Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

Di Madinah terdapat para pendukung dua kelompok tersebut, dan mereka berpura-pura masuk Islam tatkala tidak ada tempat lagi untuk meraih kewibawaan mereka. Mereka adalah Abdullah bin Ubay dan teman-temannya, kelompok ketiga ini lebih besar lagi kemarahannya daripada dua kelompok di atas. (int)


 


-----

PEDOMAN KARYA

Selasa, 25 Januari 2022

 

Kisah Nabi Muhammad SAW (84):

 

 

Kaum Muslimin Menang di Perang Badr, Banyak Orang Berpura-pura Masuk Islam

 

 

Penulis: Abdul Hasan Ali Al-Hasani An-Nadwi

 

Berbagai Operasi Militer Antara Badar dan Uhud

 

Perang Badar merupakan awal pertarungan bersenjata antara kaum muslimin dan kaum musyrikin, dan merupakan peperangan yang menentukan, kaum muslimin memperoleh kemenangan besar yang diakui oleh seluruh orang Arab.

Orang yang menyesali akibat perang tersebut adalah mereka yang secara langsung memperoleh kerugian berat, yaitu kaum musyrikin atau orang-orang yang memandang kemuliaan dan kemenangan kaum muslimin merupakan pukulan telak terhadap eksistensi keagamaan dan perekonomian mereka yaitu kaum Yahudi.

Sejak kaum muslimin meraih kemenangan dalam Perang Badar, dua kelompok tersebut menyimpan amarah terhadap kaum muslimin.

 

لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا ۖ وَلَتَجِدَنَّ أَقْرَبَهُمْ مَوَدَّةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ قَالُوا إِنَّا نَصَارَىٰ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّ مِنْهُمْ قِسِّيسِينَ وَرُهْبَانًا وَأَنَّهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ

Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: Sesungguhnya kami ini orang Nasrani. Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri. (Surah ke-5 / Al-Ma'idah, ayat 82)

Di Madinah terdapat para pendukung dua kelompok tersebut, dan mereka berpura-pura masuk Islam tatkala tidak ada tempat lagi untuk meraih kewibawaan mereka. Mereka adalah Abdullah bin Ubay dan teman-temannya, kelompok ketiga ini lebih besar lagi kemarahannya daripada dua kelompok di atas.

Selain itu, terdapat kelompok keempat. Mereka adalah orang-orang Baduy yang tinggal di sekitar Madinah. Masalah kekufuran dan keimaman mereka tidaklah menjadi perhatian bagi mereka, tetapi mereka adalah para perampok dan perampas.

Mereka mulai goncang karena kemenangan yang diraih kaum muslimin. Mereka khawatir akan tegak di Madinah suatu negara yang kuat, yang akan menghalangi mereka untuk meraih kesuksesan atau kekuatan melalui perampokan dan perampasan, sehingga mereka pun membenci kaum muslimin dan menjadi musuh mereka.

 

Perang Bani Sulaim

 

Berita pertama yang disampaikan oleh utusan dari Madinah kepada Nabi ﷺ setelah Perang Badar adalah Bani Sulaim. Bani Sulaim ini berasal dari kabilah Ghathafan. Mereka menggalang kekuatannya untuk menyerang Madinah.

Nabi ﷺ dengan pasukan kavaleri yang berkekuatan 200 personel mendatangi kabilah tersebut di perkampungannya. Sesampainya beliau di wilayah mereka di daerah al-Kudr, Bani Sulaim melarikan diri dan meninggalkan 500 ekor unta. Mereka meninggalkan untanya di suatu lembah yang dikuasai oleh pasukan Madinah.

Unta-unta tersebut diambil seperlimanya oleh Rasulullah ﷺ . Rasulullah membagikan unta-unta tersebut kepada para sahabatnya. Setiap orang mempunyai dua ekor onta.

Beliau juga mendapatkan seorang budak yang bernama Yasar yang kemudian dibebaskan.

Di perkampungan Bani Sulaim tersebut Nabi ﷺ tinggal selama tiga hari. Kemudian beliau kembali ke Madinah.

Peperangan tersebut terjadi pada bulan Syawal tahun kedua Hijriyah, tujuh hari setelah pulang dari Perang Badar. Dalam peperangan tersebut Nabi ﷺ menyerahkan urusan Madinah kepada Siba' bin Arfatah.

