Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

KARANG TARUNA. Hasbullah terpilih Ketua Karang Taruna Kecamatan Galesong Utara, Kabupaten Takalar Masa Bakti 2022-2027, dalam Temu Karya Karang Taruna (TKKT) Kecamatan Galesong Utara, di Aula Kantor Camat Galesong Utara, kamis, 30 Juni 2022. (ist)





-----

Sabtu, 02 Juli 2022

 

 

Hasbullah Terpilih Ketua Karang Taruna Galesong Utara Takalar

 


TAKALAR, (PEDOMAN KARYA). Hasbullah terpilih Ketua Karang Taruna Kecamatan Galesong Utara, Kabupaten Takalar Masa Bakti 2022-2027, dalam Temu Karya Karang Taruna (TKKT) Kecamatan Galesong Utara, di Aula Kantor Camat Galesong Utara, kamis, 30 Juni 2022.

Pada Temu Karya yang dibuka Camat Galesong Utara diwakili St Nuralisah J SPd, Hasbullah yang mewaliki Karang Taruna Desa Sampulungan, bersaing dengan Saharullah dari Kelurahan Bontolebang.

Pemilik suara yang masing-masing diwakili dari karang taruna desa yakni Desa Aeng Towa, Desa Tamasaju, Desa Bontolanra, Desa Bontokaddopepe, Desa Sampulungan, dan Kelurahan Bontolebang.

Setelah terpilih sebagai ketua, Hasbullah menyampaikan terima kasih kepada perwakilan karang taruna desa dan kelurahan atas amanah yang mereka berikan kepada dirinya sebagai Ketua Karang Taruna Kecamatan Galesong Utara lima tahun ke depan.

Sebagai ketua, katanya, ia akan berupaya menjalin komunikasi yang baik dengan para ketua karang taruna di setiap desa dan kelurahan,  dan seluruh anggota karang taruna, sehingga tercipta kerukunan diantara pemuda se-kecamatan Galesong Utara,” ucapnya.

“Kita akan menjalin komunikasi dan silaturrahim, serta berkolaborasi melakukan beberapa program kegiatan kepemudaan,” kata Hasbullah

Camat Galesong Utara, Ismail Sitaba, yang dihubungi terpisah lewat jaringan WhatsApp (WA), memberikan ucapan selamat kepada Hasbullah sebagai Ketua Karang Taruna Kecamatan Galesong Utara.

Temu Karya Karang Taruna, katanya, merupakan bagian terpenting dari agenda kepemudaan dan pengurus karang taruna harus selalu bersinergi berbagai pemerintah dan masyarakat, khususnya di wilayah Kecamatan Galesong Utara.

“Berbicara tentang berkarang taruna, saya kira banyak hal yang bisa dikerjakan anak muda yang bernaung di karang taruna, bisa lebih kreatif mengatur dan memajukan kepemudaan dan bisa lebih baik lagi. Bisa menjadi percontohan program yang mampu memajukan pemuda ke depan,” kata Ismail Sitaba. (Hasdar Sikki)


----

Baca juga:

Ibu-ibu, Pelajar, dan Pemuda Diikutkan Pelatihan di Kalabbirang Takalar

Kades Cakura dan Jajarannya Bahas Program Kerja Bersama Mahasiswa KKP Unpacti

PELATIHAN KEHUMASAN. KONI Kota Makassar mengadakan Pelatihan Kehumasan dan Pelatihan Pengisian Data Aplikasi KONI Makassar, di Hotel Whtree Premier, Jl Lagaligo, Makassar, Jumat dan Sabtu, 1-2 Juli 2022. (Foto: Asnawin Aminuddin / PEDOMAN KARYA)
 





-----

Jumat, 01 Juli 2022

 

 

Ketua PTMSI Salut KONI Makassar Gelar Pelatihan Kehumasan dan Pengisian Data

 


MAKASSAR, (PEDOMAN KARYA). Ketua Persatuan Tenis Meja Seluruh Indoneia (PTMSI) Kota Makasasr, Andi Akbar, mengaku salut kepada Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Makassar yang menyelenggarakan Pelatihan Kehumasan dan Pelatihan Pengisian Data Aplikasi KONI Makassar, di Hotel Whtree Premier, Jl Lagaligo, Makassar, Jumat dan Sabtu, 1-2 Juli 2022.

