Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita


"Dan apabila kamu bepergian di bumi, maka tidaklah berdosa kamu mengqasar shalat jika kamu takut diserang orang kafir. Sesungguhnya orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu." (QS 4 / An-Nisa': Ayat 101) (Foto: Asnawin Aminuddin / PEDOMAN KARYA)



------

PEDOMAN KARYA

Sabtu, 14 November 2020


KALAM



Shalat Bila Bepergian 



"Dan apabila kamu bepergian di bumi, maka tidaklah berdosa kamu mengqasar shalat jika kamu takut diserang orang kafir. Sesungguhnya orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu."

(QS 4 / An-Nisa': Ayat 101)


Sedeqah dari Allah


Ya’la bin Umayyah pernah menanyakan ayat tersebut kepada Amirul Mu’minin Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu. “maka tidaklah mengapa kamu men-qashar shalat(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir”. Saat ini orang-orang telah merasa aman. Umar berkata, ‘Aku juga pernah heran seperti kamu. Tapi saya pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hal itu. Rasul menjawab;

“Itu adalah sedekah yang diberikan Allah kepada kalian, maka terimalah sedekahnya.” (HR. Muslim)



Muhammad Kasim berhasil mewujudkan impiannya membuat lima taman dalam 100 hari pemerintahannya sebagai Lurah Pa'bundukang, Kecamatan Polongbangkeng Selatan, Kabupaten Takalar. (Foto-foto: Asnawin Aminuddin / PEDOMAN KARYA)



-------

Sabtu, 14 November 2020



Lima Taman dalam 100 Hari Muhammad Kasim Menjabat Lurah Pa'bundukang Takalar



TAKALAR, (PEDOMAN KARYA). Muhammad Kasim berhasil mewujudkan impiannya membuat lima taman dalam 100 pemerintahannya sebagai Lurah Pa'bundukang, Kecamatan Polongbangkeng Selatan, Kabupaten Takalar.




Ke-5 taman yang dibuatnya itu terdiri atas Taman Segitiga Polongbangkeng (TasPol Pa'bundukang), Taman UKM & Kuliner, Taman LoVe Pa'bundukang, Taman Layanan Publik Pa'bundukang, dan Taman Sorga (Tanaman & Sayuran Organik) Kelurahan Pa'bundukang.

"Pak Bupati (Bupati Takalar Syamsari Kitta) menantang kami membuat kreasi dan inovasi saat kami dilantik pada bulan Agustus lalu. Itulah yang kami wujudkan saat ini, antara lain membuat lima taman dalam seratus hari peetama kami menjabat Lurah Pa'bundukang," kata Kasim, kepada Pedoman Karya, di Takalar, Jumat, 13 November 2020.



Di Awal Kepemimpinannya, Muhammad Kasim selaku Lurah Pa'bundukang membuat tagline "Pa'bundukang BerSinergi" dengan tujuan menyatukan seluruh potensi untuk membangun Pa'bundukang yang jauh lebih maju dan membanggakan.

Maka ide membuat lima Taman Inspirasi pun muncul dan itu ia wujudkan dalam 100 hari pertama pemeritahannya.

Kasim juga membuay inovasi lainnya, antara lain membentuk BUMKEL atau Badan Usaha Milik Kelurahan yang diberi nama "Bumkel Pa'bundukang Bangkit."

"Bumkel Pa'bundukang Bangkit ini bertujuan membangkitkan potensi ekonomi masyarakat dan mengelola Taman UKM & Kuliner sebagai pusat kegiatan ekonomi usaha dan pusat oleh-oleh," jelas Kasim.

Inovasi lainnya yaitu dengan memaksimalkan pelayanan dengan nama Prita Siloka, Pelayanan Prima Takalar Sistem Layanan Online Kelurahan.

"Layanan publik ini memberikan kemudahan kepada masyarakat Pa'bundukang, cukup foto KTP, KK dan Surat Pengantar dari kepala lingkungan, dokumen yang dibutuhkan sudah bisa dibuatkan. Nanti selesai baru ambil sambil menyetorkan data yang difoto tadi. Cara ini pastinya efektif dan efesian, sekaligus menghindari penyebaran Covid-19 dan juga menghindari pungutan liar," kata Kasim. (Hasdar Sikki)




Jum'at, 13 November 2020



Sekda Takalar Ketua Umum Masjid Agung Takalar



TAKALAR, (PEDOMAN KARYA). Drs H Arsyad MM yang saat ini masih menjabat Sekretaris Daerah (Sekda) dilantik sebagai Ketua Umum Badan Pengurus Yayasan Waqaf Masjid Agung Takalar, periode 2020-2023, di Masjid Agung Takalar, Jum'at 13 November 2020.



