Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

» » » Rindu Yang Terlepas di Warkop Phoenam


Pedoman Karya 8:12 AM 0

LEPAS RINDU. Dua wartawan senior AB Iwan Azis (kiri) dan Hasan Kuba bertemu dan ngobrol-ngobrol melepas rindu di Warkop Phoenam, Jl Jampea, Makassar, Rabu, 05 Oktober 2022. (Foto: Asnawin Aminuddin / PEDOMAN KARYA)
 






----

PEDOMAN KARYA

Rabu, 05 Oktober 2022

 

 

Rindu Yang Terlepas di Warkop Phoenam

 

 

Oleh: AB Iwan Azis

(Wartawan Senior)


Dua hari berturut-turut saya berkunjung ke Warkop Phoenam, Jl Jampea, Makassar. Hari Selasa, 04 Oktober 2022, dan hari Rabu, 05 Oktober 2022.

Pada kunjungan saya di hari pertama, saya merasa sangat bersyukur karena dapat berkunjung kembali setelah sekian lama tidak pernah nongol di Warkop Phoenam. Warkop Phoenam selama ini menjadi markas pertemuan dengan teman-teman.

Saat berkunjung kembali, rasanya jadi lain, karena sampai berjam-jam duduk menanti teman yang biasa datang dan ngobrol pada jam yang sama, tidak terjadi, bahkan saya hanya menerima berita yang kurang menyenangkan. Berita bahwa mereka sudah banyak yang “mendahului.”

“Sallona baru kuliatki’. Banyak sekali yang pertanyakanki’ (maksudnya, banyak sekali yang sering menanyakan kabar saya),” kata Sinar, salah seorang pelayan yang sudah tahu persis kegemaran saya.

“Inai? (maksud saya, siapa-siapa yang sering mencari dan menanyakan kabar saya),” tanya saya.

Tanpa menjawab pertanyaan saya, ia langsung berjalan ke belakang sambil mengatakan, “Saya bikinkanmaki, oke? (maksudnya, dia akan membuatkan minuman dan makanan ringan kegemaran saya).”

“Banyak temanta’ tidak datang karena sakit, tidak mampu lagi hadir bersama kita’, bahkan banyakmi juga sudah mendahulu kita’,” kata Sinar setelah membawakan minuman dan makanan kesukaan saya.

Dia menambahkan, “Banyakmi temanta’ tidak datang mereka mengalami sakit, tidak mampu lagi hadir bersama kita’, bahkan banyakmi juga sudah mendahulu kita’.”

Mendengar itu, saya langsung berdo’a semoga teman-teman yang telah mendahului saya mendapat tempat yang layak di sisi Allah SWT. Teman yang sakit semoga masih diberi kesembuhan untuk bertemu lagi.

Selama beberapa jam duduk di warkop, tak seorang pun menyapa saya. Dan memang tak satu pun pengunjung warkop yang saya kenali, padahal saya pernah jadi “penguasa” di warkop ini, he..he..he…

Saya mencoba menulis keprihatinanku di Facebook sambil menerawang kejadian-kejadian yang pernah kualami di tempat ini.

 

Komentar Teman di Facebook


Rupanya keprihatinanku yang kutulis di Facebook, mendapat perhatian dan dikomentari oleh beberapa teman.

Teman Hasan Kuba berkomentar, “Saya juga rindu pertemuan di Poenam seperti yang lalu-lalu. Salama’ Pak Iwan, sehatki selalu. Banyak kenangan yang kita lewati bersama.” 

Saya membalasnya dengan mengatakan, “Aamiin Pak Aji, sehatki selalu, kapan waktu kita bisa, sy tunggu.”

“Tabe... tarima kasih Pak Iwan. Kutelpon jaki itu. Salamakki’,” balas Hasan Kuba.

Asnawin Aminuddin muncul dengan komentar, “Panggilka'’ juga.”

Teman lain, Mustari Abdullah, juga berkomentar dengan mengatakan, “Cocoki anjo pindukku (Pak Hasan Kuba), semakin tua semakin kita kencangkan silaturrahim, sekalipun bukan di Phoenam, kapan dan dimana saja.”

“Iye’ Pak Mustari, sy juga sangat rindu bertemu Pak Mus, kapan bisa, sedangkan di FB sudah sangat senang, apalagi kalau ketemu langsung dimana saja, aamiin ya Rabbil aalamin,” balas saya.

Pada Rabu pagi, 05 Oktober 2022, adinda Asnawin mengirimi saya pesan lewat WhatsApp (WA) dan menyampaikan rindu ngopi bareng dan mengajak serta Pak Hasan Kuba. Akhirnya kami sepakat ngopi bersama pada sore hari ba’da ashar.

 

Nikmati Rindu

 

Pada kunjungan saya di hari kedua, Rabu, 05 Oktober 2022, suasananya sudah sangat berbeda, karena akhirnya saya bertemu dua sahabat sesama jurnalis muda dulu, he..he..he…

Keduanya adalah Pak Hasan Kuba yang sekarang sudah haji, dan adinda Asnawin. Dulu, Pak Hasan Kuba menjabat Ketua Seksi Film di PWI (Persatuan Wartawan Indonesia Cabang Sulawesi Selatan), dan saya jadi wakilnya.

Adinda Asnawin yang mantan wartawan PR (harian Pedoman Rakyat), juga pernah bersama saya di PWI Sulsel. Ketika itu, saya jadi Direktur Press Club PWI Sulsel, dan Asnawin sekretaris.

Jadilah keheboan bernostalgia sampai lupa makan pesanan roti bakar isi kaya, begitu asyiknya pertemuan ini. Kami bernostalgia, terutama dengan Pak Hasan Kuba karena kami banyak kali melakukan kunjungan bersama di beberapa tempat sebagai pengurus PWI Sulsel.

Pikiran saya sampai jauh menerawang ke masa silam sampai saya tidak mampu meneruskan cerita ini. Ayo mari kita nikmati rindu yang terlepas. Semoga kita semua punya waktu, amin.***

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments

Leave a Reply