Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

» » » » » » Tumalompoa di Makassar Jatuh Cinta kepada Maipa Deapati


Pedoman Karya 12:12 AM 0

Makassar ketika itu dikuasai dan diperintah Belanda. Sebenarnya Makassar tempat benteng Sultan Hasanuddin, raja Gowa yang terkenal dengan julukan “Ayam Jago dari Timur”, untuk mempertahankan Gowa dari serbuan musuh-musuhnya. Tetapi dengan adanya “Perjanjian Bungaya”, benteng itu jatuh ke tangan kompeni. Dan di benteng inilah, orang-orang Belanda menjalankan pemerintahannya untuk menguasai seluruh daratan Makassar.

 



-----

PEDOMAN KARYA

Selasa, 28 Juni 2022

 

Datu Museng dan Maipa Deapati (30):

 

 

Tumalompoa di Makassar Jatuh Cinta kepada Maipa Deapati

 

 

Oleh: Verdy R. Baso

(Mantan Wartawan Harian Pedoman Rakyat)

 

 

Tumalompoa dan Jurubahasa

 

Makassar ketika itu dikuasai dan diperintah Belanda. Sebenarnya Makassar tempat benteng Sultan Hasanuddin, raja Gowa yang terkenal dengan julukan “Ayam Jago dari Timur”, untuk mempertahankan Gowa dari serbuan musuh-musuhnya.

Tetapi dengan adanya “Perjanjian Bungaya”, benteng itu jatuh ke tangan kompeni. Dan di benteng inilah, orang-orang Belanda menjalankan pemerintahannya untuk menguasai seluruh daratan Makassar.

Jika di Sumbawa ada Maggau, di Gowa ada Somba yang berkuasa negeri, maka di Makassar berkuasa Tumalompoa (orang Belanda yang besar kekuasaannya). Ia didampingi I Tuan Jurubahasa (seorang anak negeri yang dipercaya oleh kompeni).

I Tuan Jurubahasa ini sangat besar pengaruhnya pada Tumalompoa. Jarang kata-katanya tak diturut. Nasihatnya selalu diiyakan. Demikian besar kepercayaan Tumalompoa sehingga apa kata Jurubahasa, itu pulalah kata Tumalompoa.

Akan halnya kedatangan Datu Museng dan Maipa Deapati yang telah menggemparkan penduduk Makassar itu, telah didengar pula Tumalompoa melalui I Tuan Jurubahasa. Keahliannya melukiskan kemolekan Maipa Deapati yang telah lama terkenal itu membuat Tumalompoa benar-benar dimabuk angan-angan.

Dalam khayalnya yang tak berkeputusan, ia berupaya membayang-bayangkan keindahan dan kemolekan sang puteri, isteri Datu Museng itu. Jika malam hari ia dilanda kesepian, bulan yang sedang purnamalah yang menjadi sasaran pandangannya. Dibanding-sandingkannya bulan itu dengan Maipa Deapati. Tapi ia akhirnya merasa bulan itu pun tidak setara dengan wanita yang sedang merajai pantai kalbunya.

Jika bulan tak muncul, maka yang menjadi sasarannya bintang-bintang yang sedang temaram. Dipilihnya yang paling cemerlang sinarnya dan di sanalah ia berupaya mendapatkan bentuk keindahan yang dimiliki Maipa.

Apabila di rembang petang ia ke taman bunga, dipilihnya kembang terindah dan terharum. Dipetiknya setangkai dari dahan, diciumnya penuh perasaan, kemudian dibawa untuk dijadikan hiasan biliknya. Kembang yang sedang mekar dan menyebarkan aroma itu diibaratkannya Maipa Deapati. Dipandanginya berlama-lama, kemudian diraih lagi untuk dicium seperti tak pernah merasa puas. Tapi, akhh..., hati kecilnya datang mengejek.

“Hai Tumalompoa..., kembang yang kau pegang dan cium itu tak sebanding dengan puteri Maipa. Raja dari segala kembang pun tak akan mampu menyaingi keindahan, kemolekan dan keharuman wanita bangsawan itu. Bahkan bidadari pun rasanya akan iri-hati jika melihat kecantikan Maipa Deapati.

