Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

Nama Andi Baso Amir, biasa disapa ABA, tidak banyak orang mengenalnya sebagai penyair Sulsel yang pernah membungai dunia sastra di tahun 1950-1960-an. Dia lebih dikenal sebagai pemikir budaya dan mantan Bupati Bone di tahun 1967-1969. 

Kehadiran ABA di kancah kesenian, diawali dengan perannya sebagai panitia Festival Drama se Sulsel tahun 1955 di Makassar.

 


-----

PEDOMAN KARYA

Senin, 08 Agustus 2022

 

Jejak Sastrawan Sulsel:

 

 

Penyair Sebagai Pahlawan Hati Nurani

 

(Apresiasi Nilai “Sipakatau” dalam Puisi-puisi Andi Baso Amir)

 

 

Oleh: Mahrus Andis

(Sastrawan, Budayawan)

 

Nama Andi Baso Amir, biasa disapa ABA, tidak banyak orang mengenalnya sebagai penyair Sulsel yang pernah membungai dunia sastra di tahun 1950-1960-an. Dia lebih dikenal sebagai pemikir budaya dan mantan Bupati Bone di tahun 1967-1969. 

Kehadiran ABA di kancah kesenian, diawali dengan perannya sebagai panitia Festival Drama se Sulsel tahun 1955 di Makassar.

Andi Baso Amir  mulai aktif menulis puisi sejak tahun 1940-an. Puisinya dimuat di beberapa surat kabar, terutama Mingguan lokal yang dipimpinnya.

Di era 1960, banyak koran yang terbit di Makassar dan memuat karya-karya para sastrawan dari berbagai daerah di Sulsel. Kekuatan sastra dahulu berkat kerja samanya dengan pemilik koran.

Media Mingguan seperti: Marhaen, Indonesia Pos, Bina Baru, Bawakaraeng, Makassar Times, Duta Masyarakat, dan lainnya, menyediakan halaman untuk puisi, cerpen, atau cerita bersambung pada rubrik budayanya.

Karya-karya puisi yang ditulis oleh Andi Baso Amir, banyak menghiasi halaman seni-budaya koran tersebut. Ada pula beberapa puisinya yang telah terbit menjadi buku. Dan dari buku inilah, tiga puisinya saya petik untuk sampel pembicaraan.

 

Filosofi “Reso Temmangingngi”

 

Mengamati gaya bahasa puisi ABA, kita bisa mencatat bahwa penyair ini memiliki kompetensi puitik yang kuat. Struktur bentuk dan isi puisinya pun terpelihara dengan rapi. Tema-tema yang disodorkan cukup bervariasi. Kemanusiaan, kebangsaan dan ketuhanan adalah tematik yang menguasai beberapa puisinya.

Meskipun ada kesan bahwa pola persajakannya masih terpengaruh oleh gaya pengungkapan sastra lama, namun hal itu tidaklah menghilangkan karakter khusus puisinya. ABA tetap konsisten pada kejujuran ide dan keberanian melawan segala bentuk kemungkaran yang dia hadapi.

Tiga puisi dari bukunya itu saya apresiasi dari dimensi moral sebagai bahan renungan bersama. Ketiga puisi dimaksud merepresentasikan gejolak pemberontakan jiwa penyair melawan kepalsuan hidup. Perlawanan hati nurani terhadap perilaku kepalsuan, dapat kita baca pada bait puisinya yang berjudul “Arus Bergolak” berikut ini:

 

ARUS BERGOLAK

 

Telah lama aku menderita

Telah lama aku merasa

Cobaan hidup sepanjang masa

Pengaruh harta setiap kala

Telingaku sudah pekak tuli

Mendengar rayuan kata

Mendengar hiburan janji

Janji yang muluk hampa

Aku kerap diajak ke sana

Bercengkerama di taman palsu

Tetapi jiwaku tetap menolak

Khawatir tertipu kelak

Ya, betul badanku rapuh lemah

Karena menderita  nasib sengsara

Jiwaku malahan makin kuat

Menempuh arus gelombang hidup

Hukum hidup harus menderita

Gelagat hidup di alam maya

Guna bahagia di masa depan

Masa gemilang insan sejagat.