Ia dilantik bersama pengurus lainnya oleh Bupati Takalar Syamsari Kitta, disaksikan ratusan jamaah dan undangan.

Dalam kepengurusan tersebut, Arsyad didampingi Ir Jamaluddin Maknun sebagai Ketua Harian I, H Abdul Azis Dg Taba sebagai salah satu Pembantu Umum, Syamsuddin Sarro SE sebagai Ketua BPH Ta'mir Masjid, serta H Syahrir SPd Dg Tiro sebagai Ketua BPH Pendidikan.

Selanjutnya, H Muhammad Hayyi Kuddus juga dipercayakan sebagai Ketua BPH Ekonomi dan Kesejahteraan Sosial, Fahriadi Dg Nai sebagai Ketua BPH Pemuda dan Remaja, H Rahmat Azis Dg Naba sebagai Ketua BPH Sarana dan Prasarana, Hj Rohani Dg Ngagi sebagai BPH Wanita, dan Makmur Nur Dg Limpo sebagai Ketua BPH Keamanan.

Haji Arsyad sebagai Ketua Umum Badan Pengurus Yayasan Waqaf Masjid Agung Takalar mengaku optimia kepengurusan baru di bawah kepemimpinannya dapat berjalan baik sesuai yang diharapkan bersama.

"Saya optimis kepengurusan yang baru bisa melaksanakan tugasnya dengan baik meski ini merupakan kerja amal," kata Arsyad

Bupati Takalar Syamsari Kitta dalam sambutannya mengatakan, keberadaan pengurus masjid sangat penting dalam pengurusan dan pembangunan masjid agar terselenggara dengan sebaik-baiknya.

"Kita jadikan masjid ini sebagai bagian dari surga kita. Kita jadikan sebagai tempat menambah ilmu agama, mendalami hadits, saling mengingatkan tentang baitilhaq, serta mengingatkan tentang kesabaran, karena semua itu adalah indikator-indikator keberhasilan sebuah kepengurusan masjid," kata Syamsari. 

Mantan Anggota DPRD Sulsel dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) berharap kepengurusan baru bisa memunculkan ide-ide kreatif agar nantinya Masjid Agung Takalar menjadi lebih baik dan lebih bagus lagi sehingga jamaah pun bisa semakin banyak. (Hasdar Sikki)



Sebaik-baik pemimpin kalian adalah pemimpin yang kalian cintai, dan mereka pun mencintai kalian. Kalian mendo’akan mereka, mereka pun mendoakan kalian. (Foto: Asnawin Aminuddin / PEDOMAN KARYA)



------

PEDOMAN KARYA

Jumat, 13 November 2020



Sebaik-baik Pemimpin



Dari Auf bin Malik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah pemimpin yang kalian cintai, dan mereka pun mencintai kalian. Kalian mendo’akan mereka, mereka pun mendoakan kalian. Seburuk-buruk pemimpin kalian adalah yang kalian benci, mereka pun benci kepada kalian. Kalian pun melaknat mereka, mereka pun melaknat kalian”. Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah apakah kita perangi saja mereka dengan senjata?”. Nabi menjawab, “Jangan, selama mereka masih shalat. Bila kalian melihat sesuatu yang kalian benci dari pemimpin kalian, maka cukup bencilah perbuatannya, namun jangan kalian melepaskan tangan kalian dari ketaatan kepadanya” (HR Muslim, No: 2155)

  


"Saya heran karena Allah memuliakan ulama, bahkan ada ulama yang sangat dihormati dan banyak simpatisannya, tapi di sisi lain, ada umat manusia yang membenci ulama," kata Daeng Nappa'.



-----

PEDOMAN KARYA

Kamis, 12 November 2020


Obrolan Daeng Tompo' dan Daeng Nappa':



Nabi Saja Ada Yang Benci



"Heranku' kurasa," kata Daeng Nappa' kepada Daeng Tompo' saat ngopi pagi menjelang siang, di warkop dekat tempat checkpoint.

"Heran kenapaki'? Apa yang bikin heranki?" tanya Daeng Tompo' sambil tersenyum.

"Saya heran karena Allah memuliakan ulama, bahkan ada ulama yang sangat dihormati dan banyak simpatisannya, tapi di sisi lain, ada umat manusia yang membenci ulama," kata Daeng Nappa'.

