Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

 





PEDOMAN KARYA

Ahad, 07 Februari 2021


KALAM



Membenarkan Kedustaan dan Mendukung Kezaliman Penguasa



Dari Ka'ab bin Ujrah ra, Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya akan ada setelahku para penguasa, barang siapa yang membenarkan kedustaan dan membantu kezaliman mereka, maka ia bukan termasuk golonganku dan aku bukan darinya, ia tidak akan menemuiku di telaga, dan barangsiapa yang tidak membenarkan kedustaan dan tidak membantu kezaliman mereka, maka ia adalah termasuk golonganku dan aku bagian darinya, ia akan datang menemuiku di telaga.” (HR An-Nasa’i, Ahmad, at-Tirmidzi, al-Baihaqi, al-Hakim, ath-Thabarani, dll)



DEWAN KEHORMATAN. Ketuw DKP PWI Sulsel, Nursyamsu Sultan (paling kanan), Sekretaris Muhammad Arafah (tengah) dan anggota Faisal Syam, mengikuti Rapat Koordinasi Dewan Kehormatan PWI se-Indonesia yang diadakan PWI Pusat secara virtual, Jumat, 05 Februari 2021. (ist)


--------

Sabtu, 06 Februari 2021



Empat Anggota DKP PWI Sulsel Ikuti Rapat Koordinasi Dewan Kehormatan PWI se-Indonesia



MAKASSAR, (PEDOMAN KARYA). Empat dari lima anggota Dewan Kehormatan Provinsi (DKP) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Selatan, mengikuti Rapat Koordinasi Dewan Kehormatan PWI se-Indonesia, yang digelar secara virtual oleh PWI Pusat, Jumat, 05 Februari 2021.

Ke-4 anggota DKP PWI Sulsel tersebut ialah Nursyamsu Sultan (ketua), Muhammad Arafah (sekretaris) Faisal Syam (anggota), dan Munjin As'ari (anggota).

"Saya mengikuti rapat virtual bertiga di Studio 1 Sekolah Islam Al Azhar, sekaligus mengenalkan keberadaan Studio 1 SI Al Azhar Makassar sebagai mitra kepada warga wartawan di Nusantara. Anggota DKP lainnya, Pak Munjin As'ari mengikuti sendiri dari tempat lain, sedangkan Pak Heri Kontessa tidak sempat ikut," kata Nursyamsu kepada Pedoman Karya, Sabtu, 06 Februari 2021.













Rapat Koordinasi dipandu oleh Sekretaris Dewan Kehormatan PWI Pusat, Sasongko, didampingi Ketua DK PWI Pusat, Ilham Bintang.

"Ada dua pembicara, keduanya dari Kompas. Rapat Koordinasi membahas buku Peraturan Dasar, Peraturan Rumah Tangga, Kode Etik Jurnalistik, dan Kode Perilaku Wartawan Persatuan Wartawan Indonesia," tutur Nursyamsu.


Belum Dilantik


Sekadar informasi, Nursyamsu Sultan dan empat anggota DKP PWI Sulsel lainnya belum dilantik secara resmi.

Mereka terpilih dalam Konferensi PWI Sulsel di Hotel Gammara, Jl Metro Tanjung Bunga, Makassar, Ahad, 31 Januari 2021.

Pengurus PWI Sulsel periode 2021-2026, yang diketuai Agus Salim Alwi Hamu, juga belum dilantik karena belum merampungkan susunan pengurusnya.

Peserta Konferensi PWI Sulsel 2021 juga belum merampungkan Program Kerja PWI Sulsel 2021-2026.

Ketua Bidang Organisasi PWI Pusat, Zulkifli Gani Ottoh (Zugito), pada penutupan Konferensi PWI Sulsel mengatakan dirinya selaku salah satu formatur meminta waktu satu pekan untuk merampungkan penyusunan struktur pengurus PWi Sulsel periode 2021-2026.

"Untuk penyusunan program kerja kami meminta waktu dua pekan," kata Zugito yang tampil dominan mengatur jalannya pemilihan Ketua PWI Sulsel dan Ketua DKP PWI Sulsel. (zak)


"Mereka itulah yang biasa disebut influencer. Mereka dibayar oleh penguasa atau pihak-pihak tertentu untuk menjatuhkan reputasi lawan politiknya dengan cara memfitnah, mengungkap aib, dan menjelek-jelekkan lawan politiknya, melalui media sosial dan media massa," tutur Daeng Tompo'. (Foto: Asnawin Aminuddin / PEDOMAN KARYA)


------

PEDOMAN KARYA

Jumat, 05 Februari 2021


Obrolan Daeng Tompo' dan Daeng Nappa':



Ternyata Ada Juga Orang Dibayar untuk Memfitnah



"Ternyata ada juga orang yang dibayar untuk memfitnah," kata Daeng Tompo' kepada Daeng Nappa' saat ngopi malam di teras rumah Daeng Nappa'.

"Mau-maunya itu dibayar untuk memfitnah. Memfitnah itu bukan lagi dosa, tapi durhaka," kata Daeng Nappa' sambil tersenyum.

"Mereka itulah yang biasa disebut influencer. Mereka dibayar oleh penguasa atau pihak-pihak tertentu untuk menjatuhkan reputasi lawan politiknya dengan cara memfitnah, mengungkap aib, dan menjelek-jelekkan lawan politiknya, melalui media sosial dan media massa," tutur Daeng Tompo'.

"Tidak takutna berdosa itu di'?" tanya Daeng Nappa'.

"Tidak adami takutna sama Tuhan barangkali," ujar Daeng Tompo'.

"Begitu semua kah kerjana itu influencer ka?" tanya Daeng Nappa'.

"Influencer itu sebenarna orang yang memiliki followers atau pengikut yang banyak di media sosial, termasukmi juga selebriti, akademisi, blogger, dan wartawan, tapi sekarang ada juga influencer atau aktivis medsos yang melacurkan dirinya menjadi tukang fitnah," kata Daeng Tompo'.

"Kenapaki' tauki' semua itu, jangan-jangan kita juga influencer ki'?" tanya Daeng Nappa' sambil tersenyum.

"Betul, saya juga mungkin salah satu influencer, karena saya banyak membagikan ayat-ayat suci Al-Qur'an, hadist, dan ceramah agama di medsos," jawab Daeng Tompo' balas tersenyum.

"Berarti kita' masuk kategori influencer agama alias ustadz," kata Daeng Nappa' sambil tertawa tapi Daeng Tompo' hanya tersenyum. (asnawin)


Jumat, 05 Februari 2021

#influencer

#obrolan




PEDOMAN KARYA

Jumat, 05 Februari 2021



Islam, Iman, dan Ihsan



Oleh: Aminuddin Ilmar

(Guru Besar Fakultas Hukum, Unhas, Makassar)


Dalam kepustakaan Islam diberikan penjelasan dengan terang benderang, bahwa konsep Islam memiliki tiga tingkatan yaitu Islam, Iman, dan Ihsan. 