 

Makassar, 1949


Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu. (QS 2 / Al-Baqarah, ayat 20)


 


-----

PEDOMAN KARYA

Ahad, 07 Agustus 2022

 

 

Surah Al-Baqarah, Ayat 20:

 

 

Hampir-hampir Kilat Menyambar Penglihatan Mereka

 

 

Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu. (QS 2 / Al-Baqarah, ayat 20)

 

-----

Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia:

 

Begitu dekatnya dari dahsyatnya cahaya kilat menyambar pandangan mereka, walaupun  demikian setiap kali  cahaya menerangi mereka, maka mereka berjalan pada cahaya itu,  dan jika cahayanya menghilang maka jalan pun menjadi gelap bagi mereka sehingga mereka menghentikan langkah di tempat mereka . dan seandainya bukan karena Allah menunda siksa bagi mereka pastilah Allah akan mencabut pendengaran dan penglihatan mereka. Dan Allah Maha Kuasa atas hal tersebut di setiap waktu dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.

 

-----

Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid (Imam Masjidil Haram)

 

20. Kilat itu nyaris membutakan mata mereka karena kuatnya kilauan dan cahayanya. Setiap kali kilat itu muncul dan bersinar mereka bergerak maju. Jika kilat itu tidak menunjukkan sinarnya mereka bertahan di tengah kegelapan dan tidak bisa bergerak. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia akan melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka dengan kekuasaan-Nya yang mencakup segala sesuatu, sehingga mereka tidak bisa lagi mendengar dan melihat, karena mereka telah berpaling dari kebenaran. Hujan itu adalah perumpamaan bagi Al-Qur`ān, suara petir itu adalah perumpamaan bagi larangan-larangan yang ada di dalamnya, dan sinar kilat itu adalah perumpamaan bagi kebenaran yang kadang-kadang muncul untuk mereka, sedangkan menutup telinga karena kerasnya suara petir adalah perumpamaan bagi sikap mereka yang berpaling dari kebenaran dan keengganan mereka menerimanya. Titik kesamaan antara orang-orang munafik dan orang-orang yang ada di dalam dua perumpamaan tersebut ialah tidak bisa mengambil manfaat yang ada. Dalam perumpamaan dengan api, orang yang menyalakan api itu tidak mendapatkan manfaat apapun selain kegelapan dan sisa-sisa pembakaran. Sedangkan dalam perumpamaan air, orang-orang yang ditimpa air hujan itu tidak mendapatkan manfaat apa-apa selain petir dan kilat yang membuat mereka ketakutan. Begitu juga dengan orang-orang munafik, mereka tidak melihat apapun di dalam Islam selain kekerasan.

 

-----

Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah / Markaz Ta'dzhim al-Qur'an di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, professor fakultas al-Qur'an Universitas Islam Madinah

 

20. Kilat itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan mereka karena kilauan cahayanya yang sangat kuat, sehingga merekapun dalam keadaan bahaya meski saat mendapat cahaya, walaupun cahaya itu sedikit membantu mereka untuk berjalan; namun jika cahaya itu telah hilang maka mereka kembali berhenti dan kebingungan.

Kalaulah Allah berkehendak niscaya Dia akan mengambil pendengaran mereka dengan suara petir yang menggelegar dan mengambil penglihatan mereka dengan cahaya kilat yang menyilaukan. Kemudian Allah menyebutkan alasan hal itu dengan firman-Nya:

(إن الله على كل شيء قدير)

Yakni, Dzat yang memiliki segala sifat kesempurnaan yang mampu melakukan itu dan melakukan segalanya.

Referensi : https://www.tafsirweb.com/255-surat-al-baqarah-ayat-20.html


-----

Ayat sebelumnya:

Seperti Orang-orang Yang Ditimpa Hujan Lebat, Gelap, Guruh dan Kilat 

Mereka Tuli, Bisu, dan Buta 

MANUSIA ISTIMEWA. Dan ketika berhari-hari, bahkan berminggu-minggu ia terus didera masygul dan rasa bersalah itu, I Tuan Tumalompoa (penjajah Belanda yang berkuasa di Makassar) akhirnya tiba pada satu kesimpulan. Datu Museng dan Maipa Deapati, adalah dua anak manusia yang amat istimewa, tak ada taranya di seantero jagat. Mereka telah dirajut oleh paduan jiwa yang satu dan hakiki, yang tak mungkin dipisah. Dan kisah cinta-kasih yang suci dan agung ini telah dilukis sejarah.   
 


