Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita




“Tidak! Tidak kakek. Maipa Deapati adalah Maipa-ku. I Mangngalasa boleh dijodohkan dengan Maipa sejak kecil, semasih dalam kandungan permaisuri. Tapi sekarang..., aku yang punya. Maipa-ku, tunangan Datu Museng I Baso Mallarangang. I Mangngalasa boleh memetik kembang-kembang di taman, boleh bebas memilih bintang di langit biru, tapi ia tak boleh menjamah perawan yang satu ini. I Mangngalasa boleh menumpuk harapannya setinggi gunung, tapi tak akan bisa mendapatkannya semasih aku hidup, selagi hayatku dikandung badan.” (Foto: Asnawin Aminuddin / PEDOMAN KARYA)






------------

PEDOMAN KARYA

Ahad, 17 Januari 2021

 

Datu Museng dan Maipa Deapati (2):

 

Maipa Deapati adalah Maipa-ku

 

 

Oleh: Verdy R. Baso

(Mantan Wartawan Harian Pedoman Rakyat)

 

Kakeknya heran tercengang melihat keadaan cucunya demikian, lalu bertanya, “Cucuku, susah apa yang kau tanggung? Sakit apa yang kau derita? Harta apamu yang hilang? Gerangan siapa yang mengganggu atau menyakiti hatimu? Katakan! Jika pendekar, ia akan kutantang berperang tanding dan akan kupatahkan batang lehernya. Jika perampok yang merampas barangmu, akan kusapu ia dari muka bumi dengan pedang lidah buaya. Cucuku, katakan segera!”

“Bukan orang jahat yang mencegatku. Bukan perampok yang merampas hartaku. Juga bukan musuh menjentik kulitku, kakek. Aku diusir dari rumah kadhi. Tidak diperkenankan lagi mengaji di sana. Tapi sebenarnya bukan pengusiran itu yang menyakitkan hatiku. Hanya akibatnya yang menyiksa batin ini. Kini aku tak dapat lagi melihat bintang kejora di tengah malam. Maipa Deapati suluh dalam gelap, ratna mutu manikam, permata dalam hayatku,” jawan Datu Museng.

Datu Museng kemudian  menceritakan kepada kakeknya, Adearangang, asal muasal ia diusir dan disuruh mencari guru mengaji yang lain.

“Cucuku, jangan susah karena putri Maipa Deapati. Bukan satu, bukan dua Maipa, tetapi banyak bertebaran di Sumbawa ini, dan di sekeliling pulau-pulaunya. Mengapa putri itu menyusahkan hati dan membuat kau gundah-gulana. Bukan Maipa saja yang cantik, bunga setangkai di dalam taman, cucuku. Banyak kembang semerbak di berbagai taman. Bintang-bintang di langit, juga tak terbilang jumlahnya. Mengapa kau bingung karena Maipa? Ketahuilah, putri Maipa Deapati sudah bertunangan. Dia dijodohkan semasih dalam kandungan ibunda permaisuri, dengan I Mangngalasa, putra mahkota Sultan Lombok,” tutur Adearangang.

Mendengar tutur kakeknya, Datu Museng mendengus merentakkan kaki. Gerahamnya gemertak menahan marah dan matanya mendelik liar.

Ia lalu berdiri berkacak pinggang sambil berkata, “Tidak! Tidak kakek. Maipa Deapati adalah Maipa-ku. I Mangngalasa boleh dijodohkan dengan Maipa sejak kecil, semasih dalam kandungan permaisuri. Tapi sekarang..., aku yang punya. Maipa-ku, tunangan Datu Museng I Baso Mallarangang. I Mangngalasa boleh memetik kembang-kembang di taman, boleh bebas memilih bintang di langit biru, tapi ia tak boleh menjamah perawan yang satu ini. I Mangngalasa boleh menumpuk harapannya setinggi gunung, tapi tak akan bisa mendapatkannya semasih aku hidup, selagi hayatku dikandung badan.”

Mendengar tekad teguh Datu Museng, kakek Adearangang tafakkur berpikir dalam-dalam. Hai tuanya menyala kembali. Rasa pati bangkit untuk mengabdi pada sang cucu, ingin membantu sekuatnya dengan nyawa dan badan dipertanggungkan.

Ia sadar, cucunya berkeras ingin memetik kembang larangan yang dijaga kuat. Hendak dipetik secara resmi, susah sungguh dan terasa rumit. Sebab Maipa Deapati berdarah bangsawan, turunan Sultan yang memerintah.

Akan halnya Datu Museng, hanya separuh turunan bangsawan. Darahnya tidak murni, sehingga tak pantas duduk bersanding menurut ukuran adat. Karena itu buncahlah pikiran sang kakek. Tapi pembawaan Adearangang persis sama dengan Datu Museng. Kakek dan cucu ini hanya berbeda usia, tapi tidak dalam hal-hal yang menyangkut kejantanan.

Perasaan ragu-ragu segera sirna, dihapus tekad hati hendak mengabulkan harapan cucu satu-satunya yang amat dimanjakannya.

Orang tua itu lalu berdiri dan menepuk pundak cucunya yang sedang termenung melontar pandang lewat jendela. Datu Museng sedikit terkejut dari lamunannya, lalu menoleh dan menatap penuh harap.

Sebelum ia sempat melontarkan pertanyaan, kakek Adearangang tersenyum lembut sambil berkata, “Datu..., Maipa Deapati bukan sembarang kembang. Memetiknya amat susah, tidak gampang. Di sekitarnya penuh onak dan duri yang siap menusuk siapa yang coba-coba memetiknya. Tetapi jika hatimu membaja, yakinlah kau akan bisa memperolehnya. Hanya kau harus berjuang keras dan membekal kesabaran dalam menentang risiko, dalam mengarungi laut, menghadang maut marabahaya.”

Kakeknya kemudian melanjutkan, “Kau harus berguru ke Mekah, negeri suci tempat lahir nabi akhir zaman, Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Kau mesti berguru pada tuan syekh di Mekah dan Madinah. Cari dan petik bunga ejana Madinah (kembang merahnya Madinah). Jika berhasil memetiknya, percayalah cita-citamu akan terkabul. Maipa Deapati akan dapat kau miliki. Semua perintang onak-duri, tanjakan tajam, apalagi kerikil, dengan mudah kau lindas dan lewati. Sungguh, cucuku.”

Tutur kakeknya yang mengandung dorongan dan harapan ini membuat Datu Museng girang alang kepalang dan tersenyum-senyum. Mata yang pudar bersinar kembali, wajah yang pucat bercahaya lagi, dada bergolak menjadi tenang, dan jiwa pun girang bagai semula.

