Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

MAUDU' LOMPOA. Ini adalah salah satu pemandangan acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Desa Cikoang, Kecamatan Mangara'bombang, Kabupaten Takalar, Ahad, 15 November 2020. Acara peringatan maulid ini diberi nama Maudu' Lompoa yang secara harfiah berarti maulid yang besar. (Foto: Asnawin Aminuddin / PEDOMAN KARYA) 





------

PEDOMAN KARYA

Jumat, 22 Oktober 2021

 

KALAM

 

 

Menyikapi Perbedaan Pendapat tentang Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW

 

 

Oleh: Asnawin Aminuddin

(Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi Muhammadiyah Sulsel)

 

Sudah kodratnya manusia berbeda-beda satu sama lain, mulai dari perbedaan warna kulit, perbedaan bahasa, hingga perbedaan pendapat. Perbedaan tersebut telah disebutkan Allah dalam Surah Al-Hujurat, surah ke-49 dalam Al-Qur’an, ayat ke-13.

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.”

Meskipun berbeda, bukan berarti kita harus berselisih, bukan berarti kita harus berperang satu sama lain. Sebaliknya, perbedaan itu seharusnya membuat kita saling kenal, saling akrab, dan saling bergandengan tangan satu sama lain.

Sayangnya, perbedaan itu kerap menonjol, antara lain dalam menafsirkan suatu amalan agama. Salah satu perbedaan yang kita hadapi sebagai sesama umat Islam yaitu peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Ada yang menganggap acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW atau peringatan hari kelahiran Rasulullah SAW, sebagai bentuk kecintaan kita kepada Rasulullah SAW.

Ada pula yang berpendapat peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sebagai sesuatu yang diada-adakan dan masuk dalam kategori bid’ah, karena tidak ada tuntunannya, tidak pernah diadakan pada zaman Nabi, tidak pernah diadakan pada masa Khulafaur Rasyidin, dan juga tidak pernah diadakan pada masa tabi’in, dan tabi’ut tabi'in.

Empat imam mahzab pun tidak ada yang merayakannya, mulai dari Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, sampai Imam Ahmad. Dengan demikian, kalau memang tidak ada dasarnya, mengapa kita mengadakan acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Maka sejak zaman Rasulullah hingga saat ini, di Arab Saudi, tidak ada acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Lalu mengapa di banyak negara, termasuk di Indonesia, banyak orang yang mengadakan acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW?

Ini terjadi karena berangkat dari alasan atau pandangan yang berbeda, maka timbullah perbedaan pendapat. Pertanyaannya, bagaimana kita menyikapi perbedaan pendapat itu?

 

Allah berfirman dalam Surah An-Nisa, Surah ke-4 dalam Al-Qur’an, ayat ke-59:

“Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”

 

Kalau terjadi perbedaan pendapat, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul. Carilah dalil-dalilnya dalam Al-Qur’an. Carilah dalil-dalilnya dalam hadits.

Kalau ternyata tidak ada dalilnya, tidak ada perintahnya, tidak disunnahkan, maka sebaiknya jangan diadakan, tapi kalau tetap mau diadakan dengan alasan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW adalah bentuk kecintaan kepada Rasulullah, maka silakan diadakan.

Jangan karena perbedaan pendapat itu, lalu kita berselisih. Jangan karena perbedaan itu, lalu saling bermusuhan satu sama lain. Jangan karena perbedaan pendapat itu, lalu kita tidak saling menyapa.

Tugas kita hanya menyampaikan atau mengemukakan pendapat sesuai dalil yang kita ketahui dan kita yakini kebenarannya. Kalau ada pendapat lain, silakan saja.

Kalau mau mengadakan acara peringatan Maulid, silakan saja, tapi kita tetap berteman, kita tetap bersahabat, kita tetap bersama-sama shalat berjamaah di masjid, kita tetap bersama-sama dan akrab sebagai tetangga dalam satu kompleks perumahan.