-------

PEDOMAN KARYA

Ahad, 07 Agustus 2022

 

Datu Museng dan Maipa Deapati (44-habis):

 

 

Tumalompoa Akui Datu Museng dan Maipa Deapati Manusia Istimewa

 

 

Oleh: Verdy R. Baso

(Mantan Wartawan Harian Pedoman Rakyat)

 

Diperhatikannya tajam-tajam keseluruhan bentuk tubuh Maipa yang benar-benar istimewa. Sorot matanya menjalar mulai dari wajahnya yang bundar menelur, ke pipi montok halus, terus ke hidung mancung indah.

Alis laksana bulan menyabit, bulumata panjang melentik. Bibir bak limau seulas. Dagu laksana lebah bergantung. Leher berjenjang, dibalut kain merah. Tubuh padat berisi dalam pakaian baju bodo merah jambu.

Ia benar-benar terpesona menyaksikan pemandangan yang indah, molek tiada terkira. Dia beruntung, karena mendapatkan Maipa yang sedang tidur, hingga sempat memandang sepuas-puas hati. Bukankah jika sudah berada dalam tangan Tuan Tumalompoa, ia tak mungkin lagi melihat bidadari menjelma ini walau sesaat?

Entah berapa lama sudah ia tegak mematung memandangi perempuan itu ketika ia tiba-tiba sadar akan tugas yang dibebankan kepadanya oleh penguasa daratan Makassar itu. Sebenarnya ia belum puas berdiri di depan wanita itu. Tapi ia takut pada Tumalompoa yang kini tentu telah gelisah menunggu kedatangannya membawa perempuan ini.

Dengan dada berdebar-debar, ia melangkah maju perlahan-lahan mendekati Maipa. Di sana, ia kembali termenung, merenungi wajah indah dan masyhur, yang menjadi buah bibir ke mana-mana itu. Beberapa saat lamanya ia kembali mematung kagum, tak tahu apa yang hendak dibuatnya.

Ah, semakin dekat semakin cantik juga, gumamnya di dalam hati. Karena tak tahan lagi hatinya, ia pun berbisik.

“Wahai puteri Maipa Deapati..., bangunlah, ratu. Sudah lama beta di sini, disuruh I Tuan Tumalompoa yang berkuasa di dunia, yang dapat menghitam-putihkan keadaan di Makassar. Usungan yang bertatahkan intan baiduri telah tersedia. Sesuai benar dengan kemolekan tuan puteri. Aduhai ratu, senyumlah, bicaralah pada beta biar hanya sepatah kata, agar kukecap juga suara lembut yang lewat dari bibir tipis limau seulas, kusaksikan juga gigi putih-gading yang rata laksana delima merekah.”

“Puteri juita, tengoklah kemari, biar hanya separuh pandang, setengah lirikan saja. Wahai tuan puteri Maipa, bayangan dewi kayangan, bukalah matamu dan lihatlah kemari, biar hanya sekejap, agar bahagia hati ini dan puas menghambakan diri pada tuan puteri. Pantas dan patut benar karaeng Datu Museng menyabung nyawa dan berani menghadang maut, mengamuk membabi buta, karena kecantikan rupa dan kemolekan tubuhmu ini. Ya, lelaki siapa yang tak bersedia mati untukmu, wahai ratu kecantikan.”

Ketika Maipa Deapati ternyata tidak juga bergerak, berlututlah Tuan Jurubahasa di depan kaki sang puteri. Sambil menengadah dalam sikap memuja, ia kemudian berkata lembut: “Tuan puteri, bangunlah. Sudah lama Tumalompoa, Sri paduka yang dipertuan di Makassar menanti. Hangus jantung dan perasaannya nanti, dibakar api cinta, karena terlalu lama menunggu tuan puteri...!”

Maipa Deapati ternyata tetap membisu, diam tiada mendengar bisikan I Tuan Jurubahasa. Sebenarnya, kendati ia berteriak sekeras guruh membahana, guntur menggeledeg, tak akan mampu membangunkan sang puteri kemayu. Karena tak ada telinga yang hendak mendengar, tak ada hati yang ingin dirayu lagi.

Akhirnya I Tuan Jurubahasa merasa jemu membujuk merayu, mengharap dikabulkan pintanya, diterima rayuannya. Ia laksana sedang menyembah berhala, dimana tak akan pernah ada jawaban.

