Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

BAKTI SOSIAL. Pengurus Lions Club Makassar Rajawali (LCMR) foto bersama sejumlah Panti Asuhan Pangamaseang di Jl Baji Gau II No 34, Kelurahan Karang Anyar, Kecamatan Mamajang, Kota Makassar, Rabu, 9 Juni 2021. (Foto: James Wehantouw)





------------

Jumat, 18 Juni 2021

 

 

Lions Club Makassar Rajawali Bakti Sosial ke Panti Asuhan dan Panti Jompo

 

 

MAKASSAR, (PEDOMAN KARYA). Memperingati Hari Ulang Tahunnya yang ke-4 tahun 2021 ini, Lions Club Makassar Rajawali (LCMR) melaksanakan kegiatan bakti sosial dengan mengunjungi Panti Asuhan Pangamaseang di Jl Baji Gau II No 34, Kelurahan Karang Anyar, Kecamatan Mamajang, Kota Makassar, Rabu, 9 Juni 2021.

Dalam kunjungannya, para fellow lions LCMR berkesempatan berbagi kasih memberikan donasi berupa beras, gula pasir, susu, biskuit, mie instant, energen sereal, sirup, ikan kaleng, dan lainnya.

Panti Asuhan yang dikelola Yayasan Sosial Pangamaseang, didirikan oleh Pastor Jos Van Rooy, dan saat ini mengasuh sebanyak 31 anak yatim piatu, serta 16 orang tua jompo dengan jumlah pengurus panti 15 orang,

Kedatangan rombongan fellow lions LCMR yang dikoordinir oleh IPP Lion Juliani Jafar, dan Lion Theresia Tumbelaka ini disambut dengan penuh sukacita para suster dan pengurus panti, anak-anak yatim piatu serta orang tua jompo.

Turut hadir dalam kunjungan itu di antaranya President LCMR Lion Frengky Sengkey, Vice President 1 Lion Laelah Samad, dan Secretary Club Lion Nirmasari.

Dengan melakukan protokol kesehatan secara ketat, kunjungan diawali menyusuri ruangan yang dihuni para orang tua jompo.

Kemudian dilanjutkan ramah tamah mendengarkan sambutan IPP Lion Juliaini Jafar dan juga Suster Kepala Pengurus Panti. Lalu diteruskan doa bersama yang dibawakan anak panti serta nyanyian pujian syukur dan foto bersama.

Pemandangan mengharukan terlihat saat para fellow Lions LCMR berkesempatan bincang-bincang dengan anak panti yang sedang belajar online maupun ujian semester. Tampak mereka begitu konsisten dalam belajar, apalagi ada di antaranya yang berprestasi dan akan dikirim ke Jepang sebagai perawat untuk membantu para lansia disana.

Puncak acara dalam kunjungan bakti sosial itu ditutup dengan makan siang bersama anak-anak yatim piatu, orang tua jompo dan seluruh pengurus Panti Asuhan Pangamaseang menikmati sajian makanan dan minuman yang dibawa serta dibagikan oleh para fellow lions LCMR seperti Lion Yuliarti, Lion Sulina, Lion Ira Suryani, Lion Nelly Wuisan, Lion Boetje, Volunteer Ibu Urie, dan lainnya.

 

Peringati HUT ke-4

 

Usai menggelar bakti sosial di Panti Asuhan Pangamaseang, rombongan fellow lions LCMR selanjutnya merayakan HUT ke-4 LCMR yang jatuh pada tanggal 08 Juni 2021 dengan mengadakan syukuran dan santap siang di Restoran Kamazemura Jl Singa, Makassar.