Sebagai seorang muslim, maka wajib untuk memahami dengan baik adanya tiga tingkatan ini sebagai sesuatu yang utama dan penting. 

Oleh karena, seorang muslim bisa disebut menjadi muslim yang seutuhnya atau kaffah apabila dapat mencapai tingkatan sebagai seorang mukmin dan muhsin. Untuk itu, perlu dipahami adanya perbedaan antara islam, iman, dan ihsan. 

Dari penjelasan hadits Arbain diberitakan, bahwa Rasulullah pernah ditanya oleh malaikat Jibril tentang apa itu Islam, lalu kemudian Nabi Muhammad SAW pun menjawab, bahwa Islam itu engkau bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah (yang haq) dan bahwasanya Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah, bagaimana mendirikan shalat, bagaimana menunaikan zakat, berpuasa pada bulan ramadhan dan berhaji ke Baitullah jika mempunyai kemampuan. 

Dari jawaban Nabi tersebut di atas itulah yang kemudian disebut dengan konsep rukun Islam. Bahwa yang dimaksud dengan rukun adalah berupa amalan – amalan lahiriyah yang harus dikerjakan atau dilakukan dan mencakup syahadat, shalat, puasa, zakat, dan haji. 

Bilamana seseorang melakukan atau mengerjakan amalan tersebut, maka orang tersebut dikatakan sebagai seorang muslim.

Selanjutnya, makna dan tingkatan Iman diberikan pula penjelasan, bahwa kemudian malaikat Jibril bertanya lagi kepada Nabi Muhammad SAW mengenai Iman kepada Rasulullah. Lalu kemudian Rasulullah menjawab, bahwa;

Iman itu ialah beriman dan percaya kepada Allah SWT, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, hari akhir, dan percaya kepada takdir yang baik maupun yang buruk. 

Dalam pengertian ini, maka konsep iman diartikan sebagai hal-hal yang bersifat batiniah atau bisa juga disebut sebagai amalan batin dimana berkenaan dengan persoalan keimanan atau kepercayaan terhadap Allah, malaikat-Nya, kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, dan juga keimanan kepada takdir. 

Dalam arti, bahwa orang yang sudah mencapai tingkatan keimanan maka bisa disebut sebagai seorang mukmin. Dengan kata lain, konsep keimanan merupakan sesuatu yang lebih khusus dibandingkan konsep keislaman. 

Dengan demikian, ketika seseorang disebut sebagai seorang mukmin, maka orang tersebut sudah pasti seorang muslim. Akan tetapi, tidak setiap muslim dapat disebut sebagai seorang mukmin.

Adapun makna dan tingkatan Ihsan diberikan pula penjelasan, bahwa saat Rasulullah Muhammad SAW ditanya oleh malaikat Jibril mengenai perkara ihsan, maka Rasulullah dengan tegas menjawab, bahwa bilamana engkau beribadah kepada Allah SWT maka seolah-olah engkau melihat-Nya, apabila kamu tidak bisa melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia pasti melihatmu. 

Konsep ihsan adalah persoalan  yang berkenaan atau mencakup cara dan rasa seorang muslim dalam beribadah. 

Dalam Islam diketahui bahwa ada dua tingkatan dalam ihsan yakni; seseorang yang beribadah seakan mampu melihat Allah, dan jika tidak mampu melihat Allah, maka seseorang tersebut beribadah dengan rasa diperhatikan oleh Allah SWT.

----

@Jumatberkah0522021


Dan mereka menyiksa orang-orang mukmin itu hanya karena (orang-orang mukmin itu) beriman kepada Allah yang Maha Perkasa, Maha Terpuji, yang memiliki kerajaan langit dan bumi. Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu. (Foto: Asnawin Aminuddin / PEDOMAN KARYA)


------

PEDOMAN KARYA

Jumat, 05 Februari 2021



Mereka Menyiksa Orang-orang Mukmin



Binasalah orang-orang yang membuat parit (yaitu para pembesar Najran di Yaman), yang berapi (yang mempunyai) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang mukmin.

Dan mereka menyiksa orang-orang mukmin itu hanya karena (orang-orang mukmin itu) beriman kepada Allah yang Maha Perkasa, Maha Terpuji, yang memiliki kerajaan langit dan bumi. Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.

Sungguh, orang-orang yang mendatangkan cobaan (bencana, membunuh, menyiksa) kepada orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan lalu mereka tidak bertobat, maka mereka akan mendapat azab Jahanam dan mereka akan mendapat azab (neraka) yang membakar.

(QS 85 / Al-Buruj: Ayat 4-10)



BIMBINGAN TEKNIS. Wakil Bupati Gowa, Abdul Rauf Malaganni.l, memberikan sambutan pada pembukaan Bimbingan Teknis Penyusunan Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (LPPD) Kabupaten Gowa Tahun Anggaran 2020, di Baruga Karaeng Galesong, Kantor Bupati Gowa, Rabu, 03 Februari 2021. (ist)


 



----

Kamis, 04 Januari 2021

 

 

Penyelenggaraan Pemerintahan Kabupaten Gowa Pernah Peringkat 21 Nasional

 

 

GOWA, (PEDOMAN KARYA). Penyelenggaraan Pemerintahan Kabupaten Gowa pernah menempati peringkat 21 tingkat nasional, tepatnya pada tahu  2017. Khusus tingkat Provinsi Sulsel, Gowa menempati peringkat ketiga.

“Tahun terakhir, penetapan peringkat kinerja oleh Pemerintah Propinsi Sulawesi Selatan, Kabupaten gowa berada pada peringkat 3, sedangkan pemerintah pusat mengapresiasi dengan peringkat 21 secara nasional dengan skor 3,2412 pada hasil evaluasi penyelenggaraan pemerintahan daerah tahun 2017,” ungkap Wakil Bupati Gowa, Abdul Rauf Malaganni.

Hal itu ia ungkapkan pada pembukaan Bimbingan Teknis Penyusunan Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (LPPD) Kabupaten Gowa Tahun Anggaran 2020, di Baruga Karaeng Galesong, Kantor Bupati Gowa, Rabu, 03 Februari 2021.

Abdul Rauf mEngatakan, penyelenggaraan pemerintahan di Kabupaten Gowa telah berjalan sesuai dengan semangat perubahan, berdasarkan paradigma baru yang berkembang, yaitu penyelenggaraan pemerintahan yang berazaskan efisiensi, efektivitas, transparansi, dan akuntabilitas.

Dia mengungkapkan, walaupun nilai Kabupaten Gowa sudah termasuk dalam kategori sangat tinggi, namun masih terdapat selisih beberapa angka dari peringkat pertama nasional. 

Karena itulah, katanya, kegiatan Bimtek Penyusunan LPPD menjadi sangat penting untuk menyamakan persepsi para pimpinan SKPD masing-masing penanggungjawab urusan untuk menyediakan data indikator yang lebih berkualitas dan maksimal.

