Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

» » » » In Memoriam Andi Darussalam Tabussala: Pergi Setelah Memperoleh Mukjizat Kehidupan


Pedoman Karya 2:12 AM 0

TOKOH SEPAKBOLA NASIONAL dan mantan Ketua KONI Sulsel, Haji Andi Darussalam Tabusalla, meninggal dunia di Makassar, pada Senin malam, 16 Agustus 2021. 






-------- 

PEDOMAN KARYA

Rabu, 18 Agustus 2021

 

In Memoriam Andi Darussalam Tabussala:

 

 

Pergi Setelah Memperoleh Mukjizat Kehidupan

 

 

Catatan M Dahlan Abubakar

(Wartawan Senior)

 

Sudah hari ke-35 saya mendekam di rumah karena penyakit tipes, ketika membaca berita duka kepergian H. Andi Darussalam Tabusalla di media sosial bertepatan dengan Hari Ulang Tahun ke-76 Proklamasi Kemerdekaan RI.

Beberapa hari sebelumnya saya ikut nimbrung di media sosial mendoakan semoga ADS – begitu kami menyapanya – cepat pulih, saat serunya permintaan donor darah O. Di pembaringan saya berpikir, Puang kembali bertarung ketat lagi mencoba memperpanjang tarikan napasnya.

Catatan saya berikutnya, pernah dimuat di Majalah PIJAR Barru. Kontennya diambil dari buku “Andi Darussalam Tabusalla AKU DAN TUHANKU” yang ditulis Andy Pallawa (Global Publishing, 2020) dan beberapa tambahan di bagian akhir..  

“Setelah kurang lebih 5 tahun menjalani proses cuci darah (hemodialisa), atas saran dokter, ADS pun melakukan operasi transplantasi ginjal. Waktu lima tahun untuk ukuran Kota Makassar, termasuk sangat jarang.

Maksud saya, sangat jarang pasien yang menjalani cuci darah bisa bertahan. Beberapa pasien malah sudah meninggal dunia, padahal baru beberapa kali cuci darah. Tetapi di “Mount Elizabeth Hospital” Singapura, ADS mendapati beberapa pasien yang berusia lanjut dan mengaku sudah 20 tahun menjalani cuci darah.

Ternyata informasi itu, secara manusiawi membuat ADS lebih bersemangat. Padahal, secara periodik dia sebenarnya sudah “enjoy” cuci darah dan tidak pernah berpikir menjalani operasi transplantasi ginjal.

Orang-orang juga jarang yang tahu ADS rutin cuci darah karena alatnya justru dipasang di dada sebelah kanan. Tidak seperti pada umumnya, dipasang di tangan kanan atau kiri, sehingga tangan sering terlihat bengkak.

Atas dorongan keluarga, ADS akhirnya mengalah dengan harapan ke depan dapat beraktivitas secara optimal tanpa harus disibukkan dengan proses cuci darah tiga kali sepekan. Belum lagi kalau terjadi penyumbatan akibat darah yang membeku, sehingga harus mengganti slang, bahkan menjalani operasi. Kalau terlambat cuci darah, bisa berakhir fatal.

Itulah sebabnya, transplantasi ginjal menjadi pilihan yang realistis. Sebuah riset malah menyebutkan, transplantasi ginjal dapat memperpanjang harapan hidup seseorang, terutama bila dibandingkan cuci darah.

Tan Khat Tong, dokter yang dulu mengoperasi ginjal ADS karena ditemukan ada kanker, memberitahu, setelah lima tahun cuci darah sudah aman dilakukan transplantasi ginjal. ADS langsung setuju. Dia memaknai transplantasi ginjal sebagai jalan yang diberikan Tuhan agar dirinya bisa lebih sehat dan dekat kepada-Nya. 

Operasi transplantasi ginjal ini sempat tertunda beberapa kali. Penyebabnya, terutama ADS terkena gangguan infeksi dan virus yang bertubi-tubi. Kateter di pembuluh darahnya  juga harus berkali-kali diganti agar betul-betul steril. Semua proses yang berpotensi membahayakan proses transplantasi ginjal harus diantisipasi. Termasuk kemungkinan adanya gangguan jantung, gangguan hati, bahkan penyakit paru-paru.

