iklan

Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

Sosok

» » » » » Rumus 4Sa + 1Ya: Dipaksa, Terpaksa, Bisa, Biasa, Budaya


Pedoman Karya 2:09 AM 0


BERSAMA KELUARGA. Sahban Liba (duduk kedua dari kanan) foto bersama isteri, anak, menantu, dan cucu, dengan latar belakang pemandangan yang indah. (ist) 







-------

PEDOMAN KARYA
Jumat, 07 Februari 2020


Biografi Sahban Liba (37-habis):


Rumus 4Sa + 1Ya: Dipaksa, Terpaksa, Bisa, Biasa, Budaya



Penulis: Hernita Sahban Liba

Poin ke-12 atau poin terakhir dari Mutiara Pemikiran Hidup Sahban, yaitu 4Sa + 1Ya. Rumus 4Sa + 1Ya ini digunakannya untuk menanamkan sifat disiplin diri.

Empat Sa atau 4Sa, yaitu dipaksa, terpaksa, bisa, biasa, sedangkan satu Ya atau 1Ya, yaitu budaya. Artinya, disiplin diri berkembang karena adanya paksaan dari eksternal diri seseorang yang membuat seseorang merasa terpaksa melakukan hal tersebut.

Setelah terpaksa berdisiplin, seseorang akhirnya akan menjadi mampu disiplin dengan baik. Akhirnya, orang tersebut akan merasa terbiasa dalam hidupnya untuk menjadi disiplin.

Semua ini kemudian dibalut secara kolektif lewat budaya disiplin di lingkungan seseorang, entah itu lingkungan pendidikan atau pun di lingkungan pekerjaan.

Pedoman ini yang menjadi alasan bagi Sahban untuk menerapkan pendidikan yang bersifat semi-militer di STIM-Lasharan Jaya Makassar. Sebagaimana pengalaman hidupnya yang dipaksa untuk disiplin, baik di desanya, di Makassar, di Surabaya, di Malang, di Banyuwangi, dan di Jakarta, begitu pula ia ingin mendidik para mahasiswanya.

Sahban telah dipaksa untuk disiplin oleh kebutuhan hidup dengan menghidupi kudanya. Sahban telah terpaksa disiplin di Surabaya karena hanya memiliki bekal uang pas-pasan. Sahban akhirnya menjadi disiplin selama masa pendidikan dan menjadi marinir. Dan akhirnya, selama bekerja di Pemda DKI Jakarta, ia telah begitu terbiasa dengan kedisiplinan sehingga menjadi darah dagingnya.

Demikianlah, ada sejumlah pelajaran yang dapat dipetik dari kisah hidup Sahban, langsung dari penuturan Sahban sendiri. Kita tidak perlu menjadi Sahban untuk mengetahui itu semua. Sahban telah dengan sangat baik hati berbagi pengalaman hidupnya kepada kita.

Ia telah mengumpulkannya dengan susah payah selama 80 tahun untuk dapat menjadi pelajaran bagi kita semua. Apakah kita harus menjalani berpuluh-puluh tahun lagi untuk mendapatkan pelajaran yang sama seperti yang kita dapatkan hari ini?

Sayang sekali jika ilmu ini kita tepis, karena belum kita rasakan atau berbagai pembenaran lainnya yang kita buat-buat. Inilah harta yang sangat berharga, yang semestinya kita ambil dan kita terapkan dalam hidup kita yang masih panjang. Terima kasih Sahban Liba, terima kasih telah menghidupi sejarah yang panjang untuk memberikan saripatinya kepada kami.

