Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

Penulis, M Dahlan Abubakar (kiri) foto bersama Ketua PWI Pusat, Atal S Depari.

 

 

 

 

 

 

 

------

PEDOMAN KARYA

Ahad, 14 Februari 2021

 

 

Menyalahgunakan Profesi Wartawan – Sebuah Analisis Berita Bermasalah

 

 

Oleh: M Dahlan Abubakar

(Tokoh Pers versi Dewan Pers)

 

Tulisan panjang saya berkaitan dengan kasus penangkapan salah seorang wartawan dalam kasus pemberitaan yang menyorot Pemerintah Kabupaten Enrekang berjudul “Ironi Hari Pers Nasional 2021”, ternyata mendapat banyak perhatian.

Ketika menulis catatan tersebut, saya mencoba mencari berita yang membuat wartawan itu dibekuk polisi. Syukur dan terima kasih kepada rekan Asnawin Aminuddin yang kemudian mampu memenuhi keinginan saya membaca berita yang “bermasalah” tersebut.

Saya nekat mencari berita tersebut, selain atas dorongan Bang Ilham Bintang selaku Ketua Dewan Kehormatan PWI Pusat, juga ingin “membedah”-nya. Apa dan bagaimana berita itu hingga bermasalah. 

Judul beritanya “Pemda Enrekang alami Defisit Anggaran Rp 78 M, Pemuda: Anggaran Covid-19 Dikorupsi, Honor Tenaga Medis Selama 6 bulan Tidak Terbayarkan.”

Judul berita ini jika dibedah dengan catatan analisis wacana kritis, sangat bombastis. Frasa “Anggaran Covid-19 Dikorupsi” merupakan bentuk “trial by the press”, vonis oleh pers. Kekuatan judul berita ini bagaikan palu godam dibandingkan batang tubuh berita itu sendiri.

Seperti saya tulis beberapa waktu lalu, bahasa bagi seorang wartawan merupakan senjata, sementara kata adalah pelurunya. Hati-hati menggunakan senjata dan melepaskan pelurunya. “Peluru” yang bernama “Dikorupsi” pada judul berita ini dapat mematikan seseorang dari sisi karakter dan secara psikologis maupun imej. Itu satu.

Kedua, berita yang diturunkan media X (saya tidak mau menyebut nama medianya) pada bagian awal merupakan “kloning” (maksudnya, diambil) dari media lain. Tidak ada pelanggaran etika jurnalistik dalam pemberitaan yang dikutip tersebut. Pada sisi ini berita dengan judul itu aman.

Ketiga, muncul nama seorang RWP yang mengatasnamakan dirinya sebagai pemerhati pemerintahan Kabupaten Enrekang. Sebagai pemerhati haknya berbicara dijamin oleh undang-undang. Di dalam komentarnya, sang pemerhati ini melontarkan dugaan yang intinya telah terjadi tindakan rusuah (korupsi) di lingkungan pemerintah daerah tersebut.

Menurut saya, terjadi opini berganda dengan adanya frasa “sekadar diketahui....”. Di dalam karya jurnalistik ada sejumlah diksi (pilihan kata), frasa (gabungan dua kata atau lebih yang bukan predikat, seperti “gunung tinggi, makan malam, dsbnya), dan klausa (satuan gramatikal yang mengandung predikat dan berpotensi menjadi kalimat) yang dapat dikategorikan sebagai opini sang wartawan.

Penggunaan diksi “memang, rupanya, agaknya” mencerminkan opini sang pembuat berita. Begitu pun dengan frasa “sekadar diketahui, dapat ditambahkan,” dan klausa “Sudah dapat diduga..” dikategorikan sebagai opini dari sang wartawan atau penulis berita.

Rincian unsur bahasa yang berbau opini di dalam karya jurnalistik mungkin jarang diberikan oleh para pelatih pendidikan pers, terkecuali membaca teori “critical discourse analysis” (analisis wacana kritis) dari beberapa penemu teori kebahasaan.

Dalam praktiknya, penggunaan diksi, frasa, dan klausa seperti yang saya sebutkan itu, memang sering dijumpai dalam karya jurnalistik. Tetapi, biasanya banyak ditemukan pada genre karya jurnalistik “feature” atau tajuk rencana.

Di dalam majalah yang menganut “style” penulisan bergenre “literary journalism” (jurnalisme sastra), penggunaan diksi, frasa, dan klausa seperti itu sah-sah saja karena tidak memiliki kecenderungan “mencederai” seseorang atau satu pihak.