 

Persekongkolan untuk Membunuh Nabi Muhammad

 

Kekalahan kaum musyrikin dalam Perang Badar menimbulkan dampak yang mendalam. Kaum Quraisy di Mekah menjadi marah dan mulai meluap-luap emosinya terhadap Nabi Muhammad ﷺ.

Ada dua orang tokoh Quraisy yang melakukan persekongkolan untuk membunuh Nabi Muhammad ﷺ.

Tidak beberapa lama seusai Perang Badar, Umair bin Wahab Al jami' dan Safwan Bin Umayyah duduk bersama di sebuah batu. Umair adalah salah seorang “Syaithan” Quraisy yang selalu menyakiti Nabi Muhammad ﷺ dan para sahabat beliau ketika masih berada di Mekkah, sedangkan anaknya yang bernama Wahab bin Umair menjadi tawanan Badar.

Umair menyebutkan para tokoh korban perang Badar, lalu Sofwan berkata, “Sesungguhnya setelah kematian mereka akan datang kehidupan yang baik.”

Umair berkata kepadanya, “Sungguh, kamu benar. Demi Allah, seandainya aku tidak mempunyai tanggungan hutang, dan tidak khawatir terlantar setelah aku mati, pasti aku akan mendatangi Muhammad dan membunuhnya. Aku mempunyai alasan yaitu anakku yang menjadi tawanan mereka.”

Safwan pun menjawab, “Utangmu aku tanggung, aku yang akan melunasinya, dan keluargamu bersama keluargaku selama mereka masih hidup. Hal itu tidak berat bagiku.”

Umair kemudian berkata, “Rahasiakanlah persoalan ini, akan kulakukan.”

Selanjutnya Umair mengambil pedangnya, lalu dia berangkat ke Madinah. Ketika sudah sampai di pintu masjid dia menderumkan untanya. Terlihat olehnya Umar Ibnul Khattab yang sedang berbincang-bincang dengan beberapa orang dari kaum muslimin tentang kemenangan perang Badr.

Maka Umar berkata, “Ini musuh Allah. Umair tidaklah datang kecuali untuk maksud jahat.”

Kemudian Umar masuk mendatangi Nabi Muhammad ﷺ seraya berkata, “Wahai nabi Allah, Umair musuh Allah telah datang dengan menyandang pedangnya.”

Nabi menjawab, “Suruhlah masuk menemui aku.”

Umar pun menemui Umair, dan sambil menarik tali pedang Umair ia berkata kepada beberapa orang dari kaum Anshar, “Masuklah, temui Rasulullah ﷺ  dan duduklah di sisi beliau, serta jagalah beliau dari orang jahat ini, karena dia perlu diwaspadai.” (bersambung)


-----

Kisah sebelumnya:

Hadiah Hari Raya Idul Fitri Seusai Kemenangan pada Perang Badr

Orang Mekah Terkejut Tak Percaya Pasukan Quraisy Kalah di Perang Badr

BACK TO NATURE. Ratusan alumni Smansa 82 Makassar dalam acara silaturahim awal tahun bertajuk “Back To Nature Alumni Smansa 82 Makassar” yang dirangkaikan peringatan 40 Tahun Smansa 82 Makassar, di Malino, Kabupaten Gowa, Sabtu malam, 22 Januari 2022. 






----- 

Selasa, 25 Januari 2022

 

 

Alumni Smansa 82 Makassar Sepakat Laksanakan Mubeslub

 

 

MAKASSAR, (PEDOMAN KARYA). Ratusan alumni SMA Negeri 1 Makassar yang tergabung dalam “Alumni Smansa 82 Makassar” akan melaksanakan Musyawarah Besar Luar Biasa (Mubeslub) untuk membentuk kepengurusan baru.

Ketua Panitia Pengarah (SC) Mubeslub Smansa 82 dipercayakan kepada Mila Yunus, sedangkan Ketua Panitia Pelaksana (OC) dipercayaka kepada Andi Jaya. Waktu dan tempat pelaksanaan Mubeslub akan dibicarakan kemudian

Demikian keputusan yang diambil para alumni Smansa 82 Makassar dalam acara silaturahim awal tahun bertajuk “Back To Nature Alumni Smansa 82 Makassar” yang dirangkaikan peringatan 40 Tahun Smansa 82 Makassar, di Malino, Kabupaten Gowa, Sabtu malam, 22 Januari 2022.