Garis Waktu Sejarah Hidup Sahban Liba

18 Agustus 1937: Sahban Liba lahir di Kalosi, Enrekang
April 1951: Sahban pindah ke Makassar bersama kakaknya
1953:  Sahban berhenti belajar di SMP dan membantu kakaknya berjualan kain di Pasar Butung
7 Maret 1954: Sahban berangkat ke Surabaya dengan bekal Rp 140
1 April 1954: Ujian masuk sekolah Pendidikan Guru Agama Negeri Surabaya
Mei 1954: Pengumuman kelulusan. Sahban lulus ujian.
Oktober 1954: Sahban masuk ke asrama PGAN.
Desember 1965: Penyerangan PKI pada Asrama Sulawesi. Sahban berhasil lolos dari penyerangan.
1967: Sahban dilantik sebagai perwira marinir Angkatan Laut
1 Juli 1970: Sahban mulai bertugas di bawah Ali Sadikin di Jakarta
3 Juli 1971: Sahban menikah dengan Andi Nurlaela

1972: Sahban berkenalan dengan Andi Sose
Agustus 1974: Kelahiran anak pertama, Hernita, yang berarti “hari ini dapat jutaan”
1977: Ali Sadikin pensiun, Sahban tetap bekerja di Pemda DKI Jakarta
1980: Kegiatan reuni angkatan marinir AL. Sahban mulai mempertanyakan masa depannya setelah pensiun.

1985: Sahban sekeluarga pulang ke Makassar dan membeli tanah dari dua orang warga Makassar asli
1990: Sahban pergi ke notaris bersama istrinya untuk mewujudkan gagasannya membangun bisnis dan mendirikan PT Lasharan
17 Agustus 1995: Sahban memasuki masa pensiun dan bekerja di PT Betamix, Jakarta
1998: Sahban mendirikan Akademi Manajemen Perdagangan (Amdag)

Juli 2001: Amdag menjadi Sekolah Tinggi Manajemen Lasharan Jaya (STIM-Lash Jaya)
15 Oktober 2009: Sahban meraih gelar Doktor di bidang Manajemen Pendidikan dari Universias Negeri Jakarta
20 Februari 2010: Sahban meraih penghargaan Tokoh Teladan Pendidikan dari AS Center
2 Mei 2010: Sahban meraih penghargaan penulis buku ilmiah dari Kopertis Wilayah IX Sulawesi

14 Januari 2011: STIM-Lash Jaya mendapatkan akreditasi B dari BAN-PT
2011: Pembangunan villa dan waterpark Kalimbua Indah dimulai
26 Februari 2014: STIM-Lash Jaya berhasil membangun kerjasama dengan Northern Illinois University
2015: Sahban digantikan oleh anaknya, Hernita, sebagai Ketua STIM-Lash Jaya

Daftar Pustaka

Sebagian besar paparan dalam buku ini berdasarkan beberapa kali wawancara dengan Sahban Liba sendiri. Walau begitu, beberapa informasi ditambahkan dari sejumlah sumber sebagaimana didaftarkan sebagai berikut:

Informasi tentang trem di Surabaya. Firman, M (2013)
Tabloid Cerdas (Mei 2010) Profil Dr. H. Sahban Liba, MM. Kopertis Wilayah IX Sulawesi.
Nilai tukar Rupiah terhadap Dollar. Berilmu.com (10 Maret 2013)
Sejarah Nilai Tukar Rupiah dari Tahun ke Tahun. http://berilmu.com/blog/sejarah-nilai-tukar-rupiah-dari-tahun-ke-tahun/
Adat perkawinan Bugis. Kadir, N., & Maf’ul, M. A. (2016).
Adat Perkawinan Masyarakat Bugis Dalam Perspektif UU No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan Di Desa Doping Kecamatan Penrang Kabupaten Wajo. Jurnal Tomalebbi1(3), 55-70.
Biografi Andi Sose. Harian Fajar (2016) 100 Tokoh Sulsel. Makassar: Harian Fajar
Biografi Andi Sose. Tirto (2 Agustus 2016)
Biografi E.W.A Pangalila. Geo Kalin (13 Desember 2014)

Editor: Asnawin Aminuddin

--------
Artikel sebelumnya:

Biografi Sahban Liba (36): Kalau Ada Jangan Dimakan, Kalau Tidak Ada Baru Dimakan 

Biografi Sahban Liba (35): Dari Desa ke Kota Kembali ke Desa

Biografi Sahban Liba (35): Tujuan Akhir Hidup adalah Mencari Ketenangan  

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments

Leave a Reply