Dengan suara pasti, Datu Museng berkata, “Hanya ke Mekah dan Madinah, kek? Cuma mengarungi laut berombakkan air, menjelajah sahara, berpandangkan pasir? Tak usah khawatir. Ke laut api sekalipun aku akan pergi, demi mendapatkan mutiara hidupku. Aku akan pergi menghadang laut marabahaya. Akan melintas lautan berombak setinggi rumah. Aku akan menjelajahi padang pasir yang terik membara membakar jagat. Keras hatiku, kek. Kuat tebal keyakinanku. Maipa..., Maipa-ku terbayang di ruang mata, senyumnya bersemayam dalam jiwaku selalu. Aku akan pergi, pasti...”

“Jika keyakinanmu telah bulat, kemauan sudah keras membaja, dan tekad telah membungkah, akan kusuruh buatkan bahtera kenaikanmu ke Mekah mencari bunga ejana Madinah. Sabarlah, cucuku,” jawab kakeknya sambil tersenyum-senyum pula. (bersambung)

-----

Kisah sebelumnya:


“Maaf Putri Maipa. Cincinmu telah kucincin menjadi penghias jari manisku. Bagiku haram ia keluar kembali. Semoga Tuhan mengabulkan pintaku. Putri kelak menjadi punyaku,” kata Datu Museng. (int)






-------------

PEDOMAN KARYA

Sabtu, 16 Januari 2021

 

Datu Museng dan Maipa Deapati (1):

 

Cincinmu Telah Kucincin Menjadi Penghias Jari Manisku

 


Oleh: Verdy R. Baso

(Mantan Wartawan Harian Pedoman Rakyat)


SUMBAWA pada abad ke-17. Di rumah kadhi Mampawa lapat-lapat terdegnar suasana semarak pengajian. Karena agama Islam baru masuk ke sana, kewajiban agama bagi kanak-kanak belum terlalu dihiraukan. Maka tak mengherankan jika yang mengaji di rumah kadhi adalah gadis-gadis dan pemuda yang berasal dari segala macam golongan masyarakat.

Di situ ada Maipa Deapati, putri tunggal Maggauka (Sultan) di Sumbawa, yang sangat kesohor kemolekannya. Ia kesohor bukan hanya karena keturunan bangsawan tinggi yang memerintah negeri, melainkan juga karena ia merupakan kembang yang semerbak dan harumnya tak ada duanya di dalam negeri.

Dan bila di tempat itu ada Maipa Deapati sebagai kembang yang sedang mekar, di sana ada pula seorang pemuda istimewa. Pemuda yang keras kemauan serta luar biasa keberaniannya. Ia bergelar I Baso Mallarangan, lelaki yang tak terlarang kehendaknya. Dia adalah Datu Museng.

Sudah ditakdirkan rupanya, di rumah pengajian inilah mula terjalin riwayat Datu Museng dan Maipa Deapati, yang kemudian menjadi cerita rakyat turun temurun paling kesohor dan amat digemari..

***

Mula pertama ketika pandangan Datu Museng menatap wajah Maipa Deapati yang laksana bidadari itu, di dada anak muda ini langsung menyala bara hangat yang membakar piala hatinya dan menggetarkan seluruh jalur urat syarafnya.

Ia laksana musyafir kehilangan bintang pedoman jika tak melihat wajah anak dara itu walau hanya sekejap dalam sehari. Sebaliknya, hatinya akan bersorak bertalu-talu jika ia sempat bermain-main dengan Maipa sebelum pengajian dimulai.

Aggalarang, suatu permainan yang menggunakan sebilah kayu berlubang yang diisi dengan batu-batuan dan dimainkan dua orang yang berhadap-hadapan, adalah permainan yang paling mereka gemari.

Permainan ini merupakan penyambung batin antara kedua remaja yang sesungguhnya telah dimabuk asmara dalam ruang lingkup kunkungan adat yang keras.

Dati Museng sebenarnya mahir dalam jenis permainan ini, tapi ia tak pernah menyia-nyiakan kesempatan seperti ini. Ia selalu membuat  kesalahan-kesalahan disengaja untuk membuat permainan tidak cepat berakhir.

Dan mata yang bersilat , lontaran kerling genit, senyum penuh arti, serta cubit-cubitan tangan adalah selingan permainan yang paling sering terjadi di antara kedua insan itu.

Tersebutlah pada suatu hari cincin putri Maipa lolos lepas dari jarinya ketika sedang bersenda-gurau dengan kawan-kawannya sebelum pengajian dimulai.

Datu Museng yang tak pernah lepas perhatiannya kepada putri Maggauka itu, dengan gerakan amat cepat langsung memungutnya, kemudian tanpa berpikir lagi cincin itu dimasukkan ke dalam jarinya sendiri.

Sesungguhnya ia melakukan perbuatan itu di bawah sadar, jauh dari pertimbangan wajar. Refleksi perbuatan itu dikuasai imbauan bawah sadar, hasil perkawinan antara tekad dan keberanian yang telah mendarah-daging dalam tubuhnya yang kekar kuat.

Ia tak acuh dengan segala sesuatu yang menyangkut dengan adat istidat. Ia tak sadar lagi akan kedudukan Maipa Deapati sebagai putri Maggauka yang tidak saja harus dihormati sebagai lazimnya menghormati keluar Sultan, tapi juga telah dengan lancang melanggar kesopanan seorang wanita di muka khalayak.

Kendati hati Maipa sesungguhnya sudah bertaut dengan hati Datu Museng, namun dalam menerima perlakuan seperti itu di depan kawan dan gurunya yang dikenal kukuh dalam adat, tak ada jalan lain baginya kecuali harus berbuat sesuatu yang bertentangan dengan hati nuraninya.

Dengan air mata menetes di pipi pauh-dilayang, ia mohon cincinnya dikembalikan, sekadar memenangkan adat yang sesungguhnya menjadi penghalang besar untuk memenangkan kehendak hatinya.

“Datu...! Tolong kembalikan cincin itu. Kukira tak ada manfaanya bagimu juga,” kata sang putri dengan suara sedikit bergetar.

Dan Datu Museng yang sejak lahir memiliki sifat-sifat istimewa, untuk sejenak tak kuasa berkata-kata. Hatinya serasa hancur mendengar pinta itu. Di relung jiwanya yang paling dalam bertarung sengit kemauan dan keberanian di satu pihak, melawan keharusan adat di lain pihak. Dan seperti biasa, kemauannyalah yang akhirnya menjadi pemenang.

“Maaf Putri Maipa. Cincinmu telah kucincin menjadi penghias jari manisku. Bagiku haram ia keluar kembali. Semoga Tuhan mengabulkan pintaku. Putri kelak menjadi punyaku,” kata Datu Museng.