Semula ADS berencana menjalani operasi transplantasi ginjal di RSUPN Dr.Cipto Mangunkusumo Jakarta. Sebab, sejak 2012 rumah sakit ini telah sukses melakukan sejumlah operasi. Termasuk mengoperasi H. Beddu Amang, mantan Kepala Bulog era Orde Baru. ADS sudah meminta Abriadi dan Syamsuddin Umar, dua orang dekatnya di Makassar, mencari pendonor di Makassar. Beberapa di antaranya bahkan sudah diterbangkan ke Jakarta untuk pemeriksaan awal. 

Atas saran beberapa pihak, termasuk sejumlah keluarga, ADS malah memutuskan menjalani operasi di Mount Elizabeth Hospital Singapura. Sejumlah dokter di rumah sakit itu, ADS sudah kenal secara pribadi. Persoalannya, kebijakan di rumah sakit itu pendonor harus memiliki hubungan darah dengan resipien (penerima donor). Mereka sangat ketat, terutama guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Misalnya, kecocokan ginjal, golongan darah, dan jaringan tubuh pasien dengan pendonor. Dan, juga berbagai kemungkinan komplikasi yang bisa timbul.

Sebenarnya, sejak awal Isa Darussalam sebagai salah seorang anak, menyatakan siap menjadi pendonor. Tetapi ayahnya menolak, khawatir akan berdampak buruk bagi kesehatan anaknya itu ke depan.

Paling tidak, ADS berpikir, akan mengganggu aktivitas keseharian anaknya. Sementara Isa, kata ayahnya, masih muda dan sedang meniti karier. Isa memang bekerja dan tinggal di Amerika Serikat. Karena berkeras dan didukung oleh saudara-saudaranya, ADS akhirnya mengalah. Apatah lagi dengan kebijakan rumah sakit yang memang sangat ketat menerima pendonor.

Di rumah sakit itu, bahkan ada Tim Komite yang akan mewawancarai pendonor dan resipien sebelum operasi dilakukan. Tim yang beranggotakan 4 orang ini terdiri atas dokter rumah sakit dan penjabat Kementerian Kesehatan Singapura.

Tim Komite kemudian memanggil  Isa. Mereka menanyainya   berbagai hal. Wawancara intensif ini juga dimaksudkan sebagai evaluasi psikologis agar diketahui bahwa pendonor betul-betul memahami persoalan, termasuk berbagai risiko yang bisa muncul. Misalnya, “Kenapa bersedia menjadi pendonor?”

Isa menjelaskan, di Amerika Serikat  sudah menjadi anggota salah satu organisasi sosial yang siap mendonasikan organnya dipindahkan ke orang lain yang lebih membutuhkan.

“Kebetulan ayah  membutuhkan, saya merasa lebih pas lagi karena berkesempatan berbakti kepada orangtua,” Isa menjelaskan kepada Komite.

“Cepat atau lambat, saya pasti mendonorkan organ tubuh,” kata Isa  menjawab pertanyaan tim itu yang ternyata terus mencecarnya.

 “Apakah saya tidak menyesal?”.

“Kenapa harus menyesal? Justru ini kewajiban seorang anak mencoba meringankan penderitaan ayahnya,” Isa menjawab.

Sebelumnya, ADS juga sempat diwawancarai oleh Tim Komite.

“Apakah Anda sadar bahwa transplantasi ginjal itu operasi besar dengan berbagai kemungkinan terburuk yang bisa menimpa?,” tanya Tim.

“Saya sadar sepenuhnya. Lagipula tidak ada pilihan lain. Setelah lima tahun rutin menjalani proses cuci darah, memang sudah saatnya transplanrtasi ginjal. Bahwa setiap tindakan operasi bisa berdampak buruk, saya pikir tidak ada persoalan. Saya punya Tuhan yang akan memberikan yang terbaik buat diriku,” balas ADS.

