Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

“Jadi akan pergi jugakah kanda meninggalkan daku tanpa menyimpan sepatah kata pengobat hati yang sedang dirundung malang ini? Jangan, tidak kuizinkan kanda pergi sebelum memberikan aku kata putus. Ketauhilah, aku…aku relakan hidup ini untukmu. Bawalah aku di mana kanda pergi, bawalah…”
 




------

PEDOMAN KARYA

Selasa, 17 Mei 2022

 

Datu Museng dan Maipa Deapati (11):

 

 

Maipa Depati Sembuh, Manggauka Berterima-kasih kepada Datu Museng

 

 

Oleh: Verdy R. Baso

(Mantan Wartawan Harian Pedoman Rakyat)

 

Di saa-saat ia sedang digoda oleh perasaannya, mendadak timbul rasa harga dirinya. Tidak! Ia bukan manusia serendah itu. Diperkuatnya hatinya menahan gelora yang mendesak, agar jangan menampakkan diri keluar. Ditahannya sekuat mungkin. Kemudian ia mulai menggerakkan tangannya mengeluarkan bola raga dari tubuh Maipa dengan mempergunakan kekuatan ilmunya.

Setelah bola raga berada di tangannya, ia pun bersiap meninggalkan bilik. Tapi ketika ia hendak mengayunkan langkah, Maipa sudah bangun dan cepat-cepat menarik sarung Datu Museng seraya berbisik.

“Ah, kakanda Datu Museng, betapa kejammu sekarang padaku yang selama ini setia menunggu dalam derita batin yang tak terbanding. Kanda rupanya tak acuh lagi padaku kini, tidak sedikit pun menaruh belas-kasihan. Hendak pergi begitu saja tanpa meninggalkan pesan. Mengapa kanda demikian berubah? Duduklah dahulu, duduklah. Kasihanilah aku yang malang ini,” kata Maipa.

Tanpa ragu lagi Datu Museng membalik dan menjatuhkan diri berlutut di sisi pembaringan kekasihnya sambil meraih tangan yang halus itu, kemudian berkata: “Aku tidak kejam padamu sayang, beribu kali tidak. Bahkan dalam setiap detak jantungku, namamu selalu kuseru. Aku selalu mendo’a mengharapkan dinda menjadi bulan purnamaku di malam hari dan matahariku di kala siang. Kau adalah harapanku satu-satunya.”

“Tapi mengapa kanda hendak meninggalkanku begitu saja?”

“Itu adalah perbuatan bertentangan dengan kata hatiku sendiri. Keadaan yang memaksaku berbuat demikian, dinda sayang!”

“Keadaan? Adakah kanda dipengaruhi oleh keadaan itu sekarang?”

“Ya, keadaan itu tidak mengizinkan aku tinggal disini berlama-lama. Takut hatiku bertambah hangus oleh sentuhan api yang kini sedang menyala berkobar-kobar di sekitar kita.”  

“Dapatkah api itu padam jika kanda meninggalkan bilik ini?”

“Padam? Ah, belum dapat kuramal adinda. Aku hanya khawatir jangan sampai terbakar bilik ini dan turut memusnahkan istana.”

“Jadi akan pergi jugakah kanda meninggalkan daku tanpa menyimpan sepatah kata pengobat hati yang sedang dirundung malang ini? Jangan, tidak kuizinkan kanda pergi sebelum memberikan aku kata putus. Ketauhilah, aku…aku relakan hidup ini untukmu. Bawalah aku di mana kanda pergi, bawalah…”

Maipa menangis dan tangan Datu Museng kian erat dipegangnya, seakan-akan takut lepas dari genggaman.

“Sabarlah adinda, kuatkan hatimu. Kupegang teguh katamu. Ketahuilah, aku tak akan tenang hidup di dunia ini jika tidak bersamamu. Aku lebih baik menjadi mayat berkalang tanah, dari pada harus melihat kau di sisi orang lain. Ya, peganglah kataku yang merupakan sumpahku juga,” kata Datu Museng.