Mendengar jawaban Datu Museng yang merupakan pelanggaran adat tak bertara itu, kadhi Mampawa amat berang. Sambil menuding dengan telunjuk bergetar, ia berkata setengah berteriak: “Jika begini budi pekertimu Datu, kau lebih baik mencari guru yang lain. Aku tak ingin mempunyai murid yang dapat mencemarkan nama baikkua di mata Maggauka.”

Selain berani dan tegas, Datu Museng terkenal pula memiliki sifa cepat mengambil suatu keputusan tanpa berupaya memikirkan akibatnya terlebih dahulu. Baginya, apapun yang terjadi, peristiwa-peristiwa yang akan datang merupakan suatu pengalaman baru yang berguna bagi kelangsungan hidupnya di kelak kemudian hari. Kebesaran jiwanyalah yang banyak membantu membentuk sifat-sifat istimewa seperti itu.

Itulah sebabnya, ketika ia mendengar teguran keras gurunya itu, tanpa mengucapkan sepatah kata lagi ia meninggalkan tempat pengajian. Ia langsung pulang ke rumah, dimana kakeknya, Adearangan, yang mengasuhnya penuh kasih sayang sejak kecl, selalu menunggunya di ambang pintu.

Hati Datu Museng ketika itu gemas bercampur sedih. Ia sadar dengan meninggalkan tempat pengajian, berarti bakal tak bisa lagi bertemu, bergurau dan bersilat mata dengan Putri Maipa. Hilang kini harapannya. Pupus sudah cita-citanya, terbang laksana ditiup angin.

Peluh dingin mengalir ke sekujur tubuh. Bukan karena letih berlari pulang, melainkan karena membayangkan keadaannya nanti.

Langkahnya dipercepat menuju rumah. Ia hendak segera mengadukan peristiwanya kepada sangk kakek tercinta. Sebelum memasuki pekarangan rumah, ia sudah berteriak. Suaranya bergetar. Teriakannya parau menggelegar, membuat orang tua itu terkejut dan melompat berdiri menyongsong cucunya di halaman.

“Ada apa cucuku...! Mengapa kau menjadi begini? Katakan cucuku sayang!” sambut kakek Adearangang tak sabar sambil memegang tangan Datu Museng.

Dibimbingnya naik ke rumah panggung mereka yang besar melewati anjungan terus ke ruang tengah, dan mendudukkan Datu Museng di haribaannya. Dibelai-belainya rambut sang cucu tersayang. Dibujuknya penuh manja, sebagai biasa bila Datu Museng menghadapi kesulitan.

“Dengarlah wahai kakek, aku telah kehilangan harta melebihi nilai jiwaku sendiri. Aku sungguh bergundah-gulana...,” Datu Museng berhenti mengutarakan isi hatinya. Ia tampak sangat sedih dan tak kuasa melanjutkan kata-katanya. (bersambung)


Terus terang saya malu membaca berita ini. Tidak ada konfirmasi sama sekali. Tidak melihat fakta di lapangan. Hanya mengambil informasi yang beredar di media sosial, dan langsung diberitakan. Ini memalukan, apalagi fakta di lapangan tidak seperti yang diberitakan.


 

----------

PEDOMAN KARYA

Sabtu, 16 Januari 2021

 

KOLOM JURNALISTIK

 

 

Menulis Berita Tanpa Konfirmasi

 

 

Oleh : Asnawin Aminuddin

(Wartawan / Pengajar)


Sebuah link berita tiba-tiba jadi pembicaraan di beberapa grup WhatsApp (WA), Sabtu, 16 Januari 2021, karena pemberitaannya dianggap hoax alias bohong.

Media daring itu membuat berita dengan judul, “Tertidur Lelap Saat Gempa Mamuju Sulbar, Satu Keluarga Dokter Tewas Tertimbun”, pada hari Sabtu, 16 Januari 2021.

Terus terang saya malu membaca berita ini. Tidak ada konfirmasi sama sekali. Tidak melihat fakta di lapangan. Hanya mengambil informasi yang beredar di media sosial, dan langsung diberitakan. Ini memalukan, apalagi fakta di lapangan tidak seperti yang diberitakan.

Berita ini jadi pembicaraan di beberapa grup WA Muhammadiyah (Sulawesi Selatan).

Mengapa berita ini jadi pembicaraan di beberapa grup Muhammadiyah? Karena almarhumah Dr adriani Kadir yang sehari-hari bekerja sebagai dokter di RSUD Mamuju, adalah Wakil Ketua Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah (Nasyiah) Mamuju, serta Ketua Majelis Pembina Kesehatan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Barat.

Sementara suaminya, Ir H Salihi Saleh yang sehari-hari bekerja sebagai Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kabupaten Mamuju, adalah Ketua Badan Pembina Harian (BPH) Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Muhammadiyah Mamuju, serta Bendahara Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Barat.

Ada yang mengomentari berita tersebut dengan mengatakan, “Salah satu contoh media penyebar HOAX.”

Komentar tersebut muncul karena media ini menulis, “Seorang dokter bernama dr Andriani Kadir beserta suami dan tiga orang anaknya dikabarkan meregang nyawa di kediamannya sesaat setelah gempa susulan melanda Kota Mamuju.”

“Innalillahi wainna ilaihi rojiun. Dr Andriani di kota Mamuju, katanya termasuk dokter yg banyak pasiennya termasuk anak2 juga, meninggal dalam rumah bersama suami dan 3 anaknya, yang roboh karena gempa,” ungkap salah seorang netizen Abdurrahman K disalah satu grup Whatsapp.

Faktanya, hanya dua orang yang meninggal, yaitu dr Andriani Kadir, dan anak dari asisten rumah tangganya.

Suaminya, Salihi Saleh, selamat, sedangkan ketiga anaknya kebetulan sedang berada di Jawa karena mereka semua sekolah di Jawa. Jenazah almarhumah dokter Adriani Kadir sudah dibawa ke Rappang untuk dimakamkan.

Informasi tidak akurat dan tidak faktual inilah yang membuat media daring ini dianggap sebagai salah satu media penyebar berita hoax.

 

Kode Etik Jurnalistik

 

Dalam pengantar Kode Etik Jurnalistik disebutkan, untuk menjamin kemerdekaan pers dan memenuhi hak publik untuk memperoleh informasi yang benar, wartawan Indonesia memerlukan landasan moral dan etika profesi sebagai pedoman operasional dalam menjaga kepercayaan publik dan menegakkan integritas serta profesionalisme.

Dalam pasal satu Kode Etik Jurnalistik, disebutkan “Wartawan Indonesia bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk.”

Akurat berarti dipercaya benar sesuai keadaan objektif ketika peristiwa terjadi.