“Salut kepada Ketua KONI Kota Makassar, Pak Ahmad Susanto, yang baru beberapa bulan dilantik tapi sudah langsung melakukan banyak kegiatan, termasuk Pelatihan Kehumasan dan Pelatihan Pengisian Data Aplikasi KONI Makassar,” kata Andi Akbar, kepada wartawan di Makassar, Jumat, 01 Juli 2022.

Pada pelatihan ini, katanya, PTMSI Kota Makassar mengikutkan dua pengurus, yakni Suparman yang mengikuti Pelatihan Pengisian Data Aplikasi KONI Makassar, serta Asnawin yang mengikuti Pelatihan Kehumasan.

Andi Akbar mengatakan, pelatihan pengisian data aplikasi sangat penting diadakan untuk memudahkan KONI Kota Makassar membuat database atlet dan cabang olahraga.

“Saya sudah lama bicarakan dengan almarhum Pak Agar Jaya (mantan Ketua KONI Makassar) tentang pembuatan database atlet dan cabor di Kota Makassar, dan alhamdulillah, Pak Ahmad Susanto sudah langsung mengadakannya,” kata And Akbar.

Pelatihan Kehumasan dan Pelatihan Pengisian Data Aplikasi KONI Makassar dibuka langsung Ketua KONI Kota Makassar, Ahmad Susanto, dan dihadiri utusan dari 39 cabang olahraga yang terdaftar di KONI Kota Makassar. Pembukaan dihadiri sejumlah pengurus KONI Kota Makassar. (met)


Para pembahas Mahrus Andis, Muhammad Amir Jaya, dan Ishakim, dalam Diskusi Buku "Maharku: Pedang dan Kain Kafan", dan peserta antara lain Asia Ramli “Ram” Prapanca (akademisi, teaterawan, sutradara, sastrawan), Suradi Yasil (sastrawan asal Sulawesi Barat), Yudhistira Sukatanya (seniman, sastrawan, sutradara), Syahril Patakkai Daeng Nassa (sastrawan), Idwar Anwas (akademisi, sastrawan, penulis buku), dan Andi Ruhban (akademisi, sastrawan). 


 

-----

PEDOMAN KARYA

Jumat, 01 Juli 2022

 

 

Catatan dari Bedah Buku “Maharku: Pedang dan Kain Kafan” (4-habis):

 

 

“Maharku: Pedang dan Kain Kafan” Otobiografi Bergaya Sastra

 

 

Oleh: Asnawin Aminuddin

 

Rahman Rumaday bukanlah siapa-siapa dibandingkan Mahrus Andis, Muhammad Amir Jaya, dan Ishakim. Maman, sapaan akrab Rahman Rumaday, memang sudah menerbitkan tiga buku, tapi Maman sangat belum bisa dibandingkan dengan Mahrus Andis, Muhammad Amir Jaya, dan Ishakim yang sudah malang-melintang di jagat sastra, dan seni budaya, khususnya di Sulawesi Selatan.

Namun dengan rendah hati, ketiga tokoh seni sastra ini bersedia bahkan serius menyiapkan diri dan tampil menjadi pembahas buku “Maharku: Pedang dan Kain Kafan” karya Rahman Rumaday, yang diadakan Forum Sastra Indonesia (Fosait), di Kafebaca, Jl Adhyaksa, Makassar, Ahad, 26 Juni 2022.

Kerendahan hati juga ditunjukan sejumlah seniman, sastrawan, dan budayawan yang sudah punya nama di level regional dan level nasional untuk hadir dalam diskusi buku tersebut.

Mereka yang hadir antara lain Asia Ramli “Ram” Prapanca (akademisi, teaterawan, sutradara, sastrawan), Suradi Yasil (sastrawan asal Sulawesi Barat), Yudhistira Sukatanya (seniman, sastrawan, sutradara), Syahril Patakkai Daeng Nassa (sastrawan), Idwar Anwas (akademisi, sastrawan, penulis buku), dan Andi Ruhban (akademisi, sastrawan). 

Juga hadir Nurdin Dakka (penggiat literasi, peneliti budaya), serta wartawan senior Rusdy Embas dan Arwan Dg Awing.

Saking seriusnya, Mahrus Andis bahkan mengulas buku “Maharku: Pedang dan Kain Kafan” secara tertulis dan kemudian ia bacakan saat tampil sebagai pembahas bersama Muhammad Amir Jaya dan Ishakim dalam diskusi yang dimoderatori Anwar Nasyaruddin.