“Kalau Anda sehat nantinya, dan ternyata di kemudian hari anakmu justru membutuhkan ginjalnya, apakah Anda bersedia mengembalikannya?,” kejar Tim itu lagi.

“Tidak ada persoalan, saya siap memberikan sebab memang dia yang punya,: balas Ayah lagi.

Beberapa hari menjelang operasi, sejumlah tindakan medis dilakukan sebagai persiapan. Kondisi ADS diperiksa melalui pemeriksaan fisik, tes darah, pencintraan seperti “Rontgen (pemeriksaan menggunakan sinar X), “Computerized Tomography” (CT) scan” atau “Magnetic Resonance Imaging” (MRI) –pencintraan resonansi magnetik – bagian badan yang diambil menggunakan daya magnet. Bahkan juga pemeriksaan psikologi guna memastikan kesiapan ADS.

Lantaran letak kamar Isa dengan kamar ayahnya berhadapan, ADS sempat mendatangi Isa  untuk mengucapkan terima kasih atas keikhlasan mendonorkan ginjal. ADS juga melihat persis saat Isa melintas, didorong oleh perawat di atas kursi roda menuju kamar operasi.

Spontan ADS berdiri menuju pintu kamarnya sekadar mengantarnya dengan pandangan. Rupanya ayahnya sempat melihat anaknya itu  dengan senyum merekah.

“Aku duluan, Pak,” kata Isa  sembari melambaikan tangan kepada ayahnya.

ADS kemudian menjelaskan, hanya bisa mengangguk sembari balas melambaikan. Suara ayahnya seolah tercekak di kerongkongan. Katanya, tak terasa air matanya menggenang di pelupuknya. Ayahnya membayangkan betapa besar pengorbanan sang anak yang ikhlas menyerahkan organ ginjal hanya karena ingin melihat ayahnya sehat.

“Aku bersyukur dikaruniai Tuhan anak yang berhati mulia,” Ayahnya membatin.”.

Perjuangan ADS termasuk campur tangan dan mukjizat yang diberikan Tuhan. Seperti terungkap di dalam buku ini, bertahan lima tahun terus menjalani cuci darah, termasuk langka. Kita di Makassar kerap mendengar ada sahabat yang harus cuci darah dan  berbilang hari kemudian sudah berhenti cuci darah karena meninggal dunia.

Kini, ADS sudah menuntaskan masa mukjizat hidup yang diberikan kepadanya dan Allah SWT memanggilnya. Inna lillahi wainna ilaihi rajiun....

 

Dari Catur ke Sepakbola

 

ADS dilahirkan di Kota Pahlawan Surabaya, 25 Agustus 1950. Ia, anak pertama pasangan mendiang Andi Tabusalla  dan (almarhumah) Hj Maryam Mattalitti. Suami Andi Tenriangka Yasin Limpo ini mengarungi kehidupan yang penuh multidimensi. Meski ‘core’ kepiawaiannya berorganisasi di sepakbola, namun ADS ‘’start’’ dengan organisasi catur, ketika menjadi Pengurus Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi) Jakarta tahun 1970-an.

Jika berbicara mengenai olahraga catur, ADS akan selalu mengenang satu tindakan penyelamatan, bagaikan seorang penjaga gawang yang berhasil menggagalkan satu ekskusi tendangan penalti pemain bintang. Peristiwa ini tidak saja diingat oleh ADS sendiri, tetapi masyarakat catur Indonesia dan dunia.

Ketika kepengurusan PB Percasi di bawah pimpinan Bob Hasan antara tahun 1990-1994, ada pertandingan perebutan gelar sangat bergengsi yang dihelat Federation International d’Echess (FIDE) -- Federasi Catur Internasional. Presiden FIDE waktu itu adalah Campomanes. Yang bertanding adalah juara dunia Gary Kasparov (Uni Soviet) melawan Nigel Short dari Inggris.