Berita media daring dengan judul, “Tertidur Lelap Saat Gempa Mamuju Sulbar, Satu Keluarga Dokter Tewas Tertimbun”, pada hari Sabtu, 16 Januari 2021, jelas bukan berita yang akurat, karena beritanya hanya didasarkan pada informasi yang beredar di media sosial. Tidak ada konfirmasi, tidak ada pengecekan langsung di lapangan.

Pasal dua Kode Etik jurnalistik berbunyi, ‘Wartawan Indonesia menempuh cara-cara yang profesional dalam melaksanakan tugas jurnalistik.”

Profesional diartikan antara lain yaitu menghasilkan berita yang faktual dan jelas sumbernya. Berita di atas bukan termasuk berita faktual, karena tidak sesuai fakta di lapangan.

Dalam pasal tiga Kode Etik Jurnalistik dikatakan, “Wartawan Indonesia selalu menguji informasi, memberitakan secara berimbang, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, serta menerapkan asas praduga tak bersalah.”

Berita di atas jelas tidak melalui proses uji informasi.

Kelemahan-kelamahan ini yang sering membuat masyarakat tidak percaya kepada berita media, bahkan kepada media massa, dan menyama-ratakan semua wartawan dan semua media.

Kelemahannya karena banyak media, terutama media daring, yang ingin paling pertama atau paling cepat memberitakan sebuah peristiwa atau sebuah wacana, tetapi mereka kadang-kadang tidak melakukan konfirmasi, tidak melakukan pengecekan di lapangan, serta tidak melalui proses uji informasi, sehingga berita yang disajikan tidak akurat dan tidak faktual.

 

Sabtu, 16 Januari 2021



Begitu Kata Rahasia itu diucapkan, tulang-tulang itu pun segera terbungkus daging dan menjelma menjadi seekor binatang liar. (int)


----------

Sabtu, 16 Januari 2021

 

KISAH

 

 

Nabi Isa: Kalian Tak Memahami Apa yang Kalian Minta

 

 

Nabi Isa diberikan oleh Allah beberapa mukjizat, antara lain bisa menghidupkan orang mati atas izin Allah.

Pada suatu hari, Nabi Isa berjalan-jalan di padang pasir dekat Baitulmukadis, bersama-sama sekelompok orang yang masih suka mementingkan diri sendiri.

Sekelompok orang yang masih suka mementingkan diri sendiri ini meminta dengan sangat agar Nabi Isa memberitahukan kepada mereka Kata Rahasia yang telah dipergunakannya untuk menghidupkan orang mati.

Nabi Isa berkata, “Kalau kukatakan itu padamu, kau pasti menyalahgunakannya.”

Mereka berkata, “Kami sudah siap dan sesuai untuk pengetahuan semacam itu. Dan hal itu juga akan menambah keyakinan kami.”

“Kalian tak memahami apa yang kalian minta,” kata Nabi Isa, tetapi diberitahukannya juga Kata Rahasia itu.

Segera setelah itu, orang-orang tersebut berjalan di suatu tempat yang terlantar dan mereka melihat seonggok tulang yang sudah memutih.

“Mari kita uji keampuhan kata rahasia itu,” kata mereka, dan diucapkanlah Kata Rahasia itu.

Begitu Kata Rahasia itu diucapkan, tulang-tulang itu pun segera terbungkus daging dan menjelma menjadi seekor binatang liar.

Binatang liar yang kelaparan itu kemudian merobek-robek tubuh mereka sampai menjadi serpihan-serpihan tulang dan daging. (asnawin)

--------

Keterangan: Kisah ini kami ambil dari internet dan kami formulasi ulang untuk pembaca Pedoman Karya Daring

 


DATU MUSENG DAN MAIPA DEAPATI. Verdy R Baso (kiri), penulis pertama buku Datu Museng dan Maipa Deapati, bersama wartawan Pedoman Karya, Asnawin Aminuddin, di kediaman Verdy R Baso, di Perumnas Tamalate, Makassar, Selasa, 12 Januari 2021. (Foto dokumentasi pribadi)



-----------

PEDOMAN KARYA

Sabtu, 16 Januari 2021

 

 

Kisah Percintaan Datu Museng dan Maipa Deapati

 

 

Kisah percintaan Datu Musing Dan Maipa Deapati sangat legendaris pada sekitar tahun 1970-an di Makassar.

Kisah ini menjadi legendari selain karena kisahnya memang sangat menarik dan berulang-ulang dikisahkan oleh para pemain sinrili pada berbagai acara di Makassar, bahkan pernah dijadikan cerita bersambung di Radio Republik Indonesia (RRI) Makassar.

“Masyarakat sangat senang mendengarkan kisah cinta Datu Museng dan Maipa Deapati waktu itu, baik pada acara-acara adat yang diceritakan oleh pemain sinrili, maupun yang diceritakan oleh pemain sinrili melalui radio,” tutur Verdy R Baso (84 tahun), penulis pertama buku Datu Museng dan Maipa Deapati, kepada wartawan Pedoman Karya, Asnawin Aminuddin, di kediamannya di Perumnas Tamalate, Makassar, Selasa, 12 Januari 2021.

Sekadar informasi, sinrili (orang Makassar menyebutnya sinrili’ atau sinriliq) adalah tradisi lisan yang berasal dari Kerajaan Gowa, di Sulawesi Selatan, yang berisi cerita kepahlawanan, keagamaan, dan percintaan, yang dibawakan oleh seorang pemain sinrili atau penyinrili (pasinrilik) dengan diiringi musik instrumental, dengan gesekan keso-keso (rebab).

Biasanya pemain sinrili atau penyinrili hanya satu orang. Dia yang menuturkan kisah dan dia pula yang bermain musik dengan alat musik semacam biola, atau kecapi. Alat musik ini ada yang digesek, ada pula yang dipetik.

Oleh masyarakat suku Bugis, sinrili dikenal dengan sebutan akkacaping atau kacaping. Sinrili terbagi dua kategori, yaitu sinrili bosi timurung dan sinrili pakesok-kesok.

Sinrili bosi timurung (hujan turun) adalah sinrili yang dilantunkan pada saat keadaan sepi dan orang-orang sedang tertidur lelap.

Sinrili bosi timurung tidak diiringi oleh alat musik apapun, dan dilantunkan dengan narasi yang pendek-pendek berisi kesedihan atau curahan hati dari penggubahnya, seperti kecintaan pada seorang gadis, kerinduan pada kekasih, serta rasa kecewa akan jerih payah yang tidak sesuai dengan hasil yang diharapkan.

Sinrili kategori kedua yaitu sinrili pakesok-kesok, yaitu pertunjukan sinrili yang diiringi alunan alat musik berupa kesok-kesok (biola) atau kecapi. (Wikipedia.org)

Sinrili dimainkan siang atau pada malam hari sesudah shalat isya di anjungan rumah atau di tempat terbuka pada waktu-waktu tertentu, antara lain pada acara pesta perkawinan, acara syukuran, dan pesta panen. (KBBI Daring Kemdikbud RI)

Dari kisah yang diceritakan oleh para pemain sinrili itulah, Verdy R Baso menulis ulang kisah cinta Datu Museng dan Maipa Deapati secara bersambung di Surat Kabar Harian Pedoman Rakyat.

