Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

Sosok

» » » » » » Jangan Jadikan Pemimpin Bila Mereka Lebih Mengutamakan Kekafiran


Pedoman Karya 5:48 AM 0


Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu pemimpin-pemimpinmu, jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin-pemimpinmu, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (At-Taubah/9: 23)

 



-----------
PEDOMAN KARYA
Selasa, 18 Agustus 2020


Al-Qur’an Menyapa Orang-orang Beriman (50):


Jangan Jadikan Pemimpin Bila Mereka Lebih Mengutamakan Kekafiran


  
Oleh: Abdul Rakhim Nanda
(Wakil Rektor I Unismuh / Wakil Sekretaris Muhammadiyah Sulsel)


Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu pemimpin-pemimpinmu, jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin-pemimpinmu, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (At-Taubah/9: 23)


Ayat ini meneguhkan hati orang-orang beriman, bahwa ikatan iman lebih utama dari pada ikatan kekerabatan, sekaligus menunjukkan bahwa persoalan aqidah Islam tidak bisa bertoleransi dengan kekufuran dan kesyirikan.

Ini adalah konsekuensi keimanan yang harus dikuatkan. Syekh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di menuliskan: “Lakukanlah tuntutan iman dengan berwala’ (menunjukkan loyalitas dan kecintaan, pen.) kepada yang menunaikannya dan bermu’adah (membenci dan menjauh, pen.) kepada yang tidak menunaikannya.

Sikap ini ditunjukkan dengan tidak menjadikan bapak ataupun saudara sebagai pemimpin walau sangat dekat. Jangan jadikan mereka sebagai pemimpin jika mereka lebih mementingkan kekufuran di atas keimanan.

Quraish Shihab menafsirkan, bahwa terhadap orang-orang beriman ayat ini berfungsi mengingatkan, sedangkan terhadap orang-orang munafik, ayat ini berpesan: “Wahai orang-orang beriman, baik yang tulus maupun yang hanya beriman dengan lidahnya, jangan kamu memaksakan diri apalagi dengan suka rela menjadikan bapak kamu maupun saudara kamu menjadi pemimpin, sehingga kamu menyampaikan kepada mereka rahasia kamu dan atau mencintai mereka lebih dari cinta kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, jika mereka yakni bapak dan saudara kamu itu lebih mengutamakan kekufuran atas keimanan.”

Dalam hal menetapkan pilihan atas kondisi psikologis manusia, antara memilih Allah SWT dari pada kerabatnya, maka Sayyid Quthb menulislkan dalam tafsirnya Fie Zhilail Qur’an, bahwa: “Aqidah menginginkan agar setiap hati murni dan sejati untuk Allah dan segala cintapun murni untuk-Nya, dan agar Dia-lah yang menguasai dan mengatur hati, yang menggerakkan dan mendorong.

Penengah dan pemisah jalan di sini adalah apakah aqidah yang menguasai atau pilihan nafsu yang cenderung diikutinya untuk mencapai kenikmatan. Jika seorang muslim telah merasa tenteram karena hatinya telah benar-benar murni dan sejati untuk aqidahnya, maka tidak ada cela sedikitpun baginya setelah merasakan nikmat Allah –berupa memiliki anak, saudara, pasangan dan kerabat, ataupun kenikmatan lain berupa harta benda, perhiasan dan rizki yang baik.

Bahkan, kenikmatan saat itu menjadi sangat dianjurkan, sebagai bentuk kesyukuran kepada Allah yang telah menganugreahkannya, agar hamba-hamba-Nya menikmatinya, dengan terus berdzikir mengingat-Nya, bahwa Dialah Yang Maha pemberi rizki, Maha pemberi nikmat dan Maha menganugerahkan.

Namun, “Wahai orang-orang beriman! janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu pemimpin-pemimpinmu, jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan.”

Demikianlah putusnya hubungan darah dan nasab, jika hubungan hati dan aqidah telah terputus. Hubungan kedekatan kerabat di keluarga batal dengan sendirinya bila kedekatan kerabat dengan agama Allah telah batal (disebabkan mereka lebih mengutamakan kekufuran atas keimanan, pen,). Demikian disadurkan dari Sayyid Quthb.

Kemudian lanjutan firman Allah SWT: “Dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin-pemimpinmu, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”

Sayyid Quthb menuliskan: “Kata az-zhâlimun di sini yang dimaksudkan adalah orang-orang yang musyrik. Maka menjadikan keluarga dan kaum kerabat sendiri sebagai wali dan pemimpin bila mereka lebih mengutamakan cinta kepada kekufuran dari pada iman, merupakan bentuk syirik yang tidak akan pernah bersatu dengan iman.

Sementara Quraish Shihab menafsirkan: Dikatakan, “zhalim karena telah menempatkan sesuatu yang bukan pada tempatnya, yakni memilih pemimpin yang tidak tepat dan meninggalkan yang seharusnya dipilih, juga dikatakan zhalim dalam arti menganiaya diri sendiri, karena sikap dan perbuatannya mengundang jatuhnya sanksi Allah atas mereka.”

Bahkan Syekh As Sa’di mengatakan mereka zhalim karena mereka berani bermaksiat kepada Allah dan menjadikan musuh-musuh Allah sebagai pemimpin. (bersambung)

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments

Leave a Reply