Karena tak tahan hatinya lagi, didorong rasa takut dan cemas akan mendapat amarah dari Tumalompoa, diputuskannya dalam hati untuk membawa sang puteri dalam keadaan demikian. Diusung semasih dalam lena. Rasanya akan lebih mudah memboyongnya, daripada dalam keadaan terjaga.

Setelah putus kata hatinya, ia berdiri perlahan-lahan mendekati sang puteri. Dengan mengerahkan segala kekuatannya, diangkatnya tubuh Maipa Deapati di atas kedua lengannya yang kokoh untuk dibawa ke usungan yang sudah tersedia di bawah dekat tangga.

Tetapi sebagai manusia biasa, ia tak tahan untuk melihat pula leher jenjang Maipa yang dikabarkan sangat indah itu. Maka selagi tubuh sang puteri di dalam bopongannya, salah satu tangannya secara usil membuka setangan merah yang melilit tebal di leher itu.

Ketika kain terlepas, menyemburlah darah kental menerpa wajah I Tuan Jurubahasa. Wakil Tumalompoa ini amat terkejut laksana disambar petir. Wajahnya pucat-pasi dan seperti ada sesuatu yang tiba-tiba memukul jantungnya keras sekali. Tulang-tulangnya laksana lepas dari persendian, badannya lemas tak kuat menahan rasa ngeri dan takut yang muncul mendadak, dan ia pun jatuh berdebam ke lantai.

Ia jatuh bukan karena pingsan tak sadarkan diri, tetapi jatuh untuk dijembah maut. Jantungnya ternyata tak berdenyut lagi. Darahnya yang tadi bergejolak penuh gairah, kini berhenti beredar.  Dan tubuhnya yang menjadi mayat itu, tiarap di atas permadani, dihimpit tubuh Maipa Deapati.

 

* * *

 

Karena lama menunggu, para pengiring mulai kesal di anak tangga. Dan setelah yang dipertuan mereka tak muncul-muncul juga, mereka mulai curiga. Jangan-jangan I Tuan Jurubahasa mendapat kesulitan. Siapa tahu di atas rumah masih ada joa yang mengawal puteri Maipa Deapati, dan...

Ah, kepala pengawal tak tahan menerka-nerka lebih lama. Bersama lima orang prajurit, ia bergegas naik ke rumah dan langsung ke ruang tengah. Alangkah terkejutnya mereka, ketika menyaksikan tuannya tiarap di atas permadani, dihimpit tubuh sang puteri.

Buru-buru diperiksanya kedua orang yang tergeletak di lantai itu. Ternyata dua-duanya sudah meninggal. Tanpa sadar, kepala pengawal berteriak minta tolong, dan seluruh pengawal dan pemikul usungan menghambur ke atas rumah dengan keris terhunus. Pikir mereka, tentu musuh telah mencelakai yang dipertuan dan pengawal yang naik belakangan.

Mereka berdesak-desakan hendak dahulu mendahului. Ketika tiba di ruang tengah, mereka menyaksikan pemandangan yang mengerikan dan tak masuk akal. Segenap ruangan segera digeledah, tapi tak seorang pun musuh yang mereka jumpai.

Mereka kemudian kembali pada kedua mayat itu dan sama mematung memikirkan kejadian yang jauh dari sangka dan kira-kiranya. Tak seorang pun dari mereka yang mengerti apa yang sesungguhnya terjadi.

Akhirnya, salah seorang dari mereka memberi perintah supaya mayat I Tuan Jurubahasa diangkat ke bawah, dinaikkan ke usungan dan diantar kembali menghadap I Tuan Tumalompoa.

Demikianlah terjadi, usungan yang sedianya membawa puteri Maipa Deapati, kini dibawa kembali dengan mengangkut mayat Jurubahasa. Dan apa reaksi Tumalompoa ketika menyaksikan mayat Jurubahasa di atas usungan indah permai itu?

Matanya membelalak, mulutnya menganga. Ia sangat heran, tapi tak kuasa mengeluarkan sepatah kata pun. Hatinya hancur total, semangatnya terpukul hebat. Tak disangkanya, korban yang demikian banyak jatuh, hanya berakhir sia-sia dan demikian menyedihkan.