“LPPD ini merupakan dasar evaluasi pemerintah terhadap pelaksanaan pemerintahan daerah sekaligus sebagai bahan pembinaan lebih lanjut sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2019 tentang Laporan dan Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah,” kata Rauf.

Ia berharap penyelenggaraan pemerintahan Kabupaten Gowa bisa bersaing dengan Kabupaten/kota lainnya yang ada di Indonesia bahkan menjadi yang terbaik di tingkat Nasional.

“Dengan pelaksanaan kegiatan bimbingan teknis ini dapat menjadi bahan bagi setiap SKPD penanggung jawab urusan dapat menyesuaikan kembali data indikator kinerja outcome dan indikator kinerja output yang telah dimasukkan sehingga nilai capaian LPPD Kabupaten Gowa mampu bersaing dengan kabupaten lainnya dan Kabupaten Gowa mampu bersaing meraih peringkat terbaik pada tingkat nasional,” tutur Rauf.

Hal senada juga disampaikan oleh Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Pemprov Sulawesi Selatan, Andi Aslam Patonangi. Dirinya juga berharap  penyelenggaraan Pemerintahan Kabupaten Gowa menjadi yang terbaik.

Menurut mantan Bupati Pinrang dua periode ini, Kabupaten Gowa punya modal dengan sistem pemerintahan yang sudah berjalan dengan baik. Apalagi menurutnya Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan berkepentingan dengan hal tersebut.

“Bahwa daerah ini sudah tidak ada kurangnya, pembangunan dari semua aspek sudah berjalan dengan baik. Baik fisik maupun yang non fisik. Baik yang berkaitan urusan pemerintahan pelayanan dasar maupun non pelayanan dasar,” kata Aslam.

Kepala Bagian Pemerintahan dan Otonomi Daerah, Zubair Usman dalam laporannya mengatakan kegiatan ini dilaksanakan selama dua hari, yaitu 3-4 Februari 2021.

“Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, dan diikuti para local contact penyedia data LPPD selaku peserta bimbingan teknis penyusunan LPPD di setiap SKPD lingkup Pemkab Gowa,” jelas Zubair.

Turut hadir dalam pembukaan kegiatan ini Pj Sekretaris Daerah Kabupaten Gowa, Hj Kamsina, Kepala Biro Pemerintahan dan Otonomi Daerah Pemprov Sulsel Hasan Basri Ambarala, para Staf Ahli, Asisten, pimpinan SKPD, dan camat lingkup Pemkab Gowa. (jar)

 


(Foto: Asnawin Aminuddin / PEDOMAN KARYA)


-------

PEDOMAN KARYA

Kamis, 04 Februari 2021


KALAM



Do'a Nabi Ibrahim



"Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku ilmu dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh,

dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian,

dan jadikanlah aku termasuk orang yang mewarisi surga yang penuh kenikmatan,

dan ampunilah ayahku, sesungguhnya dia termasuk orang yang sesat,

dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan,

(yaitu) pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna,

kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih,

dan surga didekatkan kepada orang-orang yang bertakwa,

dan Neraka Jahim diperlihatkan dengan jelas kepada orang-orang yang sesat,

dan dikatakan kepada mereka, "Di mana berhala-berhala yang dahulu kamu sembah, selain Allah? 

Dapatkah mereka menolong kamu atau menolong diri mereka sendiri?"


(QS 26 / Asy-Syu'ara': Ayat 83-93)

“Salah seorang di antara mereka bilang, wartawan itu bahagia kalau hasil liputannya benar-benar memenuhi keinginan atau kebutuhan khalayak, misalnya liputan gempa, liputan olahraga, termasuk liputan aksi damai jutaan orang di Monas Jakarta, beberapa tahun lalu. Artinya, khalayak senang dan puas dengan hasil liputannya, di situlah salah satu letak kebahagiaan seorang wartawan,” tutur Daeng Tompo’. (int)
 




------

PEDOMAN KARYA

Rabu, 03 Februari 2021

 

Obrolan Daeng Tompo' dan Daeng Nappa':

 

 

Dimanakah Letak Kebahagiaan Seorang Wartawan?

  


“Dimanakah letak kebahagiaan seorang wartawan?” gumam Daeng Tompo’ saat duduk berdua Daeng Nappa’ di masjid seusai shalat magrib berjamaah.

Meskipun bergumam alias bicara sendiri, suaranya ternyata didengar oleh Daeng Nappa’, dan sambil tersenyum Daeng Nappa’ bertanya, “Kenapa saya kitanya’? Saya kan bukan wartawan bos.”

“Bukan. Saya tidak tanyakki',” kata Daeng Tompo’ balas tersenyum.

“Apaji padeng?” tanya Daeng Nappa’ masih sambil tersenyum.

“Tadi saya ngopi sama beberapa wartawan senior di kafe. Sambil ngopi, mereka bicara tentang dunia wartawan. Terus ada yang bertanya, dimanakah letak kabahagiaan seorang wartawan,” ungkap Daeng Tompo’.

“Jadi apami jawabanna itu para wartawan seniorka?” tanya Daeng Nappa’.

“Salah seorang di antara mereka bilang, wartawan itu bahagia kalau hasil liputannya benar-benar memenuhi keinginan atau kebutuhan khalayak, misalnya liputan gempa, liputan olahraga, termasuk liputan aksi damai jutaan orang di Monas Jakarta, beberapa tahun lalu. Artinya, khalayak senang dan puas dengan hasil liputannya, di situlah salah satu letak kebahagiaan seorang wartawan,” tutur Daeng Tompo’.

“Jadi maksudnya, wartawan itu harus terjun langsung meliput di lapangan?” tanya Daeng Nappa’.

“Kan kita’ tongji yang pernah bilang, bahwa wartawan itu orang yang secara rutin melaksanakan kegiatan jurnalistik. Jadi biar ada kartu pers na, ada kartu anggota organisasi wartawan na, ada kartu UKW (Uji Kompetensi Wartawan) na, bahkan biar lagi dia pengurus teras organisasi wartawan, tapi tidak pernah meliput di lapangan, tidak pernah bikin berita, berarti bukan wartawan itu,” ujar Daeng Tompo’ sambil tersenyum.

“Bukan saya yang bilang begitu, temanku yang wartawan yang bilang begitu, saya hanya sampaikanki’ apa yang nabilang,” kata Daeng Nappa’ juga sambil tersenyum.

“Bagaimana kalau jadiki’ juga wartawan?” tanya Daeng Tompo’ sambil tersenyum.

“Aih, toamaki’, terlambatmaki,,” jawab Daeng Nappa’ sambil tertawa dan keduanya pun tertawa-tawa. (asnawin)

 

Rabu, 03 Februari 2021


 


JOGGING. Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah, menikmati aktivitas paginya dengan jogging di Kawasan Bira, Kabupaten Bulukumba, Rabu, 03 Februari 2021. (ist)


----

Rabu, 03 Februari 2021



Nikmati Suasana Pagi di Bulukumba, Gubernur Sulsel Jogging dari Pantai Bira ke Titik Nol Sulsel



BULUKUMBA, (PEDOMAN KARYA). Di sela kunjungan kerjanya ke wilayah selatan Sulawesi Selatan, Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah, menikmati aktivitas paginya dengan jogging di Kawasan Bira, Kabupaten Bulukumba, Rabu, 03 Februari 2021.