Dengan membuat ulasan secara tertulis, maka pembahasan yang disampaikan Mahrus Andis menjadi terstruktur dan runut, sehingga enak untuk dicerna. Dan satu lagi, pembahasannya terdokumentasi secara manual dan digital karena dibuat secara tertulis. Ulasannya ia beri judul “Antara Syariat dan Simbol Patriotisme Jihad Keluarga.”

Mahrus Andis juga membuat ulasan secara tertulis saat tampil sebagai pembahas dalam Diskusi Puisi “Pada Sebuah Reuni” Karya Aslan Abidin, di Kafebaca, Jl Adhyaksa Makassar, Sabtu, 15 Januari 2022. Ulasan tertulisnya ketika itu ia beri judul: “Pada Sebuah Reuni”, Puisi Aslan Abidin: Siapa dan Bagaimana “Aku Lirik?”

Tidak salah memang kalau label kritikus sastra disematkan kepada Mahrus Andis, karena pembahasannya selalu luas dan mendalam, tetapi juga tidak sembarang karya sastra yang ia kritik.

Dalam berbagai literatur disebutkan bahwa peran kritikus ialah memperjelas dan memotivasi. Dan modal utama seorang pengamat sastra ialah ilmu pengetahuan yang dalam, punya pengalaman yang luas (pengalaman makro dan microkosmos), dan memiliki hati yang terbuka (berani mengakui baik atau tidak baiknya suatu karya).

Kerendahan hati atau hati yang terbuka itulah yang mengantarkan seorang Mahrus Andis meluangkan waktu membuat ulasan dan tampil sebagai pembahas pada Diskusi Buku “Maharku: Pedang dan Kain Kafan” karya Rahman Rumaday.

 

Getah Sastra pada Citra Imaji Cerita

 

Dalam ulasan lanjutannya, Mahrus mengatakan, “Tidak dapat dipungkiri bahwa Rahman Rumaday telah berupaya menuturkan secara indah kisah pernikahannya dengan wanita Heliati Eka Susilowati dalam buku Maharku: Pedang dan Kain Kafan.”

“Keindahan bahasanya cukup menonjol melalui ungkapan-ungkapan naratif yang terbingkai ke dalam plot yang terstruktur,” kata Mahrus.

Secara konvensional, Maman–sapaan akrab Rahman Rumaday–sebagai penulis memaparkan ceritanya yang diawali dengan gambaran situasi, antara lain penulis memperkenalkan tokoh cerita Maman dan Esti.

Pada alur ini penulis melukiskan latar belakang sosial-budaya dan tradisi keluarga Maman (baca: termasuk konvensi mitologis di lingkungan masyarakat Desa Sera, Kabupaten Seram Bagian Timur, Provinsi Maluku).

Salah satu mitologi yang menjadi tradisi di lingkungan penulis yaitu kebiasaan secara turun-temurun “memberikan anaknya” ke orang lain untuk dipelihara agar terhindar dari kutukan leluhur. Walaupun bagi penulis, hal ini dinilai sebagai takdir Tuhan.

“Kedua orang-tuaku termakan mitos tentang ketidak-cocokan antara anak dengan orang tua kandungnya. Ketidak-cocokan itu dihubungkan dengan suatu peristiwa–yang  kemudian disimpulkan sebagai bukti–bahwa setiap anak yang lahir dari mereka paling lama hanya berusia sekira satu tahun.

...

Padahal, ini adalah jalan takdir. Cara Tuhan untuk menguji kesabaran dan ketabahan hati hamba-Nya.” (hal. 4 dan 5)

Mahrus mengatakan, gambaran karakter dan lingkungan kehidupan tokoh berlangsung hingga pada episode 4 di halaman 35. Dan tantangan mulai merasuki pikiran pada halaman 37 dengan subjudul “Kapan Menikah?”

“Pertemuan antara Maman dan Esti memiliki logika plot yang tersusun melalui hukum kausaprima,” sebut Mahrus.

Dia mengatakan, tokoh dokter Jihad, tempat Maman dan Esti curhat mencari pasangan, inilah yang berperan sebagai mak comblang. Peran Dokter Jihad mencapai puncaknya di halaman 65, setelah proposal mencari pendamping hidup dari Maman sudah berada di tangan Esti.