Datu Museng kemudian mendekatkan mulutnya ke telinga kekasihnya dan membisikkan sesuatu yang menggirangkan benar hati putri itu tampaknya. Wajahnya yang pucat, kini menyemu merah. Menggambarkan rasa malu bercampur girang.

Setelah pesan itu disampaikan, Datu Museng kemudian pamit.

Maipa melepaskannya dengan gembira tak terkatakan, dan tak lupa membisikkan dua patah-kata: “Jangan lupa.”

Alangkah girang hati Manggauka ketika mengetahui putrinya telah sembuh dari sakit. Ia sangat berterima-kasih kepada Datu Museng. Dipuji-pujinya anak muda ini dengan kata-kata yang indah. Disinggungnya lagi hajatnya yang ia suruh sampaikan melalui Gelarang.

“Anakku Datu Museng, pilih di antara gadis-gadis penghuni istana ini selain adikmu Maipa, untuk menjadi pasanganmu. Banyak kawan Maipa, anak karaeng, anak daeng, anak gelarang yang cantik-cantik. Tunjuk saja mana berkenan di hatimu dan kami akan menjodohkannya denganmu. Jika saja tak ada yang berkenan di hatimu, carilah di luar istana, di sekeliling pulau kita.”

“Terima kasih atas anugrah tuanku. Hamba masih berpikir-pikir dan belum dapat memutuskan sekarang. Baiklah hamba minta diri dahulu, untuk memikirkan tawaran tuanku,” jawab Datu Museng.

Kemudian dengan penuh hormat ditinggalkannya istana dan pulang ke rumahnya, diantar oleh Manggauka hingga ke anak tanah terbawah. Di sana Manggauka berhenti, dan ketika Datu Museng minta diri sekali lagi, beliau berkata pula; “Ingat pesanku anakku. Seboleh-bolehnya jangan diabaikan.”

Datu Museng mengiyakan saja dengan merendahkan diri dan memberi hormat sebelum mengucapkan salam perpisahan kepada Manggauka, yang tetap berdiri mengawasi kepergiannya hingga hilang dari pandangan.

Adapun Maipa Deapati ketika ditinggalkan oleh Datu Museng, langsung memanggil ibu susunya yang sangat dipercainya, dan sebaliknya sangat kasih pula padanya. Setelah berada di dekatnya, Maipa berbisik.

“Kupanggil ibu kemari karena yakin telah mengetahui hubunganku dengan Datu Museng. Apa yang telah kubicarakan tadi dengannya tentu ibu dapat menerkanya bukan,” tanya Maipa.

“Kira-kira demikian anakku Deapati. Tetapi….” sang ibu susu berhenti berkata dan menatap wajah Maipa, hendak mengetahui dari wajah itu sendiri tentang baik-buruknya apa yang akan ia ucapkan nanti. Matanya seakan minta izin agar dibiakan melanjutkan bicaranya

Sadar akan hal itu, Maipa kemudian berkata; Tetapi apa ibu? Lanjutkan bicaramu.”

“Aku kuatir tidak akan kesampaian segala cita-citamu, anakku.”

“Ah, telah putus kata hatiku untuk ikut Datu Museng, meninggalkan istana ini melayari nasib kemana saja aku dibawanya. Janji sudah kupadu, akan sehidup semati dengannya. Janji harus ditepati bukan?”

Maipa berhenti sejenak, kemudian melanjutkan, “Begini saja ibu, jika ibu masih belas kasihan padaku, sampaikan pada bunda permaisuri bahwa malam ini aku akan turun mandi di tempat permandianku membersihkan diri. Sampaikan bahwa aku telah meniatkan sebelumnya, apabila sembuh dari sakit, aku akan turun di tengah malam ke tempat permandianku itu. Katakan supaya rakyat mengantarku nanti. Sebelum itu, aku akan ingin menyampaikan pula harapanku pada ibu, sekiranya tidak keberatan dan bersedia membantuku malam ini melarikan diri. Antarkan aku ke rumah Datu usingg. Sesudah itu kembalilah ke istana dan jangan sekali-kali memberitahu siapa pun di istana ini.