"Biasaji kapang. Nabi saja ada yang benci, bahkan dicaci-maki," kata Daeng Tompo'.

"Kalau orang non-muslim aayang benci dan caci maki, tidak adaji masalah karena memang banyak di antara mereka yang tidak senang kepada Islam," kata Daeng Nappa'.

"Jadi maksudta'?" tanya Daeng Tompo'.

"Maksudku', saya heran karena yang benci dan caci maki ulama itu juga ada dari saudara-saudara kita' orang Islam," kata Daeng Tompo'.

"Mungkin terpengaruhji kapang kodong," ujar Daeng Tompo'.

"Mungkin juga. Mereka terpengaruh membenci dan mencaci maki ulama karena hasutan orang non muslim dan orang komunis, padahal mereka tidak pernah ketemu dan tidak pernah berurusan langsung dengan ulama yang dicaci maki itu," tutur Daeng Nappa'.

"Yang penting kita' tidak ikut-ikutanjaki membenci dan mencaci maki ulama. Kita do'akanmami, mudah-mudahan saudara-saudara kita yang terpengaruh itu kembali ke jalan lurus," kata Daeng Tompo' sambil tersenyum. (asnawin)

....

Kamis, 12 November 2020

 


PECAH DAN BERLUBANG. Salah satu bagian tanggul di Pangkalan Pendarata Ikan (PPI) Beba, yang terletak di Desa Tamasaju, Kecamatan Galesong Utara, Kabupaten Takalar, tampak pecah dan berlubang. Gambar ini kami abadikan pada Rabu pagi, 11 November 2020. (Teks dan foto-foto: Asnawin Aminuddin / PEDOMAN KARYA)

-----




Di PPI Beba terdapat sebuah kalimat berbahasa Inggris, yakni I Love PPI Beba, yang berarti Saya Cinta PPI Beba. Kata "Love" diganti dengan simbol atau lambang cinta. Sayangnya, simbol cinta itu berbanding terbalik dengan kenyataan, karena banyak bangunan di areal PPI Beba yang tidak terurus. (Asnawin Aminuddin)


HARI PAHLAWAN. Dua puluhan mahasiswa lintas kampus yang tergabung dalam Organisasi Mahasiswa dan Pemuda Indonesia (OMPI) Sulsel berunjukrasa di depan Kampus Universitas Muhammadiyah (Unismuh), Jl Sultan Alauddin, Makassar, Selasa, 10 November 2020. (Foto: Asnawin Aminuddin / PEDOMAN KARYA)


-------

Selasa, 10 November 2020



Peringati Hari Pahlawan, Mahasiswa dan Pemuda Berunjukrasa di Depan Kampus Unismuh Makassar



MAKASSAR, (PEDOMAN KARYA). Dua puluhan mahasiswa lintas kampus yang tergabung dalam Organisasi Mahasiswa dan Pemuda Indonesia (OMPI) Sulsel berunjukrasa di depan Kampus Universitas Muhammadiyah (Unismuh), Jl Sultan Alauddin, Makassar, Selasa, 10 November 2020.

Aksi unjukrasa tersebut mereka lakukan dalam rangka memperingati Hari Pahlawan 10 November.

Mereka beraksi selama kurang lebih satu jam, yakni dimulai sekitar pukul 14.30 Wita, hingga sekitar pukul 15.30 Wita.

Dalam orasinya, mereka mengkritisi berbagai kebijakan pemerintah.

Wakil Rektor III Unismuh Makassar, Dr Muhammad Tahir, yang dikonfirmasi mengenai aksi unjukrasa tersebut, mengatakan, mereka yang berunjukrasa bukan atas nama mahasiswa Unismuh Makassar.

"Mereka mungkin berasal dari beberapa kampus, termasuk ada juga mahasiswa Unismuh, tapi bukan atas nama kampus. Mereka hanya kebetulan memakai jalanan di depan Kampus Unismuh Makassar untuk melakukan aksi unjukrasa," jelas Muhammad Tahir, kepada Pedoman Karya, saat mengawasi aksi tersebut dari pintu gerbang kampus Unismuh. (zak)

“Ini Bukan Festival” yang digelar diadakan di Etika Studio, Makassar, 15-21 November 2020, akan diisi beragam pertunjukan dan workshop yang ditujukan kepada anak-anak.  (ist)
 

 

 

 

 

 H

--------

Senin, 09 November 2020

 

 

“Ini Bukan Festival” di Makassar Hadirkan Pertunjukan untuk Anak-anak

 

 

MAKASSAR, (PEDOMAN KARYA). “Ini Bukan Festival” yang digelar diadakan di Etika Studio, Makassar, 15-21 November 2020, akan diisi beragam pertunjukan dan workshop yang ditujukan kepada anak-anak.