Sejumlah fellow lions LCMR lainnya tampak bergabung meramaikan acara yang diwarnai nyanyi bersama dan tiup lilin kue ulang tahun yang telah dipersiapkan oleh Lion Migrani Jafar dan Lion Conny Mappakaya. (jw)

----------

Berita terkait:

 

Lions Club Makassar Antar Langsung Bantuan Korban Gempa ke Sulbar

Lions Club Serahkan Donasi ke Gugus Covid-19 Makassar

Anggota Lions Club Bezuk Anak-anak Penderita Kanker di RSWS Makassar

Lions Club Makassar Rajawali Bersihkan Sampah di Monumen Mandala

APLIKASI ZAHIR. Dosen Unismuh Makassar yang tergabung dalam Tim PKM Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) melatih pengelola Panti Asuhan Bahagian Aisyiyah Kota Makassar membuat laporan keuangan berbasis aplikasi zahir, Sabtu, 12 Juni 2021. (ist)





-------- 

Kamis, 17 Juni 2021

 

 

Dosen  Unismuh Makassar Latih Pengelola Panti Asuhan Bahagia Aisyiyah Membuat Laporan Keuangan Berbasis Zahir

 


MAKASSAR, (PEDOMAN KARYA). Dosen Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar yang tergabung dalam Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) melatih pengelola Panti Asuhan Bahagian Aisyiyah Kota Makassar membuat laporan keuangan berbasis aplikasi zahir.

Pelatihan dan pendampingan yang dilangsungkan pada Sabtu, 12 Juni 2021, diikuti semua unsur pengelola panti asuhan, termasuk anak panitia yang diperbantukan dalam keseharian, khususnya di bagian administrasi.

Ketua Tim Pelaksana PKM Unismuh Makassar, Dr Muryani Arsal mengatakan, pelatihan bertujuan membantu pihak pengelola panti asuhan dalam meningkatkan  keterampilan SDM, terutama dalam pencatatan semua transaksi yang berkaitan dengan penerimaan dari pihak donatur dan penyusunan laporan keuangan.

“Pelatihan ini diadakan agar pencatatan dan laporan keuangan sesuai dengan pernyataan standar akuntansi keuangan untuk organisasi nirlaba, seperti panti asuhan, dan untuk aktivitas yang berkaitan dengan penerimaan zakat, infaq, dan sedekah yang diterima oleh panti asuhan,” kata Muryani Arsal, yang didampingi anggota tim, Aulia SIP MSI, M Naidah SE MSi, dan Ir Nailah MSi, kepada wartawan di Makassar, Kamis, 17 Juni 2021.


Organisasi Nirlaba


Muryani dan anggota timnya menyampaikan terima kasih kepada pihak Panti Asuhan Bahagia Makassar atas kesempatan, kesiapan dan kerjasama, serta sambutan yang sangat bersahabat kepada tim PKM dalam kegiatan pelatihan dan pendampingan tersebut.

“Kami berharap kerjasama dalam meningkatkan keterampilan SDM panti asuhan ini dapat terus berkelanjutan dan komunikasi tetap terjalin untuk mendiskusikan hal-hal yang berkaitan dengan pelatihan dan pendampingan ini, maupun di bidang lainnya di masa yang akan dating,” kata Muryani.

Pimpinan Panti Asuhan Bahagia, Hj Rukiah Chalid BSc, mengaku selama ini semua transaksi yang terjadi dicatat ke buku kas dan buku natura secara manual dengan menggunakan aplikasi microsoft word di komputer.

“Kami sangat berterima-kasih dengan diadakannya pelatihan ini, karena selama ini kami selaku pihak pengelola belum mengetahui dan belum memahami tentang pencatatan organisasi nirlaba mengenai akuntansi dan pelaporan keuangan nirlaba seperti panti asuhan yang berdasarkan kepada PSAK No.45 dan PSAK No.109,” ungkap Rukiah.

Dia mengatakan, dengan menggunakan aplikasi berbasis zahir, dapat lebih memudahkan dan lebih cepat dalam menyediakan informasi keuangan saat diperlukan.   

