Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita



BANGGA BER-IMM. Sebagai kader Muhammadiyah dan alumni IMM, saya tentu menginginkan anak-anak kami juga menjadi kader IMM dan sekaligus kader Muhammadiyah. Dan alhamdulillah tiga anak kami sudah menjadi kader IMM sekaligus kader Muhammadiyah.


-----

PEDOMAN KARYA

Ahad, 14 Maret 2021



Bangga Ber-IMM dan Ber-Muhammadiyah



Oleh: Asnawin Aminuddin

(Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi Muhammadiyah Sulsel)


Rumah orangtua kami di kampung hanya berjarak kurang lebih 150 meter dari Masjid Muhammadiyah, Bulukumba, dan jalanan di depan rumah orangtua kami tembus langsung ke pintu Masjid Muhammadiyah. Masjid itu akan langsung terlihat jika kami membuka pintu rumah bagian depan.

Meskipun dekat, saya tidak belajar pendidikan agama tambahan di Masjid Muhammadiyah, yang berada di lingkungan Appasarengnge. Saya justru belajar pendidikan agama tambahan di Masjid Babul Khaer, di Kampong Nipa, dan masjid ini adalah pusat kegiatan organisasi Nahdlatul Ulama (NU).

Saya belajar pendidikan agama pada sekolah sore di Masjid Babul Khaer. Pada pagi hari, saya tetap belajar di sekolah umum. Saya belajar di sekolah sore itu mulai sekitar tahun 1978, saat saya duduk di bangku kelas 4 SD Negeri 10 Ela-ela, sampai saya duduk di bangku kelas dua SMP Negeri 1 Bulukumba.

Cukup lama. Saya berhenti begitu saja pada sekolah sore itu tanpa pamit dan tanpa mendapatkan ijazah, karena waktu itu saya merasa sayalah santri terlama dan termasuk paling besar secara fisik, he..he..he..

Mungkin sekolah sore itulah yang menjadi rintisan Pondok Pesantren Babul Khaer Bulukumba yang kini memiliki gedung dan masjid yang cukup bagus di areal yang cukup luas di daerah Lembang, Kecamatan Ujungloe.

Saya kemudian lebih banyak belajar agama secara tidak langsung pada pengajian yang sering diadakan di Masjid Muhammadiyah. Penceramahnya lebih sering didatangkan dari Sinjai, khususnya para ustadz dari pesantren berafiliasi Muhammadiyah. Nama yang masih saya ingat antara lain Ustadz Sirajuddin (Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Sinjai) dan Ustadz Yahya. Ada juga seorang ustadz buta yang sangat bagus bila berceramah, tapi saya lupa namanya.

Pengajiannya tidak selalu diadakan di Masjid Muhammadiyah, kadang-kadang diadakan di rumah pengurus atau simpatisan Muhammadiyah, baik di dalam kota maupun di luar kota.

Setamat SMA (SMA Negeri 1 Bulukumba) tahun 1986, saya kuliah di IKIP Ujungpandang (sekarang Universitas Negeri Makassar), pada Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan disingkat FPOK (sekarang Fakultas Ilmu Keolahragaan, disingkat FIK).

Pada akhir Desember 1986 atau awal Januari 1987, saya mengikuti Latihan Kepemimpinan Tingkat Dasar (sekarang Darul Arqam Dasar, disingkat DAD) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) yang diadakan Komisariat Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS) IKIP Ujungpandang.

Saya bersama sekitar 30 orang mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi mengikuti training selama kurang lebih sepekan di Gedung Muhammadiyah Sulsel, Jl Gunung Lompobattang, Makassar. Gedung itu kini menjadi Gedung Pusat Dakwah Islam Pimpinan Daerah Muhammadiyah (Pusdim) Makassar.

Gedung itu dulu lebih akrab disebut Gedung Lombat (singkatan dari Lompobattang) oleh pengurus dan kader Muhammadiyah. 

Saya tidak ingat persis tahun berapa, tapi saya kebetulan ada di Gedung Lombat saat Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) diundang membawakan materi dan memberikan motivasi kepada kader-kader IMM.

Sertifikat LK Tingkat Dasar atau DAD IMM saya ditandatangani oleh Ketua PC IMM Kota Makassar Agung Wirawan, dan Sekretaris Chaeruddin Hakim. Instruktur yang saya ingat ketika itu antara lain Ardias Barah dan Lamir Dacing.