Para seniman yang terlibat dalam kegiatan ini memang sengaja merancang kegiatan kepada segmen anak-anak, tak hanya agar mereka bisa menikmati pertunjukan tapi juga bisa belajar langsung dari para seniman.

 

“Kami akan menampilkan anak-anak yang bermain teater serta workshop teater anak-anak untuk guru-guru SD dan SMP,” kata sutradara teater, Bahar Merdu, kepada wartawan, di Makassar, Sabtu, 07 November 2020.

Bahar Merdu menambahkan akan ada diskusi teater untuk menggagas festival teater anak-anak. Kegiatan ini melibatkan Kelompok Sandiwara Petta Puang dan Grisbon.

Selain itu, juga ada kolaborasi dongeng dan royong yang dibawakan sejumlah pendongeng kawakan. Muliadi atau akrab disapa Kak Mul menyampaikan, anak-anak tak hanya mendengar dongeng tapi juga mendapatkan tips dan kiat praktis mendongeng.

“Jadi anak-anak dan gurunya tak hanya datang menonton tapi juga bisa belajar dan berdiskusi,” kata Muliadi, pendongeng yang tergabung dalam Komunitas Dongkel Dinas Perpustakaan Kota Makassar.

Para pengunjung akan dimanjakan dengan berbagai agenda sastra, mulai dari diskusi buku hingga pembacaan puisi dari Komunitas Puisi (KoPi) Makassar. Juga akan ada pertunjukan sastra lisan dari Asosiasi Pemuda Pelestari Bahasa Daerah (APPBD), yang akan menampilkan royong (lantunan kelahiran), tulkiama (senandung kematian) dan sinrilik.

“Kami juga mengadakan diskusi  dengan tema sastra lisan dan dinamika persoalannya di era kekinian,” jelas Dr Asis Nojeng dari APPBD.

Musisi Bahar Karca mengatakan, dia dan teman-temannya akan menampilkan pertunjukan musik milenial dari anak-anak Grisbon, serta ngamen dari Kelompok Penyanyi Jalanan (KPJ) Makassar.

Panitia, khususnya PIC Pertunjukan, juga akan menyuguhkan monolog dengan aktor Arzety dari Maros, Ma'lino Dance yang menampilkan karya dan mengenang karya-karya Andi Ummu Tunru, dan tari Spirit of Bahine Kajang, Alfarabi Squad Bulukumba. Bakal tampil juga

Sanggar Seni Irikung Daeng Kamase, Sanggar Seni Rupa Tau, Batara Gowa, serta Bengkel Seni Bahasa dan Sastra Indonesia (BASSI) Universitas Muhammadiyah, Makassar.

Halim HD mengapresiasi event “Ini Bukan Festival” yang dinilai sebagai bentuk dinamika masyarakat urban yang tercipta melalui komunitas dan keberagaman. Menurutnya, posisi dan fungsi komunitas begitu penting untuk tetap menjaga tatanan nilai kebudayaan dengan visi keberagamannya.

“Melalui keberagaman nilai-nilai itulah warga kota tumbuh dan berkembang menjadi warga sebuah republik,” tegas Halim.

Networking Kebudayaan akan tampil dalam workshop dalam tiga sesi dengan tema berbeda, yakni pengembangan komunitas dan jaringan kerja kebudayaan, komunitas sebagai basis sistem produksi, dan komunitas sebagai jaringan distribusi kreatif.

Adam Nugraha, Koordinator Pelaksana “Ini Bukan Festival”,  memastikan acara akan berlangsung sesuai jadwal, yakni 15-21 November 2020. Hal.itu karena para seniman, baik perseorangan maupun yang mewakili sanggar dan komunitas menyatakan kesiapannya, yakni dari Rumah Seni Kasumba, Grup Sandiwara Pettapuang, Photonesia, Narasi Art Space, Aco Dance Company, Grisbon, Asosiasi Pemuda Pelestari Sastra Daerah, Bilul Art Love Jakarta, Galery de Lamacca Art, Lembaga Seni Budaya Batara Gowa, Komunitas Puisi (KoPi) Makassar, dan #kakmullbercerita.

