Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

 




Senin, 16 Mei 2022



Murid SD Inpres Banta-bantaeng I Makassar Belajar Mendongeng



MAKASSAR, (PEDOMAN KARYA). "Siapa yang mau jadi pendongeng?" tanya Mami Kiko, pendongeng yang biasa berkisah ditemani bonekanya. 

Ada beberapa anak mengacungkan tangan.

Mami Kiko kemudian bertanya lagi kepada sejumlah anak yang duduk di depannya, "Siapa yang mau jadi pendakwah seperti Ustaz Das'ad Latif?"

Anak-anak itu merupakan murid-murid SD Inpres Banta-bantaeng I Makassar yang tengah mengikuti Pelatihan Mendongeng, di sekolahnya, di Jl Mongisidi Baru, Makassar, Sabtu, 14 Mei 2022. 

Pelatihan ini merupakan bagian dari Program PaCarita yang dikembangkan SD Inpres Banta-bantaeng I. 

PaCarita merupakan akronim dari Panggung Cerita Ceria Kita. Program yang memadukan aktivitas literasi dan kreativitas seni ini dikerjasamakan dengan para penggiat literasi dari LISAN. Pendiri LISAN adalah Rusdin Tompo, yang dikenal sebagai aktivis anak dan penulis buku.

Mami Kiko memberi motivasi kepada anak-anak itu dengan mengatakan bahwa  mendongeng merupakan bagian dari kemampuan public speaking. 

"Anak-anak penting punya kemampuan public speaking yang baik. Karena akan bermanfaat, bukan hanya ketika mereka mau jadi pendongeng atau pencerita. Juga kalau mereka mau jadi pendakwah, pembicara seminar, motivator, MC, dan profesi lainnya," kata Mami Kiko. 

Para peserta lalu diajarkan kemampuan teknis memproduksi suara. Mereka dilatih tentang bagaimana mengucapkan artikulasi yang jelas, serta menyebutkan vokal yang benar, jelas tapi tidak berteriak.

Mereka terlihat antusias meniru suara yang dikeluarkan Mami Kiko, yang biasa mendongeng dalam kegiatan Dinas Perpustakaan Kota Makassar.

"Kalau tarik nafas, perutnya menggembung ya, seperti kodok. Kita mau belajar diafragma. Jadi saat dikeluarkan, suara kita itu dibantu angin," jelas Mami Kiko.

Pemberian materi yang interaktif membuat anak-anak senang. Mereka sesekali menjawab, bila ditanya, dan tertawa jika ada yang dirasa lucu. 

Materi Pelatihan Mendongeng ini, antara lain tentang mengenal cerita, belajar menyebut vokal, belajar jenis suara, dan membuat suara tokoh.

Mami Kiko meminta anak-anak untuk membaca buku yang beragam. Disarankan, kalau baca buku, jangan hanya satu buku. Karena semakin banyak buku dibaca maka semakin banyak cerita yang diketahui. Ini bisa jadi bahan untuk mendongeng.

Ketika selesai memberikan materinya, dia mengevaluasi kegiatan bersama Rusdin Tompo, Syahril Rani Patakkai, dan Hj Baena SPd MP (Kepala UPT SPF SD Inpres Banta-bantaeng I).

Disampaikan bahwa anak-anak punya kemampuan bercerita yang cukup bagus, cuma mereka kurang memiliki bahan cerita.

Disarankan, nanti bisa memanfaatkan grup WhatsApp kelas. Lalu ceritanya di-share ke guru, kemudian guru akan teruskan ke orangtua. Biar orangtua juga punya referensi cerita yang beragam, dan bisa jadi bahan obrolan dengan anaknya.

Hj Baena mengakui, murid-muridnya memang cukup komunikatif dan interaktif. Hal ini bisa mempermudah mereka untuk diarahkan ke Perpustakaan Ceria, yang merupakan perpustakaan sekolah. 

Disampaikan, kondisi pandemi banyak mempengaruhi anak-anak. Pembatasan sosial membuat anak hanya membaca buku pelajaran, setelah itu mereka main. Kesempatan ke perpustakaan terbatas. Tapi kini, anak-anak diarahkan membaca buku digital, nanti dikasi tugas untuk diceritakan bersama.

