Postingan Religius dan Postingan Inspiratif Jelang Kematian

Selain bekerja sebagai wartawan Harian Pedoman Rakyat, Arief Djasar juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan. Ia bahkan kemudian terpilih sebagai Ketua Organisasi Rukun Warga (ORW) di daerah Perumnas Tamalate, Kecamatan Rappocini, Kota Makassar, dan amanah itu tetap ia emban hingga akhir hayatnya pada Jumat malam, 06 Agustus 2021.


 


---------

PEDOMAN KARYA

Jumat, 13 Agustus 2021

 

In Memoriam Arief Djasar, Wartawan Olahraga Harian Pedoman Rakyat (4-habis):

 

 

Postingan Religius dan Postingan Inspiratif Jelang Kematian

 

 

Oleh: Asnawin Aminuddin

(Wartawan Pedoman Karya)


Selain bekerja sebagai wartawan Harian Pedoman Rakyat, Arief Djasar juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan. Ia bahkan kemudian terpilih sebagai Ketua Organisasi Rukun Warga (ORW) di daerah Perumnas Tamalate, Kecamatan Rappocini, Kota Makassar, dan amanah itu tetap ia emban hingga akhir hayatnya pada Jumat malam, 06 Agustus 2021.

Ia cukup aktif mengikuti atau mengadakan berbagai kegiatan sebagai Ketua ORW 01 Kelurahan Mappala, Kecamatan Rappocini, dan hampir setiap kegiatannya ia posting di akun Facebook-nya, sehingga warga ORW yang dipimpinnya dapat mengetahui, termasuk masyarakat umum.

Kegiatan yang diselenggarakan antara lain pengajian rutin Majeli Taklim Nurul Falah RW 01 Kelurahan Mappala, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, pekan olahraga dan seni tingkat RW (lomba panjat pinang, pertandingan bulutangkis, lomba senam, pertandingan sepak takraw, dll), bersama warga menciptakan lorong cantik nan produktif, serta membuat jembatan setapak / lorong.

Arief Djasar sebagai Ketua RW juga aktif mengikuti berbagai kegiatan yang diadakan oleh pemerintah kecamatan, pemerintah kota, maupun Anggota DPRD Kota Makassar dan Anggota DPRD Sulsel, antara lain Sosialisasi Ranperda Baca Tulis Al-Qur’an.

Guna menciptakan keakraban dengan berbagai pemangku kepentingan dan warga, Arief Djasar juga kerap ngopi bersama dengan Babinsa dan Bhabinkamtibmas, serta para Ketua RW dan Ketua RT di Kelurahan Mappala.

“Ketemu dengan ibu lurah, Binmas dan babinsa Mappala. Tdk ada topik khusus dibahas, murni hanya menjaga imun dengan sekali2 candaan yg bisa memperpanjang umur,” tulis Arief Djasar di akun Facebooknya.

 

Postingan Religius

 

Dalam beberapa tahun terakhir menjelang kematiannya, Arief Djasar sering memposting video, foto, atau artikel yang berbau religius di akun Facebook-nya.

Video religius yang ia posting antara lain seorang pasien yang melaksanakan shalat dalam keadaan diopname di rumah sakit dengan selang infus di hidung, serta beberapa selang di beberapa bagian tubuhnya.

Juga video seorang perempuan yang tidak punya tangan dan memberi makan, memandikan, dan memakaikan pakaian kepada anak bayinya dengan menggunakan kedua kakinya.

Video lain yaitu seorang pria cacat yang tetap bekerja membanting tulang meskipun ia berjalan dengan punggungnya sambil memegang sebuah gerobak, membawa batu bata, serta membawa kardus bekas.

 

Postingan Inspiratif

 

Arief Djasar juga memposting foto pelari asal Kenya, Mutai, dan pelari Spanyol, Ivan Fernandes. Peristiwa terjadi pada Desember 2012. Pelari asal Kenya, Abel Mutai, berada di depan para pelari lain menjelang garis finish pada sebuah lari cross-country di Burlada, Spanyol.

Mutai pun merasa sudah menyelesaikan larinya. Namun, Ivan Fernandes Anaya, pesaingnya dari Spanyol, yang berada tepat di belakang Mutai, melihat yang sebenarnya terjadi. Mutai belum benar-benar melewati garis finish.

Namun bukannya mengambil keuntungan dari kondisi tersebut, Anaya malah memberikan tanda melalui gerakan tangan agar Mutai melanjutkan langkahnya, agar benar-benar melewati garis finish dan menjadi juara pertama.

“Saya tidak berhak untuk memenanginya,” ujar Anaya seusai lomba.

Dia menambahkan, “Saya hanya melakukan apa yang seharusnya saya lakukan. Dialah pemenang yang sah. Dia kesalahan yang tidak dapat saya manfaatkan.”