 

Imam Malik dan Imam Syafi’i

 

Mengenai bagaimana menghadapi atau menyikapi perbedaan pendapat, ada satu kisah menarik yang sangat baik untuk kita contoh. Kisah antara Imam Malik dan Imam Syafi’i. Imam Malik adalah guru dari Imam Syafi’i. Imam Malik wafat pada tahun 179 Hijriyah, sedangkan Imam Syafi’i wafat pada tahun 204 H.

Suatu hari, Imam Malik menyampaikan bahwa rezeki sudah diatur oleh Allah. Rezeki bisa datang tanpa sebab, dan manusia cukup bertawakkal dengan benar, lalu Allah akan memberinya rezeki.

“Lakukan yang menjadi bagianmu, selanjutnya biarkan Allah mengurus yang lainnya,” ujar Imam Malik.

Bukan tanpa landasan, pendapat Imam Malik tersebut berdasarkan hadits Rasulullah, “Andai kalian bertawakkal kepada Allah sebenar-benarnya tawakkal, niscaya Allah akan berikan rezeki kepada kalian, sebagaimana Dia memberikan rezeki kepada burung yang pergi dalam keadaan lapar lalu pulang dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad).

Namun ternyata Imam Syafi’i, sang murid, memiliki pendapat lain. Menurutnya, seandainya burung tersebut tidak keluar dari sangkar, niscaya ia tidak akan mendapat rezeki.

Menurut Imam Syafi’i, untuk mendapat rezeki, dibutuhkan usaha dan kerja keras. Ia mengatakan, rezeki tidak datang sendiri, tapi harus dicari.

“Wahai guru, seandainya seekor burung tidak keluar dari sangkarnya, bagaimana mungkin ia akan mendapatkan rezeki?” demikian sanggahan Imam Syafi’i.

Keduanya tetap pada pendapat masing-masing, tapi tak nampak rasa kesal dan benci satu sama lain karena perbedaan pandangan tersebut.

Pada suatu hari, Imam Syafi’i berjalan-jalan. Ia melihat sekelompok orang tengah memanen buah anggur. Tanpa diminta, Imam Syafi’i berinisiatif membantu mereka. Setelah selesai, ia diberikan beberapa ikat anggur sebagai imbalan.

Kejadian ini mengingatkan Imam Syafi’i tentang pendapatnya seputar rezeki. Pendapatnya terbukti dengan dirinya yang berinisitif membantu sekelompok orang tadi. Jika ia tidak berusaha membantu, tentu ia tidak akan mendapat beberapa ikat anggur.

Imam Syafi’i senang bukan main. Ia lantas bergegas menemui sang guru. Hendak membenarkan pendapatnya tersebut.

Kemudian dijumpainya Imam Malik yang tengah duduk santai. Sambil menaruh seluruh anggur yang didapatnya, ia menceritakan kisahnya barusan. Dan keduanya pun makan anggur bersama-sama.

Imam Safi’i mengatakan, “Seandainya saya tidak keluar pondok dan melakukan sesuatu, tentu saja anggur itu tidak akan pernah sampai di tangan saya.”

Mendengar ujaran tersebut, Imam Malik hanya tersenyum. Ia kemudian menimpali, “Seharian ini aku tidak keluar pondok dan hanya mengambil tugas sebagai guru, dan sedikit membayangkan alangkah nikmatnya jika di hari yang panas ini, aku bisa menikmati anggur. Tiba-tiba engkau datang sambil membawa anggur untukku. Bukankah ini juga bagian dari rezeki yang datang tanpa sebab?”

“Cukuplah dengan tawakkal yang benar, niscaya Allah akan memberikan rezeki. Lakukan yang menjadi bagianmu, selanjutnya biarkan Allah yang mengurus lainnya,” tambah Imam Malik sambil tersenyum.

Keduanya lantas tertawa bersama. Masing-masing Imam Malik dan Imam Syafi’i dapat membuktikan pendapatnya.