Dibisikkannya ke telinga inang pengasuh yang setia itu kata-kata yang terakhir ini. Sesudah itu disuruhnya pergi mendapatkan ibundanya untuk menyampaikan berita yang dipesankan tadi. Sang inang oengasuh yang sangat sayang dan hormat kepada putri sultan asuhannya ini, berangkat saat itu menemui permaisuri. (bersambung)


-----

Kisah sebelumnya: 

Datu Museng dan Maipa Deapati (10): Maggauka dan Permaisuri Undang Datu Museng ke Istana

Datu Museng dan Maipa Deapati (9): Sultan Sumbawa Kirim Utusan ke Rumah Datu Museng

MENDONGENG. Mami Kiko foto bersama sejumlah murid SD Inpres Banta-bantaeng I Makassar yang tengah mengikuti Pelatihan Mendongeng, di sekolahnya, di Jl Mongisidi Baru, Makassar, Sabtu, 14 Mei 2022. (IST)






-----

Senin, 16 Mei 2022

 

 

Murid SD Inpres Banta-bantaeng I Makassar Belajar Mendongeng

 

 

MAKASSAR, (PEDOMAN KARYA). “Siapa yang mau jadi pendongeng?” tanya Mami Kiko, pendongeng yang biasa berkisah ditemani bonekanya. Ada beberapa anak mengacungkan tangan.

Mami Kiko kemudian bertanya lagi kepada sejumlah anak yang duduk di depannya, “Siapa yang mau jadi pendakwah seperti Ustaz Das'ad Latif?”

Anak-anak itu merupakan murid-murid SD Inpres Banta-bantaeng I Makassar yang tengah mengikuti Pelatihan Mendongeng, di sekolahnya, di Jl Mongisidi Baru, Makassar, Sabtu, 14 Mei 2022.

Pelatihan ini merupakan bagian dari Program PaCarita yang dikembangkan SD Inpres Banta-bantaeng I.

PaCarita merupakan akronim dari Panggung Cerita Ceria Kita. Program yang memadukan aktivitas literasi dan kreativitas seni ini dikerjasamakan dengan para penggiat literasi dari LISAN. Pendiri LISAN adalah Rusdin Tompo, yang dikenal sebagai aktivis anak dan penulis buku.

Mami Kiko memberi motivasi kepada anak-anak itu dengan mengatakan bahwa  mendongeng merupakan bagian dari kemampuan public speaking.

“Anak-anak penting punya kemampuan public speaking yang baik. Karena akan bermanfaat, bukan hanya ketika mereka mau jadi pendongeng atau pencerita. Juga kalau mereka mau jadi pendakwah, pembicara seminar, motivator, MC, dan profesi lainnya,” kata Mami Kiko.

Para peserta lalu diajarkan kemampuan teknis memproduksi suara. Mereka dilatih tentang bagaimana mengucapkan artikulasi yang jelas, serta menyebutkan vokal yang benar, jelas tapi tidak berteriak.

Mereka terlihat antusias meniru suara yang dikeluarkan Mami Kiko, yang biasa mendongeng dalam kegiatan Dinas Perpustakaan Kota Makassar.

“Kalau tarik nafas, perutnya menggembung ya, seperti kodok. Kita mau belajar diafragma. Jadi saat dikeluarkan, suara kita itu dibantu angin,” jelas Mami Kiko.

Pemberian materi yang interaktif membuat anak-anak senang. Mereka sesekali menjawab, bila ditanya, dan tertawa jika ada yang dirasa lucu.

Materi Pelatihan Mendongeng ini, antara lain tentang mengenal cerita, belajar menyebut vokal, belajar jenis suara, dan membuat suara tokoh.