Pada kesempatan itu, Rukiah juga menjelaskan bahwa anak-anak yang menghuni Panti Asuhan Bahagia Makassar yaitu sebanyak 45 orang, terdiri atas 25 orang putri di Panti Asuhan Bahagia Aisyiyah di Jalan Muhammadiyah Makassar, dan 20 orang putra di Panti Asuhan Bahagia Putra Aisyiyah Jalan Inspeksi PDAM Antang Makassar. (zak)  

 

MERDEKA BELAJAR. Plt Gubernur Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman, menceritakan pengalamannya ketika masih kuliah, di hadapan 1.426 mahasiswa Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar yang diwisuda di Balai Sidang Muktamar 47 Kampus Unismuh, Jl Sultan Alauddin, Makassar, Selasa, 15 Juni 2021. (Foto: Asnawin Aminuddin / PEDOMAN KARYA)
 



---------

Selasa, 15 Juni 2021

 

 

Plt Gubernur Sulsel Orasi di Milad Unismuh, Kepala LLDikti IX: Itulah Merdeka Belajar

 

 

MAKASSAR, (PEDOMAN KARYA). Plt Gubernur Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman, menceritakan pengalamannya ketika kuliah di hadapan 1.426 mahasiswa Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, yang diwisuda di Balai Sidang Muktamar 47 Kampus Unismuh, Jl Sultan Alauddin, Makassar, Selasa, 15 Juni 2021.

Andi Sudirman berbicara sekitar satu jam lamanya dan menceritakan pengalamannya sejak meninggalkan Kabupaten Bone menuju Kota Makassar untuk kuliah, serta berbagai pengalamannya selama kuliah hingga bekerja pada perusahaan asing.

Ia antara lain mengemukakan bahwa dirinya pantang meminta uang tambahan kepada orangtuanya ketika masih kuliah dan berupaya mencari tambahan uang untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.

“Berapa pun yang dikirim orangtua saya dari kampong, itulah yang saya terima. Saya tidak pernah minta uang tambahan, walaupun kiriman uang itu kurang dari kebutuhan saya. Saya berupaya mencari uang dengan cara bekerja apa saja yang halal untuk memenuhi kebutuhan saya,” ungkap Andi Sudirman.

Ketika kuliah, ia berani melakukan improvisasi guna menambah pengalaman di luar bidang ilmu yang digelutinya. Ia juga berupaya mencari beasiswa dan akhirnya mendapatkannya.

Tentang indeks prestasi kumulatif (IPK) dan lama kuliah yang kerap dijadikan acuan dalam menentukan wisudawan terbaik, Andi Sudirman mengatakan, tidak ada masalah dengan kedua acuan tersebut, tapi ia mengingatkan bahwa prestasi di luar bidang akademik dan kompetensi tambahan di luar bidang ilmu yang digeluti juga patut dipertimbangkan.

Ia menyebut kedua indikator itu karena menurut pengalamannya, IPK dan cepatnya seseorang menyelesaikan kuliah bukanlah jaminan sukses meniti masa depan.

Menurutnya, jika ada mahasiswa yang sudah bekerja atau sudah diterima bekerja pada sebuah perusahaan sebelum menyelesaikan studinya, maka itu jauh lebih baik dibandingkan mahasiswa yang cepat selesai dengan IPK yang tinggi, tetapi setelah selesai kuliah langsung jadi pengangguran.

 

Itulah Merdeka Belajar

 

Mendengar kisah perjalanan hidup Andi Sudirman, berbagai inprovisasi yang dilakukannya selama kuliah, serta berbagai macam pemikiran dan kiat-kiat yang disampaikannya kepada mahasiswa, Kepala LLDikti IX Prof Jasruddin Malago langsung memberikan apresiasi.

“Apa yang dikemukakan Andi Sudirman Sulaiman, itulah Merdeka Belajar, Kampus Merdeka, sebagaimana yang dicanangkan Mendikbud Nadiem Makarim,” kata Jasruddin saat didaulat memberikan sambutan.

Mantan Direktur Program Pascasarjana Universitas Negeri Makassar (UNM) mengatakan, hanya 20 persen orang yang sukses pada bidang ilmunya, dan 80 persen sukses pada bidang yang berbeda.

“Ke depan, IPK dan lama studi kalau bisa hanya indikator ke-5. Harus dijelaskan kenapa terbaik, kalau perlu kita beri apresiasi kepada mahasiswa yang berprestasi. IPK itu urutan ke-30 dari 100 indikator keberhasilan seseorang. Urutan pertama itu kejujuran, urutan kedua disiplin, dan urutan ketiga kemampuan interpersonal skill, kemampuan berkomunikasi dengan baik,” tutur Jasruddin.