Dalam rapat terbuka yang dipandu Mila Yunus, tiga pembina dari kelompok alumni ini yakni Azhary Sirajuddin, Asriawan Umar, dan Umar Arsal, tampil memberikan masukan-masukan dan selanjutnya membuka diskusi untuk bagaimana langkah ke depan dari komunitas tersebut.

Pembina Alumni Smansa 82, Azhary Sirajuddin, dalam sambutannya memaparkan kronologis timbulnya perpecahan di tubuh alumni Smansa 82 Makassar, berawal dari hasil pelaksanaan Mubes IKA Smansa 82 tahun lalu yang dinilai tidak sah, karena diwarnai sejumlah pelanggaran aturan berorganisasi.

Tidak menerima hasil Mubes yang terkesan memaksakan untuk mengukuhkan Junaldy Monoarfa sebagai Ketua IKA Smansa 82 periode 2021-2023, ratusan alumni lalu membentuk kelompok sendiri dengan bendera “Smansa Smart 82” dan melakukan serangkaian kegiatan peduli masyarakat, serta peduli alumni dan almamater.

Hampir setahun berjalan dengan bermacam kegiatan sudah dilaksanakan, toh keberadaan wadah alumni ini tak mendapat pengakuan dari pengurus IKA Smansa Pusat, bahkan tak ada kepedulian pengurus pusat yang dipimpin Andi Ina Kartika Sari untuk turun tangan menyelesaikan kemelut dan perpecahan tersebut.

Parahnya lagi, kepengurusan IKA Smansa 82 yang dipimpin Junaldy Monoarfa tak ada upaya untuk menyelesaikan perseteruan dan berusaha merangkul serta menyatukan kembali alumni Smansa 82. Justru bersangkutan malah membuat kebijakan-kebijakan yang semakin meruncingkan perpecahan.

Kebijakan-kebijakan itu, beber Azhary, seperti telah mempermalukan Smansa 82 di Liga Futsal Smansa, sewenang-wenang mengubah logo asli Smansa 82, dan juga membuat slogan “Smansa 82 Hanya Satu” yang cenderung bernada provokasi, karena tidak mengakui kelompok yang jelas-jelas memiliki massa alumni jauh lebih besar dan sama-sama mengantongi ijazah kelulusan tahun 1982 di SMA Negeri 1 Makassar.

Berdasar dari berbagai permasalahan itu dan ketidakbecusan pengurus IKA Smansa Pusat menangani perpecahan termaksud, ratusan alumni yang sebelumnya mengibarkan bendera “Smansa Smart 82” sepakat untuk kembali menggunakan nama wadahnya dengan “Alumni Smansa 82” dan memakai logo lama, serta akan melaksanakan Mubeslub dalam waktu dekat ini.

Menurut Azhary lagi, dengan menggunakan atribut kelompok “Alumni Smansa 82” tanpa embel-embel Smart, tidak ada alasan bagi pengurus IKA Smansa Pusat untuk tidak mengakui keberadaan kelompok ini.

“Tidak ada satupun pihak yang bisa menggugat keberadaan wadah Alumni Smansa 82 ini, karena kami semua disini alumni Smansa 82,” tandas Azhary.

Usai rapat terbuka, acara silaturahim dilanjutkan dengan ramah tamah yang dimeriahkan hiburan musik dan lagu bersama “Smansa 82 Band”, serta diwarnai pula pertandingan domino berhadiah uang tunai jutaan rupiah. (jw)


------

Baca juga:

Alumni Smansa Smart ’82 Makassar Gelar Halal Bi Halal di Bulukumba

Ratusan Alumni SMAN 1 Makassar Hadiri Launching Band SMANSA Smart 82

Rayakan HUT RI, Alumni Smansa Smart 82 Touring Motor ke Bili-Bili dan Malino

Yudhistira Sukatanya (kiri atas), Tri Astoto Kodarie (kiri bawah), Ishakim (tengah bawah) dan Bahar Merdu mengkritik puisi Pada Sebuah Reuni karya Aslan Abidin, dalam diskusi puisi yang digelar oleh Forum Sastra Indonesia Timur (Fosait), di Kafebaca, Jl Adhyaksa Makassar, Sabtu, 15 Januari 2022.





