Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

Sosok

» » » » » Pengembangan Sapi dengan Program “Sapi Kurus dan Gizi Buruk”


Pedoman Karya 1:14 AM 0


NEGERI ANTAH BERANTAH. Di negeri antah-berantah itu, jalan menuju kesejahteraan rakyatnya ditawari tunggangan yang diyakini hampir seluruh penduduknya akan membawanya ke tempat yang dijanjikan itu dengan cepat dan aman, yaitu sapi.





-----------

PEDOMAN KARYA
Sabtu, 22 Februari 2020


OPINI:


Pengembangan Sapi dengan Program “Sapi Kurus dan Gizi Buruk”



Oleh: Alimuddin Namba


Sangatlah tepat petingatan dini agama Islam bahwa; “Serahkanlah suatu pekerjaan kepada ahlinya”, karena pekerjaan di tangan orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya (kegagalannya)

Sebahagian orang menganggap remeh peringatan ini, sehingga begitu banyak pembenaran yang dijadikan alasan untuk menyangkalinya. Di sini saya tunjukkan contoh yang nyata, akibat dari menyerahkan pekerjaan kepada yang bukan ahlinya.

Bahwa dengan segala dalih pembenaran di suatu daerah antah-berantah, untuk mengurusi lembaga yang dihadirkan untuk menata dan mengatur kepentingan petani, didatangkanlah orang-orang dari planet lain sebagai penentu kebijakan sektor itu (bukan to manurung).

Maka mulailah makhluk dari planet lain ini mengutak-atik program prioritas junjungannya dengan berbagai ulah untuk disanjung. Dan atas nama kreativitas, digulirkan untuk menarik perhatian orang-orang bodoh yang tidak berdaya dengan menyebarkannya ke seantero negeri antah-berantah itu melalui propaganda magic pencitraan.

Dan orang-orang bodoh pun terpedaya, maka sanjungan dan applaus telah menebarkan bau busuk yang menyengat, yang kemudian ditimpakan kepada orang-orang waras yang berjuang pada lintasan yang benar sebagai penyebabnya.

Maka jadilah dia sebagai kambing hitam yang dicaci-maki oleh orang-orang bodoh dengan stempel penghambat pembangunan, sementara di tempat lain kelompok pengacau yang sesungguhnya yang berlabel pejuang rakyat karena telah dilegalkan oleh persekongkolan jahat, merayakan kebodohan penduduk negeri antah-berantah dengan mengadakan pesta pora.

Di negeri antah-berantah itu, jalan menuju kesejahteraan rakyatnya ditawari tunggangan yang diyakini hampir seluruh penduduknya akan membawanya ke tempat yang dijanjikan itu dengan cepat dan aman, yaitu sapi.

Maka ditebarlah keunggulan kendaraan yang fantastis ini ke otak rakyatnya melalui publikasi media yang mengesampingkan logika dan kepeduliannya pada rakyat, hanya karena urusan sakit perut. 

Kini penguasa yang kelilingi oleh para penentang ketentuan di atas melenggang dengan seluasa karena telah mendapatkan legitimasi dari rakyat dan lembaganya dengan tipu daya yang meyakinkan.

Titah mereka pada rakyatnya yang disebarluaskan oleh media yang telah kehilangan logika, bahwa kendaraan yang kami janjikan pada kalian yang akan mengantar Anda pada kesejahteraan, telah kami siapkan.

Penguasa Tidak Ahli

Maka datanglah penguasa yang tidak ahli ini kepada lembaga yang telah mendapat pengakuan di negeri yang sah untuk diajak berpartisipasi pada program yang bodoh sebagai materi pencitraan dengan menantang mereka mengembangkan sapi kembar di negerinya untuk kesejahteraan rakyatnya. Sepintas kedengarannya sangat luar biasa.

Ketidak-ahliannya pada bidang yang didudukinya membuatnya menjadi kajili-jili, dan anehnya sikapnya ini diamini oleh rakyatnya dan dianggap sebagai sebuah terobosan, maka para intelektual yang menempatkan setiap persoalan pada logika berpikir semakin tersingkir, karena arus pencitraan semakin kuat.

Kenapa kekuasaan kelompok yang tidak ahli akan berujung pada kehancuran? Pertama, dasar pijakan berpikir dan tindakannya tidak kuat. Kedua, pemahamannya dangkal, sehingga mereka hanya berpikir linear. Ketiga, tanggung jawab moralnya pada bidang itu sangat rendah.

Keempat, apa yang mereka lakukan dianggapnya luar biasa dan menganggap sebuah kreativitas karena dia merasa mampu berbuat di luar bidang keahliannya dan hanya itu tujuannya, sehingga itu dianggapnya sebagai prestasi yang harus dihargai, padahal yang dia lakukan sebenarnya jauh di bawah standar keahlian yang sebenarnya dimiliki orang lain.