Episode ke-7, “Inilah Proposalku!” di halaman 43 tersebut terlalu formal hingga halaman 65. Mirip bahasa baku narasi penyuluhan untuk menemukan pasangan yang tepat.

Selain itu, ada beberapa kata sulit (asing) yang mengganjal imaji pembaca. Antara lain, kata-kata dimaksud adalah: ikhfa, izhar (hal. 43), qadarullah, murabbi, dan ta'aruf (hal. 46 dan 47).

Istilah asing ini tidak sama perannya dengan kata istikharah (kata ini sudah baku sebagai jenis salat sunat minta petunjuk di hal.51).

“Pertanyaan, apakah menggunakan istilah asing seperti itu tidak dibolehkan dalam cerita bergaya sastra? Jawabnya, boleh. Hanya saja, apabila penggunaan istilah tersebut terkesan dipaksakan tanpa disertai penjelasan (skenotesia), kadang-kadang cerita kurang komunikatif,” ulas Mahrus.

Di sisi penggarapan bahasa, memang ada beberapa filosofi-kultural yang penting dipertanyakan kepada penulis. Misalnya; Ini drg. Jihad orang keturunan apa? Dialeknya memakai sapaan ente? Esti memakai kata Ikhwan? Dan Bang Maman, orang dari mana dan berlatar budaya apa?

“Ini yang saya maksud sebagai bahasa yang diarab-arabkan, sehingga mengurangi getah sastra pada citra imaji cerita tersebut,” ungkap Mahrus.

Istilah “maisyah” pada hal.55, juga asing. Tetapi, tetap komunikatif di wilayah apresiasi pembaca, sebab ada penjelasan di dalam kurung (skenotesia) yang artinya: tidak harus berpenghasilan tetap, tetapi tetap berpenghasilan.

Lafaz ijab-kabul yang menggunakan gabungan bahasa Arab dan Indonesia pada halaman 145, memang terasa lain dari yang biasa. Moralitas ijab-kabul tersebut tetap terpelihara dan sah sesuai syariat.

Kelainan yang dimaksud ialah struktur bahasanya yang panjang menyebutkan detail anasir mahar:

“Bismillahirrahmanirrahim, ankahtuka wazawwajtuka makhtubataka Heliati Eka Susilowati binti Saiful alal Mahri, sebuah pedang yang di atasnya bertulis Rahman Rumaday dan Heliati Eka Susilowati, kain kafan, sebuah cincin emas, satu paket kitab Riyadussholihin, sebuah Al Quran dan seperangkat alat salat halal.”

Ucapan ijab dari bapak Esti di atas, tentu sudah menjadi konvensi di kalangan orang-orang dekat Maman. Dan, sekali lagi, itu sahih dari dimensi syariat. Namun, ketika struktur lafaz ijab tersebut dikonversi ke dalam cerita bergaya sastra, tentu nilai komunikasi sastrawinya agak tergerus.

“Mungkin lebih bagus apabila kalimat ijab tersebut diucapkan dalam bahasa Indonesia secara utuh,” kata Mahrus.

 

Alur Cerita Kurang Utuh

 

Secara keseluruhan, dari dimensi sastra, cerita pengalaman hidup ini tergolong otobiografi Rahman Rumaday yang bernilai estetik. Unsur-unsur fisik dan batin sebuah karya sastra, seperti majas (figurative language), kata konkret, tema sentral, dan tipografi, nyaris sempurna.

Meskipun demikian, salah satu kelemahan cerita “Maharku: Pedang dan Kain Kafan” ini ialah plot (alur cerita) kurang utuh. Karakter pelaku cukup tergarap, namun dinamika penceritaan terasa datar. Suspens, klimaks dan antiklimaks belum terbina dengan cerdas.

“Itulah sehingga saya cenderung menyebut kisah ini sebagai otobiografi yang digarap dengan bahasa sastra,” kata Mahrus.

Di akhir pembahasannya, Mahrus mengatakan, judul “Maharku: Pedang dan Kain Kafan” ternyata hanyalah simbolisme keteguhan hati seorang suami dalam jihad keluarga secara lahir-batin, material-spiritual serta dunia wal akhirat.***


----

Artikel sebelumnya: 

Mahar Pedang dan Kain Kafan Menyimpang dari Tradisi Masyarakat Islam

Mahar Apa yang Diberikan Nabi Adam kepada Siti Hawa?