Pada pertengahan tahun 1987, saya mengikuti training Darul Arqam Menengah (DAM) IMM, di Gedung SMP Muhammadiyah 1 Makassar, Jl Maccini. Ada sekitar 20-an peserta DAM ketika itu, termasuk kalau tidak salah Jumiati Nur, Sulaiman Gosalam, dan Kurnia Makkawaru. Instruktur yang saya ingat ketika itu antara lain Syaiful Saleh dan Kamaruddin Moha.

Setelah itu, kami menjadi panitia DAM IMM yang diadakan di Benteng Ujungpandang atau Fort Rotterdam Makassar. 

Saat itulah saya mengenal Irwan Akib yang kemudian terpilih sebagai Ketua Pemuda Muhammadiyah Sulsel, terpilih jadi Rektor Unismuh Makassar, dan Sekretaris Muhammadiyah Sulsel.

Meskipun mengikuti pengkaderan mulai DAD sampai DAM, saya tidak pernah aktif sebagai pengurus IMM. Saya baru aktif "ber-Muhammadiyah" setelah menjadi wartawan Harian Pedoman Rakyat tahun 1993.

Saya aktif ber-Muhammadiyah tentu saja belum sebagai pengurus, melainkan aktif memberitakan kegiatan-kegiatan Muhammadiyah, amal usaha Muhammadiyah, dan organisasi otonom (Ortom) Muhammadiyah melalui Harian Pedoman Rakyat. Itu terjadi atas jasa almarhum Husni Yunus yang waktu itu menjabat Humas Unismuh dan Humas Muhammadiyah Sulsel.

Saya antara lain meliput Muktamar IMM di Kendari, kalau tidak salah tahun 1993 atau tahun 1994. Saya juga meliput Muktamar Muhammadiyah tahun 1995 di Aceh.

Pada Musywil Muhammadiyah Sulsel di Pinrang, barulah saya dimasukkan sebagai pengurus Muhammadiyah Sulsel.

Juga masuk pengurus Pemuda Muhammadiyah Sulsel di era kepemimpinan Irwan Akib dan Imran Hanafi.

Sebagai kader Muhammadiyah dan alumni IMM, saya tentu menginginkan anak-anak kami juga menjadi kader IMM dan sekaligus kader Muhammadiyah. Dan alhamdulillah tiga anak kami sudah menjadi kader IMM sekaligus kader Muhammadiyah, bahkan anak kedua kami sempat menjadi Ketua Pimpinan Komisariat IMM Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (Uhamka) Jakarta.

Tentu saja saya dan tiga anak kami yang sudah menjadi kader IMM, bangga ber-IMM, karena kami pernah mengikuti training atau pelatihan bersama orang-orang hebat di IMM, dan sekaligus menjadi kader organisasi besar bernama Muhammadiyah.

Selamat milad ke-57 IMM, 14 Maret 1964 - 14 Maret 2021.

....

Gowa, 14 Maret 2021

#TettaTompo

Sebanyak 60 kepala keluarga (KK) pengungsi korban banjir menerima bantuan dari Taruna Siaga Bencana (Tagana) Dinas Sosial Kabupaten Gowa, di Masjid Baiturrahman Perumahan Bumi Batara Mawang, Gowa, Rabu, 10 Maret 2021. (ist)
 





-------

Sabtu, 13 Maret 2021

 

                                                                          

Puluhan KK Korban Banjir Terima Bantuan dari Dinas Sosial Gowa

 

 

GOWA, (PEDOMAN KARYA). Sebanyak 60 kepala keluarga (KK) pengungsi korban banjir menerima bantuan dari Taruna Siaga Bencana (Tagana) Dinas Sosial Kabupaten Gowa, di Masjid Baiturrahman Perumahan Bumi Batara Mawang, Gowa, Rabu, 10 Maret 2021.

“Kami merahkan bantuan kepada 60 KK pengungsi banjir di Masjid Baiturrahman Perumahan Bumi Batara Mawang,” kata Kepala Seksi Jaminan Sosial Dinas Sosial Kabupaten Gowa, Sofyan, kepada wartawan.

Sofyan mengatakan, salah satu lokasi banjir yaitu di BTN Bumi Batara Mawang, Kelurahan Borongloe, Kecamatan Bontomarannu.

Ia menyebutkan bantuan yang diberikan berupa mie instant, beras, kornet kaleng, matras 5 lembar, makanan anak, air mineral, tenda terpal, tenda pengungsi, dan popok bayi.