"Saya sejak masih kecil sudah sering didongengkan orangtua. Pakai bahasa Makassar. Bahkan sampai saya tertidur. Dongeng berupa cerita rakyat dalam bahasa Makassar itu disebut Rupama," kisah Baena.

Dalam diskusi pasca-pelatihan itu, disepakati pentingnya memperkuat nilai budaya anak-anak sebagai bagian dari pendidikan karakter. Untuk memotivasi anak-anak juga akan dibuatkan kompetisi, biar mereka bertambah semangat untuk maju. (rt) 

PERLINDUNGAN LAHAN PERTANIAN. Sekretaris Daerah Kabupaten Takalar, H Muhammad Hasbi (kelima dari kiri) foto bersama beberapa pejabat dan pihak terkait pada acara Sosialisasi / Kampanye Rekomendasi Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (RPLP2B) Tahun Anggaran 2022, di Ruang Pola Kantor Bupati Takalar, Jumat, 13 Mei 2022. (ist)

 


-------

Senin, 16 Mei 2022

 

 

Lahan Pertanian Pangan di Takalar Perlu Dilindungi dari Degradasi, Alih Fungsi, dan Fragmentasi

 

 

TAKALAR, (PEDOMAN KARYA). Lahan pertanian pangan (padi, jagung, kedelai, ubi-ubian dan kacang-kacangan) di Kabupaten Takalar perlu dilindungi dari degradasi, alih fungsi, dan fragmentasi dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk dan terjadinya perluasan kawasan pemukiman.

Kabupaten Takalar yang terdiri atas 10 kecamatan merupakan salah satu daerah lumbung pangan yang ada di Sulawesi Selatan.

Berdasarkan data dari Dinas Pertanian melalui laporan statistik pertanian tanaman pangan, padi, pada tahun 2019, luas panen padi sawah di Kabupaten Takalar sebesar 26.079,95 hektar, dengan produksi padi 113.189 ton.

Produksi jagung pada tahun 2019 mencapai 93.891 ton dari areal luas 9.208 hektar. Tanaman lain yang diproduksi adalah ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah dan kedelai. (BPS, 2019)

Dalam upaya perlindungan lahan pertanian pangan itulah, Pemerintah Kabupaten Takalar mengadakan Sosialisasi / Kampanye Rekomendasi Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (RPLP2B) Tahun Anggaran 2022, yang dibuka Sekretaris Daerah Kabupaten Takalar, H Muhammad Hasbi, di Ruang Pola Kantor Bupati Takalar, Jumat, 13 Mei 2022.

Kegiatan sosialisasi dan kampanye RPLP2B dihadiri Kepala Dinas Pertanian, H Abdul Haris Kulle, Kepala Dinas PPKBP3A dr Nilal Fauziah, serta Kepala Dinas Perpustakan dan Arsip Daerah, Achmad Rivai, dan unsur-unsur terkait.

Muhammad Hasbi mengatakan, sosialisasi RPLP2B bertujuan meningkatan produksi pertanian khususnya pangan, yang tentunya bagian yang tidak terpisahkan dari ketersediaan lahan.

“Selain upaya ketersediaan lahan yang sudah ada, perlu diingat juga upaya perlindungan lahan senantiasa digalakkan untuk mencegah peningkatan laju pertumbuhan alih fungsi lahan, mengingat Kabupaten Takalar adalah masuk dalam kawasan Maminasata (Makassar, Sungguminasa, Takalar, red), dan ini tentu membutuhkan perlindungan lahan, khususnya yang berbatasan langsung dengan Kota Makassar,” kata Hasbi.

Sekda juga dalam sambutannya  menyampaikan bahwa ada dua proyek strategis nasional yang sedang berlangsung pembangunannya di Takalar, yaitu pembangunan Bendungan Pamukkulu di Ko’mara, Kecamatan Polombangkeng Utara, dan Kawasan Industri di Kecamatan Mangngarabombang.

Hasbi berharap dengan adanya kegiatan RPLP2B dapat menghasilkan peta updating lahan pertanian.

“Utamanya Lahan Baku Sawah (LBS) yang saat ini tercatat seluas 17.182 hektar,” kata Hasbi.

 

Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan

 

Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan adalah bidang lahan pertanian yang ditetapkan untuk dilindungi dan dikembangkan secara konsisten guna menghasilkan pangan pokok bagi kemandirian, ketahanan, dan kedaulatan pangan nasional.

Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan diatur dan dilindungi dengan Undang-Undang yaitu UU 41 tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan.

UU 41 tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan diperlukan karena makin meningkatnya pertambahan penduduk serta perkembangan ekonomi dan industri mengakibatkan terjadinya degradasi, alih fungsi, dan fragmentasi lahan pertanian pangan telah mengancam daya dukung wilayah secara nasional dalam menjaga kemandirian, ketahanan, dan kedaulatan pangan.

UU 41 tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan dalam pelaksanaannya diselenggarkan dengan tujuan untuk melindungi kawasan dan lahan pertanian pangan secara berkelanjutan; menjamin tersedianya lahan pertanian pangan secara berkelanjutan; mewujudkan kemandirian, ketahanan, dan kedaulatan pangan; melindungi kepemilikan lahan pertanian pangan milik petani; meningkatkan kemakmuran serta kesejahteraan petani dan masyarakat.

Juga meningkatkan perlindungan dan pemberdayaan petani; meningkatkan penyediaan lapangan kerja bagi kehidupan yang layak; mempertahankan keseimbangan ekologis; dan mewujudkan revitalisasi pertanian. (Hasdar Sikki)


PEMIMPIN BERMARTABAT. Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof Haedar Nashir, memberikan sambutan pada peluncuran bukunya yang berjudul “Indonesia: Ideologi dan Martabat Pemimpin Bangsa”, di Balai Sidang Muktamar 47 Kampus Universitas Muhammadiyah (Unismuh), Jl Sultan Alauddin, Makassar, Ahad, 15 Mei 2022. (Foto: Herul / Humas Unismuh Makassar)

 



-----

Ahad, 15 Mei 2022

 

 

Haedar Nashir: Indonesia Butuh Pemimpin Bermartabat



Buku Indonesia: Ideologi dan Martabat Pemimpin Bangsa” Diluncurkan di Unismuh Makassar 


MAKASSAR, (PEDOMAN KARYA). Jika ingin menjadi bangsa yang maju, Indonesia membutuhkan ideologi yang kuat dan pemimpin bermartabat. Ibarat tubuh manusia, ideologi sebagai jantung, sedangkan pemimpin adalah kepala.

“Bila jantung berhenti berdetak, maka tubuh akan mati. Ada pula pepatah mengatakan, ikan busuk dimulai dari kepala, artinya keburukan atau kejatuhan suatu bangsa tergantung kepalanya, yakni para pemimpin,” kata Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Haedar Nashir.

Hal tersebut ia sampaikan saat meluncurkan buku terbarunya “Indonesia: Ideologi dan Martabat Pemimpin Bangsa”, di Balai Sidang Muktamar 47 Kampus Universitas Muhammadiyah (Unismuh), Jl Sultan Alauddin, Makassar, Ahad, 15 Mei 2022.

Guru Besar Sosiologi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mengatakan, pemerintahan negara yang direpresentasikan oleh eksekutif, legislatif, dan yudikatif serta kelembagaan pemerintahan negara lainnya dari pusat sampai daerah, wajib hukumnya merujuk pada pemikiran dasar tersebut, termasuk kekuatan partai politik.

“Jangan bermain-main dengan mengakalinya demi melanggengkan politik kekuasan dan kepentingan apapun,” tandas Haedar.

Pengamat Politik Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Dr Adi Suryadi Culla, yang didaulat memberikan testimoni, mengaku telah membaca tulisan-tulisan Haedar sejak tahun 1990-an.

Dia menilai Haedar memaparkan hubungan Islam dan Ideologi Pancasila secara sangat apik dalam bukunya tersebut.

“Pak Haedar tidak sekadar membahas Pancasila sekadar sebagai refleksi abstrak, melainkan refleksi historis dan faktual bagaimana pergumulan ideologi bangsa oleh para founding fathers bangsa ini,” ungkap Adi.

Dosen Hubungan Internasional Fisip Unhas merekomendasikan buku ini dibaca, bukan hanya untuk internal warga Muhammadiyah, melainkan untuk masyarakat luas.

“Pak Haedar memberikan ulasan yang sangat jelas bagaimana relasi Islam dan Pancasila yang tidak lagi harus dipertentangkan,” ungkap ungkap Adi.

