Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

» » » » Puisi Lahir dari Intuisi Penyair, Bukan dari Tuntutan Zaman


Pedoman Karya 5:50 PM 0

LAHIR DARI INTUISI. Dari kiri atas searah jarum jam, Ram Prapanca (moderator), Mahrus Andis (pembicara), Aslan Abidin (penulis puisi Pada Sebuah Reuni), dan beberapa peserta Diskusi Puisi Pada Sebuah Reuni Karya Aslan Abidin, di Kafebaca, Jl Adhyaksa Makassar, Sabtu, 15 Januari 2022.








-------
Rabu, 26 Januari 2022


 

PEDOMAN KARYA

Rabu, 26 Januari 2022

 

Catatan dari Diskusi Puisi “Pada Sebuah Reuni” (9-habis):

 

 

Puisi Lahir dari Intuisi Penyair, Bukan dari Tuntutan Zaman

 

 

Oleh: Asnawin Aminuddin

(Wartawan)

 

Forum Sastra Indonesia Timur disingkat Fosait, dibentuk oleh beberapa sastrawan dan seniman di Sulawesi Selatan pada tahun 2019. Ide pembentukannya berasal dari “kegelisahan” beberapa penyair yakni Muhammad Amir Jaya, Anwar Nasyaruddin, Ishakim, Suradi Yasil, dan Daeng Mangeppek.

Kelimanya kemudian meminta masukan dari penyair senior dan kritikus sastra Mahrus Andis, dan mereka pun intens berdiskusi, lalu lahirlah nama Forum Sastra Indonesia Timur disingkat Fosait.

“Kami sejak awal memang selalu mengajak Pak Mahrus untuk berdiskusi, tapi karena beliau menetap di Bulukumba, maka beliau hanya sekali-sekali ikut berdiskusi kalau kebetulan datang ke Makassar,” ungkap Muhammad Amir Jaya.

Fosait kemudian membentuk grup WA (WhatsApp) yang juga diberi nama FOSAIT dan Muhammad Amir Jaya mengajak puluhan penyair, seniman, budayawan, dan juga wartawan bergabung di grup itu.

Mahrus Andis yang belakangan punya banyak waktu berada di Makassar setelah ia dan istrinya memasuki masa purnabakti sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN), kemudian intens bertemu dan berdiskusi dengan para penggagas pembentukan Fosait.

“Pak Mahrus sering mengajak diskusi untuk membicarakan berbagai hal dan selalu menyebut pertemuan itu meja solusi. Pak Mahrus selalu bilang, ayo kita bicarakan di meja solusi, akhirnya kami pun akrab dengan istilah meja solusi,” kata Amir Jaya sambil tersenyum.

Ide pembentukan Fosait, kata Amir Jaya, berawal dari semacam kegelisahan dirinya dan beberapa penyair lainnya yang melihat forum-forum sastrawan lebih banyak berada di Pulau Jawa dan perhatian orang juga selalu ke Jawa.

Amir Jaya ingin di Makassar juga ada forum sastrawan yang menjadi wadah berkumpulnya para sastrawan di Sulawesi Selatan dan Indonesia bagian timur. Dengan wadah itu, akan banyak hal yang bisa dilakukan untuk para sastrawan dan untuk pengembangan dunia sastra di Sulawesi Selatan dan Indonesia bagian timur.

Salah satu yang dilakukan Fosait yaitu mengadakan “Diskusi Puisi Pada Sebuah Reuni Karya Aslan Abidin, di Kafebaca, Jl Adhyaksa Makassar, Sabtu, 15 Januari 2022.

Diskusi puisi membahas puisi ‘Pada Sebuah Reuni” karya Aslan Abidin, menghadirkan langsung Aslan Abidin, Mahrus Andis sang kritikus sastra sebagai pembicara, Asia Ramli Prapanca yang akrab disapa Ram Prapanca sebagai moderator, serta puluhan penyair, seniman, wartawan, dan peminat sastra.

 

Terasa Berbau Akademis

 

“Luar biasa ini Fosait, mampu menghadirkan dua orang penting di dunia sastra, Aslan Abidin, penyair nasional sekaligus dosen ilmu sastra di berbagai kampus, dan Mahrus Andis, seorang kritikus sastra, penulis banyak buku dan mantan birokrat di dunia pemerintahan,” kata Ram Prapanca.

