Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

» » » » Buku Kumpulan Cerpen Alumni Unismuh Makassar Dibahas di Sastra Sabtu Sore


Asnawin Aminuddin 2:56 AM 0

BACA PUISI. Acara Sastra Sabtu Sore yang digelar Komunitas Puisi (KoPi) Makassar, di di The King Coffee, Jl Skarda N, Makassar, Sabtu, 23 Oktober 2021, dibuka dengan pembacaan puisi oleh Maysir Yulanwar. Dia tampil membacakan puisi karya Srie Astuti Asdy berjudul “Pulang ke Dasar Hatimu.” (ist)





---------- 

Selasa, 26 Oktober 2021

 

 

Buku Kumpulan Cerpen Alumni Unismuh Makassar Dibahas di Sastra Sabtu Sore

 

 

MAKASSAR, (PEDOMAN KARYA). Buku Kumpulan Cerpen “Memeluk Retak”, karya Irhyl R Makkatutu, alumni Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, dibahas pada acara “Sastra Sabtu Sore”, di The King Coffee, Jl Skarda N, Makassar, Sabtu, 23 Oktober 2021.

Buku kumpulan cerpen tersebut dibahas oleh Dr Asis Nojeng (akademisi) dan Damar I Manakku (penerbit), dan dipandu oleh pendongeng Mami Kiko.

Acara yang berlangsung dalam suasana santai tersebut dihadiri sastrawan dan sutradara teater Yudhistira Sukatanya, sutradara dan wartawan senior Goenawan Monoharto, penulis dan sastrawan Maysir Yulanwar, Rusdin Tompo, akademisi Fadi Andi Natsif, serta beberapa sastrawan lainnya seperti Rosita Desriani, Rahman Rumaday, Nasrul, dan Ainun Mubin Misbah.

Penulis buku, Irhyl R Makkatutu, adalah alumni Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unismuh Makassar, serta salah seorang penggagas Ikatan Pemerhati Seni dan Sastra (IPASS) Sulawesi Selatan.

“Saya memberi judul Memeluk Retak pada bukul saya, karena kalau Memeluknya, bisa membuat luka,” jelas Irhyl saat memberi penjelasan tentang buku kumpulan cerpennya.

Dia mengatakan, ada hal baru yang coba ia lakukan dalam buku tersebut, yakni menggunakan paragraf yang lebih singkat. Tujuannya, supaya tidak membuat jenuh ketika membaca buku ini.

Kisah-kisah dalam kumpulan cerpen ini, katanya, sebagian besar pernah dimuat di media cetak dan media daring, namun disunting kembali ketika dirangkum menjadi satu buku.

“Menulis adalah kebebasan dan pembebasan diri. Karena itu, tulisan-tulisan saya juga ingin membebaskan diri memasuki ruang-ruang imajinasi dan hati pembaca,” kata Irhyl.

Menurut dia, ada budaya di Makassar yang cukup positif.

“Kalau ada buku baru, selalu ada ajakan untuk mendiskusikannya,” kata Irhyl sambil tersenyum.

Dia mengaku kini tengah mewujudkan mimpinya membangun ekowisata yang diberi nama Tandabaca, di Dusun Sapaya, Desa Kindang, Kecamatan Kindang, Kabupaten Bulukumba.

“Tempat itu semacam taman baca, tempat rekreasi dan kegiatan masyarakat yang terbuka. Rencananya, di situ juga akan ada mushallah yang meski kecil tapi bisa memenuhi kebutuhan ibadah masyarakat,” jelas Irhyl.

 

Istilah Makassar dan Konjo

 

Asis Nojeng yang diberi kesempatan pertama mengomentari buku kumpulan cerpen “Memeuk Retak”, mengaku salut pada Irhyl Makkatutu sebagai penulis.

“Penulis menggunakan istilah-istilah bahasa Makassar dan Konjo dalam cerpennya, misalnya ungkapan bahasa daerah yang kemudian jadi idiom politik, seperti bantuka’ cappo,” sebut Asis.

Dosen pada FKIP Unismuh Makassar juga menyebut Irhyl punya keberanian menggunakan sastra untuk menyampaikan kritikan, dan punya kemampuan membayangkan makna magis dengan menghadirkan peristiwa biasa menjadi luar biasa.

Damar I Manakku, dari penerbit Pakalawaki, menyebut buku kumpulan cerpen “Memeluk Retak” patut hadir, karena penulisnya punya gaya tersendiri.

“Tulisan-tulisan dalam buku ini tidak terlalu berat, karena penulisnya mengolah kata-kata menjadi tulisan berdasarkan apa yang ada di masyarakat. Saya percaya, setiap kali kata-kata yang dia tulis, pasti dia yakin mengapa mesti menuliskannya,” tutur Damar.

Sebagai penerbit, Damar mengajak perlunya kolaborasi tiga pihak, antara penulis, penerbit, dan pembaca. Konkretnya, perlu dilakukan gerakan membeli buku teman, sehingga baik penulis maupun penerbit bisa hidup dan tumbuh bersama.

Dia mengataan, hasil dari penjualan buku tersebut akan didonasikan untuk membangun mushallah di area ekowisata Tandabaca, di Dusun Sapaya, Desa Kindang, Kecamatan Kindang, Kabupaten Bulukumba.

 

Tur Sastra

 

Yudhistira Sukatanya yang membuka acara Sastra Sabtu Sore mengatakan, Sastra Sabtu Sore merupakan upaya kecil para penggiat literasi untuk menggairahkan sastra di Sulawesi Selatan.

Sastrawan dan sutradara teater itu berharap, kelak acara ini dikembangkan dan menjadi semacam tur sastra. Untuk itu, dibutuhkan kolaborasi dan sinergitas dengan para penggiat sastra di daerah.

Ide ini bisa dimulai dengan mengajak penulis dan penggiat literasi di Gowa, Takalar, Jeneponto, dan Bulukumba. Bisa juga diawali dari Maros, Pangkep Barru, hingga ke Parepare.

Acara Sastra Sabtu Sore yang digelar Komunitas Puisi (KoPi) Makassar ini, dibuka dengan pembacaan puisi oleh Maysir Yulanwar. Dia tampil membacakan puisi karya Srie Astuti Asdy berjudul “Pulang ke Dasar Hatimu.”

Rusdin Tompo dari KoPi Makassar berharap, kegiatan Sastra Sabtu Sore tak hanya sebatas membahas buku dan membaca puisi tapi benar-benar menumbuhkan gerakan literasi bersama.

Acara Sastra Sabtu Sore ditutup dengan pembacaan puisi oleh Rosita Desriani, yang tampil membaca karya Irhyl R Makkatutu berjudul, “Senapan Angin.” (rt)

 

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments

Leave a Reply