Rektor Unismuh Prof Ambo Asse juga memberikan pengantar yang mengapresiasi kejernihan berpikir Haedar Nashir dalam merefleksikan persoalan-persoalan bangsa.

“Prof Haedar mengulas bagaimana Islam merupakan bagian tak terpisahkan dari sejarah Indonesia. Jadi kalau ada upaya untuk mendiskreditkan umat Islam dari pentas sejarah Indonesia, berarti mereka buta sejarah,” kata Ambo Asse yang juga Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulsel.

Peluncuran buku ditandai dengan sentuhan buku terbaru Haedar ke layar LED yang ada di atas panggung. Setelah itu muncul video tayangan buku-buku yang pernah ditulis Haedar Nashir, hingga buku “Indonesia: Ideologi dan Martabat Pemimpin Bangsa.”

Kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan figura sampul buku tersebut oleh penulisnya Prof Haedar Nashir.

Kegiatan ini dihadiri sekitar 300 orang peserta yang merupakan utusan Pimpinan Daerah Muhammadiyah, utusan perguruan tinggi Muhammadiyah se-Sulsel, serta kader dan simpatisan Muhammadiyah. (zak)


POMNAS 2022. Pengurus Badan Pembina Olahraga Mahasiswa (Bapomi) Sulsel, serta dan pelatih masing-masing cabang olahraga menghadiri rapat persiapan Pomnas 2022 di Padang, Sumatera Barat, di Lantai I7 Menara Iqra Kampus Unismuh Makassar, Jumat, 13 Mei 2022. (Foto: Herul / Humas Unismuh Makassar)


 


-----

Sabtu, 14 Mei 2022

 

 

Rapat di Kampus Unismuh Makassar, Tim Pomnas Sulsel Target Masuk 5 Besar

 

 

MAKASSAR, (PEDOMAN KARYA). Sulsel telah menargetkan harus bisa masuk lima besar di Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (Pomnas) di Padang, Sumatera Barat, November 2022.

“Agar Sulsel bisa masuk peringkat lima besar, maka mulai sekarang, kegiatan pembinaan dan pelatihan pada masing-masing cabang olahraga lebih serius lagi agar sisa waktu beberapa bulan ke depan kemampuannya atau skill atletnya bisa terus bertambah,” kata Sekretaris KONI Sulsel, Mujiburrahman.

Hal itu ia sampaikan dalam rapat dengan pengurus Badan Pembina Olahraga Mahasiswa (Bapomi) Sulsel, serta dan pelatih masing-masing cabang olahraga, di Lantai I7 Menara Iqra Kampus Unismuh Makassar, Jumat, 13 Mei 2022.

Dalam rapat ini selain dihadiri pengurus Bapomi  Sulsel, pembina serta pelatih masing - masing cabang olahraga, juga hadir sejumlah wakil rektor III Bidang Kemahasiswaan, yakni dari Unhas, UNM, UIM, UMI, Atmajaya, Unimers, Unibos, STIEM Bongaya, serta Wakil Rektor III Unismuh Makassar, Dr Muhammad Tahir, sekaligus mewakili rektor sebagai tuan rumah dalam pertemuan ini.

Sebelum masuk ke materi pertemuan ini, Wakil Rektor III Unismuh, Muhammad Tahir atas nama rektor sekaligus tuan rumah pertemuan, menyampaikan permohonan maaf kerena sedianya pertemuan ini dihadiri Rektor Unismuh, Prof  Ambo Asse, namun  dalam waktu yang bersamaan menguji di Kampus Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar.

Unismuh Makassar sebagai tuan rumah pertemuan ini memberikan apresiasi serta supportnya kepada Bapomi Sulsel, dengan harapan semoga target prestasi yang ingin dicapai bisa terwujud.

“Tentu ini tidak lepas pula dari dukungan pendanaan, baik itu dari pemerintah, maupun dari sumber pendanaan lainnya,” kata Muhammad Tahir.

Dalam pertemuan yang dipandu Sekretaris Bapomi Sulsel, Syahrir Arief, mulai  diverifikasi cabang-cabang olahraga yang dimungkinkan Tim Pomnas Sulsel bisa meraih medali, apakah itu emas, perak, maupun perunggu.

