Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

» » » » » In Memoriam KH Dahlan Yusuf: Sang Da’i Teduh Penuh Dedikasi Itu Telah Pergi


Pedoman Karya 12:19 AM 0

KH Dahlan Yusuf adalah salah satu kader senior terbaik persyarikatan Muhammadiyah Sulsel yang telah mendedikasikan hampir seluruh waktu dan pikirannya berbakti mengembangkan dakwah melalui organisasinya.






------- 

PEDOMAN KARYA

Jumat, 14 Januari 2022

 

 

In Memoriam KH Dahlan Yusuf:

 

Sang Da’i Teduh Penuh Dedikasi Itu Telah Pergi

 

 

Oleh: Syandri Syaban

(Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Islam dan Bahasa Arab / STIBA Makassar)

 

Warga Muhammadiyah dan masyarakat muslim Sulsel kembali berduka karena kehilangan tokoh dakwah terbaiknya pada hari Kamis 13 Januari 2022, sekitaran pukul 16.00 WITA. Berita duka itu tersebar melalui media social. KH Drs. Dahlan Yusuf Rahimahullah meninggal dunia di umur 80 tahun.

KH Dahlan Yusuf adalah salah satu kader senior terbaik persyarikatan Muhammadiyah Sulsel yang telah mendedikasikan hampir seluruh waktu dan pikirannya berbakti mengembangkan dakwah melalui organisasinya.

Beliau lahir di Kabupaten Sidrap yang merupakan salah satu lumbung kader Muhammadiyah, tepatnya di Lautang Salo, pada tahun 1942. Daerah ini memang merupakan salah satu basis gerakan Muhammadiyah yang juga merupakan tempat kelahiran dua tokoh dan ulama Muhammadiyah Sulawesi Selatan lainnya, yaitu KH Abdul Djabbar Asyiri dan KH Muchtar Waka.

Kiai Dahlan Yusuf sejak kecil telah mengenyam pendidikan ke-Muhammadiyah-an, selain memang lahir di satu daerah dimana paham Muhammadiyah begitu kental.

Dalam rentetan perjalanan pendidikannya, beliau tercatat sebagai salah satu alumni Muallimin Muhammadiyah Makassar, sebuah lembaga pendidikan yang didirikan oleh Prof Dr Buya Hamka pada tahun 1932, saat bertugas sebagai da’i muda utusan Muhammadiyah pusat kala itu.

Ketokohan dan keulamaan Kiai Dahlan Yusuf mulai muncul melalui tempaan ulama-ulama senior kharismatik Muhammadiyah. Beliau dididik langsung oleh “imam empat” Muhammdiyah sebagai peserta pendidikan ulama tarjih pada pertengahan tahun 1960-an.

Imam empat yang dimaksud sebagaimana yang diistilahkan oleh Dr Mustari Bosra, yaitu Dr S Majidi, KH Ahmad Marzuki Hasan, KH Abdul Djabbar Asyiri, dan KH Fathul Mu’in Dg Maggading.

Semangat juang dan militansinya sebagai kader Muhammadiyah betul-betul terasah di bawah bimbingan langsung para ulama senior tersebut.

Pada tahun 1968/1969, beliau ikut ditahan bersama beberapa ulama, da’i, dan peserta pendidikan ulama tarjih, karena peristiwa penggayangan Lotto. Sebuah peristiwa yang terjadi akibat merajalelanya perjudian dan dilegalkan oleh Pemerintah Kota Makassar kala itu.

Keikut-sertaan beliau dalam mengembangkan Persyarikatan Muhammadiyah sangat besar. Tercatat sejak masih mudah sudah menjadi kader, lalu pada tahun 1970-an pernah memimpin Muhammadiyah Cabang Bontoala, menggantikan KH Ahmad Marzuki Hasan, lalu mendampingi KH Fathul Muin Dg Maggading sebagai Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Makassar, juga pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulsel periode 2010-2015.

Dedikasi dalam dakwah dan pendidikian sebagai seorang pengajar, beliau adalah salah satu sosok yang dikenal berdakwah penuh keteduhan, tawadhu’, dan mampu bergaul dengan lintas masyarakat.

Pada bidang pendidikan, beliau adalah seorang guru yang mampu menggabungkan antara ketegasan dan kelembuatan, serta sesekali jenaka mencairkan suasana kelas yang sudah mulai membosankan menjadi penuh semangat dan keceriaan.

Beliau telah meninggalkan ratusan, ribuan, atau bahkan puluhan ribu anak didik dan kader binaan di Sulawesi Selatan, bahkan di luar Sulsel yang terus berkhidmat untuk umat. Semua akan menjadi kebaikan dan amal jariyah baginya sebagai bekal hidup akan datang.

Penulis sendiri sempat berjumpa dan wawancara sekitaran awal tahun 2016, di kediaman beliau. Waku itu, tampak ketawadhuan dan keterbukaan kepada orang-orang baru yang berjumpa dengannya.

Semoga apa yang beliau telah upayakan semasa hidup, cita-cita dan usaha, menjadi bekal bagi seluruh anak didiknya untuk terus melanjutkan perjuangan.

 

Catatan singkat, Antang, Makassar, 14-01-2022

 

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments

Leave a Reply