Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

» » » » » » Datu Museng Tantang Tumalompoa Datang Sendiri Sampaikan Maksudnya


Pedoman Karya 8:46 AM 0

“Kembali segera kepada tuanmu. Katakan aku tak mau menyerahkan senjata, apalagi isteriku. Sampaikan bahwa aku laki-laki. Laki-laki pantang menyerah jika miliknya hendak dirampas. Suruh tuanmu Tumalompoa datang sendiri kemari menyampaikan maksudnya, supaya dia tahu siapa aku. Dia boleh membawa serta sepasukan tubarani. Katakan, ketika Maipa Deapati belum menjadi isteriku, aku bersedia mati untuknya. Apalagi sekarang, sudah di tangan, lalu hendak dirampas oleh orang lain. Sungguh tolol tuanmu. Atau barangkali ia terlalu pongah?”
 


------

PEDOMAN KARYA

Senin, 11 Juli 2022

 

Datu Museng dan Maipa Deapati (35):

 

 

Datu Museng Tantang Tumalompoa Datang Sendiri Sampaikan Maksudnya

 

 

Oleh: Verdy R. Baso

(Mantan Wartawan Harian Pedoman Rakyat)

 

Keesokan harinya, Daeng Jarre datang lagi ke rumah Datu Museng. Kali ini hatinya tak seperti kemarin lagi ketika ia mula-mula menginjak rumah itu. Jantungnya memang berdebar-debar juga, tapi ditahannya sekuat mungkin. Malu dan takut pada kedua tuannya yang memaksanya menahan debaran dada.

Dan rupanya kali ini langkah baik baginya, karena Maipa Deapati yang telah menggagalkan usahanya kemarin, tidak tampak di ruangan tempat karaeng Datu Museng menerima kedatangannya. Dengan leluasa ia mengucap kata, menuturkan maksud kunjungannya kepada panglima perang Sumbawa ini.

“Apa gerangan maksud Tumalompoa mengutusmu kemari suro?” tanya Datu Museng, setelah Daeng Jarre memamah sirih-sekapur.

Dengan menelan ludah, membasahi kerongkongan yang terasa kering, suro mulai mengucap kata, mempergunakan kefasihan lidahnya.

“Karaeng Datu Museng, hamba datang atas kehendak I Tuan Tumalompoa dan I Tuan Jurubahasa untuk menyampaikan pesannya pada karaengku.”

“Baiklah, apa pesan itu?” kata Datu Museng sambil menatap tajam-tajam abdi ini.

“Anu, karaengku...., eee...., anu....”

“Apa, teruskan suro, jangan ragu-ragu!”

“Begini, karaengku. I Tuan Tumalompoa yang berkuasa di Makassar ini menyuruh supaya karaengku..., menyerahkan segala alat senjata yang ada pada karaengku, dan..., dan..., anu...”

“Ampun karaengku, hamba hanya bagai parang ditetakkan, kapak diayunkan.”

“Kumaklumi itu suro, katakan segera apa maksud tuanmu yang lain!” Datu Museng berusaha menahan amarahnya yang sudah mulai memuncak.

“Ampun terlebih dahulu, karaeng...” Daeng Jarre Daenta Daeng Jumpandang tertegun bagaikan dicekik lehernya.

“Teruskan, akan kuampuni kau!”

“Anu karaeng... Isteri... karaengku...” suro itu berhenti lagi, menelan air liur dan menjilat-jilat bibirnya.

“Kenapa isteriku, suro? Katakan apa maksud Tumalompoa dengan isteriku!” mata Datu Museng sudah mulai membara.

“Ampun, karaeng... Minta diserahkan juga...”

“Apa? Apa betul katamu itu?” kemarahan panglima perang Sumbawa itu benar-benar telah dipuncak.

Diingsutkannya pantatnya ke depan mendekati Daeng Jarre. Rasa-rasanya hendak dipatah-patahkannya tubuh abdi ini. Untunglah ia cepat sadar bahwa Daeng Jarre hanya orang suruhan saja.