Mami Kiko meminta anak-anak untuk membaca buku yang beragam. Disarankan, kalau baca buku, jangan hanya satu buku. Karena semakin banyak buku dibaca maka semakin banyak cerita yang diketahui. Ini bisa jadi bahan untuk mendongeng.

Ketika selesai memberikan materinya, dia mengevaluasi kegiatan bersama Rusdin Tompo, Syahril Rani Patakkai, dan Hj Baena SPd MP (Kepala UPT SPF SD Inpres Banta-bantaeng I).

Disampaikan bahwa anak-anak punya kemampuan bercerita yang cukup bagus, cuma mereka kurang memiliki bahan cerita.

Disarankan, nanti bisa memanfaatkan grup WhatsApp kelas. Lalu ceritanya di-share ke guru, kemudian guru akan teruskan ke orangtua. Biar orangtua juga punya referensi cerita yang beragam, dan bisa jadi bahan obrolan dengan anaknya.

Hj Baena mengakui, murid-muridnya memang cukup komunikatif dan interaktif. Hal ini bisa mempermudah mereka untuk diarahkan ke Perpustakaan Ceria, yang merupakan perpustakaan sekolah.

Disampaikan, kondisi pandemi banyak mempengaruhi anak-anak. Pembatasan sosial membuat anak hanya membaca buku pelajaran, setelah itu mereka main. Kesempatan ke perpustakaan terbatas. Tapi kini, anak-anak diarahkan membaca buku digital, nanti dikasi tugas untuk diceritakan bersama.

“Saya sejak masih kecil sudah sering didongengkan orangtua. Pakai bahasa Makassar. Bahkan sampai saya tertidur. Dongeng berupa cerita rakyat dalam bahasa Makassar itu disebut Rupama,” kisah Baena.

Dalam diskusi pasca-pelatihan itu, disepakati pentingnya memperkuat nilai budaya anak-anak sebagai bagian dari pendidikan karakter. Untuk memotivasi anak-anak juga akan dibuatkan kompetisi, biar mereka bertambah semangat untuk maju. (rt)


PERLINDUNGAN LAHAN PERTANIAN. Sekretaris Daerah Kabupaten Takalar, H Muhammad Hasbi (kelima dari kiri) foto bersama beberapa pejabat dan pihak terkait pada acara Sosialisasi / Kampanye Rekomendasi Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (RPLP2B) Tahun Anggaran 2022, di Ruang Pola Kantor Bupati Takalar, Jumat, 13 Mei 2022. (ist)

 


-------

Senin, 16 Mei 2022

 

 

Lahan Pertanian Pangan di Takalar Perlu Dilindungi dari Degradasi, Alih Fungsi, dan Fragmentasi

 

 

TAKALAR, (PEDOMAN KARYA). Lahan pertanian pangan (padi, jagung, kedelai, ubi-ubian dan kacang-kacangan) di Kabupaten Takalar perlu dilindungi dari degradasi, alih fungsi, dan fragmentasi dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk dan terjadinya perluasan kawasan pemukiman.

Kabupaten Takalar yang terdiri atas 10 kecamatan merupakan salah satu daerah lumbung pangan yang ada di Sulawesi Selatan.

Berdasarkan data dari Dinas Pertanian melalui laporan statistik pertanian tanaman pangan, padi, pada tahun 2019, luas panen padi sawah di Kabupaten Takalar sebesar 26.079,95 hektar, dengan produksi padi 113.189 ton.

Produksi jagung pada tahun 2019 mencapai 93.891 ton dari areal luas 9.208 hektar. Tanaman lain yang diproduksi adalah ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah dan kedelai. (BPS, 2019)

Dalam upaya perlindungan lahan pertanian pangan itulah, Pemerintah Kabupaten Takalar mengadakan Sosialisasi / Kampanye Rekomendasi Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (RPLP2B) Tahun Anggaran 2022, yang dibuka Sekretaris Daerah Kabupaten Takalar, H Muhammad Hasbi, di Ruang Pola Kantor Bupati Takalar, Jumat, 13 Mei 2022.