JUARA UMUM III. Bupati Takalar Syamsari Kitta (duduk, keempat dari kanan) bersama istri Dr Irma Andriani (duduk, keempat dari kiri) foto bersama anggota kafilah MTQ Takalar yang berhasil meraih juara, seusai acara penutupan MTQ, di Stadion Lapatau, Kabupaten Bone. Kamis malam, 30 Juni 2022. (ist)



---- 

Jumat, 01 Juli 2022

 

 

Takalar Juara Umum III MTQ Sulsel 2022

 

 

BONE, (PEDOMAN KARYA). Kafilah Kabupaten Takalar berhasil menjadi juara umum ketiga dalam perhelatan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) XXXII Tingkat Provinsi Sulawesi Selatan, di Bone, 24-30 Juni 2022.

Juara Umum I MTQ ditempati tuan rumah Kabupaten Bone, sedangkan Juara Umum II diraih Kafilah Kota Makassar.

Piala Juara Umum III yang diterima langsung oleh Bupati Takalar Syamsari Kitta yang didampingi Kepala Kantor Kemenag Takalar Muhammad, dan Sekda Takalar Muhammad Hasbi, pada acara penutupan MTQ, di Stadion Lapatau, Kabupaten Bone. Kamis malam, 30 Juni 2022.

“Saya mengapresiasi kafilah yang telah mengantar Takalar masuk menjadi tiga besar melalui perolehan medali yang signifikan. Ini perolehan tertinggi sejak Takalar berdiri. Kita berdoa semoga tahun-tahun mendatang Takalar mendapatkan posisi yang lebih tinggi dari raihan saat ini,” kata Syamsari kepada wartawan seusai penerimaan piala dan hadiah kepada para juara.

Syamsari juga menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung perolehan ini, baik eksekutif, legislatif, unsur Forkopimda, Kemenag Takalar, Ormas dan seluruh komponen masyarakat Takalar.

“Terkhusus kepada pelatih, pendamping dan seluruh peserta lomba yang telah mengharumkan nama Takalar, semoga Allah SWT membalas semua jerih payah dengan pahala berlipat ganda, amin,” kata Syamsari.

Ketua LPTQ sekaligus Sekda Takalar Muhammad Hasbi menjelaskan, kafilah yang diikutkan dalam MTQ Sulsel tahun ini telah lama dipersiapkan untuk mengikuti lomba.

“Mereka didominasi oleh putra putri lokal. Adapun beberapa warga luar yang kebetulan mondok di pesantren Takalar juga kita ikutkan berlomba. Mereka dikarantina dan dilatih khusus oleh pelatih profesional,” ungkap Hasbi yang juga merupakan Ketua Kontingen MTQ Kabupaten Takalar.

Cabang lomba yang berhasil dimenangkan oleh peserta yang mewakili kabupaten Takalar yakni, Tartil, hafalan 1 juz putra, 10 juz putri, tafsir inggris, 30 juz putra, dan MSQ putra.

Untuk diketahui, Kabupaten Takalar mengirim 45 kafilah untuk bertanding pada sejumlah cabang lomba. Sebelas peserta berhasil lolos masuk dalam final, yakni cabang lomba Tartil Putra, tafsir bahasa Indonesia Putri, Tafsir bahasa Inggris putri, Tafsir Inggris Putra, hafalan 10 juz putri, Qoriah Remaja putri, hafalan 1 juz putra, MSQ putra, hafalan 20 juz putra, hafalan 30 juz putra, dan Khat Dekorasi Putri.

Prestasi ini menambah deretan penghargaan Kabupaten Takalar dalam ajang MTQ tingkat provinsi maupun STQH, antara lain Juara 1 Qoriah dewasa tahun 1999 di Kabupaten Majene, Juara 2 Hifdzil 20 juz STQH tahun 2017 di Pare-Pare, serta Juara 3 Hifdzil 5 juz dan tilawah MTQ tingkat provinsi di Kabupaten Sidrap tahun 2020. (Hasdar Sikki)

“Jurubahasa...! Kirim segera utusan kepada Datu Museng. Katakan, jika ingin tenteram bermukim di Makassar, ia harus menyerahkan seluruh persenjataannya dan... isterinya juga. Peringatkan bahwa yang berkuasa di sini adalah kita, bukan orang Gowa, sahabat mertuanya!”

“Itu berarti perang, tuanku!” jawab I Tuan Jurubahasa tanpa sadar.

“Ya, jika ia menolak!” bentak Tumalompoa.

