iklan

Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

Sosok

» » » » Ketua STIM-Lash Jaya Makassar “Kerjai” Mahasiswanya Saat Yudisium


Pedoman Karya 7:46 PM 0


YUDISIUM. Ketua STIM Lasharan Jaya Makassar, Dr Hernita Sahban (paling kanan), didampingi Ketua I Guntur Suryo Putro SE MM, meyudisium 24 mahasiswa yang telah lulus ujian skripsi, di Kampus STIM-Lash Jaya, Jl Abdullah Dg Sirua, Makassar, Sabtu, 07 September 2019. (Foto-foto: Asnawin Aminuddin / PEDOMAN KARYA)






-----------


Senin, 09 September 2019


Ketua STIM-Lash Jaya Makassar “Kerjai” Mahasiswanya Saat Yudisium


MAKASSAR, (PEDOMAN KARYA). Suasana tegang mengawali acara yudisium 24 mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen Lasharan (STIM-Lash) Jaya Makassar, di Kampus STIM-Lash Jaya, Jl Abdullah Dg Sirua, Makassar, Sabtu, 07 September 2019.


Acara yudisium yang dijadwalkan dimulai pukul 14.00 Wita, molor hingga hampir satu jam, karena ada dua mahasiswa laki-laki yang akan diyudisium meminta izin pulang ke rumahnya untuk mengambil selempang yudisium dan terlambat tiba kembali ke kampus.

Maka ketika prosesi acara yudisium dimulai, Ketua STIM-Lash Jaya Dr Hernita Sahban SE MM, langsung mendamprat kedua mahasiswa tersebut.

“Emang kalian yakin sudah lulus ujian dan pasti akan diyudisium hari ini?” tanya Hernita dengan muka marah.

Kedua mahasiswa dimaksud pun hanya bisa tertunduk dan suasana menjadi hening. Kedua mahasiswa itu kemudian diminta berdiri di sudut kanan depan ruangan sambil memakai selempang yang tertera nama masing-masing, lengkap dengan gelar Sarjana Manajemen (SM).

“Siapa yang suruh bawa selempang. Apakah kalian berdua yakin lulus ujian hari ini? Gara-gara kalian berdua, acara yudisium ditunda hampir satu jam. Saya lihat nilai hasil ujian kalian juga rendah. Kalian berdua harus ujian lagi pekan depan,” kata Hernita dengan wajah serius.

Hernita kemudian meminta pendapat dari para dosen penguji, terutama dari masing-masing tiga dosen yang menguji kedua mahasiswa tersebut. Dan ternyata para dosen penguji itu pun menyetujui bahwa kedua mahasiswa tersebut harus mengulang ujian pekan depan.

“Karena kalian telah melanggar dan menyebabkan acara yudisium tertunda hampir satu jam, maka kalian harus dihukum. Apa hukumannya yang bagus?” tanya Hernita kepada para dosen penguji.

Akhirnya disepakati keduanya berjalan mengitari ruangan sambil melambaikan tangan. Setelah selesai, keduanya diminta kembali berdiri di sudut ruangan dan lagi-lagi Hernita bertanya kepada mereka.

“Bagaimana? Apakah kalian siap ujian ulang pekan depan? Siap ya?” tanya Hernita.

“Jangan bu! Kami minta maaf bu!” pinta kedua mahasiswa tersebut.

“Oke, saya check ulang nilai ujiannya ya,” kata Hernita sambil membuka lembar nilai hasil ujian skripsi.

Setelah memeriksa ulang nilai hasil ujian skripsi keduanya, ternyata nilai mereka di atas 3,0, artinya lulus.

“Sebenarnya saya mau kalian berdua ujian ulang pekan depan, tapi karena kalian sudah dihukum dan kalian sudah minta maaf, maka kalian dinyatakan lulus. Ini pembelajaran bagi kalian berdua, bahwa kita harus disiplin dan menghargai orang lain, terutama para dosen,” kata Hernita.

Tidak Lulus

Setelah itu Hernita kembali melanjutkan menyebut satu per satu nama mahasiswa yang telah mengikuti ujian skripsi, serta menanyakan kepada mereka judul skripsinya dan nama-nama dosen pengujinya masing-masing.

Tak lama kemudian, ia meminta dua mahasiswa perempuan untuk keluar dari barisan dan berdiri di sudut kiri ruangan.

“Kalian berdua saya minta ke depan. Saya mau tanya kenapa nilai ujian kalian sangat rendah dan bahkan tidak lulus?” tanya Hernita.

Ia kemudian bertanya kepada salah seorang dosen penguji, mengapa nilai yang diperoleh kedua mahasiswa tersebut sangat rendah sehingga tidak lulus. Salah seorang dosen penguji pun memberi penjelasan dan sekaligus meminta maaf kepada dosen penguji yang lain, juga kepada kedua mahasiswa tersebut.

Kedua mahasiswa itu pun tampak meneteskan air mata, karena tidak menyangka bahwa mereka tidak lulus ujian skripsi.

“Kalian mengulang pekan depan. Inilah bagusnya kalau kita mengikuti ujian skripsi agak awal, karena masih ada waktu mengulang supaya bisa mengikuti wisuda bulan November mendatang,” tutur Hernita.

Kedua mahasiswa itu pun tampak tertunduk dan terus-menerus mengalir air matanya. Suasana kembali tegang. Tak ada satu pun dosen dan mahasiswa yang bersuara.

“Terus terang saya meminta kalian berdua berdiri di depan, bukan karena kalian tidak lulus, tapi karena nilai ujian kalian terlalu tinggi, terutam Kartika. Kenapa bisa nilai ujiannya sampai 4,0,” kata Hernita sambil tersenyum.

Mendengar penjelasan pimpinan perguruan tinggi itu, suasana pun langsung menjadi cair. Kedua mahasiswa yang berdiri di sudut ruangan itu pun langsung tersenyum bahagia.

“Ternyata air mata buayaji,” teriak salah seorang dosen penguji sambil tertawa dan ruangan acara yudisium pun dipenuhi suara tawa.

Setelah “mengerjai” mahasiswanya, Hernita pun meyudisium mereka dan meminta kepada mereka agar tetap tekun belajar mempersiapkan diri terjun di tengah masyarakat dengan gelar Sarjana Manajemen yang disingkat SM, serta menjaga nama baik almamater STIM-Lash Jaya Makassar di tengah masyarakat.

Acara yudisium diakhiri dengan salam-salaman antara mahasiswa dan dosen. Beberapa di antara mereka juga saling berpelukan sambil meneteskan air mata bahagia. (asnawin)

------
Klik dan baca juga:



«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments

Leave a Reply