Ia menempuh jarak 4,4 Km dari Pantai Pasir Putih Bira ke Titik Nol Sulsel. Ia mengenakan setelen training berwarna merah, sepanjang jalan juga berinteraksi dengan warga. Ia sebelumnya telah bertemu Bupati Bulukumba AM Sukri Sappewali pada malam harinya saat mengecek pengerjaan kawasan tersebut. 

Pemkab Bulukumba dan Pemprov Sulsel berkolaborasi membangun kawasan Bira. Demikian juga Pemerintah Pusat ikut membantu. Objek wisata Titik Nol Sulsel menjadi objek alternatif selain Pantai Bira dan Pantai Bara.

"Pantai Bira ini adalah sebuah pantai yang indah," kata Nurdin Abdullah.

Ia menilai peluang untuk mengembangkan daerah ini masih sangat besar. 

Karakteristik yang dibangun orang menikmati pantai dengan menelusuri garis pantai atau dengan membangun pedestarian.

Pemerintah membangun sebuah pedestarian yang berada di sebelah timur Kawasan Tanjung Bira, yang di sana wisatawan bisa menikmati view laut, termasuk kapal yang menyeberang ke Selayar.

"Saya yakin Bira ini, walaupun banyak pantai lain, tetap lebih menarik karena ini spesifik, punya pasir putih dan pasirnya selalu dingin. Di Titik Nol ini yang kita manfaatkan adalah view. Jadi sangat opportunity membangun hotel masih sangat besar," sebut Nurdin.

Kadis Pariwisata Bulukumba, Ali Saleng, menjelaskan, Pemkab Bulukumba meencanakan membangun teras Tanjung Bira dan Jembatan Kaca.

"Kita mau lanjutkan adalah teras Tanjung Bira, mudah-mudahan kita dapat alokasi dana di 2021 ini, sngga kegiatan itu bisa selesai. Karena sekarang rata-rata pengunjung yang masuk di Bira 90 persen mengarah ke sana (Titik Nol), sehingga kita mau titik nol dan fasilitas pendukung di dalamnya dapat segera dikerjakan," kata Ali Saleng. (dar)

Bagi seorang wartawan, bahasa adalah senjata dan kata merupakan pelurunya. Anda bisa bayangkan, jika salah menggunakan senjata dan peluru, bisa “membunuh” seseorang, atau paling tidak mencederainya. (M Dahlan Abubakar) 

 




--------

PEDOMAN KARYA

Selasa, 02 Februari 2021

 

 

Bagi Wartawan, Bahasa Itu Senjata, Kata adalah Peluru

 

 

Oleh: M Dahlan Abubakar

(Wartawan Senior / Tokoh Pers Nasional)

 

Sebuah media daring di Makassar memuat berita yang sedikit “menghebohkan”. Judulnya, “Andi Pasamangi Wawo: Konferprov PWI Sulsel Selesai, Ocehan Dahlan yang Benar Terima, yang Salah Abaikan.”

Berita itu dimuat oleh “menitindonesia,.com”  dan ditulis oleh Andi Ade Zakaria. Saya membaca tulisan itu dari awal hingga akhir. Saya tidak menemukan ada kata “Ocehan” di dalam tubuh berita tersebut.

Saya bertanya dalam hati, diksi yang bermakna “perkataan yang bukan-bukan” itu lantas ucapan siapa?

Sebagai seorang wartawan dan pengajar jurnalistik, dan menulis disertasi mengenai bahasa jurnalistik dari catatan wacana kritis, tidak terlalu sulit menerka siapa “tersangka” yang menjadi “penyelundup” yang menyusupkan kata tersebut pada judul berita..

Memilih judul berita yang “seksi” memang sebuah keniscayaan dalam membuat berita. Mendiang LE Manuhua, Pemimpin Redaksi Harian “Pedoman Rakyat”, Dewan Penasihat PWI Pusat, dan penerima Bintang Mahaputra Utama Republik Indonesia mengatakan, membuat judul yang menarik itu jauh lebih sulit dibandingkan menulis batang tubuh dan isi berita itu sendiri.

Mengapa demikian? Ini disebabkan judul berita merupakan iklan dari berita tersebut. Jika berita bagus, judulnya tidak menarik, “kasihan” isi beritanya. Jika judul bagus, tetapi isinya “kaleng-kaleng” (pinjam istilah ustaz Dasaad Latif), itu hanya menimbulkan kejengkelan pembaca karena mereka merasa tertipu oleh judul. Tidak heran sumpah serapah muncul dari mulut mereka jika menemukan berita seperti ini.

Aturan sebuah judul berita harus ada dalam teras berita atau di dalam tubuh berita. Lalu bagaimana dengan berita yang anakda saya, Andi Ade Zakaria, tulis?

Nah, itu termasuk opini sang penulis sendiri, karena narasumber (Pak Andi Pasamangi Wawo) tidak ditemukan dalam keterangannya menyebut diksi “ocehan” tersebut. Dan, juga seperti pengakuannya kepada saya.

 

Pedoman Etis

 

Setelah membaca berita tersebut dan menyimak serta mencari diksi “ocehan” yang termuat di judul berita, saya pun berniat menelepon Pak Andi Pasamangi Wawo.

Niat saya ini terhenti karena tiba-tiba saja anak saya Hery menjemput untuk hadir bersama keluarga dalam suatu acara silaturahim sambil makan malam di salah satu rumah makan di Jl. Haji Bau.

Sekembali dari rumah makan sekitar pukul 21.30, gawai saya berdering. Ternyata teman-teman wartawan mengontak saya. Mereka bertanya bagaimana situasi dan paling menarik juga menyoal berita yang berkaitan dengan “ocehan” saya itu.

Saya menjelaskan kepada mereka bahwa sebagai penulis, saya besar dari ‘mumpuni’ menulis berkaitan dengan polemik. Tetapi saya katakan, saya tidak ingin berpolemik berkaitan  “ocehan” saya. Kepada teman-teman di Grup WA “Pedoman Rakyat” kisah “ocehan” saya itu tak perlu didiskusikan dan diperpanjang.

Di tengah kami berdiskusi, telepon dari Andi Pasamangi Wawo berdering. Saya memberitahu teman-teman dan meminta izin menerima telepon tersebut sambil menyebut nama peneleponnya.

Seperti yang sudah saya tebak, Andi Pasamangi Wawo langsung mengklarifikasi diksi “ocehan” yang saya maksudkan.

“Saya tidak pernah mengeluarkan kata itu. Saya juga masih punya nurani sopan santun dalam berbahasa,” katanya sebelum saya menyinggung kalimat tersebut.

