Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

» » » » » Desa Jenetallasa Gowa Punya Spot Wisata Saung dan Kolam Ikan


Pedoman Karya 7:23 AM 0

Desa Je’netallasa, Kecamatan Pallangga, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, punya spot baru berupa kolam ikan dengan saung di atasnya. 

Di kolam ikan itu, dibudidayakan ikan patin, nila, lele, dan ikan mas sebanyak 10.000 ekor. Letak kolam yang ditumbuhi teratai ini, dikelilingi areal persawahan yang menghijau, menambah indah dan sejuknya suasana. (Foto: Rusdin Tompo)




----- 

Rabu, 26 Januari 2022

 

 

Desa Jenetallasa Gowa Punya Spot Wisata Saung dan Kolam Ikan

 


GOWA, (PEDOMAN KARYA). Desa Je’netallasa, Kecamatan Pallangga, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, punya spot baru berupa kolam ikan dengan saung di atasnya. 

Di kolam ikan itu, dibudidayakan ikan patin, nila, lele, dan ikan mas sebanyak 10.000 ekor. Letak kolam yang ditumbuhi teratai ini, dikelilingi areal persawahan yang menghijau, menambah indah dan sejuknya suasana.

“Kolam ini baru kurang lebih dua bulan. Ikannya belum dipanen,” kata Kepala Desa Jenetallasa, Asrul, saat berbincang-bincang dengan penulis, di Jenetallasa, Gowa, Rabu, 26 Januari 2022, di sela-sela kesibukannya mempersiapkan kegiatan vaksinasi Covid-19.

Sejumlah staf desa dan kepala dusun terlihat berada di lokasi. Kegiatan vaksinasi ini merupakan kerjasama Polres Gowa, Camat Pallangga, Puskesmas Pallangga, dan Pemerintah Desa Jenetallasa.

Vaksinasi Covid-19, kata Asrul, rutin digelar di desanya. Salah satu lokasinya yaitu di Kampung Tangguh Rewako, dengan hutan relatif masih alami. Hutan ini seluas kira-kira 2 hektar, di antaranya berupa pohon jati. Tak heran bila di area lokasi wisata terdapat spanduk ajakan untuk ikut vaksinasi massal.


-------

Penulis, Rusdin Tompo (kanan) foto bersama Kepala Desa Jenetallasa, Asrul, di area wisata Saung dan Kolam Ikan Desa Jenetallasa, Rabu, 26 Januari 2022. (ist) 

-----

Desa Jenetallasa ini terdiri dari empat dusun, yakni Dusun Cambaya, Dusun Jenetallasa, Dusun Tombolo, dan Dusun Sanrangang. Desa dengan hasil pertanian utama berupa gabah (padi) ini, punya produk yang lekat dengan nuansa lokal.

Sebagai desa agraria, masyarakat di sini punya penganan khas, yaitu kaddo’ bulo. Makanan ini terbuat dari beras yang dibakar dalam bambu. Kearifan lokal di Desa Jenetallasa juga masih dipertahankan. Tradisi barazanji sebagai ucapan syukur kepada Tuhan Sang Pencipta, tetap terjaga.

Selain itu, dalam Peraturan Desa Jenetallasa, ditetapkan bahwa seluruh masyarakat yang akan melaksanakan pernikahan wajib mengadakan pesta. Pesta dengan nilai tradisi dan adat Makassar atau Sulawesi Selatan, dilakukan sebagai bentuk pelestarian terhadap budaya lokal masyarakat.

Posisi Desa Je'netallasa ini relatif terjangkau. Jaraknya dari ibu kota kecamatan hanya sejauh kurang lebih 500 meter, sedangkan kalau dari Sungguminasa, ibu kota Kabupaten Gowa, hanya sekira 2 kilometer. Desa seluas 3,22 kilometer persegi ini berpenduduk 17.686 jiwa.

Ahmiranil Khaerat, mahasiswa Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, yang melaksanakan Kuliah Kerja Profesi (KKP) pada bulan Oktober-Desember 2021 di Desa Jenetallasa, mengaku suasanà alam di desa ini terbilang bagus.

“Tapi dulu belum ada kolam ikan seperti sekarang. Saat KKP, kami pernah mengadakan Festival Anak Saleh di lokasi hutan wisata,” ungkap Ahmiranil.

Ira Azharya, teman sekampusnya, juga merasa lokasi ini jadi daya tarik mereka kembali ke Desa Jenetallasa, selain karena punya hubungan baik dengan staf Kantor Desa Jenetallasa.

“Beruntung kami dapat tempat yang bagus seperti ini. Ada Kampung Rewako, ada kolam ikan, dan kalau rapat bisa di saung,” kata Ira, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik (FISIP) Unismuh Makassar angkatan 2018/2019.

Daeng Bau, salah seorang pengelola mengatakan, pengunjung di sini lumayan banyak, terutama sore hari. Mulai sore, orangtua datang bersama anak-anak untuk melihat dan memberi makan ikan-ikan.

Pada sore hingga menjelang malam, lampu-lampu mulai dinyalakan. Pendarnya tampak memantul di atas kolam, sehingga menambah indahnya suasana saung di desa wisata Jenetallasa. (Rusdin Tompo, penggiat literasi)

 

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments

Leave a Reply