Kegiatan sosialisasi dan kampanye RPLP2B dihadiri Kepala Dinas Pertanian, H Abdul Haris Kulle, Kepala Dinas PPKBP3A dr Nilal Fauziah, serta Kepala Dinas Perpustakan dan Arsip Daerah, Achmad Rivai, dan unsur-unsur terkait.

Muhammad Hasbi mengatakan, sosialisasi RPLP2B bertujuan meningkatan produksi pertanian khususnya pangan, yang tentunya bagian yang tidak terpisahkan dari ketersediaan lahan.

“Selain upaya ketersediaan lahan yang sudah ada, perlu diingat juga upaya perlindungan lahan senantiasa digalakkan untuk mencegah peningkatan laju pertumbuhan alih fungsi lahan, mengingat Kabupaten Takalar adalah masuk dalam kawasan Maminasata (Makassar, Sungguminasa, Takalar, red), dan ini tentu membutuhkan perlindungan lahan, khususnya yang berbatasan langsung dengan Kota Makassar,” kata Hasbi.

Sekda juga dalam sambutannya  menyampaikan bahwa ada dua proyek strategis nasional yang sedang berlangsung pembangunannya di Takalar, yaitu pembangunan Bendungan Pamukkulu di Ko’mara, Kecamatan Polombangkeng Utara, dan Kawasan Industri di Kecamatan Mangngarabombang.

Hasbi berharap dengan adanya kegiatan RPLP2B dapat menghasilkan peta updating lahan pertanian.

“Utamanya Lahan Baku Sawah (LBS) yang saat ini tercatat seluas 17.182 hektar,” kata Hasbi.

 

Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan

 

Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan adalah bidang lahan pertanian yang ditetapkan untuk dilindungi dan dikembangkan secara konsisten guna menghasilkan pangan pokok bagi kemandirian, ketahanan, dan kedaulatan pangan nasional.

Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan diatur dan dilindungi dengan Undang-Undang yaitu UU 41 tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan.

UU 41 tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan diperlukan karena makin meningkatnya pertambahan penduduk serta perkembangan ekonomi dan industri mengakibatkan terjadinya degradasi, alih fungsi, dan fragmentasi lahan pertanian pangan telah mengancam daya dukung wilayah secara nasional dalam menjaga kemandirian, ketahanan, dan kedaulatan pangan.

UU 41 tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan dalam pelaksanaannya diselenggarkan dengan tujuan untuk melindungi kawasan dan lahan pertanian pangan secara berkelanjutan; menjamin tersedianya lahan pertanian pangan secara berkelanjutan; mewujudkan kemandirian, ketahanan, dan kedaulatan pangan; melindungi kepemilikan lahan pertanian pangan milik petani; meningkatkan kemakmuran serta kesejahteraan petani dan masyarakat.

Juga meningkatkan perlindungan dan pemberdayaan petani; meningkatkan penyediaan lapangan kerja bagi kehidupan yang layak; mempertahankan keseimbangan ekologis; dan mewujudkan revitalisasi pertanian. (Hasdar Sikki)


PEMIMPIN BERMARTABAT. Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof Haedar Nashir, memberikan sambutan pada peluncuran bukunya yang berjudul “Indonesia: Ideologi dan Martabat Pemimpin Bangsa”, di Balai Sidang Muktamar 47 Kampus Universitas Muhammadiyah (Unismuh), Jl Sultan Alauddin, Makassar, Ahad, 15 Mei 2022. (Foto: Herul / Humas Unismuh Makassar)

 



-----

Ahad, 15 Mei 2022

 

 

Haedar Nashir: Indonesia Butuh Pemimpin Bermartabat



Buku Indonesia: Ideologi dan Martabat Pemimpin Bangsa” Diluncurkan di Unismuh Makassar 


MAKASSAR, (PEDOMAN KARYA). Jika ingin menjadi bangsa yang maju, Indonesia membutuhkan ideologi yang kuat dan pemimpin bermartabat. Ibarat tubuh manusia, ideologi sebagai jantung, sedangkan pemimpin adalah kepala.

