Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

Sosok

» » » » Rasulullah Menangis Memikirkan Umatnya


Pedoman Karya 10:23 PM 0

Rasulullah bertanya: “Bagaimana dengan pintu ke-7, diperuntukkan untuk siapa pintu itu?”

Sejenak malaikat Jibril terdiam. Malaikat Jibril seperti ragu untuk menyampaikan siapa yang akan menghuni pintu ketujuh. Akan tetapi Rasulullah SAW mendesaknya sehingga akhirnya Malaikat Jibril berkata, “Pintu ke-7 diperuntukkan bagi umatmu yang berdosa besar dan meninggal sebelum mereka bertaubat sebelum meninggal.” (Foto: Asnawin Aminuddin / PEDOMAN KARYA)



--------

PEDOMAN KARYA

Sabtu, 07 November 2020

 

 

KALAM

 

 

Rasulullah Menangis Memikirkan Umatnya

 

 

Dikisahkan dalam suatu riwayat, suatu ketika Jibril datang menemui Rasulullah SAW. Jibril kali ini datang di waktu yang tidak biasa bahkan raut wajah Jibril pun terlihat berbeda dari biasa.

Melihat perbedaan dari malaikat Jibril ini, Rasulullah SAW lantas bertanya, “Mengapa aku melihat kau raut wajahmu berbeda?”

Jibril menjawab, “Ya Muhammad, aku datang kepadamu di saat Allah menyuruh supaya dikobarkan penyalaan api neraka, maka tidak layak bagi orang yang mengetahui bahwa neraka Jahannam itu benar, siksa kubur itu benar, dan siksa Allah itu terbesar untuk bersuka-suka sebelum ia merasa aman dari padanya”.

“Ya Jibril, jelaskan padaku gambaran neraka Jahannam itu!” tanya Rasulullah SAW.

“Ketika Allah menciptakan Jahannam, maka dinyalakan apinya selama 1000 tahun sehingga merah, kemudian dilanjutkan 1000 tahun sehingga putih, kemudian 1000 tahun sehingga hitam, lalu menjadi hitam gelap, tidak pernah padam nyala dan baranya. Demi Allah, andaikan terbuka sebesar lubang jarum niscaya akan dapat membakar semua penduduk dunia karena panasnya. Demi Allah, andaikan satu baju ahli neraka itu digantung di antara langit dan bumi niscaya akan mati penduduk bumi karena panas dan bau busuknya yang tak tertahankan. Demi Allah, andaikan satu pergelangan dari rantai itu diletakkan di atas bukit, niscaya akan cair sampai ke bawah bumi yg ke-7. Demi Allah, andaikan seorang di ujung barat tersiksa, niscaya akan terbakar orang-orang yang di ujung timur karena sangat panasnya. Jahannam itu sangat dalam, perhiasannya besi dan minumannya air panas bercampur nanah, dan pakaiannya adalah potongan-potongan api. Api neraka itu ada 7 pintu, jarak antar pintu sejauh 70 tahun, dan tiap pintu panasnya 70 kali dari pintu yang lain”.

Nabi Muhammad SAW meminta Jibril untuk menjelaskan satu per satu mengenai pintu-pintu neraka tersebut.

Jibril lalu menjelaskan apa yang diminta oleh Rasulullah SAW, “Pintu pertama dinamakan Hawiyah (artinya: jurang), yang diperuntukkan bagi kaum munafik dan kafir.

Pintu ke-2 dinamakan Jahim, yang diperuntukkan bagi kaum musyrikin.

Pintu ke-3 dinamakan Saqar, yang diperuntukkan bagi kaum shobiin atau penyembah api.

Pintu ke-4 dinamakan Ladha, diperuntukkan bagi iblis dan para pengikutnya.

Pintu ke-5 dinamakan Huthomah (artinya: menghancurkan hingga berkeping-keping), diperuntukkan bagi kaum Yahudi.

Pintu ke-6 dinamakan Sa’ir (arti harfiahnya: api yang menyala-nyala), diperuntukkan bagi kaum kafir.

Rasulullah bertanya: “Bagaimana dengan pintu ke-7, diperuntukkan untuk siapa pintu itu?”

Sejenak malaikat Jibril terdiam. Malaikat Jibril seperti ragu untuk menyampaikan siapa yang akan menghuni pintu ketujuh. Akan tetapi Rasulullah SAW mendesaknya sehingga akhirnya Malaikat Jibril berkata, “Pintu ke-7 diperuntukkan bagi umatmu yang berdosa besar dan meninggal sebelum mereka bertaubat sebelum meninggal.”

Mendengar penjelasan yang mengagetkan itu, Rasulullah pun langsung pingsan, Jibril lalu meletakkan kepala Rasulullah Shallallahu allaihi wassalam di pangkuannya sehingga sadar kembali dan sesudah sadar beliau bersabda: “Ya Jibril, sungguh besar kerisauan dan sangat sedih hatiku. Apakah ada seorang dari umatku yang akan masuk ke dalam neraka?”

Jibril menjawab, “Ya, yaitu orang yang berdosa besar dari umatmu.”

Rasulullah SAW lalu menangis mendengar penuturan Jibril, Jibril pun ikut menangis. Kemudian Rasulullah langsung masuk ke dalam rumahnya dan tidak keluar kecuali untuk shalat.

Setelah kejadian itu, beliau tidak berbicara dengan siapapun selama beberapa hari, dan ketika shalat beliau pun menangis dengan tangisan yang sangat memilukan. (asnawin, dikutip dari )


«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments

Leave a Reply