“Harap diampuni karaeng... Itulah sabda Tumalompoa,” jawab Daeng Jarre dengan wajah pucat. Ia sadar, jika Datu Museng tak mampu mengekang murkanya, entah bagaimana nasibnya sekarang.

“Sombong, pongah!” teriak Datu Museng sambil bangkit dari duduknya.

Dengan memegang kuat-kuat hulu keris pusakanya yang bergelar “Matatarampa’na”, ia melangkah ke jendela. Dadanya bergejolak, diamuk rasa jengkel yang amat sangat. Ia merasa amat terhina dengan permintaan Tumalompoa itu.

Selama hidupnya, baru kali ini ada sesama manusia yang berani secara terang-terangan menghinanya. Jika tak cepat sadar bahwa hanya abdi saja, akan dicincangnya orang ini.

Di ambang jendela ia berhenti. Sambil tangan kiri bertumpu pada bingkai jendela dan tangan kanan tetap pada hulu keris, ia mencoba melontarkan pandangan sekilas ke bawah. Lengang dan kosong. Sekosong dan sehampa perasaannya kini. Ya, tak satu pun benda yang dipandangnya dapat mengobat sakit hatinya. Semua seakan malah mengejek dan merendahkan martabatnya yang sudah menggunung.

Tiba-tiba ia membalik menghadapi suro Daeng Jarre. Matanya kini berwarna saga, ia nampaknya tak tahan menerima penghinaan. Sambil berusaha mengekang amarahnya, ia melangkah lambat-lambat ke arah Daeng Jarre.

Kira-kira tiga langkah dari suro itu, ia berhenti dan mengangkangkan kakinya kuat-kuat, lalu berkata setengah berteriak: “Kembali segera kepada tuanmu. Katakan aku tak mau menyerahkan senjata, apalagi isteriku. Sampaikan bahwa aku laki-laki. Laki-laki pantang menyerah jika miliknya hendak dirampas. Suruh tuanmu Tumalompoa datang sendiri kemari menyampaikan maksudnya, supaya dia tahu siapa aku. Dia boleh membawa serta sepasukan tubarani. Katakan, ketika Maipa Deapati belum menjadi isteriku, aku bersedia mati untuknya. Apalagi sekarang, sudah di tangan, lalu hendak dirampas oleh orang lain. Sungguh tolol tuanmu. Atau barangkali ia terlalu pongah? Hidupku ini hanya untuk Maipa Deapati, lain tiada. Ha..., begitu rendah budi pekerti yang dipertuan di Makassar ini! Hei suro, pulang segera. Sampaikan bahwa senjataku tetap di pinggang sampai maut menjelang. Dan isteri belaian kasih, tetap dalam lindungan tanganku!”

Ketika Daeng Jarre tetap termenung dungu di tempat duduknya, Data Museng menghentakkan kaki sambil berteriak: “Hayo berangkat, atau kupancung lehermu!”

Mendengar perintah itu, abdi Daeng Jarre terperanjat. Buru-buru ia bangkit berjongkok dan tergopoh-gopoh menuju pintu, langsung menuruni tangga, tak menoleh lagi. Ia berjalan cepat-cepat agar cepat pula sampai menyembah di kaki Tumalompoa dan Jurubahasa.

Hatinya amat masygul dan duka tak terkira, karena tugasnya tak berhasil. Untuk pertama kali dalam sejarah pengabdiannya, ia gagal dua kali berturut-turut menghadapi seseorang. Apa dayanya sekarang?

Rupa-rupanya Datu Museng bukan sembarang Datu, tapi Datu pilihan yang lulus di atas batu ujian. Dia adalah manusia yang tak gentar pada kekuatan sesama manusia, kendati manusia yang dihadapinya jauh lebih berkuasa dari dirinya sendiri. Akh, sungguh lelaki sejati. (bersambung)


-----

Kisah sebelumnya:

Makassar Bisa Tenggelam Jika Maipa Deapati Tersenyum

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments

Leave a Reply