Misalnya saja, “Agaknya dia kelelahan ketika saya tiba, sehingga pulas sampai larut malam”. Ini hanya diksi yang berfungsi sebagai deskripsi situasi agar tulisan itu sedikit “genit”. Ha..ha.. Maaf saya “out of context” (ke luar konteks). 

 

Menyalahgunakan Profesi Wartawan

 

Keempat, ternyata pemerhati pemerintahan yang bernama RWP itu juga merangkap sebagai wartawan. Akibatnya, dia tinggal bersalin “busana” agar berbeda, saat memberi komentar selaku pemerhati dan menulis berita dengan memakai baju jurnalis. Produknya, muncullah berita dengan judul yang saya komentari ini.

Jika merujuk pada Kode Etik Jurnalistik (KEJ), tindakan RWP melanggar pasal 4 yang berbunyi “Wartawan tidak menyalahgunakan profesinya dan tidak menerima imbalan untuk menyiarkan dan tidak menyiarkan karya jurnalistik yang dapat menguntungkan atau merugikan seseorang atau sesuatu pihak.”

Yang bersangkutan menyalahgunakan profesinya dengan memanfaatkan predikatnya sebagai pemerhati dalam melaksanakan dan menghasilkan karya jurnalistik. Sama halnya dengan banyak oknum yang merangkap sebagai anggota lembaga swadaya masyarakat (LSM) tetapi juga sebagai wartawan. Dua predikat ini “saling bersinergi.” 

Dia juga melabrak pasal 9 yang berbunyi,”Wartawan menempuh cara yang profesional, sopan dan terhormat untuk memperoleh bahan karya jurnalistik dan selalu menyatakan identitasnya kepada sumber berita, kecuali dalam peliputan yang bersifat investigatif.”

Konteksnya cukup jelas, karena yang bersangkutan memanfaatkan komentarnya selaku pemerhati sebagai bahan berita. Jadi, kita dapat bayangkan, pemerhati, wartawan, dan pembuat berita menyatu dalam satu sosok.

Kelima, semua tuduhan yang dikomentari sang pemerhati, tidak segera dikonfirmasi lagi ketika dia sudah berubah predikat sebagai wartawan hingga berita ini muncul di media daring.

Ini jelas-jelas pelanggaran KEJ tentang kewajiban wartawan membuat berita berimbang. Padahal, berkaitan dengan seluruh komentarnya harus dikonfirmasi lagi kepada para pihak yang disebutkan itu untuk memperoleh informasi penyeimbang.

Jika kita berbicara berita yang berimbang, tidak saja berkaitan dengan peliputan kedua sisi (both side coverage) atau konfirmasi, tetapi juga harus memenuhi parameter ruang dan waktu.

Indikator keberimbangan dari segi ruang ini berlaku pada media cetak dan daring. Tolok ukurnya di media cetak dan media daring, ruang yang disediakan untuk masing-masing pihak harus seimbang jumlah dari sisi “space” (maksudnya, tempat atau kolom dan panjang berita), sehingga dari ukuran apa pun tidak ada yang keberatan dan merasa tidak adil.

Untuk media audio visual (elektronik) “ditakar” dari segi durasi, lama waktu siar yang disediakan bagi para pihak. Mereka harus memperoleh lama waktu siar yang sama, sehingga dianggap cukup adil.

Ada lagi keberimbangan dari aspek penggunaan bahasa. Keberpihakan seorang wartawan dapat diselisik (bukan ditelisik), disingkap dari sisi diksi, frasa, dan klausa yang dipilihkan atau digunakan untuk menarasikan atau membahasakan pernyataan-pernyataan para pihak.

Saya selalu meng-sekak seorang wartawan yang bertanya kepada saya tetapi bernada dan mengindikasikan kurang nyaman. Dalam teknik wawancara diajarkan, ciptakan suasana nyaman dan menyenangkan dengan nara sumber. Jangan membuat narasumber berada di bawah tekanan, jangan mendebat narasumber, dan lain-lain.

Ilmu jurnalistik seperti ini saya harus sampaikan agar ada amunisi ilmu pengetahuan dan wawasan baru sebagai modal dalam kerja-kerja jurnalistik kita. Yang menjadi masalah adalah tidak tersedia forum yang terencana dan teragenda untuk membagikan wawasan seperti ini. Organisasi profesi kita mestinya menjadi fasilitator untuk kegiatan seperti ini.  