Sejak kejadian itu, Tumalompoa terus diamuk gundah-gulana. Hatinya risau berkepanjangan dan selalu murung termenung. Ia rasanya tak rela mengerti tentang malapetaka itu. Mengapa kekuasaannya yang demikian besar dan selama ini senantiasa berhasil mencapai tujannya, kini menderita kegagalan secara amat hina.

Dan ketika berhari-hari, bahkan berminggu-minggu ia terus didera masygul dan rasa bersalah itu, ia akhirnya tiba pada satu kesimpulan. Datu Museng dan Maipa Deapati, adalah dua anak manusia yang amat istimewa, tak ada taranya di seantero jagat. Mereka telah dirajut oleh paduan jiwa yang satu dan hakiki, yang tak mungkin dipisah. Dan kisah cinta-kasih yang suci dan agung ini telah dilukis sejarah.   

---000O000---  

 

Keterangan:

-         I Tuan Tumalompoa adalah penjajah Belandaa yang diberi kekuasaan penuh di Makassar

 

-----

Kisah sebelumnya:

Datu Museng Serahkan Ajimatnya kepada Karaeng Galesong 

Karaeng Nyikko dan Karaeng Mangemba Tewas, Karaeng Galesong Melarikan Diri

JURNAL BEREPUTASI INTERNASIONAL. Para pemateri dan peserta foto bersama pada Pelatihan Publikasi Internasional Bereputasi, yang diadakan Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Hasanuddin (Unhas), di Hotel Grand Tulip, Sabtu, 06 Agustus 2022. (ist)

 




-----

Ahad, 07 Agustus 2022

 

 

Prodi Komunikasi Fisip Unhas Gelar Pelatihan Penulisan Ilmiah Internasional

 

 

MAKASSAR, (PEDOMAN KARYA). Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Hasanuddin (Unhas) menyelenggarakan pelatihan publikasi internasional bereputasi, di Hotel Grand Tulip, Makassar, Sabtu, 06 Agustus 2022.

Kegiatan itu merupakan upaya peningkatan kualitas dan kapasitas individu dosen  Departemen Ilmu Komunikasi untuk mendukung komitmen Unhas sebagai World Class University.

“Publikasi internasional sangat penting untuk dilakukan oleh dosen untuk meningkatkan sitasi dan meningkatkan reputasi universitas. Selain itu, juga sebagai penunjang kinerja dosen,” kata Dekan FISIP Unhas Dr Phil. Sukri PhD.

Ditambahkan, sivitas akademika Departemen Ilmu Komunikasi Unhas merupakan sumber daya yang juga dituntut untuk memiliki kemampuan yang lebih dari peneliti biasa karena kapasitasnya yang lebih intens berinteraksi dengan ilmu pengetahuan.

Menurutnya, dosen harus mampu mengaktualisasikan kompetensinya bukan sekedar kegiatan penelitian, tetapi mampu untuk menulis hasil penelitian tersebut dalam media publikasi yang terindex scopus.

“Diseminasi hasil penelitian tidak dapat dipisahkan dari kegiatan penelitian secara keseluruhan. Diseminasi dapat digunakan sebagai indikator kualitas penelitian melalui publikasi secara berkala dan bermutu,” lanjutnya.

Kunto Adi Wibowo, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran (Unpad) selaku pemateri memberikan beberapa tips dan trik untuk dapat menembus publikasi pada jurnal internasional bereputasi. Dosen yang salah satu fokus penelitiannya mengenai hoax dan missinformasi ini juga memberikan informasi mengenai etika dalam melakukan publikasi.

“Melakukan publikasi itu membutuhkan komitmen yang kuat dan jangan mudah putus asa,” pesan Kunto.

Dalam pelatihan tersebut, segenap dosen Ilmu Komunikasi Unhas juga dibekali informasi terbaru prihal sinkronisasi Sinta Ver 3.0 untuk kepentingan penelitian, pengabdian dan pangkat dosen.

Andi Dirpan dari PMC LP2M Unhas selaku pemateri pada sesi ini juga turut membahas kebijakan pemerintah terbaru terkait publikasi bagi tenaga pendidik.

“Yang terbaru dari Sinta Ver 3.0 ini, kita sekarang bisa melakukan update dan sinkronisasi secara mandiri,” jelas Andi.

