Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

Sosok

» » » "Ini Bukan Festival" Wujud Kerja Jejaring dan Pengorganisasian Berkeseniaan


Asnawin Aminuddin 12:35 AM 0




PEDOMAN KARYA

Kamis, 19 November 2020



"Ini Bukan Festival" Wujud Kerja Jejaring dan Pengorganisasian Berkeseniaan



MAKASSAR, (PEDOMAN KARYA). Halim HD, Networking Kebudayaan, mengapresiasi penyelenggaraan "Ini Bukan Festival" yang diadakan oleh kolaborasi lintas seniman di Sulawesi Selatan. 



Dia mengatakan, kegiatan berkesenian itu perlu diorganisasikan dan terus dibangun jejaringnya.

"Inilah yang membuat saya tertarik datang ke M,akassar, sebagai bentuk dukungan terhadap penyelenggaraan Ini Bukan Festival," kata Halim di hadapan peserta workshop bertema Komunitas Sebagai Basis Sistem Produksi, di Etika Studio, Jl Tamalate I Makassar, Kamis, 19 November 2020.

Materi workshop yang diprint satu lembar, yang dipegang oleh peserta, katanya, sama dengan yang dia ajarkan untuk mahasiswa Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. 

Selain Komunitas Sebagai Basis Sistem Produksi, materi lainnya yakni Pengembangan Komunitas dan Jaringan Kerja Kebudayaan serta Komunitas Sebagai Jaringan Distribusi Kreatif.

Selain memberi materi workshop, Halim HD juga jadi pembicara dalam Dialog Mengenang Karya Andi Ummu Tunru. 

Dia jadi pembicara bersama Andi Redo dari Batara Gowa dan Dr Halilintar Latief, yang dipandu Dr Asia Ramli Prapanca. Sebelum sesi dialog dilakukan pertunjukan Ma'lino Dance, In Memoriam Andi Ummu Tunru oleh Batara Gowa.

Gelaran "Ini Bukan Festival" menampilkan seniman lintas generasi dari beberapa daerah, seperti Makassar, Gowa, Maros, Bulukumba, dan Barru. 

Perhelatan yang menampilkakn seni tari, musik, rupa, teater, dan sastra ini diselenggarakan di Etika Studio, Jln Tamalate I Makassar, mulai 15-21 November 2020.

Selama kegiatan, pengunjung tak hanya dihibur oleh pertunjukan kesenian tapi juga mendapat edukasi melalui diskusi yang menghadirkan pelaku kesenian maupun akademisi. 

Selain itu, pengunjung bisa membeli kerajinan unik, kaos dan kuliner di area pasar, yang menghadirkan pelaku UMKM, di antaranya ada Egg Box, nasi kuning Berkah, Circle Eleven dan Asosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kecil Mikro (ASPPUK) Maros, Pangkep dan Barru.

Salah satu kegiatan yang sudah dilaksanakan adalah bedah buku Sanja Mangkasara "Attayang Ri Masunggua" karya Syahril Patakaki Dg Nassa, yang menghadirkan Dr Kembong Daeng, sebagai pembahas, dan Dr Asis Nojeng sebagai moderator.

Acara bedah buku dan pembacaan karya sastra ini dihadiri antara lain oleh antropolog dan budayawan, Dr Halilintar Latief, aktivis LSM, Asmin Amin, serta sejumlah penulis dan penyair. 

Kembong Daeng, menyebut puisi bebas dalam bahasa Makassar ini merupakan pengembangan sastra Makassar. 

Selama ini sastra Makassar hanya mengenal, antara lain royong, doangang, kelong-kelong, sinrilik, pakacaping, tulikiama, dondo dan toeng bambo. 

Menurut Kembong, kelebihan dari buku yang ditulis Syahril Patakaki karena disertai aksara lontarak. 

"ecara keseluruhan, saya sangat terharu terhadap isi buku puisi ini. Karena banyak kosa kata yang digunakan sudah jarang dipakai, baik dalam penuturan maupun penulisan," kata Kembong Daeng yanv sehari-hari menjabat Ketua Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah JBSI-FBS Universitas Negeri Makassar (UNM). 


Pertunjukan di Panggung


Di panggung "Ini Bukan Festival" juga tampil mahasiswa Unismuh Makassar, yang tergabung dalam Bengkel Seni, Bahasa dan Sastra Indonesia (BASSI). Mereka menampilkan musik akustik dan monolog "Bertarung dalam Sarung" karya Alfian Dipahatang.

Juga ada pertunjukan monolog "Opo" karya Bahar Merdhu yang dibawakan Arzety dari Maros. Sementara dari Grisbon menampilkan musik milenial dan pertunjukan teater "Anak-anak yang Bermain Teater". 

Usai pertunjukan, dilanjutkan dengan diskusi yang menampilkan Bahar Merdhu, penulis dan sutradara teater dan Moch Hasymi Ibrahim, budayawan Sulsel.

Dr Halilintar Latief, salut atas penyelenggaraan event ini yang mengindikasikan antusiasme orang berkesenian. Namun event ini juga mengingatkan bahwa warga membutuhkan gedung kesenian yang representatif.

"Karena kalau kota ini mau jadi kota dunia, indikatornya hanya tiga, yakni museum, perpustakaan dan gedung kesenian, bukan mal dan pusat-pusat perbelanjaan," pungkasnya. (dinto)

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments

Leave a Reply