“Saya tulis ulang kisahnya dan dimuat secara bersambung di Harian Pedoman Rakyat. Pembaca Pedoman Rakyat waktu itu selalu menunggu kelanjutan kisahnya sampai kisah ini berakhir,” kata Verdy.

Kisah yang dimuat secara bersambung di Harian Pedoman Rakyat itu kemudian dibukukan, dan dengan demikian Verdy Rahman Baso menjadi penulis buku pertama Kisah Datu Museng dan Maipa Deapati.

Verdy Rahman Baso yang puluhan tahun menjadi wartawan Harian Pedoman Rakyat menjelaskan, kisah cinta Datu Museng dan Maipa Deapati menceritakan kisah percintaan antara Datu Museng yang merupakan putra bangsawan Kerajaan Gowa, dengan Maipa Deapati yang merupakan putri bangsawan Kerajaan Sumbawa di Nusa Tenggara Barat (NTB).

Kisah cinta keduanya berawal ketika Addengareng (kakek dari Datu Museng), melarikan diri bersama cucunya, Datu Museng, menyeberangi lautan nan luas menuju ke negeri Sumbawa.

Addengareng melarikan diri karena terjadi politik adu domba yang dilancarkan oleh penjajah belanda di tanah Gowa, yang membuat bumi Gowa bergejolak dan tidak kondusif lagi untuk dijadikan tempat tinggal yang aman.

Di Pulau Sumbawa itulah akhirnya Datu Museng tumbuh menjadi seorang yang dewasa dan bertemu dengan Maipa Deapati di sebuah rumah pengajian bernama Bale Mampewa.

Akhirnya tumbuh benih cinta di hati Datu Museng sejak pertama kali melihat sosok Maipa Deapati yang anggun dan mempesona. Namun cinta dari Datu Museng kepada Maipa Deapati menjadi sebuah cinta yang terlarang karena Maipa Deapati telah ditunangkan dengan seorang pangeran dari Selaparang Lombok bernama Pangeran Mangalasa.

Kisah percintaan Datu Museng dan Maipa Deapati ini akan kami muat secara bersambung di website www.pedomankarya.co.id, atas seizin Verdy R Baso, yang menyerahkan naskah ketikannya yang sudah diedit kepada Asnawin Aminuddin.

“Silakan dimuat,” kata Verdy. 


Ketua Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Erwin Akib PhD, menyatakan siap disuntik vaksin sinovac. (int)
 


  





----------

Jumat, 15 Januari 2021

 

 

Ketua Satgas Covid-19 Unismuh Makassar Siap Disuntik Vaksin Sinovac

 

 

MAKASSAR, (PEDOMAN KARYA). Ketua Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Erwin Akib PhD, menyatakan siap disuntik vaksin sinovac.

“Insya Allah,” kata Erwin kepada Pedoman Karya, via WhatsApp (WA), Jumat, 15 Januari 2021.

Sebagai Ketua Satgas Covid-19, Erwin mengingatkan untuk tetap menegakkan protokol kesehatan, meski proses vaksinasi telah dimulai.

“Program vaksinasi bisa gagal jika tidak dibarengi dengan upaya menghambat proses penularan Covid-19. Hitungan pemerintah, proses vaksinasi untuk mewujudkan herd immunity (kekebalan komunitas) paling cepat butuh waktu sekitar 1,5 tahun. Saya khawatir, jika kita abai terhadap protokol kesehatan, sebelum tiba giliran divaksin, kita sudah terpapar duluan,” tutur Erwin.

Jika sebagian besar masyarakat sudah terpapar Covid-19, lanjutnya, akan tercipta herd immunity secara alami, tapi akan memakan banyak korban.

“Jika itu terjadi, tidak ada lagi gunanya program vaksinasi itu, yang memang target utamanya membentuk herd immunity,” kata Erwin yang alumni Program Doktor Universitas Teknologi Malaysia (UTM).

Oleh karena itu, di Universitas Muhammadiyah Makassar, penegakan protokol kesehatan tetap dijalankan secara ketat.

“Kami selalu menghimbau untuk menerapkan 5 M, Memakai Masker, Menjaga Jarak, Mencuci Tangan, Menjauhi Kerumunan, dan Mengurangi Bepergian,” sebut Erwin.

Aktivitas akademik di Unismuh saat ini, katanya, hampir semuanya dijalankan secara daring. Layanan administrasi tetap berjalan, dengan penegakan protokol, dan pembatasan jumlah orang.

“Bagi yang memiliki gejala seperti demam, atau batuk kami himbau untuk tidak bepergian, termasuk kami minta untuk tidak memasuki area kampus,” kata Erwin.

Selain itu, setiap hari, tim Satgas Covid-19 melakukan penyemprotan disinfektan di hampir semua ruangan yang sering digunakan dosen, tenaga kependidikan, maupun mahasiswa.

Dia mengatakan, Tim Satgas Covid-19 Unismuh bukan hanya melakukan aktivitas penyemprotan di dalam kampus.

“Kami juga melayani permintaan civitas akademika, yang ingin melakukan penyemprotan di kediaman masing-masing,” kata Erwin. (zak)






PEDOMAN KARYA
Jumat, 15 Januari 2021


Kisah Orang Kaya Pelit dan Orang Kaya Dermawan di Masa Rasulullah




Di masa Rasulullah Muhammad SAW, ada seorang yang kaya tetapi pelit. 

Orang kaya ini memiliki sebuah pohon kurma yang mayangnya menjulur ke rumah tetangganya.

Tetangganya ini orang miskin. Orang miskin ini mempunyai banyak anak. 

Saking pelitnya si orang kaya tersebut, ia bahkan tega merampas buah kurma yang jatuh ke tanah yang diambil oleh anak tetangganya yang miskin itu, padahal setiap hari orang miskin tersebut pasti melewati rumah si orang kaya.

Orang miskin tersebut kemudian mengadu kepada Rasulullah saw. 

Mendengar pengaduan itu, Rasulullah pun menyanggupi akan menyelesaikan persoalan tersebut. 

Rasulullah kemudian menemui si orang kaya, pemilik pohon kurma tersebut. 

"Saudara, pohon kurmamu yang mayangnya menjulur ke rumah tetanggamu yang tidak punya itu, berikanlah kepadaku. Sebagai imbalannya, engkau akan mendapatkan pohon kurma di surga nanti,” kata Rasulullah. 

Mendengar penawaran Rasulullah, orang kaya itu bukannya gembira, sifat pelitnya malah muncul.