“Bila jantung berhenti berdetak, maka tubuh akan mati. Ada pula pepatah mengatakan, ikan busuk dimulai dari kepala, artinya keburukan atau kejatuhan suatu bangsa tergantung kepalanya, yakni para pemimpin,” kata Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Haedar Nashir.

Hal tersebut ia sampaikan saat meluncurkan buku terbarunya “Indonesia: Ideologi dan Martabat Pemimpin Bangsa”, di Balai Sidang Muktamar 47 Kampus Universitas Muhammadiyah (Unismuh), Jl Sultan Alauddin, Makassar, Ahad, 15 Mei 2022.

Guru Besar Sosiologi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mengatakan, pemerintahan negara yang direpresentasikan oleh eksekutif, legislatif, dan yudikatif serta kelembagaan pemerintahan negara lainnya dari pusat sampai daerah, wajib hukumnya merujuk pada pemikiran dasar tersebut, termasuk kekuatan partai politik.

“Jangan bermain-main dengan mengakalinya demi melanggengkan politik kekuasan dan kepentingan apapun,” tandas Haedar.

Pengamat Politik Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Dr Adi Suryadi Culla, yang didaulat memberikan testimoni, mengaku telah membaca tulisan-tulisan Haedar sejak tahun 1990-an.

Dia menilai Haedar memaparkan hubungan Islam dan Ideologi Pancasila secara sangat apik dalam bukunya tersebut.

“Pak Haedar tidak sekadar membahas Pancasila sekadar sebagai refleksi abstrak, melainkan refleksi historis dan faktual bagaimana pergumulan ideologi bangsa oleh para founding fathers bangsa ini,” ungkap Adi.

Dosen Hubungan Internasional Fisip Unhas merekomendasikan buku ini dibaca, bukan hanya untuk internal warga Muhammadiyah, melainkan untuk masyarakat luas.

“Pak Haedar memberikan ulasan yang sangat jelas bagaimana relasi Islam dan Pancasila yang tidak lagi harus dipertentangkan,” ungkap ungkap Adi.

Rektor Unismuh Prof Ambo Asse juga memberikan pengantar yang mengapresiasi kejernihan berpikir Haedar Nashir dalam merefleksikan persoalan-persoalan bangsa.

“Prof Haedar mengulas bagaimana Islam merupakan bagian tak terpisahkan dari sejarah Indonesia. Jadi kalau ada upaya untuk mendiskreditkan umat Islam dari pentas sejarah Indonesia, berarti mereka buta sejarah,” kata Ambo Asse yang juga Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulsel.

Peluncuran buku ditandai dengan sentuhan buku terbaru Haedar ke layar LED yang ada di atas panggung. Setelah itu muncul video tayangan buku-buku yang pernah ditulis Haedar Nashir, hingga buku “Indonesia: Ideologi dan Martabat Pemimpin Bangsa.”

Kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan figura sampul buku tersebut oleh penulisnya Prof Haedar Nashir.

Kegiatan ini dihadiri sekitar 300 orang peserta yang merupakan utusan Pimpinan Daerah Muhammadiyah, utusan perguruan tinggi Muhammadiyah se-Sulsel, serta kader dan simpatisan Muhammadiyah. (zak)


POMNAS 2022. Pengurus Badan Pembina Olahraga Mahasiswa (Bapomi) Sulsel, serta dan pelatih masing-masing cabang olahraga menghadiri rapat persiapan Pomnas 2022 di Padang, Sumatera Barat, di Lantai I7 Menara Iqra Kampus Unismuh Makassar, Jumat, 13 Mei 2022. (Foto: Herul / Humas Unismuh Makassar)


 


-----

Sabtu, 14 Mei 2022

 

 

Rapat di Kampus Unismuh Makassar, Tim Pomnas Sulsel Target Masuk 5 Besar

 

 

MAKASSAR, (PEDOMAN KARYA). Sulsel telah menargetkan harus bisa masuk lima besar di Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (Pomnas) di Padang, Sumatera Barat, November 2022.