Jadi kalau kita berbeda pendapat, kita sudah kemukakan pendapat masing-masing, kita sepakat saja untuk tidak sepakat, dan selanjutnya kita ketawa-ketawa saja bersama-sama. Tidak perlu berselisih, tidak perlu bermusuhan. Kita ngopi dan ngobrol sama-sama lagi seperti biasa.


REKTOR PERTAMA. Prof Ansar Suyuti, guru besar pada Departemen Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, dilantik sebagai Rektor Institut Teknologi Bacharuddin Jusuf Habibie (ITBH) Parepare, Selasa, 05 Oktober 2021. Ansar sekaligus menjadi rektor pertama pada perguruan tinggi negeri (PTN) tersebut. (ist)





----------- 

Jumat, 22 Oktober 2021

 

 

Ansar Suyuti Rektor Pertama Institut Teknologi BJ Habibie Parepare

 

Buka Prodi Informatika, Prodi Sistem Informasi, dan Prodi Matematika

 

 

PAREPARE, (PEDOMAN KARYA). Prof Ansar Suyuti, guru besar pada Departemen Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, dilantik sebagai Rektor Institut Teknologi Bacharuddin Jusuf Habibie (ITBH) Parepare, Selasa, 05 Oktober 2021. Ansar sekaligus menjadi rektor pertama pada perguruan tinggi negeri (PTN) tersebut.

ITBH Parepare adalah perguruan tinggi negeri yang didirikan oleh Presiden Ketiga Republik Indonesia, Prof Dr Ing BJ Habibie, pada tahun 2015, di sebuah bangunan bekas Gedung Pemuda di Kota Parepare.

Meskipun sudah memiliki gedung dan rektor, ITBH sampai saat ini belum memiliki mahasiswa, karena penerimaan mahasiswa baru angkatan pertama baru akan dibuka tahun akademik 2022/2023.

Ansar Suyuti kepada wartawan di Kampus Unhas, Jumat, 22 Oktober 2021, menceritakan awal mula sehingga dirinya mendapatkan amanah sebagai rektor.

Bermula dari pemberitahuan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) yang diterima oleh pimpinan Unhas untuk mengusulkan satu nama sebagai calon Rektor ITBH.

“Nama saya diusulkan dan saya pun kemudian mengikuti serangkaian tahapan wawancara oleh Kemendikbudristek, hingga akhirnya terpilih dan dilantik menjadi rektor,” tutur Ansar.

Setelah dilantik menjadi rektor, ia pun segera berkoordinasi dengan pimpinan Unhas guna melengkapi struktur kepemimpinan di ITBH, dengan sumber daya manusia berkualitas sesuai susunan organisasi tata kelola institut perguruan tinggi.

“Tahun depan, ITBH harus membuka dan menerima mahasiswa baru. Olehnya itu, persiapan matang perlu dilakukan, agar secara akademik mahasiswa memperoleh pengajaran sesuai standar,” kata Ansar.

Ia mengaku akan memperluas kolaborasi berbagai pihak agar ITBH sebagai ranah institusi perguruan tinggi negeri dapat bersaing dengan institut lainnya.

“Kami akan mempersiapkan tenaga pengajar yang memiliki kualifikasi tinggi dan ahli pada bidang masing-masing. Setidaknya, sudah ada 15 dosen yang menjadi tenaga pengajar dan didukung dengan delapan tenaga kependidikan,” kata Ansar.

Sebagai rektor, ia akan berupaya agar ITBH Parepare bisa berkiprah secara nasional maupun global seperti institut lainnya, dan itu membutuhkan usaha ekstra.

“Kami berharap Unhas membantu kami mewujudkan misi tersebut. Selain itu, kolaborasi bersama pemerintah daerah juga diupayakan secara maksimal, agar kehadiran ITBH Parepare sejalan dengan harapan pemerintah dalam menghasilkan SDM untuk mendukung pembangunan daerah," tutur Ansar.