Saya pun mengatakan, saya juga meneliti kata demi kata, kalimat per kalimat, dan alinea demi alinea, tidak menemukan kata itu di dalam batang tubuh berita, mulai dari awal hingga akhir. Maka, benar juga ramalan saya bahwa yang “kreatif” adalah wartawannya.

“Saya kan tidak tahu jika saya ini akan dikonfrontasikan dengan Pak Dahlan,” kata Andi Pasamangi lagi.

Saya pun menjelaskan, memang bagi pembaca lain, berpotensi akan menganggap seperti itu, tetapi bagi saya tidak akan pernah.

Saya juga menyampaikan bahwa bagi saya, tidak ada masalah dengan berita tersebut. Hanya yang perlu adalah bagaimana setiap wartawan harus pandai-pandai memilih diksi untuk membangun sebuah judul berita agar tidak berpotensi menimbulkan delik.

Maaf untuk ananda Andi Ade Zakaria, saya tidak bermaksud memberi Anda kuliah gratis mengenai bahasa jurnalistik. Bahasa yang menjadi mata kuliah spesialisasi saya di Unhas dan Universitas Muslim Indonesia (UMI) puluhan tahun dan juga karena meneliti penggunaan ragam bahasa ini, saya meraih gelar akademik tertinggi di almamater saya.

Bagi seorang wartawan, bahasa adalah senjata dan kata merupakan pelurunya. Anda bisa bayangkan, jika salah menggunakan senjata dan peluru, bisa “membunuh” seseorang, atau paling tidak mencederainya.

Bahasa jurnalistik merupakan pedoman etis bagi seorang wartawan dalam penyajian dan penulisan semua jenis dan bentuk karya jurnalistik, seperti tajuk rencana, karikatur, pojok, artikel (yang ditulis oleh wartawan), berita langsung (straight news), dan “feature” (karangan khas).

Etika bahasa jurnalistik termasuk ke dalam etika sosial. Etika sosial berbicara mengenai kewajiban, sikap, dan perilaku sebagai anggota masyarakat yang berkaitan dengan nilai-nilai sopan santun, tata krama, dan saling menghormati. Yaitu, bagaimana saling berinteraksi yang menyangkut manusia dengan manusia, baik secara perorangan maupun bersama-sama.

Buat ananda Andi Ade Zakaria, ketika akan mengikuti uji kompetensi wartawan, jelas akan berhadapan dengan aspek kesadaran (awareness) yang menempatkan “etika dan hukum” sebagai bagian paling atas dari piramida kompetensi. Kesadaran ini merupakan salah satu dari tiga aspek penting yang dituntut terhadap  seorang wartawan, di samping aspek pengetahuan dan keterampilan.

Kesadaran akan etika dan hukum sangat penting dalam profesi kewartawanan, sehingga setiap derap langkah wartawan, termasuk dalam mengambil keputusan untuk menulis (juga dalam memilih diksi yang tepat) atau menyiarkan masalah atau peristiwa, akan selalu dilandasi pertimbangan yang matang. Kesadaran etika juga akan memudahkan wartawan dalam mengetahui dan menghindari terjadinya kesalahan-kesalahan.

Dampak terhadap seorang wartawan yang melalaikan etika dan hukum ini bisa mengganggu kenyamanan dalam melaksanakan profesi. Misalnya saja, terhadap penggunaan opini seperti pada penulisan judul berita ananda Andi Ade Zakaria yang menambahkan kata “ocehan:” pada judul berita yang ternyata tidak ada dalam batang tubuh berita dan tidak pernah diungkapkan oleh narasumber.

Akibatnya, boleh saja orang yang tersentil dengan judul berita dengan kata “ocehan” yang merupakan opini penulis berita, merasa tidak nyaman dan menganggap berita tersebut telah membuatnya “tidak nyaman.”

Ketika munculnya rasa “tidak nyaman” dari seseorang atas pemuatan suatu berita inilah yang kerap menggiring seorang wartawan dilapor ke polisi dan ditimpakan dengan pasal KUH Pidana. Dan, polisi akan menerimanya karena deliknya masuk kategori pencemaran nama baik. Apalagi sang wartawan sendiri tidak berusaha meralat beritanya sesuai tuntutan Kode Etik Jurnalistik Pasal 5 yang berbunyi “ Wartawan menyajikan berita secara berimbang dan adil, mengutamakan ketepatan dari kecepatan serta tidak mencampuradukkan fakta dan opini, dan seterusnya”.

Kemudian pasal 10 berbunyi “Wartawan dengan kesadaran sendiri berupaya secepatnya memperbaiki, meralat, atau memberi hak jawab setiap pemberitaan yang tidak akurat dan disertai permintaan maaf”.

Jadi, buat ananda Andi Ade Zakaria, hati-hati memilih kata (diksi) sebab dia akan menjadi “peluru” bagi seorang wartawan dalam profesinya. Ketika “peluru” itu menimpa seseorang, Anda dapat bayangkan seperti apa reaksinya. Ya, macam-macam.

Orang seperti saya yang selalu menempatkan diri sebagai “pandito” (ahli dalam ilmu) jurnalistik, tentu akan sangat paham dan memaafkan kesalahan tersebut  sebagai bagian dari proses belajar. Tetapi Anda bisa bayangkan, kalau orang lain yang tidak seperti saya dan merasa “tidak nyaman”, jelas akan merepotkan dan membuat Anda sebagai wartawan tidak nyaman. Sebab, “peluru” yang Anda tembakkan sudah mencederai. (*)

----

(Dr H Muhammad Dahlan Abubakar adalah mantan Pemimpin Redaksi Harian Pedoman Rakyat, mantan Sekretaris PWI Sulsel, dan pensiunan dosen Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, tapi hingga kini masih mengajar di beberapa perguruan tinggi, dan juga masih aktif menulis)


MURUAH PWI SULSEL. Asnawin Aminuddin (kanan) foto bersama Ketua Dewan Kehormatan Provinsi (DKP) PWI Sulsel, Nursyamsu Sultan, pada Konferensi PWI Sulsel, di Hotel Gammara, Jl Metro Tanjung Bunga, Ahad, 31 Januari 2021. (ist)

-----

Senin, 01 Februari 2021

 

 

Asnawin Aminuddin: Kembalikanlah Muruah PWI Sulsel

 

 

MAKASSAR, (PEDOMAN KARYA). Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulsel telah memilih ketua dan pengurus baru periode 2021-2026. Agus Salim Alwi Hamu terpilih kembali sebagai ketua, didampingi beberapa wakil ketua, bendahara, dan sekretaris.

Selain itu, juga sudah ditetapkan anggota Dewan Kehormatan Provinsi (DKP) PWI Sulsel yang diketuai Nursyamsu Sultan (mantan Kepala Stasiun TVRI Sulsel).