Seorang jurnalis bertanya kepada Ivan, “Mengapa Anda melakukan itu?”

Ivan menjawab, “Impian saya adalah suatu hari nanti kita hidup bersama dan memiliki moral yang baik di dalam masyarakat.”

Wartawan itu bersikeras, “Tapi mengapa Anda membiarkan orang Kenya itu menang?"”

Ivan menjawab, “Saya tidak membiarkan dia menang, memang dia akan menang.”

Wartawan itu bersikeras lagi, “Tapi Anda bisa menang jika tidak membantunya?”

Ivan memandangnya dan menjawab, “Tapi apa manfaat dari kemenangan saya? Apa kehormatan dari medali itu? Apa yang akan ibu saya pikirkan dan katakan tentang itu kepada saya?”

Sementara ada orang begitu bangganya terpilih jadi pemimpin dengan cara curang. Dia lupa kalau curang itu telah merampas hak orang lain, dan apa yang dimakan dari hasil kecurangan itu tidak halal.

 

Kisah Rasulullah

 

Pada bulan Maret 2021, saya mengirimkan Kisah Rasulullah Muhammad SAW secara bersambung kepada kurang lebih 40 orang keluarga dan teman melalui jaringan WhatsApp (WA). Salah satu di antaranya yaitu Arief Djasar. Kisah Rasulullah itu saya kirimkan setiap hari.

“Mantap ustadz, brp episode?” tanya Arief Djasar.

“Mungkin sekitar 60 episode,” jawab saya.

“O iya ustadz siap,” kata Arief Djasar.

“Berbagi ji kodong, mudah2an bermanfaat, he..he..he..,” kata saya.

“Insya Allah sangat bermanfaat. Terima kasih ustadz kiriman kisahnya Nabi Muhammad,” kata Arief Djasar.

Arief Djasar senang sekali membaca Kisah Rasulullah, bahkan jika saya terlambat mengirim, beliau langsung menagih. Saya tentu saja senang, karena tagihan itu menunjukkan bahwa beliau senang membacanya.

“Knp terlambat dikirim ustadz?” tanya Arief Djasar.

“Saya lupaki, saya kira sudahmi saya kirim tadi pagi, he..he..he..,” jawab saya.

Beberapa hari kemudian, saya terlambat mengirim lanjutan Kisah Rasulullah, dan Arief Djasar langsung menagih.

“Kayaknya dua harimi tdk dpt kiriman ustsdz,” kata Arief Djasar.

 

Membezuk Ibu di Selayar

 

Pada bulan Ramadhan 1442 Hijriyah, yang bertepatan dengan bulan April dan Mei 2021, Arief Djasar pulang ke Selayar. Ia kemudian mempostig di media sosial suasana buka puasa bersama keluarga, termasuk sepupu satu kalinya, Saiful Arif.

“Alhamdulillah, di Makassar atau di Selayar ini?” tanya saya.

“Di Selayar sama sepupu-sepupu semua,” jawab Arief Djasar.

Sepuluh hari kemudian, saya japrian lagi di WA bersama Arief Djasar, dan ternyata beliau masih berada di Selayar.

“Deh, lamata’ itu di Selayar,” kata saya.

“Ibu lagi sakit ustadz, saya sudah 2 minggumi di Selayar,” kata Arief Djasar.

“Oh kodong, sakit apaki? Mudah2an masih diberi kesembuhan, amin...,” kata saya.

“Sudah tuami ustadz, 89 thn mi,” kata Arief Djasar.

Ternyata kunjungannya ke Selayar membezuk ibunya yang sakit adalah kunjungannya yang terakhir ke Selayar, sekaligus pertemuan terakhirnya dengan sang ibunda tercinta.

Ibunya meninggal dunia pada 05 Agustus 2021 di Selayar, dan Arief Djasar meninggal 18 jam kemudian, tepatnya pada Jumat, 06 Agustus 2021.

“Beda 18 jam ji Om,” ungkap salah seorang anak Arief Djasar kepada saya saat saya melayat jenazah Arief Djasar, beberapa jam sebelum dimakamkan.

Semoga Kisah Rasulullah yang saya kirimkan secara rutin kepada Arief Djasar melalui jaringan WA, berpengaruh secara positif ke dalam dirinya, yang membuat imannya bertambah kuat hingga akhir hayat, amin.

Selamat jalan saudaraku, kakandaku yang baik hati. Semoga amal ibadahmu diterima di sisi Allah SWT dan dosa-dosamu diampuni, amin...


-------

Artikel sebelumnya:


Peduli kepada PWI Sulsel dan Wartawan

Berjuang Bersama Andi Mattalatta Melawan Gubernur Sulsel Yang Ingin Menjual Stadion Mattoanging

In Memoriam Arief Djasar, Wartawan Olahraga Harian Pedoman Rakyat (1)

 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama