Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita


BANK SAMPAH. Camat Pattallassang, Bahctiar Hasyim, memimpin acara Sosialisasi Penanggulangan Sampah, di Kantor Lurah Pattallassang, Sabtu, 07 November 2020. (ist)



-----

Ahad, 08 November 2020



Semua Kelurahan di Takalar Punya Bank Sampah



TAKALAR, (PEDOMAN KARYA). Semua kelurahan di Kabupaten Takalar memiliki minimal satu bank sampah. Itulah program yang dicanangkan Bupati Takalar, Syamsari Kitta.

Program "Satu Kelurahan Satu Bank Sampah" itu merupakan kelanjutan dari program Gerakan Masyarakat Tangkasa na Gammara yang disingkat Gematasamara. 

Tentu saja tidak mungkin bagi Pemkab Takalar mewujudkan hal secata serentak pada seluruh kelurahan. Karena itulah, Pemkab Takalar mengawalinya dengan melakukan sosialisasi dan mewujudkannya secara keseluruhan pada seluruh kelurahan di Kecamatan Pattalassang, sebagai kecamatan ibukota kabupaten. 

Sosialisasi yang dilaksanakan di Kantor Lurah Pattallassang, Sabtu, 07 November 2020, yang diikuti imam kelurahan, Kepala Lingkungan, dan tokoh masyarakat, yang dilanjutlan dengan pembagian alat cuci tangan untuk lima masjid di Kelurahan  Pattalassang. 

"Alhamdulillah bersama Bapak Bupati, lurah, imam kelurahan, dan kepala lingkungan, kita melakukan sosialisasi penanggulangan sampah sekaligus menggalakkan program satu kelurahan satu bank sampah ini," jelas Camat Pattalassang, Bachtiar Hasyim.

Program "Satu Kelurahan Satu Bank Sampah", katanya, dilaksanakan dengan cara sampah yang masih layak untuk didaur ulang dikumpulkan pada satu pengepul. 

Kemudian Bank Sampah yang sekretariatnya berada di Pasar Pattalassang, akan membeli sampah dari pengepul dan dijual kembali ke Makassar. 

Selain mengurangi sampah, program ini juga diyakini mampu menciptakan lingkungan yang bersih dan masyarakat yang peduli karena sampah yang dikumpulkan bernilai ekonomi. 

"Saya mengajak seluruh masyarakat untuk ikut berperan aktif sebagai nasabah bank sampah ini. Dan seluruh lurah di kecamatan Pattalassang, saya instruksikan untuk bekerjasama dengan ketua bank sampah dalam hal penanganan sampah," kata Bachtiar. (Hasdar Sikki)


Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Prof Andi Husni Tanra PhD SPAn, menerima penghargaan The Order of the Rising Sun, Gold Rays with Neck Ribbon dari Kaisar Jepang.  



--------

Ahad, 08 November 2020



Prof Husni Tanra dari Unhas Makassar Peroleh Bintang Jasa dari Kaisar Jepang



MAKASSAR, (PEDOMAN KARYA). Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Prof Andi Husni Tanra PhD SPAn, menerima penghargaan The Order of the Rising Sun, Gold Rays with Neck Ribbon dari Kaisar Jepang.  

"Pengumuman penganugerahaan ini disampaikan oleh Pemerintah Jepang pada tanggal 03 November 2020," kata Direktur Komunikasi Unhas, Suharman Hamzah PhD, dalam rilisnya kepada wartawan di Makassar, Ahad, 08 November 2020.

The Order of the Rising Sun, katanya, merupakan penghargaan kehormatan yang diberikan oleh Kaisar Jepang kepada individu-individu yang mempunyai kontribusi luar biasa bagi Jepang, khususnya dalam bidang hubungan internasional, promosi kebudayaan Jepang, pencapaian dalam bidang keahlian mereka, atau peran dalam pembangunan dan perlindungan lingkungan hidup.

Penghargaan ini pertama kali diberikan oleh Kaisar Meiji pada tahun 1875.  Terdapat 8 kategori penghargaan The Order of The Rising Sun, yaitu: 1st Class (Grand Cordon), 2nd Class (Gold and Silver Star), 3rd Class (Gold Rays with Neck Ribbon), 4th Class (Gold Rays with Rosette), 5th Class (Gold and Silver Rays), 6th Class (Silver Rays), 7th Class (Green Paulownia Leaves Medal), dan 8th Class (White Paulownia Leaves Medal).

Penghargaan kategori Gold Rays with Neck Ribbon yang disematkan kepada Prof. Husni Tanra diberikan atas kontribusi beliau dalam memperkokoh hubungan antara Jepang dan Indonesia, khususnya dalam peningkatan pertukaran akademi dan hubungan persahabatan kedua negara.

Pada tahun 2019, penghargaan prestisius untuk kategori 3rd Class ini diberikan kepada empat tokoh, yaitu: Janusz Adam Onyszkiewicz (mantan Menteri Pertahanan Polandia), Piotr Paleczny (pianis dunia dari Polandia), Robert Huey (Profesor Sastra Jepang dari University of Hawaii, Manoa), dan Sadia Rashid (Rektor Hamdard University, Pakistan). 

"Mewakili sivitas akademika Unhas, kami menyampaikan kebanggaan atas penghargaan yang diterima Prof Husni Tanra. Penghargaan ini sangat layak mengingat sepak terjang beliau dalam membangun hubungan persahabatan Indonesia dengan Jepang," kata Suharman.

“Ini kebangggaan tersendiri bagi Unhas. Dorongan dan motivasi Prof. Husni Tanra terhadap staf dosen untuk menimba ilmu dan terus menjaga hubungan baik dengan Jepang tidak pernah berhenti hingga kini,” jelas Suharman.

Berkat kontribusi Prof Husni Tanra, hubungan baik terus dijalin dengan Pemerintah Jepang dan tentunya banyak membantu Unhas dalam membangun jejaring dengan institusi pemerintah, perguruan tinggi dan komunitas masyarakat Jepang lainnya.

“Prof. Husni adalah sosok Dai Senpai atau super senior, ini melekat erat pada sikap dan karakter beliau. Seorang senior yang selalu mengayomi yang muda dengan gaya ramah ala Jepang.  Selamat Prof. Husni, anugerah ini tidak mudah tapi sangat layak untuk seorang Husni Tanra Sensei,” ungkap Suharman.

Prof Husni Tanra adalah profesor emeritus di Unhas, mantan Ketua Perhimpunan Alumni dari Jepang (Persada) Sulsel dan Ketua AMDA Indonesia.

Beliau telah memperkenalkan Jepang dalam berbagai kesempatan, dan berperan aktif membantu mahasiswa maupun rekannya melanjutkan pendidikan ke Jepang.

"Selain itu, sebagai Ketua Perhimpunan Alumni dari Jepang Sulsel (Persada Sulsel), Husni Tanra berkontribusi meningkatkan hubungan persahabatan antara Jepang dan Sulawesi Selatan," kata Suharman. (kiya)

Rasulullah bertanya: “Bagaimana dengan pintu ke-7, diperuntukkan untuk siapa pintu itu?”

Sejenak malaikat Jibril terdiam. Malaikat Jibril seperti ragu untuk menyampaikan siapa yang akan menghuni pintu ketujuh. Akan tetapi Rasulullah SAW mendesaknya sehingga akhirnya Malaikat Jibril berkata, “Pintu ke-7 diperuntukkan bagi umatmu yang berdosa besar dan meninggal sebelum mereka bertaubat sebelum meninggal.” (Foto: Asnawin Aminuddin / PEDOMAN KARYA)



--------

PEDOMAN KARYA

Sabtu, 07 November 2020

 

 

KALAM

 

 

Rasulullah Menangis Memikirkan Umatnya

 

 

Dikisahkan dalam suatu riwayat, suatu ketika Jibril datang menemui Rasulullah SAW. Jibril kali ini datang di waktu yang tidak biasa bahkan raut wajah Jibril pun terlihat berbeda dari biasa.

Melihat perbedaan dari malaikat Jibril ini, Rasulullah SAW lantas bertanya, “Mengapa aku melihat kau raut wajahmu berbeda?”

Jibril menjawab, “Ya Muhammad, aku datang kepadamu di saat Allah menyuruh supaya dikobarkan penyalaan api neraka, maka tidak layak bagi orang yang mengetahui bahwa neraka Jahannam itu benar, siksa kubur itu benar, dan siksa Allah itu terbesar untuk bersuka-suka sebelum ia merasa aman dari padanya”.

“Ya Jibril, jelaskan padaku gambaran neraka Jahannam itu!” tanya Rasulullah SAW.

“Ketika Allah menciptakan Jahannam, maka dinyalakan apinya selama 1000 tahun sehingga merah, kemudian dilanjutkan 1000 tahun sehingga putih, kemudian 1000 tahun sehingga hitam, lalu menjadi hitam gelap, tidak pernah padam nyala dan baranya. Demi Allah, andaikan terbuka sebesar lubang jarum niscaya akan dapat membakar semua penduduk dunia karena panasnya. Demi Allah, andaikan satu baju ahli neraka itu digantung di antara langit dan bumi niscaya akan mati penduduk bumi karena panas dan bau busuknya yang tak tertahankan. Demi Allah, andaikan satu pergelangan dari rantai itu diletakkan di atas bukit, niscaya akan cair sampai ke bawah bumi yg ke-7. Demi Allah, andaikan seorang di ujung barat tersiksa, niscaya akan terbakar orang-orang yang di ujung timur karena sangat panasnya. Jahannam itu sangat dalam, perhiasannya besi dan minumannya air panas bercampur nanah, dan pakaiannya adalah potongan-potongan api. Api neraka itu ada 7 pintu, jarak antar pintu sejauh 70 tahun, dan tiap pintu panasnya 70 kali dari pintu yang lain”.

Nabi Muhammad SAW meminta Jibril untuk menjelaskan satu per satu mengenai pintu-pintu neraka tersebut.

Jibril lalu menjelaskan apa yang diminta oleh Rasulullah SAW, “Pintu pertama dinamakan Hawiyah (artinya: jurang), yang diperuntukkan bagi kaum munafik dan kafir.

Pintu ke-2 dinamakan Jahim, yang diperuntukkan bagi kaum musyrikin.

Pintu ke-3 dinamakan Saqar, yang diperuntukkan bagi kaum shobiin atau penyembah api.

Pintu ke-4 dinamakan Ladha, diperuntukkan bagi iblis dan para pengikutnya.

Pintu ke-5 dinamakan Huthomah (artinya: menghancurkan hingga berkeping-keping), diperuntukkan bagi kaum Yahudi.

Pintu ke-6 dinamakan Sa’ir (arti harfiahnya: api yang menyala-nyala), diperuntukkan bagi kaum kafir.

Rasulullah bertanya: “Bagaimana dengan pintu ke-7, diperuntukkan untuk siapa pintu itu?”

Sejenak malaikat Jibril terdiam. Malaikat Jibril seperti ragu untuk menyampaikan siapa yang akan menghuni pintu ketujuh. Akan tetapi Rasulullah SAW mendesaknya sehingga akhirnya Malaikat Jibril berkata, “Pintu ke-7 diperuntukkan bagi umatmu yang berdosa besar dan meninggal sebelum mereka bertaubat sebelum meninggal.”

Mendengar penjelasan yang mengagetkan itu, Rasulullah pun langsung pingsan, Jibril lalu meletakkan kepala Rasulullah Shallallahu allaihi wassalam di pangkuannya sehingga sadar kembali dan sesudah sadar beliau bersabda: “Ya Jibril, sungguh besar kerisauan dan sangat sedih hatiku. Apakah ada seorang dari umatku yang akan masuk ke dalam neraka?”

Jibril menjawab, “Ya, yaitu orang yang berdosa besar dari umatmu.”

Rasulullah SAW lalu menangis mendengar penuturan Jibril, Jibril pun ikut menangis. Kemudian Rasulullah langsung masuk ke dalam rumahnya dan tidak keluar kecuali untuk shalat.

Setelah kejadian itu, beliau tidak berbicara dengan siapapun selama beberapa hari, dan ketika shalat beliau pun menangis dengan tangisan yang sangat memilukan. (asnawin, dikutip dari )



“Ka rewel dudui belah. Setengah matika staterki, tidak mau bunyi. Tidak mungkin juga kudorong sampai di sini. Sekali kutinggalkangi,” kata Daeng Nappa’. (Foto: Asnawin Aminuddin / PEDOMAN KARYA)

 

------

 

PEDOMAN KARYA

Sabtu, 07 November 2020

 

 

Obrolan Daeng Tompo’ dan Deng Nappa’:

 

 

Kutinggalkangi Motorku di Jalan

 

 

“Kutinggalkangi tadi motorku di jalan,” kata Daeng Nappa’ kepada Daeng Tompo’, saat ngopi siang di warkop terminal.

“Eh, kenapaki tinggalkangi?” tanya Daeng Tompo’.

“Ka rewel dudui belah. Setengah matika staterki, tidak mau bunyi. Tidak mungkin juga kudorong sampai di sini. Sekali kutinggalkangi,” kata Daeng Nappa’.

“Bisana itu motorta’ kitinggalkang, padahal kita’ yang punya?” kata Daeng Tompo’ dengan nada tanya.

“Ah biartongmi. Daripada nabikin susahka,” kata Daeng Nappa’.

“Aih, kayaknya perlu tong itu kita’ diperiksa kesehatan mentalta’,” kata Daeng Tompo’ seraya tertawa, sementara Daeng Nappa’ hanya bisa geleng-geleng kepala. (asnawin)

.... 

Sabtu, 07 November 2020 

 

Sesungguhnya aku tahu siapa orang yang paling terakhir dikeluarkan dari neraka dan paling terakhir masuk ke surga, yaitu seorang laki-laki yang keluar dari neraka dengan merangkak. Kemudian Allah berfirman kepadanya, “Pergilah engkau, masuklah engkau ke surga.” (Foto: Asnawin Aminuddin / PEDOMAN KARYA)



------

PEDOMAN KARYA

Jumat, 06 November 2020


KALAM



Orang Terakhir Masuk Surga



Abdullah bin Mas’ud berkata, “Rasulullah shallallahualaihiwasallam bersabda,

Sesungguhnya aku tahu siapa orang yang paling terakhir dikeluarkan dari neraka dan paling terakhir masuk ke surga.

Yaitu seorang laki-laki yang keluar dari neraka dengan merangkak. Kemudian Allah berfirman kepadanya, “Pergilah engkau, masuklah engkau ke surga.”

Ia pun mendatangi surga. Tetapi ia membayangkan bahwa surga itu telah penuh. Ia kembali dan berkata, “Wahai Rabbku, aku mendatangi surga tetapi sepertinya telah penuh.”

Allah berfirman kepadanya, “Pergilah kamu dan masuklah surga.”

Ia pun mendatangi surga. Tetapi ia masih membayangkan bahwa surga sudah penuh.

Kemudian ia kembali dan berkata, “Wahai Rabbku, aku mendatangi surga tetapi sepertinya sudah penuh.”

Allah berfirman kepadanya, “Pergilah kamu dan masuklah surga. Untukmu surga seperti dunia dan sepuluh kali lipat darinya.” Atau “Untukmu surga seperti sepuluh kali lipat kenikmatan dunia.”

Orang tersebut berkata, “Apakah Engkau mengejek atau menertawakanku duhai Tuhan-ku, sedangkan Engkau adalah pemilik semesta alam?”

Ibnu Mas’ud berkata, “Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa sampai tampak gigi geraham beliau.

Kemudian beliau bersabda, “Itulah penghuni surga yang paling rendah derajatnya.” (HR. Muslim no. 272)

------

Editor: Asnawin Aminuddin

BAGIKAN ROTI. Puluhan anggota Satlantas Polres Gowa membagi-bagikan air mineral dan roti kepada para pengendara di traffic light perempatan Jalan Poros Malino, Jalan Usman Salengke, dan Jalan Andi Malombasang, Kelurahan Sungguminasa, Kecamatan Sombaopu, Kabupaten Gowa, Kamis pagi, 05 November 2020. (ist)







--------

Kamis, 05 November 2020

 

 

Polisi Gowa Bagikan Air Mineral dan Roti

 

 

GOWA, (PEDOMAN KARYA). Setelah membagi-bagikan masker kepada para pengendara di jalan raya dan mempercantik Taman Lalu Lintas di Taman Kanak-kanak Kemala Bhayangkari Gowa sebagai bagian dari Operasi Zebra, Satlantas Polres Gowa kembali melakukan sesuatu yang berbeda.

Sesuatu yang berbeda itu ialah puluhan anggota Satlantas Polres Gowa membagi-bagikan air mineral dan roti kepada para pengendara di traffic light perempatan Jalan Poros Malino, Jalan Usman Salengke, dan Jalan Andi Malombasang, Kelurahan Sungguminasa, Kecamatan Sombaopu, Kabupaten Gowa, Kamis pagi, 05 November 2020.

Pembagian air mineral dan roti itu dipimpin langsung Kasatlantas Polres Gowa, AKP Mustari SH, pada hai ke-11 pelaksanaan Operasi Zebra 2020.

“Ini kami lakukan sebagai implementasi pelaksanaan Operasi Zebra 2020 yang lebih mengedepankan pendekatan preventif humanis,” kata Mustari, kepada wartawan di Gowa, Kamis, 05 November 2020.

Selain membagikan air mineral dan roti, katanya, Anggota Satlantas Polres Gowa juga mengedukasi para pengendara tentang tata cara yang baik dan benar sesuai amanat Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2009, tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

“Kami berharap dengan pendekatan preventif dan humanis ini dapat menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk lebih tertib berlalu lintas, sehingga dapat menekan jumlah angka kecelakaan lalu lintas,” kata Mustari. (asnawin)

“Kalau saja umat manusia mengetahui pahala yang terkandung pada adzan dan barisan pertama (shaf pertama dalam shalat berjamaah), kemudian mereka tidak mendapatkannya, kecuali dengan cara mengundi, pasti mereka akan mengadakan undian. (Foto: Asnawin Aminuddin)








---------

PEDOMAN KARYA

Sabtu, 07 November 2020

 

KALAM

 

 

Pahala Adzan dan Shaf Pertama

 

 

Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, “Kalau saja umat manusia mengetahui pahala yang terkandung pada adzan dan barisan pertama (shaf pertama dalam shalat berjamaah), kemudian mereka tidak mendapatkannya, kecuali dengan cara mengundi, pasti mereka akan mengadakan undian.

Sekiranya mereka mengetahui pahala yang terdapat pada kesegeraan berangkat shalat, pasti mereka akan berlomba-lomba mendatanginya. Dan sekiranya mereka, mengetahui pahala shalat isya dan subuh, pasti mereka akan mendatanginya (ke masjid) meski dengan cara merangkak.” (HR Bukhari dan Muslim)


Sejumlah mahasiswa menggelar aksi unjukrasa di Jalan Sultan Alauddin, Makassar, di depan kampus Universitas Muhammadiyah (Unismuh) yang juga berhadapan dengan Kantor Perpustakaan Wilayah Sulawesi Selatan, Rabu, 04 November 2020.

Dalam aksi unjukrasa tersebut, mereka membakar ban bekas dan juga membentangkan spanduk berwarna putih bertuliskan, “Mosi Tidak Percaya kepada Presiden & DPR, Tolak Omnibus Law.”

 

 

-----

 

Aksi unjukrasa ini sempat membuat arus lalu lintas terganggu, khususnya di sekitar pertigaan Jl Sultan Alauddin - Jl Tala'salapang. (Teks dan foto: Asnawin Aminuddin / PEDOMAN KARYA)

 

 


TAMAN LALU LINTAS. Anggota Satlantas Polres Gowa mempercantik Taman Lalu Lintas di Kompleks Taman Kanak-kanak Kemala Bhayangkari, jalan poros Malino, Kecamatan Somba Opu, Gowa, Selasa, 03 November 2020. (ist)



-----

Rabu, 04 November 2020



Operasi Zebra 2020, Satlantas Polres Gowa Percantik Taman Lalu Lintas



GOWA, (PEDOMAN KARYA). Satlantas Polres Gowa sangat aktif dan kreatif di bawah komanda AKP Mustari SH. Kreativitas itu antara lain memasang tiang dan bendera merah putih di depan rumah warga yang tidak mengibarkan bendera merah putih pada bulan Agustus silam.

Juga membagi-bagikan masker kepada para pengendara saat berlangsungnya Operasi Zebra. Dan kini mempercantik Taman Lalu Lintas di Kompleks Taman Kanak-kanak Kemala Bhayangkari, jalan poros Malino, Kecamatan Somba Opu, Gowa.

Dalam.giat korvey di are Taman Lalu Lintas tersebut, Selasa sore, 03 November 2029, para anggota Satlantas Polres Gowa membersihkan taman, menyapu, mengangkut tanah, mencabut rumput, menanam bunga, dan mengecat dengan warna khas lalu lintas yakni biru putih.

KBO Satlantas Polres Gowa, Iptu Ida Ayu Made SH, menjelaskan, kegiatan giat korvey membersihkan lingkungan adalah sebagai implementasi Operasi Zebra 2020.

"Dengan lingkungan sekitar yang bersih dan sehat, secara tidak langsung kita dapat memutus mata rantai penularan Covid-19," kata Ida Ayu.

Kasat Lantas Polres Gowa AKP Mustari SH, menambahkan bahwa dalam waktu dekat pihaknya akan melakukan pengecatan tembok taman dan juga membuat kolam ikan.

"Insya Allah dalam waktu dekat kami akan melakukan pengecatan pada tembok sebelah selatan, membuat kolam ikan, kemudian memasang Replika Rambu Rambu Lalu lintas, contohnya marka jalan," kata Mustari.

Dia berharap dengan memberikan edukasi dan pengenalan rambu sejak dini kepada anak-anak TK, dapat menumbuhkan kesadaran tertib berlalu lintas, sehingga kelak dewasa akan menjadi warga yang tertib berlalu lintas. (asnawin)

 

KULIAH KERJA PROFESI PLUS. Mahasiswa Unismuh Makassar foto bersama Camat Polongbangkeng Selatan, Takalar, Baharuddin Dg. Limpo, Babinsa Su'rulangi Bhabinkamtibmas Su'rulangi, serta aparat desa, di Kantor Desa Su'rulangi, Kecamatan Polsel, Takalar, Selasa, 03 November 2020. (ist)


-----

Rabu, 04 November 2020


Mahasiswa KKP Diharapkan Kreatif Melihat Potensi Desa yang Dapat Dikembangkan



TAKALAR, (PEDOMAN KARYA). Mahasiswa sebagai orang yang tengah menimba ilmu di perguruan tinggi diharapkan mampu menginovasi dan menginspirasi masyarakat desa, karena warga desa membutuhkan inspirasi, khususnya tentang arti penting pendidikan formal.

"Kami juga meminta agar mahasiswa kreatif melihat celah potensi desa yang  dapat dikembangkan," kata Camat Polongbangkeng Selatan (Polsel) Takalar yang juga Plt Kepala Desa Su'rulangi, Baharuddin Dg Limpo.

Hal itu ia kemukakan saat memberikan sambutan pada pembukaan Seminar Program Kerja Mahasiswa Kuliah Kerja Profesi (KKP) Plus Angkatan XXI, Fakultas Ilmu-ilmu Sosial dan Politik (Fisip) Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, di Kantor Desa Su'rulangi, Selasa, 03 November 2020.

"Kami meminta agar mahasiswa dan aparat desa dan dusun, serta masyarakat, saling membantu dan bersinergi melaksanakan program kerja yang telah dibuat bersama untuk kelanjutan pembangunan dan pengembangan desa," kata Baharuddin.

Sekretaris Desa Su'rulangi, Muhammad Rustan, menyarankan agar mahasiswa membuat program kerja dengan estimasi biaya seminim-minimnya, sehingga tidak menyusahkan mahasiswa. 

Kordes Surulangi KKP Fisip Unismuh Makassar, Farhan Nur Suud, menyampaikan terima kasih atas arahan Camat Polsel Baharuddin, dan saran serta usul yang mengemuka dalam Seminar Program Kerja tersebut.

"Kami akan mencoba membuat program kerja yang sederhana tapi bisa dikenang oleh masyarakat Desa Su'rulangi," kata Farhan.

Program kerja bakal dilaksanakan di antaranya, pendampingan aparat Desa Su'rulangi berkaloborasi pada pelayanan dan pelaksanaan tugas (Belajar, mengajar, belajar bersama), pembaharuan petaka-petaka kantor desa dan pembuatan papan informasi Transparansi Anggaran Dana Desa, baksos pada 5 dusun, silaturahmi dan pembenahan wilayah dusun, lomba kegiatan ke-Islam-an yaitu saling menyaring potensi-potensi anak-anak Desa Su'rulangi.

-----

Penulis: Karmila (Mahasiswa KKP Plus Unismuh Makassar, di Desa Su'rulangi, Kecamatan Polongbangkeng Selatan, Takalar)

Editor: Hasdar Sikki


 


"Orang Islam itu umumnya pemarah. Ada yang memprotes adzan, marah. Ada yang membakar Al-Qur'an, marah. Ada yang melecehkan surat Al-Maidah, marah. Ada yang membuat kartun Nabi Muhammad, marah," tutur sang dosen. (Foto: Asnawin Aminuddin / PEDOMAN KARYA)



------

PEDOMAN KARYA

Rabu, 04 November 2020


ANEKDOT



Orang Islam Itu Pemarah



Seorang dosen yang terkenal liberal, suatu hari masuk ke salah satu ruangan kelas untuk mengajar. Namun ia tidak langsung mengajar.

Ia terlebih dahulu berbicara tentang fenomena umat Islam. Ia mengatakan, orang Islam itu umumnya pemarah.

Setelah mengucapkan kata-kata itu, ia berhenti sejenak sambil melihat reaksi dan raut wajah para mahasiswa. 

Mahasiswa semua terdiam. Hening, tapi sedikit tegang. Raut wajah mereka umumnya tampak tegang.

"Orang Islam itu umumnya pemarah. Ada yang memprotes adzan, marah. Ada yang membakar Al-Qur'an, marah. Ada yang melecehkan surat Al-Maidah, marah. Ada yang membuat kartun Nabi Muhammad, marah," tutur sang dosen.

Tak ada satu pun mahasiswa yang mengacungkan tangan. Mereka semua diam seribu basa.

"Al-Qur'an yang dibakar itu hanya kertas, sedangkan Al-Qur'an yang sebenarnya ada di lauhul mahfuzh. Tak bisa dibakar, tak bisa dilecehkan. Saya benar-benar heran dengan umat Islam. Terlalu lebay, menurut saya," lanjut sang dosen.

Mahasiswa tetap diam, tapi suasana tegang sangat terasa.

"Hanya karena ada yang menginjak mushaf Al-Qur'an, mereka marah lalu ribuan orang menggelar demonstrasi di mana-mana, padahal yang dibakar itu cuma kertas. Kertas itu hanya media tempat menulis Al-Qur'an. Al-Qur'an aslinya ada di lauhul mahfuzh. Saya pikir para mahasiswa harus dicerdaskan soal ini," kata sang dosen.

Ruang kuliah itu hening beberapa saat. Sebagian mahasiswa agaknya setuju dengan pemikiran sang dosen. Namun tiba-tiba ada seorang mahasiswa yang dikenal cerdas mengacungkan tangan.

"Silakan," kata sang dosen.

"Memang Al-Qur'an itu hakikatnya ada di lauhul mahfuzh,” kata mahasiswa itu sambil berjalan mendekati sang dosen.

"Maaf, Pak. Boleh saya melihat makalah Bapak?” kata mahasiswa itu dengan nada tanya.

Wajah mahasiswa lainnya tampak menegang. Mereka khawatir akan ada insiden yang tidak terduga antara mahasiswa yang dikenal sebagai aktivis dakwah itu dengan dosennya yang liberal.

“Makalah ini bagus Pak,” kata.mahasiswa itu

Wajah-wajah mahasiswa lainnya yang tadinya sempat tegang, kini normal kembali, tapi itu hanya sesaat, karena setelah itu, mahasiwa tersebut membanting keras makalah itu ke lantai kemudian menginjaknya.

“Sayang sekali analisanya kurang komprehensif !!” kata mahasiswa itu.

Tak cukup menginjak, ia pun meludahi makalah sang dosen kemudian ia injak-injak lagi. Tentu saja makalah tersebut menjadi kotor dan rusak.

Di dekatnya, sang dosen melotot. Mukanya merah padam. Kedua telapak tangannya menggenggam erat.

"Kurang ajar...!!! Kamu menghina karya ilmiah saya. Kamu menghina pemikiran saya,” kata sang dosen sembari melayangkan tangannya ke arah mahasiswa, tapi dengan cekatan mahasiswa itu menangkisnya.

“Marah ya Pak? Saya hanya menginjak kertas kok, Saya hanya meludahi kertas !! Saya hanya melecehkan kertas. Saya tidak melecehkan pemikiran Bapak, karena pemikiran Bapak ada di kepala Bapak. Saya kan tidak menginjak kepala Bapak. Saya pikir Bapak harus dicerdaskan soal ini," kata mahasiswa itu.

Mendengar kata-kata mahasiswa itu, sang dosen tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia seperti mendapatkan serangan balik yang mematikan.

Sang dosen pun segera mengemasi buku-bukunya dan kemudian meninggalkan ruang kuliah itu dengan muka merah padam. ***

---

Keterangan: 

-- Anekdot ini sudah cukup lama beredar di media sosial dengan status anonim alias tanpa nama penulis.

- Kami memformulasi ulang kisahnya untuk pembaca sekalian, karena kami menganggap anekdot ini sangat bermanfaat dan inspiratif. Mudah-mudahan anekdot ini menjadi amal jariyah buat penulis aslinya, amin. (asnawin)

Ketua Prodi S3 PAI PPs Unismuh Makassar, Dr Abdul Rahim Razaq, mengatakan, Prodi S3 PAI PPs Unismuh Makassar, yang mulai menerima mahasiswa baru tahun 2017, sudah siap mewisuda alumni perdananya pada tahun 2021. (Foto: Asnawin Aminuddin / PEDOMAN KARYA)





------- 

Selasa, 03 November 2020

 

 

Prodi S3 PAI Unismuh Siap Wisuda Alumni Perdana pada 2021

 

 

MAKASAR, (PEDOMAN KARYA). Program Studi Doktoral (S3) Pendidikan Agama Islam (PAI) Program Pascasarjana (PPs) Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, yang mulai menerima mahasiswa baru tahun 2017, sudah siap mewisuda alumni perdananya pada tahun 2021.

“Saat ini sudah ada empat mahasiswa yang sedang proses ujian proposal, dua orang mahasiswa angkatan pertama dan dua orang mahasiswa angkatan kedua,” kata Ketua Prodi S3 PAI PPs Unismuh Makassar, Dr Abdul Rahim Razaq, kepada Pedoman Karya, di ruang kerjanya, Selasa, 03 November 2020.

Dia yakin mahasiswa lain yang belum ujian proposal akan segera menyusul mengajukan judul disertasi dan selanjutnya mengikuti proses penelitian, ujian hasil, ujian tutup, dan akhirnya ujian promosi doktor.

“Kami sekarang mendorong teman-teman mahasiswa lain agar segera mengikuti jejak yang empat orang ini, mengajukan judul dan selanjutnya ujian proposal untuk memulai proses ujian disertasi,” kata Rahim Razaq.

Mahasiswa S3 PAI PPs Unismuh saat ini berjumlah 30 orang, terdiri atas 15 orang mahasiswa angkatan pertama, dan 15 orang mahasiswa. Kuliah perdana angkatan pertama dilaksanakan pada Kamis, 12 Oktober 2017, dibuka oleh Direktur PPs Unismuh Makassar, ketika itu Prof Ide Said.

Rahim Razaq yang pernah menjabat Wakil Dekan I Fakultas Agama Islam (FAI), mengatakan, mahasiswa angkatan pertama S3 PAI Unismuh pada umumnya adalah para profesional, baik di bidang pendidikan seperti dosen, guru madrasah dan pesantren, maupun dari kalangan birokrasi pegawai dari berbagai instansi.

“Program S3 Pendidikan Islam merupakan program S3 pertama yang dimiliki Unismuh Makassar, dan sekarang sedang mempersiapkan diri mengikuti re-akreditasi,” kata Rahim. (zak)


-----

Berita terkait Prodi S3 Unismuh Makassar:



Ketua Forum Dosen FAI Unismuh Makassar, Dr Rusli Malli. (Foto diambil dari akun Facebook Rusli Malli)


-----

Selasa, 03 November 2020


Puluhan Alumni FAI Unismuh Makassar Lulus CPNS 2019



MAKASSAR, (PEDOMAN KARYA). Puluhan alumni Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar berhasil lolos seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Tahun 2019 sebagaimana diumumkan pemerintah melalui laman web pada Jumat, 30 Oktober 2020.

"Setelah kami lacak, kami menemukan 28 alumni FAI Unismuh yang lolos dalam seleksi CPNS Tahun 2019," ungkap Ketua Forum Dosen FAI Unismuh Makassar, Dr Rusli Malli, kepada wartawan, di Makassar, Selasa, 03 November 2020.

Mantan politisi ini mengatakan, para alumni FAI yang lolos seleksi CPNS tersebut umumnya diterima di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan Kementerian Agama (Kemenag).

Para alumni yang lolos itu berasal dari program studi Pendidikan Agama Islam (PAI), Prodi Pendidikan Hukum Ekonomi Syariah, Prodi Pendidikan Bahasa Arab, Prodi Al Ahwal As Syakhsiyah, serta Prodi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI).

"Keberhasilan para alumni FAI Unismuh Makassar ini lolos dalam seleksi CPNS 2019, tentu saja sangat membanggakan dan membahagiakan bagi sivitas akademika FAI maupun sivitas akademika Unismuh secara keseluruhan," kata Rusli.

Keberhasilan alumni lolos dalam kompetisi seleksi yang sangat ketat, katanya, telah membuktikan bahwa alumni FAI Unismuh Makassar sudah sejajar dan selevel kampus negeri dan kampus swasta lainnya di seluruh Indonesia.

"Keberhasilan ini tentu tidak terlepas dari bimbingan dan arahan Dekan FAI, Bapak Mawardi Pewangi, serta seluruh dosen FAI Unismuh Makassar," kata Rusli Malli yang juga Ketua Forum Dosen Tersertifikasi Kopertais VIII se-KTI. (zak)

 

INI BUKAN FESTIVAL. Panitia “Ini Bukan Festival” melakukan rapat, di Etika Studio, Jalan Tamalate 1 Makassar, Sabtu, 31 Oktober 2020. (ist)






----------

Senin, 02 November 2020

 

 

Berbagai Pertunjukan Seni Ditampilkan di Arena “Ini Bukan Festival” di Makassar

 

-         Digelar di Etika Studi, 15-20 November 2020

 

MAKASSAR, (PEDOMAN KARYA). Medio November 2020, warga Makassar disuguhkan aneka macam pertunjukan seni. Mulai dari pertunjukan tari, teater, musik, pembacaan karya sastra, hingga pameran seni rupa dan kerajinan.

Bukan itu saja, ada juga dongeng, pameran foto, peluncuran dan diskusi buku, dan workshop. Gelaran pertunjukan yang dikemas dalam acara bertajuk “Ini Bukan Festival” tersebut, akan diadakan di Etika Studio, Jalan Tamalate 1 Makassar, mulai 15-21 November 2020.

“Event ini merupakan kolaborasi lintas seniman. Bertujuan untuk membuka ruang silaturahmi, sembari berkreasi dan berekspresi di tengah pandemi,” jelas Rimba, salah seorang inisiator acara, kepada wartawan di Makassar, Sabtu, 31 Oktober 2020, usai rapat pemantapan panitia di Etika Studio.

Bahar Merdu, seniman teater yang akan memboyong anak-anak binaannya tampil di acara ini mengatakan, gagasan “Ini Bukan Festival” berawal dari ide yang sederhana. Bahwa para seniman tidak melihat situasi pandemi Covid-19 sebagai kendala untuk terus berkarya. Bahkan menjadi ujian ketaatan bagi seniman dalam memaknai kondisi sosial masyarakat saat ini.

“Masyarakat butuh hiburan setelah lama mereka dirumahkan. Tentu dengan tetap diingatkan agar taat dan disiplin pada protokol kesehatan,” kata Bahar Merdu.

Irfan Jaury, sebagai penanggung jawab, mengatakan, perhelatan “Ini Bukan Festival” bisa menjadi cara bagi para seniman mencari format penyelenggaraan event di tengah pandemi. Selain itu, bisa juga dijadikan cara krearif untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat agar peduli dan berkontribusi dalam memutus mata rantai virus Corona.

Karena itu, sambung Agus Linting, Stage Manager, para pengunjung akan diatur agar tetap sesuai protokol kesehatan. Maksudnya, agar mereka nyaman mengikuti pertunjukan yang ditampilkan sesuai minatnya masing-masing.

Panitia membagi area “Ini Bukan Festival” atas tiga zona. Zona 1 terdiri dari pertunjukan teater, tari, musik, dan performing art. Zona 2, berupa pemutaran film, dongeng, pameran foto, seni rupa, pembacaan karya sastra dan peluncuran buku. Sedangkan zona 3, diperuntukkan bagi area pameran kerajinan, bursa buku, dan seni rupa.

“Kami juga menyediakan aneka kuliner dan bunga-bunga, sehingga bagi pecinta tanaman, ajang ini menarik untuk dikunjungi,” papar Dede Leman, person in charge (PIC) area pasar.

Konsep pasar dan bazar dihadirkan untuk memberikan kesempatan kepada pelaku UMKM berpartisipasi dalam kegiatan ini. Apalagi ada tren beberapa jenis tanaman, yang mungkin bisa menambah daya tarik acara. Begitupun dengan kuliner, diharapkan bisa menjadi pilihan kudapan bagi pengunjung saat menikmati suguhan pertunjukan.

Beberapa seniman yang ikut dalam acara menyambut gembira event ini. Goenawan Monoharto, menyatakan akan menampilkan pertunjukan “Two Man Play”, dengan judul Seniman Pengkhianat karya Amal Hamzah.

Goenawan Monoharto akan berkolaborasi dengan Soeprapto Budisantoso, mantan birokrat yang sangat menyukai bidang seni.

Begitupun Syahril Patakaki Daeng Nassa, yang baru saja menerbitkan buku berjudul Sanja Mangkasara “Attayang Ri Masunggua”, menyatakan kesiapannya hadir mendiskusikan bukunya.

Antusiasme juga disampaikan oleh Dr Syahriar Tato, Ketua Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI) Sulsel, yang akan tampil dalam diskusi bertema perfilman.

Koordinator Pelaksana “Ini Bukan Festival”, Adham Nugraha, menyampaikan bahwa ada sejumlah seniman, sanggar, dan komunitas terlibat dalam acara yang diagendakan bakal jadi event tahunan ini, yakni dari Rumah Seni Kasumba, Grup Sandiwara Pettapuang, Photonesia, Narasi Art Space, Aco Dance Company, Music Community Bahar Karca, Asosiasi Pemuda Pelestari Sastra Daerah, Bilul Art Love Jakarta, Galery de Lamacca Art, Lembaga Seni Budaya Batara Gowa, Komunitas Puisi (KoPi) Makassar, dan #kakmullbercerita. (dinto)


GURU BESAR. Eliza Meiyani dikukuhkan sebagai Guru Besar ke-11 Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, di Balai Sidang Muktamar 47 Kampus Unismuh, Jl Sultan Alauddin, Makassar, Sabtu, 31 Oktober 2020. (Foto: Asnawin Aminuddin / PEDOMAN KARYA)





-------- 

Senin, 02 November 2020

 

 

Budaya Lama Masuki Fase Anomali di Era Milenial

 

-         Eliza Meiyani Dikukuhkan sebagai Guru Besar ke-11 Unismuh Makassar

 

MAKASSAR, (PEDOMAN KARYA). Di era milenial, sedikit atau banyak, akan terbentuk pola budaya baru yang mendesak pola budaya lama, atau paling tidak, pola budaya lama memasuki fase anomali menuju fase krisis budaya (culture crisis).