Kehadiran ITBH, katanya, diharapkan memberikan dampak positif. Selain memperkuat Parepare sebagai kota pendidikan, juga di sektor perekonomian dapat membawa efek terhadap aktivitas ekonomi daerah.

“ITBH Parepare sebagai institut teknologi negeri di Indonesia timur, menjadi harapan baru lahirnya tokoh-tokoh teknokrat Indonesia dari timur Indonesia,” kata Ansar.

 

Tiga Program Studi

 

Ada tiga Program Studi yang dibuka pada program sarjana ITBH yang berkesesuaian dengan hasil review Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Region IX Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tenggara (Sultanbatara), yang akhirnya menerbitkan rekomendasi nomor T/6222/L9/KL.00.00/2019, perihal pembukaan Prodi pada tanggal 24 September 2019.

Ketiga prodi tersebut yaitu Prodi Ilmu Komputer atau Informatika, Prodi Sistem Informasi, dan Prodi Matematika. (asnawin)

DRAFT KERJASAMA. Penjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Gowa, Kamsina (paling kanan), memberikan sambutan pada Pembahasan Draft Kesepakatan Bersama dan Perjanjian Kerjasama antara Pemkab Gowa dengan USAID MPHD, di Ruang Rapat Badan Pengelola Keuangan Daerah Kabupaten Gowa, Kamis, 21 Oktober 2021. (ist)
 



-------

Kamis, 21 Oktobr 2021

 

 

USAID Bantu Turunkan Angka Kematian Ibu dan Bayi di Gowa

 

 

GOWA, (PEDOMAN KARYA). United States Agency for International Development (USAID) Momentum Private Healthcare Delivery (MPHD) Indonesia Private Sector menawarkan bantuan kerjasama kepada Pemerintah Kabupaten Gowa untuk bersama-sama berupaya menurunkan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) di Kabupaten Gowa.

Tawaran itu disambut gembira Pemkab Gowa dan pembahasan draft kerjasama pun dilakukan di Ruang Rapat Badan Pengelola Keuangan Daerah Kabupaten Gowa, Kamis, 21 Oktober 2021.

“Program ini sangat bagus, apalagi program ini tidak menyusahkan kita, karena program ini dibiayai USAID sendiri,” kata Penjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Gowa, Kamsina, saat memberikan sambutan pada Pembahasan Draft Kesepakatan Bersama dan Perjanjian Kerjasama antara Pemkab Gowa dengan USAID MPHD.

Dia mengatakan, program ini tentu akan sangat membantu Pemerintah Kabupaten dalam upaya penurunan angka kematian ibu dan bayi di wilayah Kabupaten Gowa. Olehnya itu, dirinya berharap draft kesepakatan bersama dan kerjasama ini bisa segera diselesaikan.

“Mudah-mudahan dengan hadirnya program ini, betul-betul bisa menurunkan angka kematian ibu dan bayi di Kabupaten Gowa, bisa ditekan, dan kita berharap program ini juga mengatasi masalah stunting,” kata Kamsina.

District Coordinator - MPHD South Sulawesi, Amiruddin, mengatakan program ini untuk mendukung Pemerintah Indonesia, khususnya Kabupaten Gowa, meningkatkan keterlibatan dan efektivitas fasilitas kesehatan swasta yang secara berkelanjutan, untuk menyediakan layanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir yang berkualitas dan berkontribusi menurut AKI dan AKB.

“Goals kita adalah meningkatkan akses dan mutu layanan ibu dan BBL di Fasyankes (Fasilitas Pelayanan Kesehatan). Kebijakan dan peraturan yang lebih baik, yang memungkinkan keterlibatan sektor swasta serta meningkatkan koordinasi dan integrasi sistem kesehatan swasta dan pemerintah di Kabupaten sasaran dalam hal ini Kabupaten Gowa,” tutur Amiruddin.

Amiruddin menyebutkan beberapa intervensi yang akan dilakukan dalam upaya menurunkan AKI dan AKB, seperti Workshop tentang mutu, keselamatan pasien & INM, Workshop Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar (PONED) dan Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK).