Selain di BTN Bumi Batara Mawang, Sofyan menyebutkan penyaluran bantuan juga dilakukan di Kelurahan Tamarunang Perumahan Tamarunang Indah 1, Kecamatan Somba Opu.

“Kalau di sini tidak ada pengungsi, hanya sebagian warga yang terdampak banjir tidak bisa melakukan aktivitas masak-memasak di dalam rumah, sehingga Karang Taruna Tamarunang mendirikan dapur umum dan Dinas Sosial yang akan mensuplai bahan makanannya,”  kata Sofyan.

Dinas Sosial Kabupaten Gowa, katanya, terus menerus melakukan identifikasi terhadap masyarakat yang terkena dampak banjir akibat curah hujan yang tinggi di wilayah Kabupaten Gowa, termasuk di Masjid Nurul Jihad, Kelurahan Pacci’nongang, yakni sebanyak empat KK yang mengungsi. (ahr)

“Sakit kakikku, hu..hu..hu..,” kata bocah kecil bernama Amet sambil nangis.

“Jadi mauki’ apa, nak?” tanya mamanya sambil tersenyum.

“Mauka’ makan coto, hu..hu..hu..,” jawab Amet masih sambil nangis.

“Oh, jadi kalau sakit kakitta’, coto obatna?” tanya mamanya juga masih sambil tersenyum.

“Iye’, hu..hu..hu..,” jawab Amet. (int)

 


-----

PEDOMAN KARYA

Sabtu, 13 Maret 2021

 

Cerita Humor:

 

Sakit Kakikku’, Mauka’ Makan Coto

 

 

“Sakit kakikku, hu..hu..hu..,” kata bocah kecil bernama Amet sambil nangis.

“Jadi mauki’ apa, nak?” tanya mamanya sambil tersenyum.

“Mauka’ makan coto, hu..hu..hu..,” jawab Amet masih sambil nangis.

“Oh, jadi kalau sakit kakitta’, coto obatna?” tanya mamanya juga masih sambil tersenyum.

“Iye’, hu..hu..hu..,” jawab Amet.

“Tunggumi padeng pergi tetta ta’ belikanki’,” kata mamanya sambil tersenyum. (asnawin)

----

Sabtu, 13 Maret 2021

#TettaTompo



ISRA' MI'RAJ. Mahasiswa KKN/KKP Universitas Pancasakti (Unpacti) Makassar, foto bersama Kepala Desa Tino Hamzah HM, Ustadz Patonangi Dg Ngitung, dan pengurus Karang Taruna Desa Tino, foto bersama seusai acara isra' mi'raj, di Masjid Nurul Hidayah, Desa Tino, Kecamatan Tarowang, Kabupaten Jeneponto, Jumat malam, 12 Maret 2021. (ist)


------

Sabtu, 13 Maret 2021



Mahasiswa KKN Unpacti Makassar Jadi MC Isra' Mi'raj di Desa Tino Jeneponto



JENEPONTO, (PEDOMAN KARYA). Miftahul Jannah, salah seorang mahasiswa KKN/KKP Universitas Pancasakti (Unpacti) Makassar, bertindak sebagai Master of Ceremony (MC) pada acara peringatan isra' mi'raj, di Masjid Nurul Hidayah, Desa Tino, Kecamatan Tarowang, Kabupaten Jeneponto, Jumat malam, 12 Maret 2021.

Peringatan isra' mi'raj dihadiri Kepala Desa Tino Hamzah HM, pengurus Karang Taruna Desa Tino, dan seratusan jamaah. Ceramah hikmah isra' mi'raj dibawakan oleh Ustadz Patonangi Dg Ngitung, yang juga Imam Masjid Nurul Hidayah.

"Hal utama dari perjalanan isra' mi'raj adalah perintah shalat, sehingga selaku insan beragama, kita patut saling mengingatkan," kata Ustadz Patonangi.

Dalam ceramahnya, dia juga menyinggung soal penangkapan oleg KPK terhadap Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah. 

"Nurdin Abdullah tidak mungkin menyalahgunakan uang negara, karena Pak Nurdin adalah orang baik dan tokoh yang terpandang, apalagi secara ekonomi, beliau sudah sukses serta pemimpin yang sukses dan masyarakat sulsel tahu akan itu," kata Ustadz Patonangi. 

