggi. (win)

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments

Leave a Reply