Orang yang menggeluti jurnalistik secara teori dan praktik, serta meneliti penggunaan bahasa media berkaitan dengan keberpihakan media dalam pemberitaan, disarankan kepada agar menghindari praktik kerja jurnalistik seperti yang saya “bedah” ini.

Cara ini justru menjerumuskan penyalahgunaan profesi wartawan berkedok sebagai satu predikat yang lain. Modus pemberitaan seperti ini berbeda dengan “menyamarkan” diri sebagai wartawan ketika peliputan investigasi.

Ya, saya kira cukup jelas. Silakan orang berkomentar dengan mencoba bersifat empati. Wartawan Y memosisikan diri menjadi bupati Z. Dan, bupati Z menjadi wartawan Y. Terasa kan? Sakitnya di sini..Tetap jaga kesehatan. Wassalam.  (*)

-----------

Keterangan:

M Dahlan Abubakar adalah mantan Pemimpin Redaksi Harian Pedoman Rakyat, mantan Kepala Humas Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, dan penulis buku, dan pengajar jurnalistik pada berbagai perguruan tinggi di Makassar.

 

 





PEDOMAN KARYA

Sabtu, 13 Februari 2021


Obrolan Daeng Tompo' dan Daeng Nappa':



Pak Desa Tiba-tiba Minta Dirinya Dikritik



"Kita dengarmi informasi tentang Pak Desa?" tanya Daeng Nappa' kepada Daeng Tompo' saat ngopi sore di warkop terminal.

"Kenapai Pak Desa?" Daeng Tompo' balik bertanya.

"Pak Desa tiba-tiba minta dirinya dikritik," ungkap Daeng Nappa'.

"Pasti ada seng maksud na itu," kata Daeng Tompo'.

"Maksud bagaimana tawwa?" tanya Daeng Nappa'.

"Selama ini kan banyakmi orang dilaporkan ke polisi gara-gara mengeritik Pak Desa, adami juga yang dipenjara. Jadi kalau sekarang dia minta dirinya dikritik, berarti ada maksudna itu," kata Daeng Tompo'.

"Kira-kira apa maksud na?" tanya Daeng Nappa'.

"Pertama, mungkin untuk pencitraan, mau dibilang dia terbuka dan siap menerima kritikan," kata Daeng Tompo'.

"Kedua?" potong Daeng Nappa'.

"Kedua, dia mau tau siapa-siapa orang yang berseberangan sama dia atau siapa-siapa lawan politikna," jawab Daeng Tompo'.

"Jadi menurut kita', tidak murni itu pernyataanna minta dikritik?" tanya Daeng Nappa'.

"Pastimi tidak murni, karena selama ini saja tidak bagus memangmi hubunganna dengan tokoh-tokoh masyarakat, tokoh pemuda, dan tokoh agama, bahkan masyarakat juga banyak yang tidak senang sama dia, eh tiba-tiba dia minta dirinya dikritik. Ada apa?" tutur Daeng Tompo'.

"Kalau kita' jadi kepala desa, siapjaki' juga dikritik?" tanya Daeng Nappa' sambil tersenyum.

"Aih, tidak mauja' saya jadi kepala desa, kita'mo, majumaki' nanti di Pilkades, nanti saya jadi tim suksesta'," kata Daeng Tompo' sambil tertawa dan keduanya pun tertawa-tawa. (asnawin)

....

Makassar, 13 Februari 2021

 

“Anakku Datu Museng…. Maggauka dan permaisuri mengutus kami datang kepadamu sebagai pengganti beliau berkunjung kemari. Beliau berharap sangat, sudilah anakku berkunjung ke istana untuk menutupi malu dan meletakkan kepala kedua ayah budanmu di atas bahunya, supaya adikmu Maipa pulih dari sakitnya, sehat kembali seperti biasa.” (int)

 

 

-----

PEDOMAN KARYA

Sabtu, 13 Februari 2021

 

 

Datu Museng dan Maipa Deapati (9):

 

 

Sultan Sumbawa Kirim Utusan ke Rumah Datu Museng

 

 

Oleh: Verdy R. Baso

(Mantan Wartawan Harian Pedoman Rakyat)

 

 

Maggauka sangat terkejut dan gelisah ketika mengetahui hal itu. Apa yang akan diperbuatnya? Kedua suami istri itu pun berunding mencari jalan keluar, agar keadaan jadi baik. Keduanya mencoba menarik rambut dari dalam tepung, tepung jangan sampai terserak dan rambut pun tak putus. Maipa dapat tertolong dan Datu Museng pun tak berkecil hati.