“Pertama-tama saya ucapkan selamat kepada Pak Agus yang terpilih kembali sebagai ketua. Begitu pun selamat kepada Pak Nursyamsu Sultan sebagai ketua dewan kehormatan,” kata wartawan senior, Asnawin Aminuddin, kepada wartawan di Makassar, Senin, 01 Februari 2021.

Mantan Ketua Seksi Pendidikan PWI Sulsel berharap Agus Salim mengembalikan muruah PWI Sulsel sebagai organisasi profesi wartawan yang disegani dan menjadi rumah besar bagi wartawan, baik anggota PWI maupun wartawan lain pada umumnya.

“Kembalikanlah muruah PWI Sulsel,” tandas Asnawin, yang pemegang sertifikat Pelatih Nasional Wartawan PWI.

Dulu, kata dia, PWI Sulsel disegani oleh pemerintah, lembaga, dan organisasi. Waktu itu, PWI memang satu-satunya organisasi profesi wartawan, tapi ketuanya memang berwibawa dan disegani.

“Sekarang, sebagai organisasi profesi wartawan tertua dan terbesar, PWI Sulsel seharusnya juga disegani, dan itu ditentukan oleh wibawa ketuanya,” kata Asnawin.

Dia mengatakan, Agus Salim Alwi Hamu memang tergolong masih muda dari segi usia, dan juga terlalu muda saat terpilih sebagai Ketua PWI Sulsel lima tahun lalu.

“Okelah, Pak Agus memang tergolong masih muda, tapi dengan bekal pengalaman lima tahun memimpin PWI Sulsel dan pengalaman sebagai pimpinan perusahaan media, kita berharap Pak Agus sudah bisa tampil lebih berwibawa, dan dengan kapasitas diri yang lebih besar,” kata Asnawin.

Kapasitas diri yang lebih besar dimaksud yaitu mampu merangkul semua wartawan, bisa duduk bersama para pimpinan redaksi, menjalin hubungan baik dengan organisasi profesi wartawan lainnya, serta berdiri setara dengan pimpinan pemerintahan dan ketua lembaga tingkat provinsi.

“Saya yakin Pak Agus mampu melakukannya, dan itu akan menjadi titik balik kembalinya muruah PWI Sulsel,” kata Asnawin. (ima)


 



PEDOMAN KARYA

Senin, 01 Februari 2021



Nawir Dg Tona Pulang ke Takalar Setelah 17 Tahun Menetap di Majene



Nawir Dg Tona (48) tidak pernah membayangkan akan pulang ke Takalar pada pekan ketiga Januari 2021, setelah belasan tahun menetap di Kabupaten Majene, Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar).

Daeng Tona pulang ke Takalar setelah gempa mengguncang Majene dan Mamuju, akhir 2020, dan rumah yang ditinggali bersama istri dan empat anaknya, rubuh dan rata dengan tanah.

"Untuk sementara kami tinggal di rumah orangtua kami," kata Daeng Tona, saat ditemui di rumah orangtuanya di Lingkungan Mattoanging, Kelurahan Pallantikang, Kecamatan Pattallassang, Kabupaten Takalar.

Ia mengaku sudah 17 tahun menetap di Majene, dan sehari-harinya bekerja dengan berjualan perabot rumah tangga.

Menyinggung gempa yang terjadi Majene dan Mamuju, yang juga mengakibatkan rumahnya rubuh dan rata dengan tanah, ia mengatakan kejadiannya terjadi sekitar pukul 03.00 dini hari, dan tidak ada tanda-tanda sebelumnya.

"Kejadiannya begitu cepat. Saat gempa terjadi, waktunya itu hanya sekitat lima detik. Rumah kami bergoyang dan kemudian rubuh. Istri dan anak saya tertimpa reruntuhan. Saya kemudian langsung mengevakuasi keluarga saya ke tempat yang aman. Rumah saya di sana rata dengan tanah. Saya juga tidak sempat menyelamatkan barang berharga saya. Dengan kejadian ini, saya dan anak-anak saya masih trauma dan takut," jelas Daeng Tona.

Diniami (49), istri Daeng Tona mengalami patah tulang dan pendarahan pada paru-paru, sedangkan anak pertamanya, Nirwana (16), mengalami patah tulang di lengan.

Diniati dan Nirwana sudah mendapat perawatan intensif di RSUD Padjonga Dg. Ngalle, Takalar. 

"Saya sangat berterima kasih kepada Bapak Bupati Takalar, karena istri dan keluarga saya sudah mendapatkan pelayanan dan perawatan di Rumah Sakit Padjonga Dg. Ngalle tanpa biaya apapun atas jaminan Bapak Bupati. Kami juga berterima kasih karena sudah mendapatkan bantuan sembako," kata Daeng Tona.

Luah Pallantikkang, Ilham Ismail, mengemukakan, setelah mendengar kabar ada salah satu warganya menjadi korban gempa di Kabupaten Majene, dirinya langsung berkunjung ke rumah orangtua korban, dan langsung berkoordinasi dengan Dnas Sosial.

"Pemerintah Kabupaten Takalar dalam hal ini Dinas Sosial & PMD, dan pihak Rumah Sakit Padjonga Dg. Ngalle langsung cepat tanggap dengan memberikan bantuan berupa beras dan sembako dan perawatan intensif," jelas Ilham. (Hasdar Sikki)

AKLAMASI. Ketua PWI Sulsel, Agus Salim Alwi Hamu (kedua dari kanan) dan Ketua DKP PWI Sulsel, Nursyamsu Sultan (paling kanan) foto bersama Ketua PWi Pusat Atal S Depari (kedua dari kiri) dan Ketua Bidang Organisasi PWI Pusat Zulkifli Gani Ottoh, pada Konferprov PWI Sulsel, di Hotel Gammara, Jl Metro Tanjung Bunga, Makassar, Ahad, 31 Januari 2021. (Foto: Asnawin Aminuddin / PEDOMAN KARYA)




----------

PEDOMAN KARYA

Senin, 01 Februari 2021

 

 

Menyoal Konferensi PWI Sulsel: Kerusakan Telah Terjadi

 

 

Oleh: M Dahlan Abubakar

(Tokoh Pers Sulsel versi Dewan Pers)

 

“Damage has been done”. (kerusakan telah terjadi). Itulah salah satu kalimat tulisan Bung Ilham Bintang yang dimuat, Ahad, 31 Januari 2021, pada “Opini Pelita”, menyongsong Hari Pers Nasional dan Menyoal Konferensi PWI Sulsel.

Saya tidak menyinggung lirik lagu Iwan Fals yang juga dikutip Bang Ilham Bintang, tetapi lebih tertarik dengan menganalisis kalimat dalam bahasa Inggris yang mengawali tulisan ini dan kaitannya dengan judul lagu “Bongkar.” 

Pilihan kalimat yang rasa-rasanya sangat tepat untuk memotret kondisi PWI Sulawesi Selatan, baik sebelum maupun pasca-konferensi yang berakhir dengan “selamat” dan secara aklamasi memilih kembali petahana Agus Salim Alwi Hamu menakhodai PWI Sulawesi Selatan lima tahun ke depan.