Pertandingan itu, tulis Machnan Kamaluddin, dalam ‘’Andi Darussalam Tabusalla Manusia Multi Dimensi’’ editor Suryopratomo (Penerbit PT Pundi Laras Media, Jakarta, 2010), dijadwalkan berlangsung di Amsterdam Negeri Belanda. Tatkala semuanya siap, mendadak Kasparov dan Short mengundurkan diri. Kedua pecatur itu mendirikan Persatuan Grand Master Profesional sekaligus menyatakan dirinya hengkang dari FIDE.Posisi gelar juara dunia organisasi FIDE pun kosong. Campomanes tentu saja kelabakan.

Campomanes tidak kehilangan akal. Dia mengontak Bob Hasan dan menanyakan kesediaannya menjadikan Indonesia sebagai tuan rumah kejuaraan dunia FIDE yang kosong mempertemukan petingkat III Anatoly Karpov (Uni Soviet) melawan Jan Timman (peringkat ke-4) dari Negeri Belanda. Bob Hasan menyatakan OK dan menunjuk Machnan Kamaluddin dan ADS sebagai pelaksana.

Singkat cerita, pertandingan pun diselenggarakan di sebuah ruang tertutup Jakarta Hilton Convention Centre. Meski lokasi pertandingan ‘tersembunyi’’ dari pandangan umum, namun penggila catur tidak kecewa. Sebab, pertama kali di dunia, sebuah kejuaraan catur dunia disiarkan langsung melalui Close Circuit Televisi (CCTV) tanpa mengusik konsentrasi pemain. Luar biasa!

Dari catur, ADS menyeberang ke sepakbola, ketika dipercaya M.Jusuf Kalla sebagai manajer klub Makassar Utama dan pada tahun 1985 klub tersebut praktis di bawah kendalinya.

Mengurus MU (Makassar Utama) ternyata memberikan pelajaran berharga bagi ADS dalam berurusan dengan olahraga bola kulit ini ke depan. Kiprahnya di tingkat nasional tidak terbendung lagi, saat Acub Zaenal, Nabon Noor, dan Ismet Tahir menariknya menjadi Sekretaris Eksekutif Galatama (Liga Sepakbola Utama). Pada tahun 1986, ADS sempat menjadi manajer tim Liga Selection dan manajer tim itu ke turnamen sepakbola bergengsi King Cup (Piala Raja) di Bangkok tahun 1987.

Langkah awal itu mengantarnya terus maju ketika dipercaya menjadi manajer tim nasional PSSI ke Piala Kemerdekaan 1988 dan tim nasional PSSI yang lolos ke putaran final Piala Asia di China tahun 1990. Tak berhenti di situ, ADS juga diberi tanggung jawab memimpin Tim Nasional menghadapi Kejuaraan ASEAN Football Federation (AFF) dan putaran final Piala Asia di Jakarta 2007.

Pada tahun 2008, ADS menjadi Direktur Badan Liga Indonesia. Pada peringatan HUT ke-80 PSSI di Gedung Jakarta International Exoo Kemayoran, 30 April 2010, ia menerima penghargaan ‘’Suratin Utama’’ atas pengabdiannya di persepakbolaan nasional selama lebih dari 25 tahun. 

Dari catur, sepakbola, ADS juga merambah ke organisasi olahraga angkat besi, atletik, senam, dan catur. Di bawah Bob Hasan, ia memasuki organisasi yang tidak ada hubungannya olahraga, Asosiasi Pengusaha Kayu Lapis Indonesia (Apkindo). Namun yang paling luar biasa, ADS dipercaya sebagai negosiator utama dalam penyelesaian masalah lumpur Sidoarjo tahun 2008. 

Kini, tokoh olahraga nasional ini pergi,meninggalkan kenangan tak terbilang. Dia pergi bagaikan, harimau meninggalkan belangnya dan gajah meninggalkan gadingnya. Selamat jalan Andi Darussalam Tabusalla, semoga mendapat tempat yang layak di sisi-Nya. Aamiin ya rabbil alamiin. (*).

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments

Leave a Reply