Wakil Ketua Karang Taruna Desa Tino, Idil Mahendra, menyampaikan, inti dari peringatan isra' mi'raj  ialah mengenang kembali perjalanan Nabi Muhammad SAW menuju ke langit ketujuh dan bukan sebagai ajang seremonial yang dilaksanakan penuh hura-hura.

"Isra' mi'raj juga merupakan peristiwa penting untuk seluruh umat muslim di dunia pada umumnya dan pada khususnya untuk masyarakat Desa Tino, terutama bagi para pemuda agar dapat mengambil hikmah dari peristiwa tersebut untuk diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari," ujar Idil. 

----

Laporan: Sergius Agung (Mahasiswa KKN/KKP Unpacti Makassar)

Editor: Asnawin Aminuddin

ANTISIPASI BANJIR. Sejumlah fasilitas umum, pasar, drainase, dan kanal mulai dikeroyok dibersihkan oleh aparat lintas OPD dan dibantu warga setempat, bahkan alat berat milik pribadi Andi Utta (Bupati Bulukumba) juga turut digunakan untuk membersihkan kanal, Jumat, 12 Maret 2021. (ist)
 

 

 

 

------

Jumat, 12 Maret 2021

 

Bupati Bulukumba Tak Ingin Dibully, Lintas OPD Bergerak Bersihkan Kanal

 

 

BULUKUMBA, (PEDOMAN KARYA). Bupati Bulukumba Muchtar Ali Yusuf sudah menyatakan dirinya tidak ingin dipermalukan dan tidak ingin dibully soal banjir yang setiap tahun selalu melanda Bulukumba.

Pernyataan Andi Utta, sapaan akrab Muchtar Ali Yusuf, itu kemudian ditindaklanjut oleh lintas Organisasi Perangkat Daerah (OPD) lingkup Pemkab Bulukumba dengan aksi nyata dengan membersihkan sejumlah areal di pusat kota Bulukumba, Jumat, 12 Maret 2021.

Kepala Dinas Kominfo Bulukumba, Daud Kahal, mengatakan, sejumlah fasilitas umum, pasar, drainase, dan kanal mulai dikeroyok dibersihkan oleh aparat lintas OPD dan dibantu warga setempat.

“Alat berat yakni escavator milik pribadi Pak Andi Utta pun dikerahkan untuk melakukan pembersihan pada tempat-tempat yang dinilai sulit dilakukan dengan tenaga manusia,” kata Daud kepada wartawan di Bulukumba, Jumat, 12 Maret 2021.

Titik-titik lokasi yang dibersihkan antara lain saluran atau kanal di belakang Pasar Tradisional Cekkeng yang dipenuhi sampah dan pasir, serta sejumlah drainase dalam kota yang dipenuhi sampah.

Lintas OPD dimaksud yaitu Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Satpol PP dan Damkar, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta dari kecamatan dan kelurahan di Kecamatan Ujungbulu.

Bupati Bulukumba Muchtar Ali Yusuf dalam rapat bersama para pimpinan OPD, Selasa, 02 Maret 2021, mengatakan, dirinya tidak ingin dipermalukan dan tidak ingin dibully soal banjir yang setiap tahun selalu melanda Bulukumba.

“Jangan permalukan saya. Saya tidak mau dibully soal banjir di Bulukumba,” tegas Andi Utta.

Andi Utta kemudian membentuk Tim Pengendali Banjir yang dikoordinir oleh Kepala Dinas PSDA, serta Tim Kebersihan Terpadu yang dikoordinir oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan. (dar)

 

 

Daeng Nappa’ suka sekali makan nasi goreng. Saat pengantin baru, ia langsung memberitahu istrinya bahwa ia suka sekali makan nasi goreng. Maka sang istri pun setiap hari membuat nasi goreng untuk suaminya. Dan ternyata Daeng Nappa’ suka sekali nasi goreng buatan istrinya. Daeng Nappa’ merasa nasi goreng racikan istrinya adalah nasi goreng paling enak se-dunia. (int)

 

 

-------

PEDOMAN KARYA

Jumat, 12 Maret 2021

 

Cerita Humor

 

Nasi Goreng Hari Sumat

 

 

Daeng Nappa’ suka sekali makan nasi goreng. Saat pengantin baru, ia langsung memberitahu istrinya bahwa ia suka sekali makan nasi goreng.