Permaisuri mengeluarkan pendapat yang telah diputuskannya ketika masih berada di dalam bilik putrinya. Dan Maggauka ternyata menyetujuinya.

Pada saat itu juga disuruh panggil penghulu adat dan orang-orang besar pemerintahan menghadap ke istana. Ketika semua telah lengkap hadir, disampaikanlah kejadian yang menimpa Maipa.

Maggauka meminta pendapat seluruh anggota adat. Lalu terjadilah tukar pikiran.yang menghasilkan satu pendapat dan dianggap cukup matang, yaitu dikirim utusan ke rumah Datu Museng dikepalai oleh gelarang, ketua adat.

Utusan ini bertugas memohon kepada pemuda itu agar sudi datang meringankan kaki ke istana untuk menghapus malu dan meletakkan kepala Maggauka di atas bahunya kembali. Dan sebagai pelunak hati, dibekali utusan ini beberapa pesan penting kepada Datu Museng. Sesudah berjanji akan menjalankan perintah, mereka pun mengundurkan diri.

Adapun ketika raga yang disepak Datu Museng melambung tinggi dan jatuh di wuwungan istana, gelanggang pun bubar. Penonton di jendela sudah ribut dan berlarian mengejar sang raga. Sedangkan bola rotan itu, tidak muncul-muncul lagi.

Datu Museng lalu pulang ke rumah bersama kakeknya. Niatnya telah terlaksana, maksud telah tercapai.

Esok harinya, gelarang bersama rombongan utusan, datang ke rumah Datu Museng. Mereka mendapatkan pemuda itu sedang duduk di tiang tengah rumah, menghadapi murid-murid yang sedang mengaji.

Ketika Datu Museng mengetahui ada tamu yang datang, ia pun menyuruh murid-muridnya berhenti mengaji. Lalu pulang ke rumah masing-masing.

Setelah perutusan Maggauka duduk di hadapan Datu Museng, gelarang pun menyampaikan harapan Sultan Sumbawa dan permaisuri.

“Anakku Datu Museng…. Maggauka dan permaisuri mengutus kami datang kepadamu sebagai pengganti beliau berkunjung kemari. Beliau berharap sangat, sudilah anakku berkunjung ke istana untuk menutupi malu dan meletakkan kepala kedua ayah budanmu di atas bahunya, supaya adikmu Maipa pulih dari sakitnya, sehat kembali seperti biasa. Karena perkawinannya sudah dekat benar dengan tunangannya Pangeran Mangngalasa. Beliau berharap anakku meringankan langkah ke sana. Dan ayahandamu Maggauka minta pula anakku memilih gadis lain dari adikmu Maipa. Annaku tak usah khawatir, Maggauka akan senang hati mengurusnya.”

Gelarang berhenti sejenak dan melirik Datu Museng. Ketika di wajah anak muda yang menunduk itu tak terbaca suatu reaksi, ia pun melanjutkan, “Anggaplah Maipa sebagai adik kandungmu, dan malunya adalah malumu pula, serta malu ayahanda Maggauka. Kuharap anakku sudi datang berkunjung ke istana, karena tidak ada orang lain yang dapat memperbaiki keadaan Maipa selain kau. Apa bicaramu, anakku?”

Datu Museng memperbaiki duduk. Lalu ia menukas, “Tuanku gelarang dan pembesar-pembesar yang ada. Hamba memohon dimaafkan karena tak dapat berkunjung ke istana yang tak layak bagi manusia macam hamba ini. Apalagi untuk menaiki tangga berjenjang empat puluh  itu. Hamba takut durhaka sebab turunan hamba belum pernah menginjaknya. Hamba hanya manusia kecil yang hina dina. Sampaikanlah kepada tuanku Maggauka, bahwa hamba tak mungkin menginjak istananya, takut durhaka karena melanggar kebiasaan adat. Bukankah hamba hanya manusia yang berdarah campuran, tak tulen seperti tuanku Maggauka?”

“Tapi bukan itu maksud Maggauka, anakku. Bagi beliau tak ada perbedaan dengan anak muda bangsawan lainnya. Jangan anakku berkecil hati disebabkan Maipa sudah dijodohkan dengan orang lain. Jangan, anakku! Pikirlah baik-baik. Timbanglah masak-masak, karena Maggauka ingin agar kedua belah pihak tidak kecewa dan beliau tidak hilang muka!” tutur gelarang.

