Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita


“Bagaimana pendapatta’ kalau ada calon gubernur, calon walikota, atau calon bupati yang maju lewat jalur independen?” tanya Daeng Tompo’ kepada Daeng Nappa’ saat ngopi malam di teras rumah Daeng Nappa’.

“Calon independen itu jantan tawwa, tidak bergantung kepada parpol,” kata Daeng Nappa’.


“Salutka’ kurasa saya kalau ada parpol yang tetap menghormati ketuanya, meskipun sang ketua sudah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan karena dugaan kasus korupsi,” kata Daeng Tompo’ kepada Daeng Nappa’ saat ngopi siang di warkop terminal.
“Seharusnya ‘kan langsung diganti,” kata Daeng Nappa’.
“Itumi makanya saya salut. Kalau langsung diganti, samaji itu melempari tangga orang yang sudah jatuh,” ujar Daeng Tompo’.

“Nabilang Daeng Rurung, kalau ada kasus besar yang dibesar-besarkan di media massa dan berhasil membius masyarakat, maka pasti ada kasus besar lainnya yang sengaja ditutup-tutupi,” ungkap Daeng Tompo’ kepada Daeng Nappa’ saat ngopi di teras rumah Daeng Nappa’ seusai shalat isya berjamaah di masjid.


“Datangmaki’ bezuki Pak Desa di rumah sakit?” tanya Daeng Tompo’ kepada Daeng Nappa’ saat ngobrol-ngobrol di pos ronda malam minggu sambil menunggu warga kompleks lainnya.

“Datangma’, tapi tidak bisaki masuk liatki, dilarang sama dokter, tapi geger otaki bedeng kodong,” ujar Daeng Nappa’.
“Kasianna itu kodong?” kata Daeng Tompo’.

“Bagaimanami kabarna Pak Desa? Saya kira menghilangi?” tanya Daeng Tompo’ kepada Daeng Nappa’ saat jalan-jalan pagi seusai shalat subuh berjamaah di masjid.

“Di rumah sakitki kodong,” ujar Daeng Nappa’.
“Sakit apai kodong?” tanya Daeng Tompo’.
“Bukan sakit, tabrakangi mobilna. Maumi pulang ke rumahna tadi malam, tapi barangkali mengantuki bawa’ mobil, natabraki tiang listrika,” ungkap Daeng Nappa’.

“Waktu penundaan pertama karena Pak Desa tiba-tiba sakit,” jelas Daeng Nappa’.

“Terus yang kedua?” Daeng Tompo’ kembali bertanya.
“Penundaan kedua karena Pak Desa tiba-tiba menghilang. Tidak ditau kemanai, jadi terpaksa ditundai lagi,” ujar Daeng Nappa’.

“Ceritanya ada lembaga pendidikan mengundang pejabat daerah untuk menghadiri sebuah acara pemberian penghargaan di lembaga pendidikan tersebut,” ungkap Daeng Tompo’.

“Terus,” tukas Daeng Nappa’.
“Pas itu pejabat memberikan kata sambutan, tiba-tiba salah seorang penerima penghargaan langsung berdiri dan keluar dari ruangan. Terus banyak temanna yang ikut keluar,” tutur Daeng Tompo’.

“Misalnya menghina orangtua, menghina tokoh masyarakat, atau menghina pejabat seperti bupati, walikota, atau gubernur,” ujar Daeng Tompo’.

“Saya kira tidak mungkin itu, karena sekolah dan murid-muridnya pasti akan terhina sendiri,” kata Daeng Nappa’.

PENUTUPAN. Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Yunahar Ilyas (duduk, keenam dari kiri) foto bersama Ketua Muhammadiyah Sulsel Prof Ambo Asse (duduk, kelima dari kiri), serta sejumlah pengurus Muhammadiyah Pusat, pengurus Muhammadiyah Sulsel, dan panitia seusai penutupan Munas Tarjih Muhammadiyah, di Kampus Unismuh Makassar, Kamis malam, 25 Januari 2018. (Foto: Asnawin)


KKN TEMATIK. Belasan mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Bosowa melaksanakan praktek Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik, selama dua bulan, di Bosowa Agro, Kecamatan Pallangga, Gowa. (ist)


PROTES. Puluhan ibu-ibu dan warga Desa Ujung Baji, Kecamatan Sanrobone, Kabupaten Takalar, berkumpul pada Jumat pagi, 26 Januari 2018, untuk memprotes adanya penambangan pasir di daerah mereka yang berakibat pada rusaknya jalanan karena setiapo hari dilewati puluhan kendaraan pengangkut pasir. (ist)


CERAMAH UMUM. Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Din Syamsuddin, membawakan ceramah umum pada Munas Tarjih Muhammadiyah, di Balai Sidang Muktamar 47 Kampus Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Rabu sore, 24 Januari 2018. (Foto: Asrijal Bintang)


MUNAS TARJIH. Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir, memberikan kata sambutan pada pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) Tarjih Muhammadiyah, di Balai Sidang Muktamar 47 Kampus Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Rabu, 24 Januari 2018. (Foto: Asnawin)


PENGELANA. Penulis (kiri) foto bersama Maman A Majid Binfas, saat bertemu pada acara Munas Tarjih Muhammadiyah, di Balai Sidang Muktamar 47 Kampus Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Rabu, 24 Januari 2018. (dok. pribadi)


BERHALA POLITIK. Ceramah dai kondang ustadz Bachtiar Nasir pada tabligh akbar, di Auditorium Al-Amien Kampus Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Selasa, 23 Januari 2018, dihadiri seribuan jamaah. (Foto: Asnawin Aminuddin)

“Barangkali bagus kalau Pilkada diadakan setiap dua tahun,” kata Daeng Nappa’ kepada Daeng Tompo’ saat ngopi sore di warkop terminal.
“Deh, bissana itu. Tidak mungkinlah,” tukas Daeng Tompo’.
“Bagus karena menjelang Pilkada, para calon bupati, calon walikota, dan calon gubernur rajin mengunjungi masyarakat sambil bagi-bagi sembako, serta memberi bantuan dimana-mana,” papar Daeng Nappa’.