“Agar Sulsel bisa masuk peringkat lima besar, maka mulai sekarang, kegiatan pembinaan dan pelatihan pada masing-masing cabang olahraga lebih serius lagi agar sisa waktu beberapa bulan ke depan kemampuannya atau skill atletnya bisa terus bertambah,” kata Sekretaris KONI Sulsel, Mujiburrahman.

Hal itu ia sampaikan dalam rapat dengan pengurus Badan Pembina Olahraga Mahasiswa (Bapomi) Sulsel, serta dan pelatih masing-masing cabang olahraga, di Lantai I7 Menara Iqra Kampus Unismuh Makassar, Jumat, 13 Mei 2022.

Dalam rapat ini selain dihadiri pengurus Bapomi  Sulsel, pembina serta pelatih masing - masing cabang olahraga, juga hadir sejumlah wakil rektor III Bidang Kemahasiswaan, yakni dari Unhas, UNM, UIM, UMI, Atmajaya, Unimers, Unibos, STIEM Bongaya, serta Wakil Rektor III Unismuh Makassar, Dr Muhammad Tahir, sekaligus mewakili rektor sebagai tuan rumah dalam pertemuan ini.

Sebelum masuk ke materi pertemuan ini, Wakil Rektor III Unismuh, Muhammad Tahir atas nama rektor sekaligus tuan rumah pertemuan, menyampaikan permohonan maaf kerena sedianya pertemuan ini dihadiri Rektor Unismuh, Prof  Ambo Asse, namun  dalam waktu yang bersamaan menguji di Kampus Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar.

Unismuh Makassar sebagai tuan rumah pertemuan ini memberikan apresiasi serta supportnya kepada Bapomi Sulsel, dengan harapan semoga target prestasi yang ingin dicapai bisa terwujud.

“Tentu ini tidak lepas pula dari dukungan pendanaan, baik itu dari pemerintah, maupun dari sumber pendanaan lainnya,” kata Muhammad Tahir.

Dalam pertemuan yang dipandu Sekretaris Bapomi Sulsel, Syahrir Arief, mulai  diverifikasi cabang-cabang olahraga yang dimungkinkan Tim Pomnas Sulsel bisa meraih medali, apakah itu emas, perak, maupun perunggu.

Dari hasil klasifikasi yang diperoleh dari masing- masing penanggungjawab cabang olahraga bahwa cabang olahraga yang memungkinkan tim Pomnas Sulsel bisa meraih medali adalah di cabang atletik, misalnya di nomor 100 meter, 200 meter, 400 meter, 800, 1.500 meter, dan 5.000 meter.

Selain itu, cabang olahraga lainnya yang dimungkinkan bisa meraih medali adalah lompat jauh, lompat jangkit, lempar cakram, lempar lembing, tolak peluruh, estafet 4 x 100 meter dan 4 x 400 meter serta sepak takraw.

Syahrir Arief berharap dari cabang olahraga yang disebutkan di atas bisa mempersembahkan medali sehingga harapan Sulsel masuk lima besar di Pomnas ke-17 di Padang bisa terwujud.

Dalam pertemuan ini juga telah memastikan atlet yang bisa ikut di Pomnas, sesuai ketentuan yang berlaku adalah maksimal berumur 23 tahun, dan mahasiswa yang ikut di Pomnas ini adalah mahasiswa yang betul betul namanya terdaftar  dipangkalan data pendidikan tinggi.

Syahrir Arief juga menyampaikan kemungkinan tim Pomnas Sulsel yang akan diberangkatkan di Pomnas Padang kurang lebih 200 orang. (her)