Dari hasil klasifikasi yang diperoleh dari masing- masing penanggungjawab cabang olahraga bahwa cabang olahraga yang memungkinkan tim Pomnas Sulsel bisa meraih medali adalah di cabang atletik, misalnya di nomor 100 meter, 200 meter, 400 meter, 800, 1.500 meter, dan 5.000 meter.

Selain itu, cabang olahraga lainnya yang dimungkinkan bisa meraih medali adalah lompat jauh, lompat jangkit, lempar cakram, lempar lembing, tolak peluruh, estafet 4 x 100 meter dan 4 x 400 meter serta sepak takraw.

Syahrir Arief berharap dari cabang olahraga yang disebutkan di atas bisa mempersembahkan medali sehingga harapan Sulsel masuk lima besar di Pomnas ke-17 di Padang bisa terwujud.

Dalam pertemuan ini juga telah memastikan atlet yang bisa ikut di Pomnas, sesuai ketentuan yang berlaku adalah maksimal berumur 23 tahun, dan mahasiswa yang ikut di Pomnas ini adalah mahasiswa yang betul betul namanya terdaftar  dipangkalan data pendidikan tinggi.

Syahrir Arief juga menyampaikan kemungkinan tim Pomnas Sulsel yang akan diberangkatkan di Pomnas Padang kurang lebih 200 orang. (her)

“Maaf beribu-ribu maaf tuanku, hamba tak layak melalui tangga berjenjang empat puluh yang dihampari kain putih ini. Hamba takut durhaka karena turunan hamba tidak layak menginjak hamparan yang tuanku hamparkan di depan hamba ini. Hamba hanya orang biasa. Turunan bangsawan rendah, sudah bercampur pula. Tidak asli lagi sebagai kehendak tuanku,” kata Datu Museng menyindir. (int)
 



-----

PEDOMAN KARYA

Jumat, 13 Mei 2022

 

Datu Museng dan Maipa Deapati (10):

 

Maggauka dan Permaisuri Undang Datu Museng ke Istana

 

 

Oleh: Verdy R. Baso

(Mantan Wartawan Harian Pedoman Rakyat)

 

Mendengar hasil kunjungan itu, Manggauka kecewa. Hatinya panas diperlakukan demikian oleh salah seorang rakyatnya. Namun beliau cukup bijaksana. Dalam soal seperti ini, beliau berpendapat tak ada manfaat memilih jalan kekerasan. Maka, diperintakannya sekali lagi, utusan kembali ke rumah Datu Museng.

“Gelarang, pulang kembali ke rumah Datu Museng! Sampaikan salamku untuk kedua kalinya. Katakan, aku bersama permaisuri pasti datang sendiri, andaikata ada yang menunggui adiknya Maipa Deapati. Sampaikan lagi, kami mengharapkan kedatangannya. Bawa usungan kesana. Jika ia tak dapat berjalan kaki, usung ia kemari. Jangan lupa sampaikan bahwa ia sudah kami anggap sebagai anak sendiri, bersaudara dengan Maipa,” kata Maggauka.

Utusan itu pun kembali ke ruah Datu Museng. Kali ini mereka membawa serta usungan untuk mengusungnya, apabila ia tak bersedia berjalan kaki.

“Ada apa lagi tuanku Gelarang?” tanya Datu Museng, setiba utusan di atas rumahnya.

“Kami datang lagi anakku, membawa berita dan salam Maggauka bersama permaisuri. Semoga kedatangan kami kali ini tidak lagi berhampa tangan, tapi berbuah seperti yang diharapkan Maggauka, junjungan kita. Anakku Datu Museng! Hapuskan malu Maggauka dan malu negara serta malu Maipa dan malu rakyat Sumbawa. Tunjukkan ketinggian budimu. Perlihatkan bahwa kau anak muda yang gagah perwira, kaum terhormat pula. Marilah anakku, kita berangkat sekarang juga. Jangan sampai kasip dan tak berguna lagi kedatangan dan pertolongan yang anakku berikan nanti. Bersiaplah anakku, kita berangkat. Jika tak dapat berjalan, ada usungan kami bawa untukmu,” tutur Gelarang.

Datu Museng melirik kakeknya di pelataran bawah yang sedang duduk menggosok-gosok pedang lidah buaya dengan potongan jeruk nipis, sambil memperhatikan jalan pembicaraan. Orang tua itu memberi isyarat anggukan kepala pertanda setuju.