Penanggungjawab event “Ini Bukan Festival”, Irfan Djauri, mengatakan pihaknya akan memberlakukan protokol kesehatan secara ketat. Karena itu, setiap kegiatan pengunjungnya dibatasi hanya maksimal 100 orang.

“Ini demi menjaga kenyamanan dan keamanan pengunjung, apalagi sejumlah kegiatan akan dihadiri oleh anak-anak,” kata Irfan. (dinto)


Foto-foto: Ahriyanti Hamid


----

PEDOMAN KARYA 

Senin, 09 November 2020



Menikmati Pemandangan Matahari Terbenam di Pantai Bira Bulukumba


Sore itu, beberapa orang yang tengah menghadiri acara keluarga di Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba, tiba-tiba merasa sangat ingin berkunjung ke Pantai Tanjung Bira.

Keinginan itu begitu kuatnya sampai-sampai mereka pun nekad berangkat ke Bira dengan mengendarai sebuah mobil Terrios, padahal waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 16.00 Wita, dan jarak yang harus ditempuh kurang lebih 30 kilometer.



Dan mereka pun tidak berencana menginap. Mereka akan langsung pulang setelah menikmati pemandangan dan suasana, padahal perjalanan dari Kajang ke Pantai Tanjung Bira ditempuh lebih dari satu jam.

Alhasil, mereka pun tiba di Pantai Bira sekitar pukul 17.30 Wita. 

Untuk masuk ke area lokasi wisata Pantai Tanjung Bira, mereka harus membayar Rp100 ribu di pintu gerbang.

Petugas di pintu gerbang menghitung jumlah orang yang ada di dalam mobil yakni sebanyak enam orang, dan kemudian menyebutkan angka Rp100 ribu sebagai pembayaran tiket masuk.

Namun ternyata petugas jaga di pintu gerbang tidak memberikan karcis masuk sebagaimana mestinya. 

Petugas jaga hanya mempersilakan rombongan tersebut masuk, dan rombongan pun tidak ambil peduli dengan ulah petugas yang tidak memberikan karcis, padahal potongan karcis akan menjadi laporan pemasukan kas daerah dari sektor pariwisata.




Rombongan tersebut tidak peduli dengan karcis masuk yang tidak diberikan oleh petugas, karena mereka memang ingin menikmati kegembiraan, ingin menikmati pemandangan matahari terbenam (sunset), dan ingin menikmati suasana di Pantai Tanjung Bira.

Maka mereka pun berjalan ke bibir pantai yang pasirnya halus dan selalu terasa sejuk, lalu membaur bersama pengunjung lainnya. 

Tentu saja mereka tak ingin suasana dan pemandangan indah itu berlalu begitu saja, karena itulah mereka berfoto-ria dan berswafoto.

Ahriyanti Hamid yang ikut dalam rombongan kecil itu, dengan nalurinya sebagai forografer amatir, bukan hanya berfoto-ria, melainkan juga mengabadikan beberapa momen menarik, antara lain suasana pengunjung dan pemandangan matahari terbenam.

Matahari terbenam atau sunset adalah waktu dimana matahari menghilang di bawah garis cakrawala di sebelah barat. 

Warna merah di langit pada waktu matahari terbenam dan terbit disebabkan oleh kombinasi hamburan Rayleigh warna biru dan tingkat kepadatan atmosfer bumi.

Dan inilah tiga foto menarik hasil jepretan Ahriyanti Hamid, di Pantai Tanjunh Bira, Bulukumba, Ahad sore, 08 November 2020. (Asnawin Aminuddin)





PEDOMAN KARYA

Ahad, 08 November 2020


KISAH



Ketika Nabi Musa Meminta Diperlihatkan Keadilan



Meskipun dirinya seorang nabi dan rasul, Nabi Musa ternyata termasuk hamba Allah yang tidak sabar bila menginginkan sesuatu.

Itu terbukti ketika pada suatu hari ia sangat penasaran ingin melihat langsung bukti keadilan yang Allah berikan kepada umat manusia.

Karena penasaran, Nabi Musa pun kemudian pergi ke sebuah gunung untuk bermunajat mencari jawaban.

Sesampainya di tempat tujuan, Nabi Musa segera memohon pada Pencipta-Nya, “Ya Rabb, perlihatkanlah padaku keadilan dan kejujuran dari sisi-Mu?”

“Engkau sesungguhnya adalah seorang yang terburu-buru, dan tidak mampu bersabar,” tegas Sang Khalik pada Nabi Musa.