Maka sang istri pun setiap hari membuat nasi goreng untuk suaminya. Dan ternyata Daeng Nappa’ suka sekali nasi goreng buatan istrinya. Daeng Nappa’ merasa nasi goreng racikan istrinya adalah nasi goreng paling enak se-dunia.

Namun karena istrinya bosan melihat suaminya makan nasi goreng setiap hari, maka ia pun membuat perjanjian dengan suaminya.

“Kita bikin perjanjian,” kata sang istri saat menemani Daeng Nappa’ sarapan nasi goreng pada hari Senin.

“Perjanjian apa?” tanya Daeng Nappa’.

“Mulai pekan ini, daeng hanya boleh makan nasi goreng pada hari yang diawali huruf S,” tandas sang istri.

“Maksudnya?” tanya Daeng Nappa’ sambil mengunyah nasi goreng racikan istrinya.

“Mulai pekan ini, daeng hanya bisa makan nasi goreng pada hari Senin, hari Selasa, dan hari Sabtu,” jelas istrinya.

“Ededeh, berarti tiga kalija’ satu minggu makan nasi goreng?” tanya Daeng Nappa’.

“Iye’,” jawab istrinya.

“Kalau itu mauta’, apa boleh buat,” kata Daeng Nappa’ mengalah.

Esoknya, hari Selasa, istrinya seperti biasa dan sesuai perjanjian membuat nasi goreng untuk Daeng Nappa’ dan Daeng Nappa’ pun menikmati makan nasi goreng buatan istrinya.

Hari Rabu, tidak ada nasi goreng. Daeng Nappa’ uring-uringan. Hari Kamis, tidak ada nasi goreng, Daeng Nappa’ makin uring-uringan.

Hari Jumat, Daeng Nappa’ sudah berada di dapur sesudah shalat subuh, ia membiarkan istrinya tertidur kembali setelah selesai shalat subuh.

Daeng Nappa’ berinisiatif membuat nasi goreng. Dulu, sebelum menikah, ia memang sering menggoreng nasi, tapi sejak menikah, istrinyalah yang membuat nasi goreng untuknya.

Setelah siap, ia pun duduk di meja makan. Selain nasi goreng, Om Ali juga membuat teh manis, dan menyiapkan segelas air putih hangat.

“Bismillah,” ucap Daeng Nappa’, kemudian mulai menyantap nasi goreng buatannya.

Baru beberapa suap, istrinya tiba-tiba sudah berada di belakangnya.

“Eh, kenapaki’ makan nasi goreng? Hari apakah ini?”tegur istrinya.

“Hari Sumat sayang,” jawab Daeng Nappa’ sambil tersenyum dan kemudian melanjutkan makannya. (asnawin)

 

Jumat, 12 Maret 2021

#TettaTompo

 


Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia  hanyalah permainan dan senda gurauan, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu, serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. (Foto: Asnawin Aminuddin / PEDOMAN KARYA)



-----

PEDOMAN KARYA

Jumat, 12 Maret 2021


KALAM



Kehidupan Dunia Hanyalah Kesenangan Palsu



"Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia  hanyalah permainan dan senda gurauan, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu, serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur.

Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah, serta keridaan-Nya.

Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu."

(QS 57 / Al-Hadid: Ayat 20)


BERSIH-BERSIH MASJID. Hari pertama berada di lokasi Kuliah Kerja Nyata (KKN) / Kuliah Kerja Profesi (KKP), di Kelurahan Togo-togo, Kecamatan Batang, Kabupaten Jeneponto, Kamis, 11 Maret 2021, mahasiswa Unpacti Makassar langsung melakukan kerja bakti bersih-bersih masjid, membersihkan saluran air, serta membersihkan sampah di halaman dan di dalam masjid di Lingkungan Cappong. (Foto: Andi Mappanganro)


 

 

 

 

 

-------

Jumat, 12 Maret 2021

 

 

Mahasiswa Non-muslim Unpacti Makassar Turut Kerja Bakti di Masjid Togo-togo Jeneponto

 

 

JENEPONTO, (PEDOMAN KARYA). Hari pertama berada di lokasi Kuliah Kerja Nyata (KKN) / Kuliah Kerja Profesi (KKP), di Kelurahan Togo-togo, Kecamatan Batang, Kabupaten Jeneponto, Kamis, 11 Maret 2021, mahasiswa Universitas Pancasakti (Unpacti) Makassar langsung melakukan kerja bakti.