“Ah, hamba masih segan mengunjungi istana, tuanku gelarang! Hati hamba melarang!” kata Datu Museng.

“Jangan diperturutkan kata hati itu, anakku,” desak gelarang.

“Baiklah, hamba pikir-pikir dulu. Pulanglah tuanku dulu. Sampaikan pada Maggauka bahwa hamba masih bimbang,” ujar Datu Museng.

“Jika demikian katamu, baiklah. Tapi harap anakku jangan bimbang, tetapkanlah hati mengambil keputusan,” kata gelarang.

Utusan pun meminta diri. Mereka kembali ke istana, menyampaikan hasil kunjungannya. (bersambung)

------

Kisah sebelumnya:

Datu Museng dan Maipa Deapati (8): Bola Raga Menyelinap Masuk ke Kain Maipa Deapati

Datu Museng dan Maipa Deapati (7): Senyum Datu Museng Membakar Piala Hati Maipa 

Datu Museng dan Maipa Deapati (6): Datu Museng Dipermalukan, Kakek Adearangang Cabut Pedang Lidah Buaya 



 

“Bupati, walikota, dan gubernur harus hati-hati sebelum melaporkan media atau wartawan terkait pemberitaan. Wartawan juga harus hati-hati sebelum memberitakan sesuatu yang sifatnya kontrol sosial.” 

- Asnawin Aminuddin -

(Wartawan Senior)

 

 

 

 

-------

Sabtu, 13 Februari 2021

 

 

Bupati dan Wartawan Harus Hati-hati, Polisi Jangan Abaikan MoU dengan Dewan Pers

 

 

MAKASSAR, (PEDOMAN KARYA). Bupati, walikota, dan gubernur diharapkan tidak terlalu sensitif terhadap pemberitaan yang sifatnya kontrol sosial di media massa. Sebaliknya, wartawan juga jangan terlalu mudah menyoroti bupati, walikota, dan gubernur tanpa memiliki bukti material yang dapat dipertanggung-jawabkan.

Di sisi lain, apabila menerima laporan masyarakat, termasuk dari bupati, walikota, dan gubernur terkait adanya dugaan tindak pidana di bidang pers, polisi harus terlebih dahulu melakukan penyelidikan dan hasilnya dikoordinasikan dengan Dewan Pers untuk menyimpulkan perbuatan tersebut adalah tindak pidana atau pelanggaran Kode Etik Jurnalistik.

“Bupati, walikota, dan gubernur harus hati-hati sebelum melaporkan media atau wartawan terkait pemberitaan. Wartawan juga harus hati-hati sebelum memberitakan sesuatu yang sifatnya kontrol sosial,” kata wartawan senior, Asnawin Aminuddin, kepada wartawan di Makassar, Sabtu, 13 Februari 2021.

Di sisi lain, lanjutnya, polisi jangan mengabaikan MoU atau nota kesepahaman antara Polri dengan Dewan Pers, serta Mou antara Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) dengan Dewan Pers.

Peringatan tersebut disampaikan Asnawin terkait penangkapan seorang wartawan oleh Polres Enrekang, atas laporan Bupati Enrekang, Muslimin Bando, dengan tuduhan pencemaran nama baik.

“Ingat, bupati itu bukan orang suci. Seorang bupati bisa saja melakukan kesalahan, jadi tidak ada masalah jika wartawan melakukan salah satu fungsi pers yakni kontrol sosial, Tapi wartawan juga jangan langsung memberitakan sebelum memiliki bukti material dan sebelum melakukan konfirmasi, sebagai bagian dari pelaksanaan Kode Etik Jurnalistik, yakni profesionalisme serta pemberitaan yang akurat,” tutur Asnawin.

 

Nota Kesepahaman

 

Dewan Pers dan Polri, katanya, telah menandatangani perjanjian nota kesepahaman atau MoU, dengan Nomor: 2/DP/MoU/II/2017, dan Nomor: B/15/II/2017, tentang Koordinasi dalam Perlindungan Kemerdekaan Pers dan Penegakan Hukum Terkait Penyalahgunaan Profesi Wartawan.