Kemudian Datu Museng berpakaian, seperti anak raja berpakaian. Setelah siap, ia pun berangkat diiringi perutusan Maggauka.

Sebelum mereka tiba di istana, salah seorang utusan diperintahkan oleh Gelarang untuk menyampaikan berita kedatangan Datu Museng kepada Maggauka. Ketika Maggauka menerima kabar ini, diperintahkan segera menutupi tangga istana dengan kain putih sebagai tanda penghormatan Maggauka kepada Datu Museng. Sedang beliau sendiri dan permaisuri berdiri di ambang pintu menunggu kedatangan tamu kehormatan itu.

Ketika rombongan yang dinanti-nantikan masuk ke pekarangan istana, Datu Museng tampak menundukkan kepala. Setelah sampai di anak tangga paling bawah, anak muda itu berhenti melangkah, tegak saja sebagai patung. Melihat itu, Maggauka dan permaisuri dari ujung atas tangga berseru mengaja supaya sudi naik ke istana, tapi Datu Museng tidak juga beranjak.

Ketika ternyata ajakan-ajakan Maggauka dan permaisuri tidak berhasil juga, keduanya pun turun menghampiri Datu Museng. Dipeganglah tangannya oleh Maggauka di sebelah kanan dan permaisuri di sebelah kiri.

“Marilah kita naik anakku, jangan tinggal berdiri seperti ini. Hayolah anakku, jangan segan-segan juga,” kata Maggauka.

“Maaf beribu-ribu maaf tuanku, hamba tak layak melalui tangga berjenjang empat puluh yang dihampari kain putih ini. Hamba takut durhaka karena turunan hamba tidak layak menginjak hamparan yang tuanku hamparkan di depan hamba ini. Hamba hanya orang biasa. Turunan bangsawan rendah, sudah bercampur pula. Tidak asli lagi sebagai kehendak tuanku,” kata Datu Museng menyindir.

“Jangan sebut-sebut itu lagi anakku. Kami telah mengangkatmu sebagai anak sendiri. Adakah Gelarang menyampaikan hal itu? Kami hamparkan kain putih dan turun membimbingmu ini sebagai bukti kau kami anggap sebagai anak dan saudara Maipa Deapati. Marilah anakku!” kata Maggauka.

Dengan tetap menundukkan kepala, Datu Museng akhirnya melangkah menaiki tangga. Pikirannya menerawang.

Ia tidak setuju dengan pernyataan Maggauka yang mengangkatnya sebagai putra dan mempersaudarakan dengan Maipa Deapati, kekasihnya.

Jiwanya mungkin dapat mempertimbangkan tentang soal keputraan itu, tapi tidak dengan soal yang menyangkut dengan Maipa. Dengan perawan ini tak ada persoalan lain baginya kecuali ia adalah kekasihnya, yang akan direbutnya dengan paksa jika tidak mungkin dengan jalan yang lazim.

Ia maklum dengan pernyataan Maggauka tidak berasal dari lubuk hatinya, tapi sekadar untuk mencapai maksudnya yaitu menggunakan Datu Museng menyembuhkan putrinya yang sakit aneh itu.

Ketika ia sedang bergulat dengan pikirannya, mereka tiba di atas istana. Ia kemudian diantar ke bilik sang putri yang hingga kini belum sadar.

Di pintu bilik, Datu Museng berhenti. Dimintanya semua orang yang berada di dalam bilik tanpa kecuali meninggalkan ruangan.

Kemudian pintu ditutupnya dan mulai melangkah mendekati pembaringan Maipa Deapati. Langkahnya perhalan sekali, seakan takut membangunkan jantung hatinya yang sedang tergeletak di hadapannya.

Sesampai di sisi pembaringan, Datu Museng membungkuk meraih kain selimut yang menutupi seluruh tubuh Maipa. Dadanya gemuruh, hatinya berontak. Rasa cinta kasih yang sekian lama terpendam, kini bergelora dengan dahsyat seakan-akan hendak memecahkan rongga dada itu. Apalagi ketika wajah Maipa yang tertutup selimut sudah terpandang olehnya. Rasanya ia hendak menjatuhkan diri berlutut merangkul tubuh di hadapannya ini. (bersambung)


------

Kisah sebelumnya:

Datu Museng dan Maipa Deapati (9): Sultan Sumbawa Kirim Utusan ke Rumah Datu Museng