 

S2 Sosiologi dan SK Guru Besar

 

Kepala LLDikti IX, Jasruddin Malago, pada kesempatan itu juga menyerahkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek) tentang Izin Pembukaan Magister Pendidikan Sosiologi Program Pascasarjana Unismuh Makassar, dan juga menyerahan SK Guru Besar (professor) dalam Bidang Bahasa Inggris kepada dosen FKIP Unismuh Makassar, Andi Tenri Ampa.

 

1.426 Wisudawan

 

Alumni yang diwisuda sebanyak 1.426 orang alumni, dengan rincian ahli madya 10 orang, sarjana 1.321 orang, dokter 2 orang, dan magister 93 orang.

Rapat Senat Luara Biasa dalam rangka Milad ke-58 Unismuh Makassar dan Wisuda ke-78, dipimpin langsung Rektor Unismuh Prof Ambo Asse, didampingi Wakil Rektor I Dr Abdul Rakhim Nanda, Wakil Rektor II Dr Andi Sukri Syamsuri, Wakil Rektor III Dr Muhammad Tahir, Wakil Rektor IV Mawardi Pewangi, serta anggota senat lainnya.

Acara wisuda dilangsungkan dua hari berturut-turut, yakni Selasa, 15 Juni, dan Rabu, 16 Juni 2021, dengan empat sesi, yakni sesi pagi dan sesi siang setiap harinya. (zak)

TENDANG BAN. Bupati Bulukumba, Andi Muchtar Ali Yusuf mendatangi mahasiswa yang melakukan aksi demonstrasi di depan Kantor Bupati Bulukumba, Senin pagi, 14 Juni 2021. (Foto-foto tangkapan layar: Asnawin) 
 





Selasa, 15 Juni 2021

 

 

Kecewa Demonstran Tidak Mau Dialog, Bupati Bulukumba Luapkan Kemarahannya

 

 

BULUKUMBA, (PEDOMAN KARYA). Puluhan mahasiswa dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Bulukumba melakukan aksi demonstrasi di depan Kantor Bupati Bulukumba, Senin pagi, 14 Juni 2021.

Aksi demonstrasi itu dilakukan oleh PMII Bulukumba guna menuntut dituntaskannya program 100 hari pertama kepemimpinan Bupati Bulukumba Andi Muchtar Ali Yusuf, dengan Wakil Bupati Andi Edy Manaf.

Mengetahui mahasiswa melakukan aksi demonstrasi, Andi Utta-sapaan akrab Andi Muchtar Ali Yusuf-pun langsung meninggalkan acara video conference pembekalan Kepala Daerah yang dilaksanakan oleh Kemendagri secara virtual, dan keluar ruangan untuk menerima mahasiswa berdialog.

Ajakan dialog itu ternyata ditolak oleh mahasiswa, dan karena kecewa, Andi Utta segera mendatangi mahasiswa yang tengah melakukan aksi demonstrasi, dan kemudian meluapkan kemarahannya dengan menendang ban bekas yang akan dibakar oleh mahasiswa.

“Siapa ini bawa ban, siapa bakar ban?” tanya Andi Utta sambil menendang ban bekas yang akan dibakar oleh mahasiswa.

Tindakan Andi Utta tersebut tidak diterima oleh mahasiswa dan mereka segera berteriak-teriak, tetapi sejumlah aparat polisi dan anggota Satpol PP yang mengawal Andi Utta segera menghalau mahasiswa, dan suasana pun menjadi kacau balau.

Video aksi demonstrasi mahasiswa PMII Bulukumba yang didatangi oleh Bupati Bulukumba itu pun langsung beredar luas di internet, bahkan sudah masuk di Youtube, dan mendapat tanggapan beragam dari berbagai elemen masyarakat.

Ketua Cabang PMII Bulukumba, Andi Chaidir Alif, kepada wartawan mengakui bahwa pihak Pemkab Bulukumba awalnya meminta perwakilan 10 orang untuk masuk ke dalam ruangan kantor Bupati, tetapi pihak mahasiswa menolak tawaran tersebut karena tetap ingin melakukan aksi demonstrasi di jalanan.