Percayalah, percayalah... Kembang mekar di kamar ini tak layak bertanding dengan Maipa, karena wanita itu intan baiduri yang disimpan dalam peti hikmat bertuah. Kembang yang di tanganmu itu tak berdaya sedikit pun. Sebentar lagi ia akan layu terkulai dan menjadi sampah.

Maipa Deapati? Jika dicari di antara kembang, percuma juga. Karena tak ada tangan bertuah lagi yang dapat memetiknya, tak ada mata berhikmat yang dapat melihatnya. Jika pun dicari dari tumpukan bintang-bintang, di kumpulan para juita ayu, carilah ratu juita dari segala ratu. Di sanalah ia. Ya, di sanalah kedudukan Maipa Deapati.

Wahai Tumalompoa di Makassar, percuma kembang itu disimpan di kamar sebagai penyedap mata, pemuas hati. Maipa Deapati tidak berada dalam kembang itu. Percuma pula kau memandang merenungi bulan, karena bulan tak akan jatuh ke haribaanmu. Kekuasaanmu tak sampai ke sana. Juga sia-sia mencarinya di antara bintang-bintang, karena tak ada pula kekuatanmu menurunkan bintang-bintang itu. Kekuasaanmu di alam sana tak ada, tapi kau berkuasa di dunia ini.

Di Makassar kau dapat menghitam-putihkan keadaan. Kaulah yang berkuasa dan dipertuan, maharaja diraja. Apa lagi? Pergunakanlah kekuasaanmu. Kini hatimu telah rusuh gelisah ingin menguasai pemilik keindahan itu. Hatimu telah dimabuk kepayan, rindu-sayu pada bayangan.

Akh, bila kau perturutkan kata hatimu tanpa berusaha, percayalah kau laksana mencoba menggantang asap. Tak akan ada hasil, kecuali rindu semata, yang akan berlarat berkepanjangan, tak berujung tak berakhir. Apalah daya jika hati merindu, jiwa merana. Hasilnya cuma merindu dan merana pula, lain tiada. Dan karena itulah kau akhirnya menjadi lemah dan kecil, bukan Tumalompoa lagi. Bukan penguasa yang berdaulat. Buat apa segala kekuasaan dalam tanganmu?

Kau adalah penjajah, kau adalah pemerintah. Di ujung telunjukmu dan di sudut bibirmu terletak satu kekuatan dan kekuasaan. Ya, kau cukup menudingkan telunjuk dan mengeluarkan perintah, maka berlakulah satu kekuasaan dan tercapailah maksud di hati.

Kau Tumalompoa, kau berkuasa dengan perajurit-perajurit dan sahabat-sahabatmu yang ada di sini. Sekali kau perintah, mereka serentak menghambakan diri. Apalah kekuatan orang-orang di sini. Mereka bodoh, tak tahu tipu muslihat, tak maklum arti taktik.

Bukankah kau menjadi wakil kerajaan Belanda di sini karena kecerdikanmu? Bukankah Sultan Hasanuddin yang terkenal kejantanannya itu berhasil kau taklukkan dengan tipu dayamu? Ya, dengan kecerdikanmu, kau berhasil menguasai daratan Makassar yang penuh dengan patriot-patriot tangguh.

Alangkah aneh jika kau tak mampu berbuat sesuatu untuk menguasai perempuan yang menyiksa hatimu sekarang. Kecerdikanmu tak berarti apa-apa lagi jika kau gagal dengan  soal sekecil itu. Apalagi yang kau tunggu dan cari, segala sudut kau tempati!”

Selagi ia dihanyutkan kata hatinya, pikirannya yang waras menyeruak.

“Akh, jangan kau turutkan kata-hatimu yang menyesatkan itu. Maipa Deapati adalah isteri orang lain. Kau seharusnya mengetahui, tak pantas menggilai seorang wanita yang sudah bersuami. Itu melanggar adat manusia yang beradab, dan hukum pun tak membenarkannya. Derajatmu yang tinggi sekarang akan runtuh bila kau laksanakan niat yang hina itu.