Mereka bersama Kepala Lingkungan Cappong serta masyarakat setempat melaksanakan kerja bakti bersih-bersih masjid, membersihkan saluran air, membersihkan sampah di halaman dan di dalam masjid di Lingkungan Cappong.

“Kami ingin menunjukkan kepedulian dalam kerja bakti bersih-bersih masjid,” kata Maria E Delima (mahasiswa Fisipol) kepada wartawan via WhatsApp (WA), Kamis, 11 Maret 2021.

“Kami juga ingin menyampaikan pesan kepada warga masyarakat agar selalu menjaga toleransi antar-umat beragama, khususnya yang berada di Kabupaten Jeneponto,” timpal Yuliana Irma (mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat / FKM).

Andi Mappanganro (Fisipol), salah seorang mahasiswa KKN/KKP Posko I Kelurahan Togo-togo, menjelaskan, mereka berjumlah 10 orang yang ditempatkan ber-KKN/KKP di Kelurahan Togo-togo.

“Kami berjumlah sepuluh orang, dan dua orang teman kami kebetulan non-muslim. Pada hari pertama, kami sepakat melaksanakan kerja bakti bersih-bersih masjid di Lingkungan Cappong, dan dua orang teman kami yang non-muslim turut bekerja bakti membersihkan masjid,” kata Mappanganro.  

Mahasiswa Unpacti Makassar yang melaksanakan KKN/KKP di Kelurahan Togo-togo, Kecamatan Batang, Jeneponto, yaitu Muhajirin, A Afifah Fitrah Aulia, Afriliani (FMIPA), Yuliana Irma, Syahridal (FKM), Hestiani, Reliana Inda (FKIP), Andi Mappanganro, Maria E Delima, dan Haerul Ikhwan Amin (Fisipol). (AM)

MAHASISWA KKN. Delapan mahasiswa Unpacti Makassar foto bersama di Kantor Desa Tino, Kecamatan Tarowang, Kabupaten Jeneponto, Kamis, 11 Maret 2021. Dari kiri ke kanan, Nusarianto Tanga, Arbial Jamaluddin, Sri Wahyuni Alwi, Nurmiati, Miftahul Jannah, Sergius Agung, Ismail, dan Eugenius E Norvem. (ist)

 

 

 

--------

Kamis, 11 Maret 2021

 

 

Mahasiswa KKN Unpacti Makassar Survei Lokasi Desa Tino Jeneponto

 

 

JENEPONTO, (PEDOMAN KARYA). Mahasiswa KKN/KKP Universitas Pancasakti (Unpacti) Makassar yang tergabung dalam Posko XV Desa Tino, Kecamatan Tarowang, Kabupaten Jeneponto, Kamis, 11 Maret 2021.

“Yang menjadi sasaran dari survei ini adalah kantor desa, Puskesdes, Balai Holtikultura dan Batas Wilayah Desa. Kegiatan ini bertujuan melihat potensi desa, sehingga bisa menjadi patokan bagi mahasiswa KKN/KKP Posko XV dalam menentukan program kerja,” kata Koordinator Desa (Kordes) Mahasiswa  KKN Unpacti Makassar Desa Tino, Sergius Agung, kepada wartawan via WhatsApp (WA), Kamis, 11 Maret 2021.

Dia mengatakan, survey dilakukan selama satu hari bersama anggota Karang Taruna Desa Tino.

“Kami melakukan survei bersama anggota Karang Taruna Desa Tino,” kata Sergius.

Mahasiswa Unpacti Makassar yang melaksanakan KKN/KKP di Desa Tino berjumlah delapan orang, yaitu Sergius Agung, Eugenius E Norvem (Fisipol), Nurmiati, Miftahul Jannah, Sri Wahyuni Alwi, Arbial Jamaluddin (FMIPA), Ismail, dan Nusarianto Tanga (FKIP).

Dekan Fisipol, Drs Qamal MSi, secara terpisah mengatakan, mahasiswa KKN/KKP Unpacti Makassar diterima secara resmi oleh Bupati Jeneponto Iksan Iskandar di Kantor Bupati Jeneponto, Rabu, 10 Maret 2021.

“Mahasiswa Unpacti Makassar yang melaksanakan KKN dan KKP di Jeneponto berjumlah 160 orang, dan ditempatkan pada tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Tarowang, Kecamatan Arungkeke, dan Kecamatan Batang,” sebut Qamal. (SA)