Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

» » » » » » Aku Penyihir Berkampus Akademis


Pedoman Karya 4:36 PM 0

Hidupku mungkin ditakdirkan untuk berada di tengah gelora rasa iri dan dengki sehingga aku rajin berzikir.

 

Bahkan hampir di setiap pelancongan, selalu berhadapan dan dipertemukan dengan penyamun juga penyihir__  serta penggemar guna-guna tanpa diduga-duga membuhulkan api kebencian__

 

aku ditakdir Tuhan, mungkin untuk melawan para penggemar penyesatan guna guna tidak berguna_ agar kembali pada titik nadir kebenaran yang berguna__

 


----- 

PEDOMAN KARYA

Selasa, 04 Januari 2022

 

 

Aku Penyihir Berkampus Akademis

 

 

Oleh: Maman A Majid Binfas

(Penyair, Akademisi)

 

Orang sangat cerdas, adalah mereka yang menghargai dan mengakui kelebihan orang lain. Untuk ber_fantasyiru__

 

Sebaliknya, orang yang hanya merasa lebih cerdas dari orang lain karena arogan. Sesungguhnya, ia adalah orang yang hanya mengawetkan kebodohannya menjadi ketololan yang sungguh sangat tulen. Tentu, tiada ber_fantasyiru__ termasuk dinamika akademis di kampus.

Bila kampus bersifat akademis, dikelola dengan halusinasi pimpinan yang berkarakter siluman, serigala bertopeng domba, maka jubah akademis pun ternodai dan berbau amis darah dupa-dupa.

Tidak, mengherankan jubah demikian, mungkin dan memang telah menggerogoti keluhuran nilai akademis, baik berjubah agama maupun nasionalis, dan terlebih lagi tanpa jubah apapun.

Keluhuran apapun sistem yang dipoles seakan bernuansa akademis akan sia-sia dan fatamorgana. Manakala para sebagian pengelolanya selalu bernuansa misi terselubung “Musang berbulu ayam” apalagi dengan cara-cara yang kurang sehat, dan misi demikian, sebenarnya mesti diberantas oleh logika akademis.

Namun, sayang justru sebaliknya masih dimainkan demi kuasa siluman berpoles jubah seakan senyum terlihat santun di dalam menyapa atau bersalaman.

Tetapi, sungguh di dalam dadanya bergelora dendam serigala yang ganas juga lebih buas dari biasanya.

Sungguh disesalkan, kenapa masih ada di era modern begini, masih ada saja dan lebih dipercaya pula bagaikan tersihir oleh dupa-dupa dipoles secara akademis yang tiada terasa bau amis darah persembahan silumannya.

Mungkin, ini menjadi bagian dari keresahan di lubuk hati sanubari penulis. Hal demikian, berhingga menulis narasi berjudul 'Aku Penyihir', tanggal 27 November 2021, hari Sabtu pagi, tepatnya pukul 07:55, sebagaimana berikut ini.

 

AKU PENYIHIR

 

Hidupku mungkin ditakdirkan untuk berada di tengah gelora rasa iri dan dengki sehingga aku rajin berzikir.

 

Bahkan hampir di setiap pelancongan, selalu berhadapan dan dipertemukan dengan penyamun juga penyihir__  serta penggemar guna-guna tanpa diduga-duga membuhulkan api kebencian__

 

aku ditakdir Tuhan, mungkin untuk melawan para penggemar penyesatan guna guna tidak berguna_ agar kembali pada titik nadir kebenaran yang berguna__

 

walaupun,

mereka juga pengguna tak berguna, tetapi aku mungkin ditakdirkan agar menunjukkan tapak sikap kearifan mencerahkan hati dan pikiran agar kembali pada titik langkah kebenaran__ 

 

Bukan juga aku, mesti merasa diri ditakdirkan untuk jadi nabi sebagai logika penyesatan keimanan tauhidan pada Tuhan__

 

_aku hanya hamba biasa pencari titik kisar berhingga berkalam pada ars Shiratal Mustaqim_

 

_ atau mungkin juga ibrar bagi mereka, terlebih bagi diriku untuk bersyukur dan terus berzikir mengingat Tuhan seru sekalian alam__

 

hingga dihadapkan dengan beragam kebodohan berlogika sakit hati, arogan juga hasad, hasud, iri, dan dendam berdengkulan penuh kedengkian bara api__ berhingga jadi kayu bakar neraka jahanam, nan setia menanti dikemudian nanti__

 

Mungkin, aku hamba biasa berhingga dijadikan tapak batasan menjadi manusia biasa, __mesti ber-Tuhan secara totalitasan

_ tanpa menyekutukan dengan kutukan-Nya telah pasti menjadi bara api Jahanam_

 

Terkadang, aku dihadapkan pada lingkungan beragam perilaku aneh, juga berkesesatan nyata, sungguh memilukan dan memalukan__

 

Dan berbagai langgam arogan logika kesurupan asfala safilin berlebihan__

__di perkampungan kumuh hingga merasa merpolitan sekalipun, juga tiada terkecuali pada kampung halamanku

 

__ di bale-bale perkebunan kampungan juga kompleks perumahan, merasa dikotakan sok elitan sekalipun

 

_ di sekolah dilabelin agama juga modern liberalisme pun dihadapkan demikian, masih ada nan gemar berprilaku demikian_ apalagi bersifat nasionalisme murahan tanpa Tuhan__

 

Bahkan di tempat Ibadah sekalipun, masih ada mentalan demikian,

 

Para penggemar demikian, di antarannya ada yang predikat, tidak terkecuali pendidikan tinggi berhingga doktoran juga bermentalan menyesatkan pula, dan apalagi rendahan__

 

__ aku bukan jua ditakdirkan jadi Nabi apalagi Penyihir

 

Tetapi

aku Penyihir perangkai diksi syair

_dan juga pengkias ilmu logika akan kebenaran anugerah dari Tuhan, __berguna untuk tetap bersyukur tanpa guna guna_

 

Bukan mungkin lagi,

_memang aku pengagum para Nabi Nabi yang ditakdir Tuhan, berpeta atlas logika titik jalan kebenaran berkalamullah hampa berakhiran_

 

Akhirnya,

aku penyihir rangkain diksi tentang Kemahabesaran Tuhan semata, __tentu narasi logis bermata hatinurani

mesti diyakini__

 

Tetapi aku juga bukan penyihir berbungkus jubah akademis demi kuasa dan arogansi " bertopeng apapun, baik di kampus maupun kampung kumuh sekalipun.

 

27 November 2021

 

*__Bale-bale (Makassar) atau Santawo (Bima), dikenal secara umum di Indonesia serperti pos kamling di kampung-kampung.

 

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments

Leave a Reply