Juga Pendampingan Tata Kelola Klinik untuk RS swasta, Penguatan Komite MUTU RS, Pendampingan Tata Kelola Klinik untuk, Klinik swasta/TPMB, Penguatan Bidan DELIMA serta Adopsi E-kohort/MPDN.

Amiruddin mengatakan, lokasi program ini berada di lima provinsi, yaitu Provinsi Sumatera Utara, Banten, DKI Jakarta, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan.

“Kriteria Pemilihan Kab/Kota yaitu merupakan daerah Lokus AKI dan AKB Kementerian Kesehatan, jumlah Penduduk yang besar, jumlah RS Swasta dan Faskes Swasta lainnya dan ada RS jaringan,” rinci Amiruddin.

Kegiatan ini turut dihadiri Kepala Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Gowa, Abdul Karim Dania, Asisten Bidang Pemerintahan Sekretariat Daerah Kabupaten Gowa, Muhammad Rusdi, Kepala Bagian Kerjasama Sekretariat Daerah Kabupaten Gowa Hj Emy Pratiwi Hosen, Kepala Bagian Hukum Sekretariat Daerah Kabupaten Gowa, Mahmuddin, serta perwakilan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) dan perwakilan Dinas Kesehatan Kabupaten Gowa. (yat)


BANTUAN SEMBAKO. Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Sulawesi Selatan kembali berbagi paket sembako di masa pendemi Covid-19. Kali ini puluhan paket sembko dibagikan kepada warga Desa Kalebentang, Kecamatan Galesong Selatan (Galsel) Kabupaten Takalar, Sabtu, 16 Oktober 2021. (ist)





---------- 

Kamis, 21 Oktober 2021

 

 

Pemuda Muhammadiyah Sulsel Berbagi Sembako di Desa Kalebentang Takalar

 

 

TAKALAR, (PEDOMAN KARYA). Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Sulawesi Selatan kembali berbagi paket sembako di masa pendemi Covid-19. Kali ini puluhan paket sembko dibagikan kepada warga Desa Kalebentang, Kecamatan Galesong Selatan (Galsel) Kabupaten Takalar, Sabtu, 16 Oktober 2021.

Pemberian sembako diawali oleh Ketua Pemuda Muhammadiyah Sulsel, Elly Oscar, kepada perwakilan ibu-ibu, disaksikan Plt Kepala Desa Kalebentang, Ilham, selaku tuan rumah, pihak kepolisian serta tokoh masyarakat setempat. Ilham juga merupakan salah satu Wakil Ketua Pemuda Muhammadiyah Sulsel.

Penerima bantuan paket sembako didominasi ibu-ibu, yang beberapa di antaranya datang dengan memakai sandal jepit. Pemberian paket sembako itu merupakan Program Pemuda Muhammadiyah Sulsel Peduli.

Elly Oscar pada kesempatan tersebut datang ke Desa Kalebentang bersama sejumlah anggota Komando Kesiap-siagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (Kokam) Pemuda Muhammadiyah Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar.

Hadirpula tokoh masyarakat setempat, kepolisian dan Plt Kepala Desa Ilham selaku tuan rumah yang juga merupakan wakil ketua Pimpinan wilayah Pemuda Muhammadiyah Sulawesi Selatan.

Plt Kepala Desa Kalebentang, Ilham, mengungkapkan rasa syukur dan terima kasihnya kepada Pemuda Muhammadiyah Sulsel yang telah memilih kampungnya untuk menyalurkan bantuan paket sembako.

“Kami mewakili masyarakat mengucapkan banyak terima kasih kepada Pemuda Muhammadiyah Sulsel, dan kami sangat bersyukur, karena Pemuda Muhammadiyah memilih kampung kami untuk menyalurkan bantuan paket sembako. Tentu ini sangat membantu meringankan beban masyarakat kami. Kami do’akan semoga Pemuda Muhammadiyah selalu hadir dalam kehidupan masyarakat, dan semga pimpinannya selalu diberikan keberkahan hidup dan sehat selalu dalam menjalankan amanah organisasi,” tutur Ilham.