Ya, sadarlah bahwa dia telah bersuami, dan suaminya yang terkenal sakti dan tak pernah menghitung bilangan musuh itu tentu akan melindunginya sekuat tenaga yang ada padanya. Kau pasti gagal Tumalompoa, apabila kau paksakan juga kehendakmu. Jika kau telah gagal, maka itu akan merupakan tamparan ke wajahmu yang akan terus membekas hingga kau masuk liang kubur.

Kau manusia yang mengenal Tuhan, bukan? Ketahuilah, perbuatan yang sedang kau angan-angankan itu adalah perbuatan yang dilarang oleh Tuhan. Sadarkah kau bahwa neraka adalah tempat bagi orang yang melanggar ajaran Tuhan? Lagipula Tumalompoa, dia berlainan bangsa denganmu. Kau benar-benar bersifat binatang jika kau lanjutkan juga angan-anganmu itu. Sebelum kasip, sebaiknya kau hapus angan-angan buruk itu!”

“Apa? Berlainan bangsa?” Hati kecilnya menghasut lagi.

“Kau harus menjadi contoh, perintis jalan bagi bangsamu dan orang kulit putih lainnya. Manusia di alas dunia ini apakah ia berkulit putih, kuning, hitam maupun coklat, semuanya berdarah sama, yaitu merah.

Hai Tumalompoa, pergunakanlah kekuasaan dan kecerdikanmu. Persuntinglah Maipa Deapati. Percayalah, di negerimu sendiri, bahkan di mana pun kau mencari, tak akan bersua gadis secantik dia. Di atas bumi sekarang, Maipa Deapati adalah wanita segala wanita.

Percayalah pula, kehormatanmu semakin tinggi jika berhasil memperisterikannya. Kau pasti akan lebih dikagumi oleh kawan dana wan apabila putri Maipa Deapati berada di sampingmu. Semangatmu dalam menjalankan tugas yang dibebankan oleh pemerintah Belanda di atas pundakmu, akan dapat kau laksanakan dengan baik. Karena Maipa kuasa membangkitkan semangat yang hampir padam sekali pun. Dan pangkatmu tentu akan menanjak terus, kehormatanmu semakin, besar, kepercayaan kerajaan Belanda padamu semakin tebal. Dan yang paling penting, kau akan puas sepuas-puasnya menikmati hidup ini.”

Tumalompoa menjadi bingung. Resah gelisah dan murung termenung setiap hari. Dalam berjuang melawan kata hatinya yang tak berkeputusan itu, belum diperolehnya suatu ketetapan yang dapat menggembirakan hatinya. Membuat rindunya melanda berlarut-larut.

Suatu hari dikuatkannya hatinya memanggil I Tuan Jurubahasa yang merupakan penasehat pribadi kepercayaan yang tak ada duanya.

“Jurubahasa..., marilah sejenak duduk di sampingku. Aku ingin bercerita dan bertanya padamu. Kuingin pula dijawab yang menyenangkan dan tepat, tak menusuk hati, menekan dada, menyinggung perasaan. Memuaskanlah dalam menjawab, jangan menjemukan memberi keterangan. Apalagi memuakkan perasaan yang sudah setengah sakit, menderita batin ini hendaknya kau hindari!”

Mendengar kata Tumalompoa, Jurubahasa arif sudah apa yang akan ditanyakan tuannya. Baru kali ini ia mendengar yang dipertuan di Makassar bertanya dan harus dijawab memuaskan dan menggembirakan.

“Baiklah tuanku, tanyalah, dan akan kujawab seperti tuanku inginkan,” kata Jurubahasa, sambil menundukkan kepala berusaha berpikir dalam-dalam. (bersambung)


----

Kisah sebelumnya:

Warga Makassar Terpukau Melihat Maipa Deapati Yang Cantik Jelita

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments

Leave a Reply