Ram Prapanca yang juga seorang penyair, dramawan, sutradara, dan akademisi, kemudian melanjutkan, “Dari keduanya, kita dapat berbagi ilmu dan mencerahkan hati yang sedang berlumut.”

Ram mengatakan, Diskusi Puisi ‘Pada Sebuah Reuni’ karya Aslan Abidin, yang dihadiri para seniman, penyair, penulis, wartawan, dan peminat sastra, terasa berbau akademis, karena pembicara, Mahrus Andis, menggunakan teori sastra yang serius.

“Tapi ini luar biasa. Seandainya saya memiliki hak kebijakan akademik, saya tarik forum semacam ini untuk masuk menghidupkan kampus-kampus, seperti yang pernah terjadi di tahun 1970-an. Sayangnya, saya hanya seorang dosen biasa, masih berlepotan dengan kerja klasik Teater ‘Kondobuleng’ alias cerita rakyat,” kata Ram Prapanca sambil tersenyum.

Pembicaraan dan gagasan yang berkembang dalam diskusi puisi itu, kata Ram, akan dirangkum oleh Fosait menjadi lembaran-lembaran wacana kesastraan untuk diwariskan kepada anak cucu kita di Negeri Republik Puisi ini.

 

Menyenangi Kritik

 

Aslan Abidin yang puisinya dibahas dalam pertemuan itu dan menerima banyak kritikan dan masukan dari peserta diskusi, menyampaikan terima kasih untuk semua pandangan forum atas puisi karyanya, “Pada Sebuah Reuni.”

“Saya memang menyenangi kritik. Saya selalu mencatat peristiwa penting dalam hidup saya,” kata Aslan.

Dari kritik dan rekontemplasi itulah, ia mengaku puisi-puisinya kadang diedit dan diubah, meskipun sudah pernah dimuat di halaman media.

“Saya juga biasa mengubah atau mengedit puisi-puisi saya jika ada yang perlu diubah atau diedit, sebelum dibukukan, dan ini juga yang menjadi proses pembelajaran bagi mahasiswa, baik di kampus-kampus maupun di lingkup komunitas saya,” ungkap Aslan.

Ia mengakui karakteristik puisinya memang cenderung melihat sisi terdalam nilai kemanusiaan, bahkan ia terbiasa memanfaatkan organ subtil manusia sebagai wujud ekspresi menghormati konsep pemikiran leluhur, khususnya di Bugis-Makassar.

“Saya pun masih konsisten memelihara polarisasi perpuisian, termasuk bentuk-bentuk puisi lama, seperti rima pada pantun dan syair,” papar Aslan.

Pada kesempatan itu, ia juga mengemukakan bahwa dirinya pun kerap menulis sajak bertema kematian, dan ia berpendapat bahwa menulis sajak kematian sebaiknya dilakukan pada puncak kehidupan kita, bukan pada saat menjelang kematian.

“Kalau sudah menjelang kematian, itu bukan pada potensi terkuat dari sajak yang kita buat,” kata Aslan.

 

Tugas Kritikus Sastra

 

Mahrus Andis dalam diskusi puisi itu juga mengungkapkan kegembiraannya dengan mengatakan, “Satu hal yang patut dicatat dari forum ini ialah hadirnya para sastrawan kreatif dan para penulis yang selama ini tak henti mewarnai kanvas persastraan di Sulawesi Selatan.”

Di akun Facebook-nya Mahrus menyebutkan nama-nama yang hadir, yakni Yudhistira Edy Thamrin Sukatanya, Suradi Yasil, Muh. Amir Jaya, Anwar Nasyaruddin, Ishakim Arts, Bosnario Bahar Merdu, Tri Astoto Kodari, Syahril Daeng Nassa, Badaruddin Amir, Andi Ruhban, Idwar Anwar, Rusdy Embas, Asnawin Aminuddin, Andi Wanua Tangke, dan puluhan penulis lainnya serta peminat sastra di Makassar.