Selain berkaitan dengan kalimat dalam bahasa Inggris dan “Bongkar” tersebut, Bang Ilham Bintang mengakui bahwa “selama memimpin Dewan Kehormatan (DK) PWI Pusat, PWI Sulsel memang paling sering bergejolak. Jejak digital PWI Sulsel paling sering memecat anggotanya, bahkan anggota pengurusnya sendiri. Pernah ada 27 anggota diusulkan dipecat, tetapi saya tolak karena syaratnya tidak terpenuhi. Yang paling parah, ada anggotanya yang diadukan ke polisi dan sempat beberapa bulan di penjara.”

“PWI Sulsel merupakan Cabang PWI penting. Reputasinya di masa lalu membanggakan anak cucu. Memberi kontribusi besar bagi perkembangan demokrasi di Sulsel. Penghargaan masyarakat kepada wartawan setara penghormatan kepada perahu Phinisi dan klub sepakbola PSM,” tulis Bang Ilham .

Yang tidak kalah menarik pula disimak adalah era digitalisasi yang juga mengarus pada organisasi PWI. Media digital, membuat semua yang tersembunyi akan terungkap. Tidak ada lagi yang dapat disembunyikan. Dan itu, publik akan tahu tanpa harus meninggalkan tempat tidurnya sekali pun.

 

Kerusakan Itu

 

“Damage has been done”, kerusakan telah terjadi. Kalimat itu merujuk pada sejumlah pelanggaran yang terjadi sebelum dan pada saat Konferensi Provinsi PWI Sulsel.

Ketua Bidang Organisasi PWI Pusat, Zulkifli Gani Ottoh, mengakui secara jujur pelanggaran demi pelanggaran tersebut. Dia menyebut setidak-tidaknya 4-5 pelanggaran organisasi terjadi di tubuh PWI Sulawesi Selatan.

Ketika memberi sambutan pada pembukaan Konferprov PWI Sulsel, Jumat (29/1/2021) secara virtual melalui zoom, mantan Ketua PWI Sulsel dua periode itu mengatakan, hanya PWI Kabupaten Wajo yang tidak termasuk dalam kategori pelanggaran yang dimaksudkan itu.

Pelanggaran tersebut antara lain, ada pengurus yang tidak memiliki kartu anggota, ada pegawai negeri sipil (PNS), dan malah ada mantan narapidana (napi).  Soal PNS ini sebenarnya tidak diatur dalam Peraturan Dasar (PD) dan Peraturan Rumah Tangga (PRT), kecuali mantan napi yang diatur dalam pasal 7 (2e) Peraturan Dasar PWI yang berbunyi: Syarat-syarat menjadi anggota biasa adalah: Tidak pernah dihukum oleh pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang bertentangan dengan martabat dan profesi kewartawanan.”

Banyaknya pelanggaran yang dilakukan oleh PWI Sulsel tersebut merupakan kegagalan dari Bidang Organisasi PWI Pusat dalam mengedukasi PWI Sulsel agar taat asas.

Banyaknya pelanggaran yang terjadi  tersebut sudah terjebak pada terjadinya proses pembiaran terhadap organisasi agar melanggar PD dan PRT-nya secara masif.

Pelanggaran tersebut juga mencerminkan tidak seriusnya sejumlah oknum pengurus melaksanakan tugas organisasi. Praktik-praktik berorganisasi sama sekali tidak merujuk pada kewenangan masing-masing, yakni antara kewenangan PWI Pusat dan PWI Provinsi.

Akibatnya, terjadi kekacauan organisasi yang menjurus kepada muncul “damage” tersebut. Saling pecat di internal di tubuh PWI Sulsel menggambarkan terjadinya saling sikut dan saling sikat di tubuh organisasi profesi wartawan tertua ini,

“Jangan lakukan pelanggaran, Main cantik saja sudah bagus,” kata Zulkifli ketika memberi sambutannya.

Saya kira, harapan positif, tetapi ini sudah ketinggalan dan sama sekali tidak mencerminkan sikap dan sifat preventif yang harus dilakukan oleh seorang organisator. 

Sejatinya, ketika terjadi pelanggaran pertama, sudah harus ada upaya untuk menghentikannya. Setidak-tidaknya harus segera dikembalikan agar organisasi itu berjalan “on the track”. Tetapi ini terjadi sampai 4-5 kali. Apa kata dunia? (1)

Terus terang, terjadinya segregasi keanggotaan di PWI Sulsel bermula ketika Zulkifli Gani Ottoh memasuki periode kedua (2010-2015) sebagai ketua.

Mereka yang berada di kubu yang berseberangan dengan dirinya menjadi orang yang “tidak disukai” di PWI.

Ketika dalam sambutan pembukaan Konferprov PWI Sulsel, Jumat silam itu, Zugito mengatakan, “Yang sudah (berlalu, red), sudahlah. Rangkul semua teman. Beri kesempatan anggota wartawan muda agar bisa bersatu.”

Saya salut karena setelah membuat PWI Sulsel ini terjebak dalam fragmentasi keanggotaan yang “like and dislike” dan “berantakan” seperti ini, Zugito akhirnya sadar. Sayangnya, ungkapan ini terjadi justru setelah “damage has been done”. Dan, rasanya akan terus berlangsung hingga usai kepemimpinan rezim ini.

Bung Ilham Bintang mencontohkan, datang pula pengaduan dari Soppeng. Ketua PWI Kabupaten Soppeng Rachmat memberitahukan, dia digeser (diksi bahasa digital: “diremoved”) sebagai Ketua PWI Soppeng oleh Ketua PWI Provinsi Sulsel. Padahal Rachmat dipilih dalam suatu pemilihan yang berlansung demokratis di Soppeng pada tahun 2017.

Pengangkatan Rahmat sebagai Ketua PWI Soppeng disahkan oleh SK Pengurus PWI Pusat. Bagaimana bisa sebuah SK PWI Pusat diabaikan dan dikalahkan begitu saja oleh keputusan PWI Sulsel? Apa kata dunia? (2).

PWI Sulsel mengganti Rachmat dengan ketua baru, Agus Wittiri, tanpa menerima SK pemberhentian. 

Yang menggantikannya dikenal sebagai pengurus PAN (Partai Amanat Nasional, red) Soppeng. Belakangan setelah diprotes, PWI Sulsel meralat keputusannya itu. Tanpa memberhentikan Agus Wiitri, SK PWI Sulsel kemudian mengangkat seorang pengurus PWI di Sulsel menjadi koordinator di Soppeng.

“Sekarang, di PWI Soppeng ada tiga ketuanya Pak,“ sindir Rachmat. Apa kata dunia? (3)

Begitulah karut-marut organisasi di PWI Sulsel saat ini. Pada saat acara pembukaan Konferprov Jumat itu, kok tidak ada protokol acara (MC). Yang jadi protokol atau MC justru moderator yang memandu acara. Sambutan atau laporan Ketua PWI Sulsel juga tidak ada. Setidak-tidaknya dia harus bersuara untuk menyapa peserta Konferprov sebagai penanggung jawab pemilik hajat lima tahunan itu. Sambutan malah tunggal saja dibawakan oleh Ketua Bidang Organisasi PWI Pusat, Zulkifli Gani Ottoh (Zugito).