“Hamba dapat bersabar dengan pertolongan-Mu ya Rabb,” jawab Musa membujuk.

Tak lama kemudian, Allah menyuruh Musa untuk pergi ke sebuah sumber air dan bersembunyi di baliknya, “Di sana, engkau akan melihat kekuasaan dan ilmu-Ku tentang hal-hal gaib.”

Menyadari akan jawaban Sang Maha Kasih, Musa pun bergegas menuju sebuah bukit di hadapan sumber air yang ditujukan oleh Tuhan-Nya. Di sana ia duduk bersembunyi, memperhatikan apapun yang kelak akan terjadi di depan matanya.

Belum lama menunggu, Nabi Musa melihat seorang pria penunggang kuda datang ke sumber air tersebut. Ia turun dari kudanya, membasuh wajahnya dan mengisi kendi yang dibawanya dengan air mata air yanf jernih itu.

Musa juga melihat sang penunggang kuda itu meletakkan sebuah kantong kecil berisi uang di sampingnya. Tak lama kemudian ia pergi meninggalkan tempat itu.

Setelah orang itu pergi, Nabi Musa melihat ternyata kantong kecil berisi uang milik pria penunggang kuda itu tertinggal di tempat ia meletakannya tadi.

Nabi Muda ingin memanggil pria penunggang kuda itu, tapi dirinya langsung ingat bahwa Allah SWT menyuruhnya bersabar. Maka pria penunggang kuda itu pun terus memacu kudanya dan pergi meninggalkan tempat itu.

Tak lama setelah penunggang itu pergi, datanglah seorang bocah laki-laki. Ia mengambil air minum di sumber air yang sama. 

Bocah itu melihat kantong kecil berisi uang milik pria penunggang kuda tadi, kemudian mengambil dan membawanya pergi. 

Belum lama bocah itu pergi, datanglah seorang kakek tua yang buta. Ia minum air di sumber air itu, lalu mengambil air wudlu dan melaksanakan shalat.

Baru saja ia selesai shalat, datanglah kembali pria penunggang kuda yang datang pertama kali.

Pria penunggang kuda itu langsung bertanya kepadanya dengan nada tinggi, “Hai orang buta, kantong kecilku yang berisi seribu dinar baru saja tertinggal di tempat ini. Karena tidak ada orang lain di sini selain engkau, pastilah kau yang mengambilnya!”

Kakek tua itu menjawab, “Engkau kan tahu, aku ini buta. Bagaimana aku mampu melihat tas itu?”

Mendengar ucapan kakek tersebut, si penunggang kuda marah. Ia naik pitam, lalu mencabut pedangnya. Ditebasnya leher kakek yang malang itu dan kakek tua itu pun tewas seketika. 

Penunggang kuda itu menggeledah dan mencari uangnya, namun tidak menemukannya. Ia pun pergi, meninggalkan tempat tersebut.

Pada saat itu, Nabi Musa berkata, “Wahai Tuhanku, hamba telah sabar dan Engkau sungguh Sang Maha Adil, tapi mohon jelaskanlah maksud peristiwa yang baru saja terjadi itu, agar aku tidak dalam kebingungan.”

Lalu datanglah malaikat Jibril, ia berkata, “Musa, Allah berfirman, ‘Aku mengetahui segala rahasia, dan apa pun yang tidak kamu ketahui.

Anak kecil yang mengambil kantong kecil berisi uang itu sesungguhnya telah mengambil hak miliknya sendiri. Hal ini lantaran ayah anak tersebut menjadi buruh pekerja pada si penunggang kuda itu selama bertahun-tahun, namun ia tidak pernah mendapatkan hasil kerja kerasnya–yang bila dihitung jumlah penghasilanya sama dengan jumlah uang yang ada di dalam tas itu.

Sedangkan si kakek tua buta pernah melakukan pembunuhan terhadap pemilik tas sesungguhnya yang merupakan ayah si bocah kecil tadi. Ia mendapat hukum qisash darinya.

Dan sampailah setiap orang yang punya hak akan mendapat haknya. Baik yang terlihat mata manusia, atau yang sengaja Allah sembunyikan. Keadilan dan kejujuran Kami sangat rahasia.

Usai mendengar penjelasan itu, Musa segera mengucap istighfar. ***

---

Keterangan: Kisah ini sangat populer dan banyak beredar di media sosial. Kami memformulasi ulang kisahnya untuk pembaca sekalian. Semoga bermanfaat. (Asnawin Aminuddin)