 


-----

PEDOMAN KARYA

Jumat, 01 Juli 2022

 

Datu Museng dan Maipa Deapati (32):

 

 

Tumalompoa Perintahkan Datu Museng Serahkan Senjata dan Isterinya

 

 

Oleh: Verdy R. Baso

(Mantan Wartawan Harian Pedoman Rakyat)

 

Ia kemudian menghampiri meja dimana Jurubahasa duduk di ujung lainnya. Tegak sejenak, memandang tajam anak negeri kepercayaannya itu.

“Jurubahasa...! Kirim segera utusan kepada Datu Museng. Katakan, jika ingin tenteram bermukim di Makassar, ia harus menyerahkan seluruh persenjataannya dan... isterinya juga. Peringatkan bahwa yang berkuasa di sini adalah kita, bukan orang Gowa, sahabat mertuanya!”

“Itu berarti perang, tuanku!” jawab I Tuan Jurubahasa tanpa sadar.

“Ya, jika ia menolak!” bentak Tumalompoa.

Dengan suara datar yang kaku, ia melanjutkan: “Bukankah kau yang menunjukkan jalan itu? Atau ada maksudmu yang lain?”

Ditatapnya Jurubahasa tajam-tajam.

“Tidak tuan besar, sekali-kali tidak,” Jurubahasa cepat-cepat menjawab. Takut tuannya nanti naik darah.

“Maksudku..., jika Datu Museng menampik, kita harus memeranginya, tuanku.”

“Ya, kita harus memeranginya. Lebih cepat lebih baik. Sebab cepat atau lambat, kita pasti bersengketa dengan dia. Datu Museng adalah panglima perang orang Sumbawa yang paling berbahaya sekarang ini. Selagi ia berada di sini, selama ia tidak memimpin satu pasukan yang besar, kita harus cepat-cepat menghancurkannya.”

“Kendati ia bersedia menyerahkan isterinya secara damai, tuanku?”

“Ya, kendati pun Maipa diserahkannya bulat-bulat. Sebab jika tidak, ia pasti akan menyusun kekuatan bersama orang Gowa di sini. Kemudian merobek-robek perjanjian kita dengan mertuanya Sultan Sumbawa dan Sultan Hasanuddin, raja orang Gowa. Apalagi jika ia berhasil kembali ke Sumbawa dan menggantikan mertuanya sebagai Maggauka, percayalah ia pasti memberontak dan tak mengakui lagi perjanjian yang telah ditandatangani mertuanya. Dan jika itu terjadi, sungguh-sungguh merupakan bahaya bagi kekuasaan kita.”

Tumalompoa berhenti berbicara. Diraihnya kursi, lalu duduk dan menyambung bicaranya lagi.

“Sebenarnya Datu Museng ini sudah lama kita inginkan kedatangannya kemari. Sekarang ia sudah di sini. Umpan kita Datu Jarewe telah berhasil menariknya. Ia sekarang sudah masuk perangkap. Ha ha ha ha... Ya, harimau itu sudah dalam perangkap kita. Jurubahasa, kau tabu kita tak mungkin dapat membinasakannya di negerinya. Orang kuat itu sangat berbahaya karena mertuanya kini nampak secara berangsur-angsur memberikan kekuasaan padanya. Oh..., jika kita mengulur-ulur waktu, tidak cepat bertindak, ia tentu akan berkuasa penuh di Sumbawa, dan kita tak mungkin berbuat apa-apa lagi. Kekuasaan yang kita tegakkan dengan susah payah di daratan Makassar, akan musnah karenanya. Ia pasti bahu-membahu lagi secara diam-diam dengan Gowa. Dan bila mereka merasa kuat kembali seperti dulu, kita akan disapunya dari daratan Makassar. Tidakkah itu kau sadari?” tanya Tumalompoa, dan Jurubahasa manggut-manggut melongo. Ia tak berpikir sejauh itu.