“Kendati suasana forum bernuansa ‘pengadilan’, namun skenario dialog berjalan lurus. Tak ada protes, apalagi berteriak-teriak mengatasnamakan teori nenek moyangnya. Aslan Abidin, penyair sebagai ‘terdakwa’, juga hadir. Saya berperan selaku ‘Jaksa Penuntut’ (pembicara), dan Asia Ramli Prapanca menjadi ‘Hakim Ketua’ (moderator) yang kadang-kadang terpeleset menjadi provokator (maaf, salah tulis. Maksud saya, motivator),” kata Mahrus, seraya menambahkan bahwa suasana persidangan berlangsung damai, adem dan humanis.

Dalam diskusi itu, Andi Wanua Tangke mengatakan, tidak gampang membahas satu buah puisi dalam forum sebesar itu. Mahrus menilai apa yang diungkapkan Andi Wanua Tengke sebagai sebentuk kekaguman.

Kekaguman bahwa puisi ‘Pada Sebuah Reuni’ karya Aslan Abidin termasuk puisi berkualitas, karena bisa dibahas panjang lebar oleh kritikus yang memiliki ilmu pengetahuan yang dalam, pengalaman yang luas, dan hati yang terbuka.

Benar yang dikatakan Andi Wanua Tangke, bahwa tidak gampang membahas satu puisi dalam forum besar seperti ini. Dan saya harus lakukan itu sebagai tanggung jawab moral seorang kritikus sastra,” tandas Mahrus.

Ia kemudian mengutip buku “And Introduction to the study of literature”, karya W.H. Hudson (1961), yang mengatakan peran kritikus ialah memperjelas dan memotivasi.

Juga sesuai pendapat Sapardi Djoko Damono bahwa modal utama seorang pengamat sastra ialah ilmu pengetahuan yang dalam, punya pengalaman yang luas (pengalaman makro dan microkosmos), dan memiliki hati yang terbuka (berani mengakui baik atau tidak baiknya suatu karya).

“Kritikus sastra harus bisa dan tugasnya memang memperjelas dan memotivasi,” tegas Mahrus.

Menanggapi pertanyaan peserta diskusi bahwa masih banak puisi lain yang berkualitas, tapi Mahrus Andis memilih puisi ‘Pada Sebuah Reuni’ untuk dibahas, Mahrus mengatakan, itu berarti puisi yang tidak dibahas itu tidak memanggil dirinya.

“Puisi itulah yang mencari saya. Kalau ada puisi yang memanggil saya (untuk dibahas dan dikuliti, red), itu berarti puisinya berkualitas,” kata Mahrus.

Tentang pernyataan Yudhistira Sukatanya yang menanyakan apakah puisi sepanjang Pada Sebuah Reuni itu masih dibutuhkan di era teknologi yang serba cepat ini, Mahrus mengatakan, puisi tidak harus mengikuti kemauan zaman.

Puisi itu lahir dari intuisi penyair sebagai desakan infulse untuk menyuarakan hasil perenungan atas alam sekitar. Karena itu, panjang atau pendek sebuah puisi harus diukur dari kualitasnya, bukan dari tuntutan zaman di mana dia lahir,” kata Mahrus.

 

Untung Memilih Birokrasi

 

Di luar konteks diskusi puisi, Andi Wanua Tangke, dalam diskusi itu sempat mengungkapkan perasaannya yang menyayangkan Mahrus Andis memilih terjun ke dunia birokrasi, padahal sebenarnya ia lebih cocok jadi akademisi.

Andaikan Bung (Mahrus Andis) memilih tetap di kampus, maka Bung sudah guru besar (profesor). Kasihan almamater kita, sepi dari dunia sastra. Untung, Bung masih peduli karya teman-teman,” kata Andi Wanua Tangke.

Menjawab pernyataan tersebut, Mahrus Andis menjawab, “Untung saya memilih birokrasi, Bung. Karena selama ini alumni Fakultas Sastra diremehkan bahwa itu hanya jurusannya orang-orang pasandiwara, dan tidak diterima di dunia pemerintahan, hehe…” ***


-----

Artikel sebelumnya:

‘Pada Sebuah Reuni” Belum Matang Sebagai Sebuah Puisi 

Kritik Sastra, Kopi Panas Yang Diberi Sedikit Gula 

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments

Leave a Reply