Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

» » » » Dekan FKIP Unismuh Minta Mendikbud Pertimbangkan Masa Pengabdian Guru Honorer


Pedoman Karya 4:41 PM 0

“Saya mendapatkan informasi dari banyak guru di daerah, bahwa cukup banyak honorer guru di daerah, khususnya daerah terpencil, dinyatakan tidak memenuhi passing grade yang dipersyaratkan, padahal ada di antara mereka yang telah mengabdi sekitar 30 tahun, mencerdaskan anak bangsa di daerah terpencil. Seharusnya passing grade bisa tersubstitusi dengan rekam jejak pengabdian mereka,” tandas Erwin, kepada wartawan di Makassar, Senin, 19 September 2021. (ist)






----- 

Ahad, 19 September 2021

 

 

Dekan FKIP Unismuh Minta Mendikbud Pertimbangkan Masa Pengabdian Guru Honorer

 

 

Dalam Rekrutmen PPPK Guru Tahun 2021

 

 

MAKASSAR, (PEDOMAN KARYA). Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbud-Ristek) telah melaksanakan Seleksi Kompetensi 1 Penerimaan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K) 2021 jabatan Fungsional Guru dan Jabatan Fungsional Non-Guru pada 13-17 September 2021.

Sehubungan dengan rekrutmen Guru P3K tersebut, Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Erwin Akib PhD, meminta kepada Mendikbud-Ristek, Nadiem Makarim, agar memberi kebijakan khusus bagi guru honorer yang di atas 35 tahun untuk diangkat sebagai ASN P3K.

“Saya mendapatkan informasi dari banyak guru di daerah, bahwa cukup banyak honorer guru di daerah, khususnya daerah terpencil, dinyatakan tidak memenuhi passing grade yang dipersyaratkan, padahal ada di antara mereka yang telah mengabdi sekitar 30 tahun, mencerdaskan anak bangsa di daerah terpencil. Seharusnya passing grade bisa tersubstitusi dengan rekam jejak pengabdian mereka,” tandas Erwin, kepada wartawan di Makassar, Senin, 19 September 2021.

Ketulusan para guru honorer tersebut dalam mengabdi selama puluhan tahun, katanya, seharusnya diberi apresiasi oleh negara.

“Dari segi kecerdasan intelektual, mungkin mereka di bawah standar yang dipersyaratkan, tapi mereka memiliki kecerdasan emosional luar biasa, memiliki kepedulian mencerdaskan kehidupan generasi masa depan, di daerah-daerah yang masih kekurangan guru,” jelas alumni Program Doktoral Universiti Teknologi Malaysia (UTM).

Erwin berharap Nadiem Makarim melihat Indonesia ini bukan hanya dalam kacamata kota-kota besar.

“Saya tidak menampik pentingnya kualitas guru. Tapi saat ini yang seharusnya menjadi prioritas adalah pemerataan. Untuk kota-kota besar, silakan saja Kemdikbud fokus mengakselerasi kualitas, tapi untuk daerah tertinggal, terdepan dan terluar, perlu ada kebijakan khusus, apalagi bagi para guru honorer yang telah mengabdi puluhan tahun,” harap Erwin.

Ia juga berharap agar jeritan dari para guru honorer tersebut disuarakan oleh para wakil rakyat di Komisi X DPR RI.

“Kalangan kampus, Ormas ataupun NGO yang peduli pendidikan, hanya bisa bersuara dari luar, harapan kami para legislator di Senayan yang bisa mendorong kebijakan khusus bagi para guru honorer,” kata Erwin. (zak)

 

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments

Leave a Reply