Ketua Pemuda Muhammadiyah Sulsel, Elly Oscar  mengatakan, apa yang dilakukan oleh Pemuda Muhammadiyah saat ini adalah salah satu bentuk kepekaan dan kepedulian kepada warga yang terdampak pandemi Covid-19.

“Semoga ini bisa sedikit meringankan beban hidup masyarakat kita,” kata Elly yang sehari-hari menjabat Wakil Dekan III Fakultas Agama Islam (FAI) Unismuh Makassar.

Ia meminta kepada masyarakat agar selalu mendoakan Pemuda Muhammadiyah, semoga bisa selalu hadir memberi solusi dan berbagi kebahagiaan kepada masyarakat.

“Semoga apa yang kita lakukan pada hari ini bisa menjadi amal saleh dan bisa mendapat keberkahan dari Allah SWT, Sang Maha Pemberi,” kata Elly.

Dia menegaskan, Pemuda Muhammadiyah akan selalu menjalin kerjasama kepada semua pihak, baik pemerintah maupun swasta, atau lembaga yang punya kepedulian yang sama bagi kehidupan bangsa ini. (Hasdar Sikki)

Kehidupan berlanjut dan keikutsertaan suami istri itu dalam pergaulan yang baik dengan masyarakat membuat orang semakin menghormati mereka. Walau telah mendapat kehormatan demikian itu, Muhammad tetaplah seorang yang rendah hati. Itu adalah sifatnya yang menonjol.





------- 

PEDOMAN KARYA

Kamis, 21 Oktober 2021

 

Kisah Nabi Muhammad SAW (23):

 

 

Menikah dengan Khadijah, Muhammad Jadi Kaya Tapi Tetap Rendah Hati

 

 

Penulis: Abdul Hasan Ali Al-Hasani An-Nadwi

 

Sifat Muhammad

 

Muhammad telah mendapat karunia Allah dengan pernikahannya bersama Khadijah. Dari seorang pemuda tidak kaya, Allah telah mengangkatnya menjadi laki-laki berkedudukan tinggi dengan harta yang mencukupi.

Seluruh penduduk Mekah memandang pernikahan ini dengan gembira dan penuh rasa hormat. Semua undangan yang hadir berharap bahwa dari pasangan yang sangat ideal ini kelak lahir keturunan yang akan mengharumkan nama Quraisy.

Para sesepuh dari kedua keluarga tahu bahwa Khadijah akan mendukung suaminya dengan kasih sayang dan harta berlimpah. Sebaliknya, mereka juga berharap bahwa Muhammad yang bijak dan cerdas akan membimbing istrinya menuju kebahagiaan hidup.

Kehidupan berlanjut dan keikutsertaan suami istri itu dalam pergaulan yang baik dengan masyarakat membuat orang semakin menghormati mereka. Walau telah mendapat kehormatan demikian itu, Muhammad tetaplah seorang yang rendah hati. Itu adalah sifatnya yang menonjol.

Jika ada yang mengajaknya berbicara, tidak peduli siapa pun itu, ia akan mendengarkan dengan penuh perhatian tanpa menoleh kepada orang lain. Tidak saja mendengarkan dengan hati-hati, Muhammad bahkan memutar badannya untuk menghadap orang yang mengajaknya berbicara.

Semua orang tahu bahwa bicara Muhammad sedikit. Ia justru lebih banyak mendengarkan pembicaraan orang lain. Selain bicara, Muhammad bukanlah orang yang tidak bisa diajak bergurau. Ia sering juga membuat humor dan mengajak orang lain tertawa, tetapi apa yang ia katakan dalam bergurau sekali pun adalah sesuatu yang benar.