Kelima, mereka sangat lamban merespons perubahan yang terjadi, karena untuk merespons, mereka dihantui ketakutan dari tindakan yang salah dan keliru (tidak percaya diri).

Keenam, mereka tidak tunduk pada kaidah keahlian dan mereka hanya tunduk pada junjungannya. Kedelapan, kecenderungannya untuk kurang siri’, tinggi dan seterusnya.

Kongkritnya upaya pengembangan sapi kembar, orang yang tidak ahli ini dianggap  sebagai gagasan yang hebat. Kenapa? Karena pikirannya sangat dangkal, sebab tidak ditunjang oleh referensi yang kuat.

Cara berpikirnya sangat linear tanpa mempertimbangkan kaidah-kaidah  ilmiah, hanya mempertimbangkan dampak positifnya dengan mengesampingkan dampak buruknya, karena mereka tidak mampu menakar untung ruginya itu karena mereka tidak memiliki takaran.

Yang mereka pikirkan adalah jika jumlah induk sapi adalah 1.000 ekor dengan menghasilkan anak kembar, maka populasi sapi di negerinya akan bertambah 2.000 ekor, sehingga dalam waktu yang relatif singkat, target populasi ternak sapi terpenuhi. Ini cara berpikir linear dengan pijakan yang sempit karena hanya mempertimbangkan kuantitas.

Program Sapi Kembar

Selanjutnya kalau yang punya keahlian tentu pikirannya tidak sesederhana itu, karena jika itu menjadi keputusan, maka harus dipertanggung-jawabkan secara ilmiah, sehingga program sapi kembar harus dilihat dari berbagai aspek, bukan cuma penambahan jumlah, tetapi berbagai aspek menjadi pertimbangan.

Bebagai aspek itu antara lain, pertama kapasitas peternak. Kedua, bagaimana kemampuan induk sapi memproduksi susu secara alami jika kebutuhan gizinya terpenuhi atau tidak terpenuhi setiap hari. Ketiga, berapa liter kebutuhan susu anak sapi yang menyusui dan berapa lama.

Ini dulu yang kita urai. Kemampuan induk sapi memproduksi susu setiap hari jika kebutuhan gizinya terpenuhi antara 11 liter sampai 16 liter dan kalau kebutuhan gizi tidak terpenuhi, produksinya bervariasi dan di bawah 11 kg, disinilah kapasitas peternak dan input sarana produksi dibutuhkan, mampukah peternak?

Selanjutnya berapa liter susu yang dibutuhkan oleh anak sapi yang menyusui setiap harinya dan berapa lama masa kritisnya. Kebutuhan susu  anak sapi yang memyusui adalah 8% hingga 10% dari berat badannya setiap hari, sedangkan masa kritisnya satu hari sampai 90 hari.

Sebagai ilustrasi, jika berat badan anak sapi berat rata-rata dari lahir sampai tiga bulan adalah 10 kg, maka kebutuhan normalnya adalah 2 liter per hari, sementara produksi susu induknya hanya 1, 6 liter. Ini untuk satu ekor anak saja kebutuhan idealnya tidak terpenuhi, itulah kenapa induk sapi pada saat menyusui pada umumnya kurus.

Jadi bisa dibayangkan kalau dua anak yang menyusui pada satu induk, maka kebutuhan gizinya tidak terpenuhi, jauh di bawah standar ideal, sehingga yang terjadi adalah anak sapi gizi buruk. Induknya akan semakin kurus karena perilaku anaknya yang terus menerus menempel pada susu induknya karena lapar. Akibatnya, induk terganggu pola makannya, maka yang terjadi adalah induk yang semakin kurus.

Kalau peternak tidak mampu mengatasi ini dan masa bodoh, maka yang terjadi adalah penurunan jumlah populasi ternak sapi di negeri antah-berantah tersebut, karena kemungkinan yang gizi buruk dan yang kurus sekali akan mengalami kematian.

Tapi tentu ada dalil lain yang akan digunakan yaitu pemberian susu tambahan untuk pemenuhan gizi anak sapi dan pemberian konsetrat untuk induknya. Tapi ingat, untuk suplai ini harus dihitung sisi ekonomisnya sebagai sebuah usaha apalagi kalau dikekola oleh rakyat, bisa jadi tujuannya mensejahterakan mereka tetapi sebaliknya yang terjadi yaitu mereka dibangkrutkan oleh usahanya.

Semoga pemikiran penulis saja yang salah, karena penulis bukan juga ahlinya.

Moncongkomba, Takalar, Rabu, 19 Februari 2020

------------
Artikel terkait:

Bupati Takalar Tantang Unhas Kembangbiakkan Sapi Kembar 

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments

Leave a Reply