Ketua Departemen Ilmu Komunikasi Unhas, Sudirman Karnay, berharap agar pelatihan yang telah dilakukan dapat menjadi bekal bagi para dosen untuk menulis artikel ilmiah di jurnal internasional, khususnya bagi dosen/peneliti muda. Sehingga dapat meningkatkan jumlah publikasi Internasional pada Jurnal terindeks Scopus (atau setara) dan mempunyai impact faktor cukup tinggi.

“Harapannya, pelatihan serupa bisa kita gelar secara rutin sebagai wujud komitmen untuk terus meningkatkan kuantitas dan kualitas publikasi dosen dan mahasiswa Ilmu Komunikasi Unhas,” jelas Sudirman. (zh)


TENGAH MALAM. Wakil Bupati Kepulauan Selayar, Saiful Arif (kiri) melintas di malam Buta, Jum'at, 05 Agustus 2022, sekitar pukul 23.48 Wita, dengan menumpang speedboat dari Labuang Nipayya Selayar ke Bira Bulukumba. (ist)






----

Sabtu, 06 Agustus 2022

 

 

Wabup Selayar Melintas di Malam Buta ke Bira Bulukumba dan Langsung ke Makassar

 

 

SELAYAR, (PEDOMAN KARYA). Wakil Bupati Kepulauan Selayar, Saiful Arif melintas di malam Buta, Jum'at, 05 Agustus 2022, sekitar pukul 23.48 Wita, dengan menumpang speedboat dari Labuang Nipayya Selayar ke Bira Bulukumba.

Mantan Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Selayar berangkat tengah melam karena ingin menghadiri acara Pelepasan Kontingen Kwarda Pramuka Sulawesi Selatan, Sabtu pagi, 06 Agustus 2022, pukul 09.00 Wita, di lapangan upacara Rujab Gubernur Sulawesi Selatan.

Kontingen Kwarda Pramuka Sulawesi Selatan dijadwalkan dilepas langsung Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, selaku Ketua Majelis Pembimbing Daerah (Mabida). Acara pelepasan Kontingen dirangkaikan dengan Peringatan Hari Pramuka ke-61, yang dimajukan dengan pertimbangan penghematan.

Wabup Saiful Arif, memang diamanahi sebagai Ketua Kwarcab Gerakan Pramuka Kepulauan Selayar sejak puluhan tahun lalu. Karena itulah, Saiful Arif pula yang memberikan arahan sekaligus melepas kontingen Pramuka Selayar, Jum'at pagi, 05 Agustus 2022, di Pendopo Rujab Lama Bupati Selayar.

Sedianya, Wabup akan berangkat ke Makassar untuk acara pelepasan kontingen Pramuka Sulawesi Selatan pada penyeberangan Trip kedua ke Bulukumba, namun, Sekda Mesdiono melaporkan bahwa ada Rapat Paripurna DPRD Selayar, Jum'at malam (05 Agustus 2022) pukul 20.00 Wita.

Rapat Paripurna harus dihadiri Bupati atau Wabup, sekaligus memberikan sambutan (Kata Akhir), namun Bupati Selayar Basli Ali, sedang di luar daerah, maka demi menghormati Ketua dan Anggota DPRD, serta menghargai Rapat Paripurna tersebut, maka Wabup menunda keberangkatannya. Dan setelah menghadiri Rapat Paripurna tersebut, barulah ia menyeberang laut dari Selayar ke Bulukumba di malam buta.

Wabup bisa tiba di tempat acara sebelum dimulai, karena speed boat berukuran kecil sekitar 120 x 240 meter yang dinakhodai Umar berjalan cepat, star jam 23.48 dr Labuang Nipayya Selayar dan sudah tiba di Pasir Putih Bira Bulukumba pukul 01.28, hanya sekitar 40 menit.

Mobil Fortuner yang dikendalikan Sopir Ippan dari Bulukumba menuju Makassar, juga berjalan laju di tengah sepi dan tiba di Mallengkeri Makasar, pukul Sabtu dinihari, pukul 03.00. Dengan demikian, waktu tempuh dari Bulukumba ke Makassar hanya sekitar 152 menit atau 2 jam dan 32 menit.

“Saya bahkan masih sempat istirahat sejenak, sebelum memimpin shalat subuh di mushallah dekat rumah di Mallengkeri,” tutur Saiful Arif. (win)