“Tiba-tiba Bupati datang dan menendang ban yang belum dibakar. Ini mengganggu jalannya demonstrasi membuat kegaduhan dan terjadi pemukulan terhadap beberapa massa aksi. Kami sangat menyayangkan kejadian ini,” kata Chaidir.

 

Tidak Memiliki Itikad Baik

 

Kasubag Publikasi Setda Bulukumba, Andi Ayatullah Ahmad, kemudian memberi penjelasan bahwa Bupati Bulukumba Muchtar Ali Yusuf justru harus diapresiasi karena menemui para pendemo.

“Ini artinya bupati memiliki respons baik jika ada elemen masyarakat ingin menyampaikan aspirasinya,” kata Ayatullah.

Saat pendemo dari mahasiswa PMII Bulukumba datang di depan Kantor Bupati, katanya, pada saat bersamaan Bupati Muchtar Ali Yusuf sementara mengikuti video conference pembekalan Kepala Daerah yang dilaksanakan oleh Kemendagri.

“Kegiatan materi pembekalan ini sebenarnya tidak bisa ditinggalkan, namun karena bupati menghargai para pendemo maka beliau meminta izin kepada penyelenggara untuk menemui pendemo. Beliau pun turun dari ruangannya dan meminta para pendemo untuk bertemu dan berdialog di tempat parkir mobil Bupati,” tutur Ayatullah.

Beberapa kali dipanggil untuk bertemu di halaman kantor di tempat parkir mobil bupati, pihak pendemo ternyata tidak mau masuk dengan alasan mereka masih mau orasi dan bakar ban.

Bupati Bulukumba Andi Utta sebenarnya berharap para pendemo tidak harus berteriak-teriak di luar, dan berharap mereka langsung masuk di halaman kantor bupati untuk menyampaikan aspirasinya.

Karena ajakan tersebut tidak ditanggapi mahasiswa, maka Andi Utta pun langsung menemui mereka di luar pagar kantor.

“Pak Bupati menganggap para pendemo ini tidak memiliki itikad baik untuk melakukan dialog, makanya dia menendang ban yang hendak dibakar oleh pendemo,” jelas Ayatullah.

Bupati Bulukumba menganggap aksi yang dilakukan oleh mahasiswa patut diapresiasi sebagai kritik membangun kepada pemerintah daerah, tetapi dia menyayangkan adab-adab dan etika untuk menyampaikan aspirasi tidak diindahkan oleh mahasiswa. (dar)


SASTRA SABTU SORE. Seniman dan aktivis LSM, Asmin Amin (berdiri) juga meramaikan acara Sastra Sabtu Sore, di Taman Baca Masjid Ashabul Jannah, Jl Sultan Alauddin, Km 7 Makaasar, Sabtu sore, 12 Juni 2021. (ist)
 






-----

PEDOMAN KARYA

Senin, 14 Juni 2021

 

 

Yang Bukan Penyair Silakan Terlibat di “Sastra Sabtu Sore” Makassar

 

 

“Ada ungkapan Chairil Anwar bahwa yang bukan penyair tidak ambil bagian, tapi di Sastra Sabtu Sore justru yang bukan penyair diajak silakan terlibat, kata Yudhistira Sukatanya, sebagai pengantar dimulainya gelaran acara “Sastra Sabtu Sore”, di Taman Baca Masjid Ashabul Jannah, Jl Sultan Alauddin, Km 7 Makaasar, Sabtu sore, 12 Juni 2021.

Karena itu, penyelenggara selalu mengundang banyak pihak, termasuk anak-anak untuk datang berpartisipasi. Apalagi, lanjut sastrawan yang cukup produktif menulis buku itu, kegiatan ini didukung dan difasilitasi oleh Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Provinsi Sulsel, Mohammad Hasan Sijaya.

DPK Provinsi Sulsel bekerja sama dengan Lembaga Pengembangan Kesenian dan Kebudayaan Sulawesi Selatan (LAPAKKSS) dan Komunitas Puisi (KoPi) Makassar sudah beberapa edisi menggelar “Sastra Sabtu Sore.”