“Nota kesepahaman tersebut ditandatangani Ketua Dewan Pers Yosep Adi Prasetyo, dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian, pada 09 Februari 2017, di Ambon, Maluku,” sebut Asnawin yang pemegang sertifikati pelatih nasional wartawan PWI dan juga pengajar jurnalistik pada beberapa perguruan tinggi di Makassar.

Selain itu, katanya, Dewan Pers dan Kompolnas juga sudah menandatangani Nota Kesepahaman dengan Nomor: NK-7/KOMPOLNAS/02/2021, dan Nomor: 01/DP/MoU/2021, tentang Kerjasama dalam Rangka Pemberdayaan dan Optimalisasi Kompolnas dengan Dewan Pers.

Nota kesepahaman ini baru saja ditandatangani oleh Ketua Kompolnas Moh Mahfud MD, dan Ketua Dewan Pers Mohammad Nuh, pada Rabu, 03 Februari 2021, di Jakarta.

“Dengan adanya dua nota kesepahaman ini, maka masyarakat, termasuk bupati, walikota, dan gubernur, serta pihak kepolisian seharusnya tidak langsung menggunakan UU ITE dan undang-undang pidana jika menyangkut pemberitaan di media massa,” kata Asnawin. (jar)




PEDOMAN KARYA

Jumat, 12 Februari 2021

 

 

Datu Museng dan Maipa Deapati (8):

 

 

Bola Raga Menyelinap Masuk ke Kain Maipa Deapati

 

 

Oleh: Verdy R. Baso

(Mantan Wartawan Harian Pedoman Rakyat)

 

 

Ketika Maipa sedang karam di dalam air mata, di bawah, di pekarangan istana, pemuda-pemuda asyik bermain raga sambil melayangkan pandangan ke jendela, ke gadis-gadis yang sedang asyik menonton. Kaki mereka menyepak raga, sambil diiringi senyum simpul.

Datu Museng ketika mengetahui Maipa tak berada di tempatnya lagi, hatinya menjadi rusuh. Mengapa gerangan? Ketika ia sedang berpikir, raga melayang ke arahnya.

“Saatnya telah tiba,” pikirnya.

Ia pun menyambut bola rotan itu, dipermain-mainkannya dengan indah. Ia mengeluarkan seluruh kepandaiannya, hingga penonton, lebih-lebih dara-dara di jendela, terpesona. Mereka kini kagum kepada pemuda tampan ini. Gadis-gadis ramai berbisik heran, dalam arti yang hampir sama. Mereka menyesal telah meneriaki Datu Museng tadi.

Ternyata pemuda itu seorang ahli yang menawan hati. Rupanya Datu sengaja melakukan kesalahan tadi, hanya untuk membuat gelanggang menjadi ramai dan gembira. Ah, betapa hebat pemuda itu. Dan alangkah malunya mereka.

Bola rotan itu kini masih dipermain-mainkannya. Mulut Datu komat-kamit. Gadis-gadis mulai menjerit-jerit tertahan, menahan kagum, mereka mengira, pemuda itu bermain sembari bergurau. Mereka tak tahu, Datu Museng sedang melakukan tujuan utamanya ke gelanggang ini.

Bila semua telinga yang hadir di situ dapat mendengar kata-kata yang keluar dari mulut komat-kamit itu, maka keadaan gembira itu tidak akan demikian jadinya. Mereka tak tahu, Datu Museng sedang memesan raga dengan kekuatan ilmunya.

“Oh… raga, kupesan kau agar jatuh di atas wuwungan atap istana Maggauka. Bertenggerlah di sana sebentar, kemudian turun dan pergi ke bilik Putri Maipa. Jika kau dikejar orang, larilah masuk ke dalam biliknya dan naik ke peraduannya. Kalau ada yang coba mengambilmu, kau masuklah ke dalam sarungnya. Semoga…!” kata Datu dalam komat-kamitnya.

Ketika Datu sedang memesan raga, bola rotan itu dipermainkannya dari kaki pindah ke tangan, dari tangan naik ke kepala, secara indah. Pangeran Mangngalasa jadi iri dan kesal dibuatnya. Ia merasa dipecundangi, diturunkan martabatnya oleh pemuda ini. Ia hampir gelap mata ketika berteriak lantang, “Datu Museng! Jangan merasa kau saja lelaki di sini. Berikan juga raga itu pada kami!”