Orang menyukai Muhammad yang apabila tertawa, tidak pernah sampai terlihat gerahamnya. Apabila marah, tidak pernah sampai tampak kemarahannya. Orang tahu ia marah hanya dari keringat yang tiba-tiba muncul di keningnya. Muhammad selalu menahan marah dan tidak menampakkannya keluar.

Orang-orang menyayangi Muhammad karena ia lapang dada, berkemauan baik, dan menghargai orang lain. Ia bijaksana, murah hati, dan sangat mudah bergaul dengan siapa saja.

Namun, di balik semua kelembutan itu, ia mempunyai tujuan yang pasti, berkemauan keras, tegas, dan tidak pernah ragu-ragu dalam tujuannya. Sifat-sifat demikian berpadu dalam dirinya sehingga menimbulkan rasa hormat yang dalam bagi orang-orang yang bergaul dengan Muhammad.

 

Mahar Pernikahan

 

“Saksikanlah para hadirin,” kata Waraqah bin Naufal dengan suara agak keras, “Saksikanlah bahwa aku menikahkan Khadijah dengan Muhammad, dengan mas kawin senilai 12 ekor unta betina.”

 

Kambing Sedekah

 

Setelah upacara resmi pernikahan selesai, Muhammad memerintahkan agar seekor kambing disembelih di depan pintu rumah Khadijah dan membagikan dagingnya kepada fakir miskin. Itu belum termasuk para undangan yang menghadiri jamuan pada malam harinya.

Jadi, selain diundang jamuan makan, fakir miskin pun dapat membawa pulang ke rumah beberapa kantung daging.

 

Baqum Si Pedagang Romawi

 

Muhammad bukankah orang yang suka berpangku tangan, tetapi aktif bergaul dalam masyarakat. Suatu hari terjadilah sebuah peristiwa yang membuat nama Muhammad menjadi semakin harum.

Peristiwa itu didahului oleh banjir besar yang melanda Mekah. Bukit-bukit di sekitar Mekah tanpa ampun menumpahkan air hujan yang jarang turun itu ke kota yang tepat berada di bawah. Banjir itu menyebabkan dinding Ka’bah yang memang sudah lapuk jadi retak dan terancam runtuh.

Sebenarnya, sebelum banjir tiba, sudah ada gagasan untuk memperbaiki Ka’bah, tetapi orang-orang takut apabila Tuhan Ka’bah marah. Setelah banjir, tidak bisa dielakkan lagi bahwa dinding Ka’bah harus diperbaiki dan ditinggikan.

Sudah menjadi takdir Allah bahwa waktu itu juga tersiar berita ada sebuah kapal Romawi terdampar di laut Merah, dekat dengan pelabuhan Syu’aibah. Kapten kapal Romawi itu adalah seorang Nasrani yang berasal dari Mesir. Baqum, namanya.

Orang-orang Mekah mengutus Walid bin Mughirah dan serombongan orang untuk membeli kapal itu, membongkar kayu kayunya, dan mengangkutnya untuk membangun kembali Ka’bah. Baqum pun akhirnya dikontrak sebagai ahli kayu.

Pada mulanya, tidak seorang pun berani membongkar dinding Ka’bah walau sedikit, karena takut dikutuk Tuhan. Mungkin mereka masih ingat dengan jelas apa yang menimpa Abrahah dan pasukan gajahnya saat ingin menghancurkan Ka’bah.

Akan tetapi, akhirnya, Walid bin Mughirah memberanikan diri merombak sudut bangunan bagian selatan. Setelah itu, ia menunggu sampai besok. Ketika pagi tiba dan ia tidak juga dikutuk, mereka pun mulai melakukan pembenahan Ka’bah. (bersambung)


-------

Kisah Nabi Muhammad SAW (24): Ka’bah Dipugar, Kabilah Berselisih, Muhammad Jadi Penengah

Kisah Nabi Muhammad SAW (22): Pernikahan Muhammad dengan Khadijah Binti Khuwailid  

Kisah Nabi Muhammad SAW (21): Khadijah Pilih Muhammad sebagai Pemimpin Kafilah Dagangnya