"Ya Rasulullah, hanya seperti itukah tawaranmu. Aku memiliki banyak pohon kurma, tetapi yang paling lebat buahnya hanyalah pohon kurma yang engkau minta,” ungkap orang pelit tersebut yang kemudian beranjak pergi.

Pembicaraan antara Rasulullah dengan si orang kaya pelit itu ternyata didengar oleh seorang kaya lainnya tapi dermawan. Ia pun langsung menghadap Rasulullah.

"Wahai Rasulullah, apakah tawaran tersebut berlaku juga untuk saya, sekiranya pohon kurma yang mayangnya menjulur ke tetangganya itu menjadi milikku?" tanya orang kaya dermawan itu.

"Ya, berlaku juga untukmu,” jawab Rasulullah.

Dengan girang sang dermawan itu menemui pemilik kurma.

"Apakah engkau akan menjual kurma yang dijanjikan akan diganti di surga oleh Allah,” tanya sang dermawan.

Pemilik pohon kurma dengan tegas menjawab, "Tidak!"

Namun ia segera melanjutkan, "kecuali ada orang yang sanggup memenuhi keinginanku.” 

Si orang kaya dermawan pun bertanya, "Berapa harga yang engkau inginkan?”

"Aku ingin pohon kurma itu ditukar dengan empat puluh pohon kurma lain yang lebat buahnya,” jawab si orang kaya pelit.

Mendengar jawaban tersebut sang dermawan terdiam sejenak dan kemudian berkata, "Kamu meminta sesuatu di luar kewajaran, namun aku akan penuhi apa yang menjadi permintaanmu. Datangkan saksi dan aku akan menukar pohon kurmamu itu dengan empat puluh pohon kurma milikku.”

Setelah transaksi selesai, sang dermawan pun langsung menjumpai Rasulullah.

"Ya Rasulullah, pohon kurma yang engkau kehendaki telah menjadi milikku. Mulai saat ini aku serahkan kepadamu," kata si orang kaya dermawan.

Dengan senang hati dan girang Rasululllah menerimanya dan segera pergi ke tempat orang miskin yang mengadukan pemilik pertama pohon kurma lebat tersebut.

"Saudara, ambillah pohon kurma itu untukmu beserta keluargamu,” kata Rasulullah. 

Dengan rasa syukur yang luar biasa, orang miskin tersebut menerima pemberian Rasulullah. Ia tidak menyangka pohon kurma yang banyak buahnya itu akan jadi miliknya. (asnawin)

------
-  Kisah ini sudah cukup populer dan kami memformulasi ulang untuk pembaca.

SEJUTA AKSEPTOR. Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Sulawesi Selatan, Andi Ritamariani (ketiga dari kiri) menyerahkan piagam dari Kepala BKKBN Pusat kepada Bupati Bulukumba AM Sukri Sappewali (kedua dari kanan), di Ruang Pola Kantor Bulukumba, Kamis, 14 Januari 2021. (ist)


----+

Kamis, 14 Januari 2021



Kepala BKKBN Sulsel Puji Bupati Bulukumba



- Bulukumba Terima Penghargaan Layanan KB Sejuta Akseptor


BULUKUMBA, (PEDOMAN KARYA). Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Sulawesi Selatan, Andi Ritamariani, memuji Bupati Bulukumba AM Sukri Sappewali, yang berhasil melaksanakan dengan baik Program Sejuta Akseptor Hari Keluarga Nasional (Harganas) Tahun 2020.

Pujian itu ia kemukakan saat mewakili Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKN) Pusat, Dr dr Hasto Hardoyo, menyerahkan penghargaan kepada Bupati Bulukumba, di Ruang Pola Kantor Bupati Bulukumba, Kamis, 14 Januari 2021.

Andi Ritamariani mengatakan, Bulukumba adalah salah satu daerah memiliki kinerja yang bagus dalam layanan Keluarga Berencana, terbukti mampu melewati target dalan program Sejuta Akseptor yang digelar serentak se-Indonesia di 34 provinsi.

"Banyak kabupaten dan kota yang tidak memenuhi target, ada yang hanya mencapai 70 persen, tapi Bulukumba malah mampu melewati target yang telah ditentukan sebelumnya," ungkap Ritamariani.

Ia mengaku Kamis pagi mendatangi Kantor DPPKB Bulukumba untuk mengecek kesesuaian laporan bulanan dengan fakta di lapangan, termasuk mengecek gudang alat kontrasepsi yang ia nilai bagus dan bersih.

"Laporannya sesuai, dan gudang yang saya cek juga bersih," puji Ritamariani.

Ritamariani menepis anggapan bahwa BKKBN itu tidak hanya mengurus kondom atau alat kontrasepsi. Ia mengatakan lebih dari itu untuk membangun keluarga yang berkualitas.

"BKKBN memiliki program Bangga Kencana atau Pembangunan Keluarga, Kependudukan dan Keluarga Berencana, yang bertujuan mengarahkan agar keluarga mempunyai rencana berkeluarga, punya anak, pendidikan dan sebagainya, sehingga akan terbentuk keluarga-keluarga berkualitas," tutur Ritamariani.

Bupati Bulukumba AM Sukri Sappewali seusai menerima piagam penghargaan mengatakan, keberhasilan dari kegiatan pelayanan KB Sejuta Akseptor di Kabupaten Bulukumba tidak terlepas dari adanya kerjasama yang baik antara jajaran Dinas Pengendalian Penduduk dan KB (DPPKB) seperti PLKB dengan Puskesmas, IBI, TP PKK, dan Kodim 1411 Bulukumba.

"Peran penyuluh KB sangat penting, karena dalam situasi pandemi Covid-19, masyarakat dianjurkan tinggal di rumah, sehingga sangat rentan terjadinya kehamilan yang tidak direncanakan. Akibat pandemi, bisa-bisa terjadi ledakan penduduk," kata Sukri.

Atas penghargaan yang diterima tersebut, ia menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang tinggi kepada para petugas lapangan, para stakeholder atas dedikasi dan kerja kerasnya dalam mendukung program pengendalian penduduk dan KB di Kabupaten Bulukumba. (dar)

PROGRAM UNGGULAN P22. Wakil Bupati Takalar Haji De’de (kanan) didampingi Sekda Takalar Arsyad Taba, memberikan pengarahan pada acara Coffee Morning membahas Progres Capaian P22 Perda No. 1 Tahun 2018 tentang RPJMD Kabupaten Takalar, di Ruang Rapat Setda Kantor Bupati Takalar, Senin, 11 Januari 2021. (ist)

 


----------

Kamis, 14 Januari 2021

 

 

Pemkab Takalar Sudah Salurkan 3.185 Ekor Sapi kepada Petani

                        

-         Haji De’de: Sudah Terealisasi 9 dari 22 Program SK-HD

-         Alat Tangkap Perikanan Disalurkan kepada 467 Kelompok Nelayan

-         Sebanyak 217.521 Orang Bebas Biaya Berobat di Puskesmas dan RSUD

 

 

TAKALAR, (PEDOMAN KAYA). Pemerintah Kabupaten Takalar di bawah kendali Bupati Syamsari Kitta, dan Wakil Bupati H Achmad Dg Se’re alias Haji De’de, yang pada masa kampanye Pilkada tiga tahun lalu dikenal dengan jargon SK-HD, telah menyalurkan bantuan sebanyak 3.185 ekor sapi kepada petani di Takalar.