Kali ini membahas buku puisi “Sepucuk Surat dan Kisah Masa Kecil” karya Agus K Saputra. Penulis merupakan Deputi Bisnis PT Pegadaian (Persero) Area Makassar 1. Buku ini, ungkap Agus, merupakan ingatan pada masa sekolah dasar, setelah dia dipertemukan kembali dengan teman-teman lama melalui medsos.

Pria kelahiran 1968 ini tumbuh besar di Ciamis dan Mataram. Semasa mahasiswa, ia aktif dalam dunia pergerakan kampus. “Sepucuk Surat dan Kisah Masa Kecil” merupakan buku terbitan tahun 2019, berisi 50 puisi yang dibuat antara tahun 1987-2017 di  berbagai tempat seperti Denpasar, Lombok, Ampenan, Sumbawa, dan Yogyakarta. Temanya  beragam, mulai persahabatan, persaudaraan, perjalanan, cinta kasih, dan tanah air.

“Kemana pun kau pergi, kau akan selalu bertemu dengan orang-orang yang seide dan akan mendukungmu,” kata Agus, mengutip kata-kata temannya.

Agus baru sekira sebulan bertugas di Makassar, sebelumnya di Kendari. Mantan jurnalis ini bercerita, dahulu, dia mau jadi penulis supaya bisa membantunya saat menyusun skripsi. Saat masih SMP, dia ingin punya puisi yang dimusikalisasikan. Impian masa remajanya itu sudah terwujud. Sebanyak 116 puisinya sudah dimusikalisasi.

“Sepucuk Surat dan Kisah Masa Kecil” merupakan buku ketiganya. Sebelum itu, dia menerbitkan buku “Kujadikan Ia Embun” (2017) dan “Menunggu di Atapupu” (2018).

Meski sudah menerbitkan tiga buku kumpulan puisi, diakui masih ada keraguan, apakah ini puisi atau bukan? Tapi, katanya, ada temannya yang meyakinkan bahwa puisi-puisinya bergaya Amerika yang “poetry” bukan bergaya Inggris, yang “poem.”

“Sekarang, saya menangkap kesan dari obyek melalui foto, lalu diendapkan untuk dibuatkan puisi,” ungkap Agus tentang proses kreatifnya.

 

Bincang Buku

 

Acara “Sastra Sabtu Sore” dibuka dengan pembacaan puisi oleh Rezki, murid kelas 4 SD Inpres Paccerakkang. Dia membawakan dua puisi karyanya masing-masing berjudul “Ayah” dan “Terima Kasih Mentariku”. Kemudian penyerahan buku oleh penulis kepada Abdul Hadi, Kepala UPT Layanan Perpustakaan DPK Provinsi Sulsel.

Acara bincang buku yang dipandu oleh Rusdin Tompo (penulis buku dan penggiat literasi), menghadirkan narasumber Dr Asis Nojeng akademisi Unismuh Makassar, dan Damar I Manakku, penyair yang sudah menerbitkan buku puisi dan kumpulan cerpen.

Asis Nojeng mengatakan, dalam menulis puisi kita diberi pilihan, apakah akan taat pada konvensi atau mau berinovasi. Hal itu juga tampak pada puisi-puisi Agus K Saputra, yang dinilai tidak merujuk pada pakem tertentu.

Damar I Manakku memberi apresiasi pada penulis yang tetap berkarya di luar profesinya sebagai pegawai BUMN.

“Ada kenyamanan ketika kita membaca puisi-puisi Agus. Puisi-puisinya tidak membuat pusing yang membacanya,” kata Damar.

Mereka yang hadir dalam “Sastra Sabtu Sore” berasal dari beragam latar belakang. Ada Dr Nurlina Syahrir (akademisi), Asmin Amin (seniman dan aktivis LSM), Goenawan Monoharto (Ketua IKAPI Sulsel), Syahrir Rani Patakaki (penyair berbahasa Makassar), Ahmadi Haruna (jurnalis dan penyair), Mami Kiko (pendongeng), Muhammad Amir Jaya (penyair), Melati (pustakawan dan Ketua KKPS), dan Rahman Rumaday (penggiat literasi). (din)