KETUA IKA Unibos Makassar, Ratnawati Umar (kanan) berjabat-tangan dengan Rektor Unibos Prof Saleh Pallu, seusai pelantikan IKA Unibos periode 2017-2022, di Balai Sidang Unibos Makassar, Senin, 21 Januari 2018. (ist)


KHITANAN MASSAL. Dekan Fisip Unismuh, Dr Ihyani Malik (keenam dari kanan) foto bersama mahasiswa yang melaksanakan program Kuliah Kerja Profesi (KKP), di Kecamatan Bajeng, Kabupaten Gowa, Ahad, 21 Januari 2018, seusai menyaksikan pelaksanaan khitanan massal yang diikuti 50 anak dari enam desa se-Kecamatan Bajeng. (ist)


“Mengeluh boleh, tapi janganmaki tawwa maki-maki PLN, karena jangankan aliran listrik, orang juga bisa tiba-tiba sakit, apalagi kalau kaget karena jadi tersangka,” kata Daeng Tompo’ sambil tersenyum.“Ah, kita’ itu,” kata Daeng Nappa’ balas tersenyum.


“Hebat bagaimana? Hebat bikin susah rakyat,” kata Daeng Nappa’.
“Itumi maksudku’. PLN bisa mematikan lampu hingga berjam-jam dan tidak bisa dituntut oleh masyarakat, tapi kalau kita terlambat bayar iuran listrik, langsungki didenda,” tutur Daeng Tompo’.

“Tapi tadi banyak kemacetan karena mahasiswa demo Hari Pahlawan,” tukas Daeng Nappa’.
“Itu juga mahasiswayya, selaluna demo,” kata Daeng Tompo’.
“Mautongi kapang jadi pahlawan,” kata Daeng Nappa’ sambil tersenyum.


“Bagaimana kalau ada pejabat, katakanlah presiden, gubernur, atau bupati yang menikahkan anaknya? Terus banyak tamuna. Perlukah itu dikritik?” tanya Daeng Nappa’. 


“Itu ‘kan urusan pribadi tawwa. Bahayana itu kalau presiden tidak boleh menikahkan anaknya,” ujar Daeng Tompo’.

“Kalau ada pejabat yang selalu disoroti media massa karena kehebatan dan kasusnya, misalnya seorang pimpinan parpol yang juga pimpinan lembaga legislatif, yang terjerat kasus korupsi, itu masuk kategori mana, sinetron atau telenovela?” tanya Daeng Nappa’.


JALAN-JALAN. Mahasiswa STIE Nobel Indonesia Makassar, Andi Sawerigading, foto di Kantor Stock Exchange of Thailand (SET), saat jalan-jalan ke Thailand sebagai hadiah atas kemenangannya pada Kompetisi Yuk Nabung Saham 2017.

“Apakah itu sebenarnya tugasna professorka,” tanya Daeng Nappa’ kepada Daeng Tompo’ saat jalan-jalan pagi seusai shalat subuh berjamaah di masjid.
“Eh, janganki salah, banyak sekali itu tugasna profesorka, karena mereka bukan sekadar dosen, tapi juga seorang pakar, ahli dalam bidang tertentu,” kata Daeng Tompo’.


“Maksudku, perceraian pemimpin. Perceraian antara walikota dengan wakil walikota, dan perceraian bupati dengan wakil bupati,” kata Daeng Nappa’.

“Oh itu, ka tadi bilangki pejabat yang cerai,” tukas Daeng Tompo’.
“Kayaknya lebih banyak yang cerai dan baku lawan pada Pilkada berikutnya dibanding yang tetap berpasangan selama dua periode,” ujar Daeng Nappa’.

“Rantasa’na ini politika,” kata Daeng Nappa’ kepada Daeng Tompo’ saat ngopi pagi di teras rumah Daeng Tompo’.

“Rantasa’ bagaimana?” tanya Daeng Tompo’.
“Liatmaki’. Ada parpol yang membuka pendaftaran calon gubernur, kemudian mereka mengadakan semacam uji kepatutan dan kelayakan, tapi yang diusung oleh parpol tersebut malah bukan orang mengikuti uji kepatutan dan kelayakan,” tutur Daeng Nappa’.

PENGABDIAN MASYARAKAT. Dekan FKIP Unismuh Makassar, Erwin Akib PhD, mengatakan, puluhan dosen Unismuh Makassar, dosen Politeknik Negeri Ujung Pandang (PNUP), dan STIE Muhammadiyah Mamuju melaksanakan kegiatan Pengabdian Masyarakat selama lima hari di kawasan puncak Malino, Kabupaten Gowa, 20-24 Januari 2018.


MUNAS TARJIH. Sekretaris Panitia Lokal Munas Tarjih, Syamsuriadi P Salenda mengatakan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulsel siap melaksanakan amanah sebagai tuan rumah Munas TarjihMuhammadiyah, di Balai Sidang Muktamar 47 Kampus Unismuh Makassar, 24-26 Januari 2018.