Secara keseluruhan, Pemkab Takalar akan menyalurkan bantuan sebanyak 6.000 ekor sapi kepada petani selama periode kepemimpinan Syamsari Kitta – Haji De’de alias SK-HD. Itu berarti, masih tersisa sebanyak 2815 ekor sapi yang akan disalurkan kepada petani.

“Bantuan satu ekor sapi per KK petani dari target 6.000 ekor dalam lima tahun, sudah terealisasi sebanyak 3.185 ribu ekor sapi atau 53,08 persen, sehingga tersisa 2.815 ekor,” kata Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Takalar, Muhammad Hasbi.

Hal itu ia kemukakan pada acara Coffee Morning membahas Progres Capaian P22 Perda No. 1 Tahun 2018 tentang RPJMD Kabupaten Takalar, di Ruang Rapat Setda Kantor Bupati Takalar, Senin, 11 Januari 2021, yang dihadiri Wakil Bupati Takalar Haji De’de, dan Sekda Takalar Arsyad Taba.

“Dan untuk bantuan Alsintan (alat mesin pertanian) dari target 1.000 unit traktor sudah terealisasi 65 persen, dengan rincian pada tahun 2018 sudah tersalurkan sebanyak 319 unit, tahun 2019 sebanyak 258 unit, dan tahun 2020 sebanyak 73 unit. Total sebanyak 650 unit,” sebut Muhammad Hasbi.

 

Kelautan dan Perikanan

 

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Takalar, Sirajuddin Saraba, pada kesempatan yang sama melaporkan, bantuan sarana dan prasarana alat tangkap perikanan telah tersalurkan kepada 467 kelompok dari 925 kelompok yang ada di Kabupaten Takalar.

 

Layanan Kesehatan

 

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Takalar, dr Rahmawati, di tempat yang sama mengemukakan bahwa Program P13 terkait Peningkatan Kualitas Layanan Kesehatan Gratis, jumlah masyarakat kurang mampu yang bebas biaya berobat di Puskesmas dan RSUD Padjongan Dg. Ngalle, sebanyak 166.492 orang masyarakat kurang mampu (berdasarkan data BDT).

Secara keseluruhan, sudah ada 217.521 orang masyarakat kurang mampu yang bisa bebas biaya berobat di Puskesmas dan RSUD, terdiri atas 142.193 orang yang dananya bersumber dari PBI APBD, dan 75.328 orang yang dananya bersumber dari PBI APBN.

“Jumlah ini melampaui target P13, sehingga Pemkab Takalar mendapat penghargaan dari UHC (Universal Health Coverage),” kata Rahmawati.

 

Sudah Terealisasi Sembilan Program

 

Wabup Takalar Haji De’de mengemukakan, Coffee Morning tersebut diadakan sebagai suatu proses identifikasi untuk mengukur dan menilai apakah Program P22 berjalan sesuai perencaan dan tujuan yang ingin dicapai.

“Kita juga ingin mempertajam progres pencapaian terkait realisasi P22 yang sudah berjalan selama empat tahun pemerintahan kami,” kata Haji De’de.

Wabup Takalar menyimpulkan, dari 22 program unggulan Kabupaten Takalar telah tuntas terealisasi sebanyak sembilan program, sehingga tersisa 13 program yang masih on progres hingga akhir periode dengan presentase 63,73 persen.

Sekda Takalar, Arsyad Taba, menjelaskan, di awal tahun 2018 telah ditetapkan Peraturan Daerah No.1 Tahun 2018, tentang RPJMD Kabupaten Takalar periode 2017-2022.

Dari RPJMD ini telah diprogramkan 22 program unggulan Bupati dan Wakil Bupati Takalar. Terkait P22 ini, kita harus mengevaluasi secara kuantitas. Indikator pencapaian RPJMD akan terlihat pada akhir tahun 2022, untuk itu kita harus melakukan langkah-langkah untuk memaksimalkan pencapaian program prioritas ini.

"Kita harus betul-betul melakukan penganggaran secara transparansi dan akuntabel, artinya bisa kita pertanggungjawabkan. Setiap OPD harus mengetahui tupoksinya masing-masing untuk mensukseskan P22 ini." terang Sekda Takalar.

Acara Coffee Morning turut dihadiri para Asisten Setda Takalar, para Staf Ahli Bupati, serta para Kepala OPD Lingkup Pemkab Takalar. Cofee Morning rencananya akan dilaksanakan dua kali sebulan, yakni pada hari Senin pekan kedua, dan hari Senin pekan keempat bulan berjalan. (Hasdar Sikki)


MOSI TIDAK PERCAYA. Pengurus 13 sasana tinju se-Kota Makassar membuat Mosi Tidak Percaya kepada Ketua Pertina (Persatuan Tinju Nasional) Kota Makassar, Muhammad Tawing, karena Pertina Kota Makassar hanya mengakui tujuh (7) sasana, padahal ada 21 sasana yang berada di bawah binaan Pertina Kota Makassar. (ist)
 




---------

Kamis, 14 Januari 2021

 

 

Makassar Miliki 21 Sasana Tinju, Pertina Hanya Akui 7 Sasana

 

 

-         13 Sasana Tinju Nyatakan Mosi Tidak Percaya kepada Pertina Kota Makassar

-         Ancam Bikin Pertina Kota Makassar Tandingan

 

MAKASSAR, (PEDOMAN KARYA). Pengurus 13 sasana tinju se-Kota Makassar membuat Mosi Tidak Percaya kepada Ketua Pertina (Persatuan Tinju Nasional) Kota Makassar, Muhammad Tawing, karena Pertina Kota Makassar hanya mengakui tujuh (7) sasana, padahal ada 21 sasana yang berada di bawah binaan Pertina Kota Makassar.

Mosi Tidak Percaya itu disampaikan kepada Sekretaris KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia) Kota Makassar, Alimuddin Tarawe, di Kantor KONI Kota Makassar, Selasa, 12 Januari 2021.