Lalu pada hari ketiga Konferprov, 31 Januari 2021, yang saya tidak hadiri karena tidak ingin menjadi bagian dari “damage” ini. Saya kembali mengikuti secara zoom saja untuk mengetahui seberapa konyolnya dagelan demokrasi ini akan diputar lagi.

Inilah pertama kali selama 38 tahun menjadi anggota PWI, saya absen menghadiri yang namanya Konfercab / Konferprov. Saya hanya takut menjadi bagian dari sejarah kerusakan ini sendiri yang kelak boleh saja saya yang tulis sendiri.

Begitu Agus Salim Alwi Hamu terpilih secara aklamasi karena calon lain, Nurhayana Kamar, memilih meninggalkan arena Konferprov, pimpinan sidang ditangani Ketua SC Faisal Syam.

Saya tidak tahu apakah SC harus memimpin sidang dan tidak ada lagi orang lain yang mampu melakukan pekerjaan ini? Saya tidak tahu, tetapi daripada repot-repot, rambu-rambu dan kelaziman berorganisasi dan bersidang sah-sah saja diabaikan dan dilanggar. Padahal, SC itu tidak terlibat lagi dalam memimpin sidang pasca-pemilihan, sebab setelah SC menyampaikan tata tertib Konferprov, urusannya sudah selesai.

Dari awal harus dipilih oleh peserta Konferprov. Namun harap dimaklumi, peserta Konferprov yang sudah tidak lagi heterogen, semuanya bisa berjalan dianggap normal-normal saja.

Ketua PWI Pusat Atal S Depari tampil memberi sambutan. Intinya, Atal bisa tidur nyenyak karena proses berdemokrasi berjalan lancar. Saya tidak tahu parameter yang digunakan. Apakah ketika ada yang “walk out” karena menganggap Konferprov tidak taat asas itu juga termasuk indikator berdemokrasi yang baik.

Apakah pelanggaran demi pelanggaran yang dilakukan PWI Sulsel seperti diungkapkan Zugito itu merupakan bagian demokrasi yang baik. Jika ya, demokrasi memang bagaikan dua sisi mata uang. Tergantung siapa yang menunggangi demokrasi dan siapa yang ditunggangi.  

Giliran berikutnya, Ketua PWI Sulsel terpilih. Saya sudah siap merekam apa yang akan disampaikan petahana ini. Alih-alih memberikan sambutan, Agus justru mengundang Zugito untuk tampil ke depan di tengah dia kebingungan mencari kata dan kalimat yang hendak diungkapkan merayakan kemenangan tanpa tanding itu.

Ya, begitulah potret suasana Konferprov PWI Sulsel yang saya ikuti melalui pemanfaatan teknologi, yang tentu saja tidak dapat dimanipulasi terhadap apa yang terjadi sesuai yang kasatmata. Tentu saja yang tidak kasatmata adalah itu tadi, bagaimana digitalisasi dipolitisasi.

Setiap periode suksesi pemilihan Ketua PWI Sulsel memiliki dan mewariskan trik tersendiri untuk melanggengkan kekuasaan.

Saya mengikuti dengan cermat tiga kali pemilihan (termasuk yang sekarang meskipun melalui zoom). Yang paling parah justru yang terakhir. Pasalnya, pemilihan ini – sebagaimana diakui Zugito terjadinya 4-5 kali pelanggaran -- berlumuran dengan cacat dan luka organisasi yang menganga.  Alamaak... (*)



Seandainya orang-orang mengetahui pahala adzan dan barisan (shaf) pertama, lalu mereka tidak akan memperolehnya kecuali dengan ikut undian, niscaya mereka akan berundi. (Foto: Asnawin Aminuddin)


-----

PEDOMAN KARYA

Senin, 01 Februari 2021


KALAM



Seandainya Orang-orang Tahu Pahala Mensegerakan Shalat



Dari Abu Hurairah, Rasulullahsaw ⁸ bersabda, "Seandainya orang-orang mengetahui pahala adzan dan barisan (shaf) pertama, lalu mereka tidak akan memperolehnya kecuali dengan ikut undian, niscaya mereka akan berundi.

Dan seandainya mereka mengetahui pahala menyegerakan shalat pada awal waktu, niscaya mereka akan berlomba-lomba melaksanakannya.

Dan seandainya mereka mengetahui pahala shalat isya dan subuh, niscaya mereka akan mendatanginya meskipun dengan jalan merangkak.” (HR Bukhari)



"Nabilang, wartawan itu orang yang secara teratur melaksanakan kegiatan jurnalistik," jawab Daeng Nappa'. (Foto: Asnawin Aminuddin / PEDOMAN KARYA)


-----

PEDOMAN KARYA

Ahad, 31 Januari 2021


Obrolan Daeng Tompo' dan Daeng Nappa':



Apa dan Siapakah Itu Wartawan?



"Tadi siang saya diajak seorang teman wartawan ke sebuah hotel untuk ngopi, ternyata di sana ada konferensi pemilihan ketua pengurus sebuah organisasi wartawan," tutur Daeng Nappa' kepada Daeng Tompo' saat jalan bersama keluar dari masjid seusai shalat isya berjamaah.

"Jadi apa-apaimi itu kita obrolkan?" tanya Daeng Tompo'.

"Saya tanya, apa dan siapakah itu wartawan?" ungkap Daeng Tompo'.

"Jadi apa nabilang temanta'?" tanya Daeng Tompo'.

"Nabilang, wartawan itu orang yang secara teratur melaksanakan kegiatan jurnalistik," jawab Daeng Nappa'.

"Apa itu kegiatan jurnalistik?" tanya Daeng Tompo'.

"Saya juga tanya begitu, dia bilang, kegiatan jurnalistik itu kegiatan mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi melalui media massa," tutur Daeng Nappa'.

"Oh, artinya wartawan itu orang yang secara rutin menulis berita," kata Daeng Tompo'.

"Begitulah kira-kira," kata Daeng Nappa' sambil tersenyum

"Bagaimana kalau dia tidak pernah bikin berita? Bagaimana kalau dia tidak pernah meliput berita di lapangan? Bagaimana kalau ada orang yang mengaku wartawan, punya kartu pers dari perusahaan pers, punya kartu tanda anggota dari organisasi profesi wartawan, tapi kita tidak pernah atau jarang baca karya-karya jurnalistiknya?" tanya Daeng Tompo'.

""Deh, banyakna itu pertanyaanta'. Nantipi kukasi' ketemuki' sama temanku', tanya'maki' langsung sama dia nanti," kata Daeng Nappa' masih sambil tersenyum. (asnawin)

-----

Ahad, 31 Januari 2021