Sebagai jawabannya, Datu Museng menyepak raga itu keras-keras, hingga melambung tinggi laksana burung terbang ke angkasa raya. Tambah ke atas, kian kecil, dan akhirnya lenyap dari pandangan. Lama baru raga itu kelihatan kembali turun dan jatuh tepat di atas wuwungan rumah Maggauka ditentang bilik Maipa Deapati. Disana, ia bertengger sebentar, kemudian jatuh lagi ke dalam istana, tepat di depan bilik sang putri.

Dayang-dayang berlari mengejar raga, tapi, bola rotan itu bergulir memasuki bilik dan naik ke pembaringan Maipa. Mereka berhenti mengejar. Takutnya pun timbul melihat raga aneh itu. Mereka kemudian berlari, mendapatkan ibu susu (yang memelihara, bukan ibu kandung) Putri Maipa menyampaikan hal itu.

Ibu susu tergopoh-gopoh memasuki bilik sang putri. Didapatkannya raga masih berada dekat Maipa. Ia pun mendekat dan memungutnya. Tapi, apa yang terjadi? Raga melompat naik ke dada Maipa. Sang ibu susu yang terkejut, masih mencoba memegangnya. Tapi bola itu menyelinap masuk ke kain Maipa. Lalu hilang masuk ke tubuhnya. Maipa kini terlentang, tak sadarkan diri

Ibu susu tercengang menyaksikan keajaiban itu. Ia terbirit-birit lari keluar, mendapatkan permaisuri. Dengan tersengal, ia menceritakan kejadian yang telah menimpa Maipa.

“Ai, kenapa putriku, kenapa?” teriak permaisuri cemas, ketika mendengar cerita itu.

Ia berdiri dari tempat duduknya, lalu berlari-lari kecil menuju bilik putrinya. Dipeganginya lengan Maipa, diraih ke dadanya, penuh haru. Dan diusap-usapnya kepala sang putri.

“Anakku, kenapa kau begini rupa, padahal teman-temanmu riang gembira menonton. Biasanya kaulah yang menjadi kepala mereka, kaulah utama di antaranya. Tapi sekarang, malah kau yang terbelakang. Oh putriku, penyakit apa yang menyerangmu?” tanya permaisuri.

Sesudah berkata-kata, permaisuri pun mengalihkan pandangan ke sang ibu susu. Lalu menanyakan asal usul sampai hal itu terjadi. Ibu susu menceritakan apa yang didengar dan disaksikannya. Yaitu sejak raga jatuh jatuh di atas wuwungan istana hingga berada di depan bilik Maipa. Dan kemudian masuk ke bilik, hingga akhirnya naik ke atas dada Maipa, dan terakhir kali terjadilah kejadian aneh itu. Permaisuri melongo, menggelengkan kepala mendengar kisah itu.

“Datu Museng? Datu Museng kah yang melakukan ini?” tanyanya dalam hati.

Wajah Datu Museng terbayang di hadapannya. Diukurnya pemuda itu dengan dirinya. Disbanding-bandingkannya dengan putrinya. Dinaikkannya di atas derajat pikirannya. Diukurnya kembali dengan tunangan Maipa,

Pangeran Mangngalasa. Datu Museng, I Mangngalasa. Siapakah yang harus dipilih antara keduanya? Sebagai baju yang dikenakan pada dirinya, ditimbang-timbang yang mana elok, yang mana buruk. Yang mana gagah, dan yang mana tidak. Lama juga ia menimbang-nimbang; barulah mendapatkan keputusan..

I Mangngalasa ibarat emas tiada teruji lagi baginya. Sedangkan Datu Museng sudah bercampur perak, darahnya tidak tulen lagi. Datu Museng boleh dibujuk, mencari perempuan lain. Disuruh memilih gadis teman Maipa yang berada di istana atau dimana saja, di negeri ini. Lagi pula Maipa sudah bertunangan. Cukup kuat alasan diberikan kepada Datu Museng supaya tak berkecil hati dan menerbitkan malu Maggauka di Sumbawa.

Setelah putus mufakat dalam hatinya, ia pun meninggalkan bilik. Lalu pergi mendapatkan Maggauka untuk memberitahu kejadian itu. (bersambung)

----

Kisah sebelumnya: 

 

Datu Museng dan Maipa Deapati (7): Senyum Datu Museng Membakar Piala Hati Maipa

Datu Museng Dipermalukan, Kakek Adearangang Cabut Pedang Lidah Buaya 

Maggauka di Sumbawa Mengadakan Gelanggang Permainan Sepakraga