“Kami meminta agar sasana-sasana tinju di Kota Makassar semuanya diakui. Ada 21 sasana tinju di Kota Makassar, tapi kenapa hanya tujuh sasana yang diakui,” tandas Faizal, salah sau ketua sasana tinju di Kota Makassar.

“Kami sasana yang sudah lama bahkan sebelum mereka semua ada menjadi pengurus, sasana kami AMA Makassar sudah melahirkan petinju-petinju yang berprestasi. Lalu mengapa kami dikatakan tidak ada. Kami rasa kepengurusan ini tidak bisa kami percaya,” timpal Aldi, perwakilan sasana tinju AMA Makasaar.

“Sehubungan dengan itu, kami menolak dan tidak akan mengakui Musyawarah Pertina Kota Makassar, yang digelar Januari 2021, sebelum Pertina Kota Makassar mensahkan seluruh 21 sasana tinju yang ada di Kota Makassar,” tandas Rusli, yang juga salah seorang ketua sasana tinju.

Rusli mengatakan, sasana-sasana tinju yang ada di Kota Makassar selalu ikut pada kejuaran-kejuaran antar-sasana, bahkan sasana-sasana yang ada selalu mengikuti seleksi Kejurnas, tapi tiba-tiba mereka tidak diakui.

“Bahkan sasana saya juga ikut memilih Pak Tawing jadi Ketua Pertina Kota Makassar. Maka kami bersama beberapa sasana tinju menolak keras Muskot Pertina Makassar sebelum adanya laporan pertanggung-jawaban Pak Tawing selaku Ketua Pertina. Kami tolak Muskot dan kalau dipaksakan, maka kami akan buat Pertina tandingan. Sangat jelas kami mau dibodohi sama orang yang tidak kenal Pertina. Ini akal-akalan mereke, makanya cuma tujuh sasana yang mereka mau akui, karena kalau kami diikutkan takutnya orang yang mau mereka tunjuk jadi ketua tidak bisa terpilih,’ tutur Rusli.

Sekretaris KONI Kota Makassar, Alimuddin Tarawe, yang sangat tenang menerima aduan belasan perwakilan sasana mengatakan akan merapatkan aduan mereka.

“Tapi tolong lengkapi semua berkas yang menyatakan saudara-saudara adalah sasana-sasana yang ada di Kota Makassar. Saya terima aduan teman-teman dan segera saya akan sampaikan kepada Ketua KONI Makassar sebagai laporan, dan sesegera mungkin akan ditangapi,” kata Alimuddin Tarawe.

 

Muskot Pertina Makassar

 

Ketua Pertina Makassar Muhammad Tawing, beberapa waktu lalu mengatakan, Pertina Kota Makassar akan melaksanakan Musyawarah Kota (Muskot) pada 20 Januari 2021.

Dia mengatakan, kepengurusan Pertina Kota Makassar berakhir pada 29 Januari 2021 sesuai Surat Keputusan (SK) yang ditandatangani Ketua Pengurus Provinsi (Pengprov) Pertina Sulawesi Selatan (Sulsel) Adi Rasyid Ali.

Dia berharap Ketua Pertina Kota Makassar yang akan menggantikannya nanti bisa meningkatkan prestasi olahraga tinju di Kota Makassar, serta bersedia melanjutkan Kejuaraan Tinju Walikota Cup IV tahun 2021. (asnawin)





PEDOMAN KARYA

Rabu, 13 Januari 2021


KALAM



Apabila Kalian Mendengar Iqamah



Apabila kalian telah mendengar iqamah, maka berjalanlah menuju shalat dan hendaklah kalian berjalan dengan tenang dan santai dan jangan terburu-buru. Yang kalian dapati maka shalatlah dan yang terlewatkan maka sempurnakanlah. 

[HR. Al-Bukhâri, no. 636]


Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu sembelih (sebelum mati). Dan (diharamkan pula bagimu) yang disembelih untuk berhala. (int)


-------

PEDOMAN KARYA

Rabu, 13 Januari 2021


KALAM



Hewan yang Disembelih untuk Berhala



Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu sembelih (sebelum mati).

Dan (diharamkan pula bagimu) yang disembelih untuk berhala. 

Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (karena) itu perbuatan fasik. 

Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. 

Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu. 

Tetapi barang siapa terpaksa karena lapar, bukan karena ingin berbuat dosa,  maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS 5/Al-Ma'idah: ayat 3)


“Belumpi apa-apa langsungmi banyak orang yang bilang tidak mau disuntik vaksin sinovac, termasuk dokter dan Anggota DPR,” kata Daeng Nappa’.

“Jadi menurut kita’, penolakan untuk disuntik vaksin itu bukti bahwa masyarakat tidak percaya kepada pemerintah?” tanya Daeng Tompo’.

“Pasti begitu,” kata Daeng Nappa’. (Foto: Asnawin Aminuddin / PEDOMAN KARYA)



-----------

PEDOMAN KARYA

Rabu, 13 Januari 2021

 

Obrolan Daeng Tompo’ dan Daeng Nappa’:

 

 

Banyak Orang Tidak Mau Disuntik Vaksin Sinovac

 

 

“Banyakna orang tidak percaya sama pemerintah sekarang,” kata Daeng Nappa’ kepada Daeng Nappa’ saat ngopi pagi di teras rumah Daeng Nappa’.

“Tidak percaya bagaimana?” tanya Daeng Tompo’.

“Inimo saja buktinya vaksin sinovac untuk vaksin Covid-19,” kata Daeng Nappa’.

“Iye’ kenapai itu vaksin sinovac?” tanya Daeng Tompo’.

“Belumpi apa-apa langsungmi banyak orang yang bilang tidak mau disuntik vaksin sinovac, termasuk dokter dan Anggota DPR,” kata Daeng Nappa’.

“Jadi menurut kita’, penolakan untuk disuntik vaksin itu bukti bahwa masyarakat tidak percaya kepada pemerintah?” tanya Daeng Tompo’.

“Pasti begitu,” kata Daeng Nappa’.

“Kita’ tidak percayaki juga?” tanya Daeng Tompo’.

“Saya baca di internet, vaksin sinovac itu dikembangkan oleh perusahaan biofarma Sinovac di China. Virus corona juga pertama kali muncul di China, terus virus corona ini mewabah hampir di seluruh dunia. Sekarang orang China lagi yang bikin vaksinnya, apa tidak mencurigakan?” tanya Daeng Nappa’.

“Jadi kita’ juga tidak mauki’ disuntik vaksin sinovac?” tanya Daeng Tompo’.

“Kalau kita bagaimana? Mauki?” Daeng Nappa’ balik bertanya sambil tersenyum.

“Kalau saya kupikir-pikirki dulu deh,” jawab Daeng Tompo’ sambil tertawa dan keduanya pun tertawa-tawa. (asnawin)

 

Rabu, 13 Januari 2021