“Munculnya fase anomali itu bersamaan dengan munculnya fakta baru atau fenomena baru di kalangan milenial yang pada umumnya masih mewarisi nilai sosial budaya masa lampau yang masih berlaku dalam keluarga,” kata Prof Eliza Meiyani.

Hal itu ia sampaikan dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar ke-11 Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, di Balai Sidang Muktamar 47 Kampus Unismuh, Jl Sultan Alauddin, Makassar, Sabtu, 31 Oktober 2020.

Dalam pidato pengukuhannya, Eliza mengusung judul “Reposisi Abbatireng sebagai Produk Budaya Manusia Bugis-Bone di Era Milenial.”

Menurut Eliza, nilai-nilai sosial budaya masa lampau (yaitu abbatireng atau kekerabatan), masih dianut secara ketat oleh keluarga di satu sisi, tapi di sisi lain bersamaan berlaku nilai sosial budaya milenial yang cenderung berproses ke arah berlawanan dengan nilai-nilai sosial budaya masa lampau sebagai hasil proses akulturasi budaya.

“Ketika terjadi tahap anomali dalam kebudayaan yang cenderung anarkis terhadap budaya lama, maka pada saat itulah diperlukan reposisi budaya abbatireng sebagai nilai sosial budaya superior masyarakat Bugis-Bone,” kata perempuan asal Wajo, yang meraih gelar doktor (S3) Antropologi Budaya di Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar tahun 2009.

Eliza mengatakan, nilai sosial budaya abbatireng telah mengalami proses uji validasi budaya secara terus-menerus dari satu generasi ke generasi selanjutnya, sehingga memiliki ketahanan budaya yang tangguh sesuai jati diri masyarakatnya.

 

Konsep Kekerabatan

 

Abbatireng bagi Suku Bugis-Bone, kata dia, merupakan suatu konsep kekerabatan yang di dalamnya juga mengandung nilai-nilai dan norma-norma keluarga yang juga merupakan kristalisasi cipta, rasa, dan karsa manusia Bugis-Bone.

Dalam abbatireng, lanjut Eliza, terkristalisasi suatu pola hubungan kekeluargaan (kekerabatan) yang tidak dapat dipisahkan dari esensi pencitraan dan kehidupan manusia.

“Pola hubungan dimaksud, bahwa dalam masyarakat Bugis-Bone, abbatireng atau kekerabatan mengandung nilai-nilai luhur keluarga yang terwujud dalam beberapa istilah, seperti indo-ambo, amure, anaure, sapposiseng, sompulolo, wija, yang di dalamnya mengandung makna kekerabatan atau keluarga yang mempunyai korelasi atau implikasi dalam aktivitas kehidupan manusia,” tutur Eliza.

Munculnya era milenium yang mengglobal, ujarnya, menyebabkan terjadinya pergeseran  sistem kebudayaan (abbatireng), minimal dalam level abstrak, yaitu masuknya nilai-nilai budaya baru yang terstruktur dalam alam pikiran generasi ilenial saat ini.

“Sesuai asumsi Claude Levi-Strauss, bahwa yang paling esensi dalam paham kaum strukturalis dalam antropologi, bahwa melalui pikiran manusia, melalui alam sadarnya, akan menghasilkan pandangan lain tentang dunia luar,” tutur Eliza.

Pergeseran itu, katanya, tampak dalam masyarakat milenial sebagai suatu indikator empirik, paling tidak, melalui alam pikiran kaum milenial telah terbentuk struktur berpikir budaya baru yang diikuti dengan munculnya peralatan teknologi, seperti nano chip, robotic, dan handphone, sebagai produk peralatan kebudayaan baru yang mendukung transformasi nilai-nilai budaya baru yang cepat dan mengglobal.

 

Penguatan Kekerabatan

 

“Untuk menahan laju percepatan kehancuran jati diri manusia itu, dibutuhkan penguatan kekerabatan atau abbatireng sebagai modal sosial dan kontrol sosial, atau upaya reposisi abbatireng bagi masyarakat Bugis-Bone,” kata Eliza.

Penguatan abbatireng sebagai modal sosial dan kontrol sosial, katanya, dimaksudkan agar pembauran dan pengaburan kekerabatan sebagai produk budaya baru (multikultural), hanya dapat dibendung melalui pelembagaan kembali sistem kekerabatan abbatireng di kalangan warga milenial.

Pelembagaan kembali (double legitimasi) abbatireng, ujarnya, dapat menjadi “the guardian of culture” atau penjaga budaya guna menangkal bahaya laten hilangnya sistem kekerabatan abbatireng di era milenial.

“Penguatan abbatireng sebagai modal sosial dan kontrol sosial dilakukan melalui proses resoalisasi atau reposisi menjadi sangat urgen. Karena itu, agar perilaku generasi era milenial tidak liar dan tanpa arah, maka diperlukan desain ulang atau memberlakukan kembali nilai-nilai sosial yang dianut keluarga, seperti penghormatan terhadap ayah dan ibu, menghormati yang lebih tua, menyayangi yang muda, sopan santun, toleransi, saling menghargai,” tutur Eliza.

 

Dihadiri Kapolda, Bupati, dan Rektor

 

Pengukuhan Eliza Meiyani sebagai Guru Besar Antropologi Sosial dilakukan dalam Rapat Senat Luar Biasa yang dipimpin langsung Rektor Unismuh Makassar, Prof Ambo Asse, didampingi Ketua Dewan Guru Besar Prof Irwan Akib.

Turut hadir dalam rapat tersebut antara lain Kapolda Sulsel Irjen Pol Merdisyam, Bupari Bone Andi Fahsar Mahdin Padjalangi, Rektor UIN Alauddin Prof Hamdan Juhannis, dan beberapa pimpinan perguruan tinggi lainnya, serta Kepala LLDikti Wilayah IX Prof Jasruddin Malago. (asnawin)