“Itulah sebabnya kita mengadu domba Datu Jarewe dan Datu Taliwang. Agar kekuatan yang mulai tumbuh di Sumbawa sekarang, tak sempat menjadi besar. Ini adalah suatu permainan taktik namanya, halus tiada kentara. Kau tentu mengerti, Datu Jarewe selalu patuh pada kita. Dia gila kedudukan, dan apabila ia berhasil menjadi Sultan Sumbawa, maka sebenarnya kitalah yang berkuasa di sana. Dia hanya boneka saja. Dia sudah berjanji padaku, akan memberikan kekuasaan penuh pada kompeni kelak jika ia menjadi Maggauka. Satu-satunya yang dapat menghalang-halangi rencana kita hanya Datu Museng, yang sekarang berada di alas daratan tempat kita berkuasa. Oleh sebab itu kuperintahkan padamu agar segera menyusun kekuatan. Ingat, harus halus caranya, tak boleh kentara. Minta dulu senjata dan isterinya, agar tidak menimbulkan kesan seakan-akan kita ingin memeranginya. Sesudah itu, kita hancurkan pula dia, habis perkara. Demi raja Belanda..., hidup raja Belanda!” seru Tumalompoa, yang disambut dengan pekik yang sama oleh I Tuan Jurubahasa.

“Sekarang, berangkatlah. Usahakan secepat mungkin apa yang kukatakan tadi!”

“Baik, tuan besar. Akan kulaksanakan perintah tuanku sesegera mungkin.”

Ia menundukkan kepala memberi hormat dan melangkah keluar menuju kamar kerjanya sendiri. Di situ ia duduk berpikir keras, memikirkan jalan yang akan ditempuhnya dalam melaksanakan perintah tuannya.

 

Suro Daeng Jarre

 

“Suro, Suro!” I Tuan Jurubahasa berteriak dari dalam kamar kerjanya, memanggil Daeng Jarre, abdi kepercayaannya.

Suro (pesuruh) yang sudah penuh bukti tanda baktinya kepada kedua sembahannya, I Tuan Jurubahasa dan I Tuan Tumalompoa, datang tergopoh-gopoh, lalu duduk bersila menundukkan kepala tepat di depan mata kaki Jurubahasa.

Suro ini selalu patuh pada kedua tuannya itu yang dianggapnya manusia paling berkuasa di dunia. Menurut hematnya, jika di akhirat Tuhan yang berkuasa, maka di dunia penguasanya adalah I Tuan Jurubahasa dan I Tuan Tumalompoa, lain tidak. Ia malah berpikir, kedua tuannya itu wakil Tuhan di atas dunia. Oleh sebab itu, ia selalu merasa perintah kedua orang itu adalah perintah Tuhan. Tak ada yang salah atau janggal, seluruhnya benar.

“Tuanku, apa gerangan keperluan tuanku memanggil hamba?” sembah Suro Daeng Jarre dengan takzim, sambil merenungi jari-jari kaki I Tuan Jurubahasa.

“Daeng Jarre..., dekat-dekat kemari!”

Mendengar perintah itu, Daeng Jarre mengingsutkan pantatnya ke depan sehingga kepalanya yang merunduk itu tepat di bawah lutut Jurubahasa.

“Suro..., dengar baik-baik. Masukkan dalam hati, jangan lupa perintahku biar sepatah kata pun. Kau pergi ke rumah Datu Museng di kampung Galesong. Sampaikan bahwa kata dan perintahku adalah kata dan perintah Tumalompoa di Makassar. Daeng Jarre..., tuan besar minta agar Datu Museng menyerahkan isteri kesayangannya Maipa paapati, serta seluruh persenjataan yang ada padanya. Katakan pula, demi keselamatan dan keamanannya bermukim di negeri kita, ia jangan sekali-kali menampik. Apalagi menentang kemauan tuan besar. Jika sayang pada nyawanya, hendaklah ia taat dan menuruti kemauan baik yang dipertuan dan yang ditakuti di Makassar! Itulah pesanku atau pesan Tumaompoa. Sampaikanlah sebagaimana harusnya. Sekarang berangkatlah, dan kembali sesegera mungkin!”

“Hamba akan laksanakan perintah duli tuanku,” kata Suro Daeng Jarre sambil merunduk hingga hampir mencium lantai dekat ujung kaki I Tuan Jurubahasa.

Ia kemudian pelan-pelan mengingsutkan pantatnya ke belakang. Menjauhi sembahannya, lalu berdiri membungkuk-bungkuk memegang lutut dan hilang di balik pintu. Kini ia tampak meninggalkan pekarangan benteng dengan langkah panjang-panjang. Ingin cepat tiba ke tujuan menyampaikan pesan yang dipertuan Jurubahasa. (bersambung)


-----

Kisah sebelumnya:

Rindunya Bergejolak, Tumalompoa Ingin Segera Miliki Maipa Deapati