Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

Sosok

» » » » » Hadiah dari Prof Idris Arief


Pedoman Karya 5:58 PM 1

Almarhum Prof Idris Arief lahir di Sinjai, pada 1 Februari 1942, dan wafat di Makassar, pada 22 Juni 2013.

Beliau adalah pendiri Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Makassar (STIEM) Bongaya, dan juga mantan Rektor Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Ujungpandang.

Pada saat beliau menjabat rektor, nama IKIP Ujungpandang berubah menjadi Universitas Negeri Makassar (UNM).


 

 

-------------

PEDOMAN KARYA

Jumat, 01 Januari 2021

 

 

Hadiah dari Prof Idris Arief

 

 

Beberapa hari menjelang berakhirnya tahun 2020, banyak kabar duka beredar di media sosial, termasuk kabar duka meninggalnya beberapa profesor. Kabar duka tersebut mungkin tersimpan di alam bawah sadar saya sehingga terbawa dalam mimpi.

Saya bermimpi bertemu Prof Idris Arief. Kami bertemu pada sebuah acara. Beliau memakai jas hitam dan senyumnya yang khas selalu merekah. Kami duduk satu meja, bersama seorang petinggi dan istri dari petinggi itu. Prof Rabihatun, istri dari Prof Idris Arief duduk sendiri di meja sebelah.

Saat tengah bercanda, tiba-tiba Prof Idris Arief memberikan kepada saya hadiah kaos kaki, buku, pulpen, dan beberapa jenis barang lainnya dalam jumlah yang cukup banyak.

Hadiah itu saya ambil semuanya lalu saya pindahkan ke meja sebelah tempat Ibu Atun, sapaan akrab Ibu Prof Rabihatun, duduk.

Ibu Atun tersenyum. Saya bilang, hadiah ini akan saya bawa ke Bulukumba untuk saya bagikan kepada keluarga. Ibu Atun tetap tersenyum, Prof Idris juga tersenyum dari meja sebelah sambil melihat ke arah saya. Dan saat itulah saya terbangun.

 

Pendiri STIEM Bongaya dan Mantan Rektor IKIP/UNM

 

Almarhum Prof Idris Arief lahir di Sinjai, pada 1 Februari 1942, dan wafat di Makassar, pada 22 Juni 2013.

Beliau adalah pendiri Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Makassar (STIEM) Bongaya, dan juga mantan Rektor Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Ujungpandang.

Pada saat beliau menjabat rektor, nama IKIP Ujungpandang berubah menjadi Universitas Negeri Makassar (UNM).

Ketika saya masuk kuliah pada jurusan Pendidikan Olahraga, Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan (FPOK) IKIP Ujungpandang tahun 1986, almarhum Idris Arief sudah jadi dosen.

Ketika saya jadi wartawan di Harian Pedoman Rakyat tahun 1992, almarhum Idris Arief sudah menjabat Wakil Rektor. Sejak itulah, saya mengenal beliau dan mulai berteman sebagai wartawan dan narasumber berita.

Kami menjadi lebih akrab ketika beliau terpilih menjadi rektor (1999-2003, 2003-2007). Keakraban kami tetap berlanjut saat beliau tidak lagi menjabat rektor.

Saya sering menemui beliau (kadang-kadang juga beliau yang memanggi saya) dan berbincang-bincang santai di ruang kerjanya, baik ketika masih menjabat rektor, maupun setelah beliau lebih banyak menghabiskan waktu di Kampus STIEM Bongaya sebagai pendiri dan sekaligus ketua yayasan.

Almarhum juga cukup rajin menulis, termasuk artikel opini untuk dimuat di surat kabar. Kadang-kadang beliau memanggil saya untuk membaca tulisannya sebelum dikirim ke media massa.

Yang juga sangat berkesan dan tak mungkin saya lupakan, yaitu ketika almarhum membantu saat kami benar-benar butuh bantuan, antara lain ketika saya diopname di rumah sakit dan beliau mengutus seseorang mengantarkan amplop berisi uang, yang jumlahnya melebihi jumlah yang harus kami bayar.

Masih banyak lagi bantuannya kepada kami yang tentu saja menjadi amal bagi beliau sebagai bekal di hari akhirat.

Saya tahu, bukan hanya saya yang sering beliau bantu, tetapi juga banyak lagi yang lain. Almarhum juga membangun masjid dan juga menyumbang untuk berbagai kegiatan sosial keagamaan.

Bakti dan jasanya sebagai pengajar, sebagai dosen, serta sebagai pimpinan dan pendiri kampus, sungguh sangat besar, dan itu semua, insya Allah, akan menjadi amal jariyah untuknya.

Almarhum Muhammad Idris bin Muhammad Arief meninggal dunia pada 22 Juni 2013, dan dimakamkan di Pemakaman UNM, Limbung, Kecamatan Bajeng, Kabupaten Gowa.

Di batu nisannya tertera sebuah kalimat, “Bila ingin dicintai makhluk langit, cintailah makhluk bumi.”

“Kalimat itu sering bapak sampaikan saat masih hidup,” kata Ibu Atun.

Semoga amal ibadah almarhum diterima oleh Allah SWT, dosa-dosanya diampuni, kuburnya dilapangkan, dan dihindarkan dari api neraka, amin. (asnawin)

Tombolo, 30 Desember 2020


 

 

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

1 comments Hadiah dari Prof Idris Arief

  1. Semoga Alm. Prof Idris Arief dilapangkan kuburnya dan di tempatkan di Jannahnya Allah SWT. Aamiin...

    ReplyDelete