------ 

PEDOMAN KARYA

Selasa, 25 Januari 2022

 

Catatan dari Diskusi Puisi “Pada Sebuah Reuni” (8):

 

 

‘Pada Sebuah Reuni” Belum Matang Sebagai Sebuah Puisi

 

 

Oleh: Asnawin Aminuddin

(Wartawan)

 

Penilaian karya-karya sastra dalam bahasa daerah di Indonesia pada masa-masa lalu, didasarkan pada kepercayaan, agama, dan mistik. Tidak dapat diketahui dengan pasti kapan pertama kali istilah kritik sastra dipergunakan di Indonesia.

Yang pasti, kritik sastra bukan merupakan tradisi asli masyarakat Indonesia. Istilah dan pengertian kritik sastra baru muncul ketika para sastrawan Indonesia mendapat pendidikan dengan sistem Eropa pada awal abad ke-20.

Kritik sastra mulai mendapat perhatian di Indonesia setelah terbitnya kumpulan karangan “Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Essay” karya Hans Bague Jassin atau sering disingkat HB Jassin.

Dikutip dari Wikipedia, kritik sastra didefinisikan sebagai salah satu cabang ilmu sastra untuk menghakimi suatu karya sastra. Kritik sastra juga berfungsi mengkaji dan menafsirkan karya sastra secara lebih luas.

Kritik sastra biasanya dihasilkan oleh kritikus sastra, dan sangat penting bagi seorang kritikus sastra memiliki wawasan mengenai ilmu-ilmu lain yang berkaitan dengan karya sastra, seperti sejarah, biografi, penciptaan karya sastra, latar belakang karya sastra, dan ilmu lain yang terkait.

Dan itulah yang terlihat dalam “Diskusi Puisi Pada Sebuah Reuni Karya Aslan Abidin, yang digelar oleh Forum Sastra Indonesia Timur (Fosait), di Kafebaca, Jl Adhyaksa Makassar, Sabtu, 15 Januari 2022.

Para sastrawan, penyair, cerpenis, esais, dan kritikus sastra yang hadir, memberikan kritik dari sudut pandang masing-masing terhadap puisi ‘Pada Sebuah Reuni’ karya Aslan Abidin.

Seusai diskusi, saya sebagai wartawan juga meminta catatan tambahan dari beberapa peserta diskusi, baik yang sempat berbicara maupun yang tidak sempat berbicara karena keterbatasan waktu.

 

Belum Matang Sebagai Sebuah Puisi

 

Tri Astoto Kodarie, penulis dan penyair yang karya-karyanya sudah banyak dimuat di berbagai media massa nasional, dan juga sudah banyak yang dibukukan, mengatakan, nama Aslan Abidin lebih dikenal sebagai penyair dibanding seperti Aan Mansur di level nasional.

“Puisi Pada Sebuah Reuni memang masih belum matang sebagai puisi. Dan ini diakui juga oleh salah seorang pengasuh Majalah Horison yang pernah saya temui beberapa waktu lalu,” ungkap Tri.

Bahkan puisi tersebut, lanjutnya, sengaja diminta oleh Majalah Horison kepada Aslan untuk dimuat dalam rangka ulang tahun ke-55 majalah tersebut (1966-2021) yang dicetak pada akhir Juli 2021.

Soal karakter Aslan, saya tidak menemukan di dalam puisinya ini. Jadi, apa yang disebut kepribadian plegmatis seperti kata Badaruddin Amir, itu tidak terbaca di sini,” tutur Tri Astoto Kodarie.

 

Aslan Sedang Bergurau Saja

 

Bahar Merdu (dikenal dengan tokoh fiktif Petta Puang, penyair, penulis naskah drama, sutradara) mengatakan, setelah membacanya puisi ‘Pada Sebuah Reuni’ karya Aslan Abidin, maka dirinya berpikir Aslan Abidin sedang bergurau saja pada kerinduannya terhadap masa lampau.

“Aslan Abidin sedang bergurau saja pada kerinduannya terhadap masa lampau. Mewakili dirinya dan kita pula di masa muda remaja. Namun kita bebas bercuriga, jika reuni Aslan semisal mau bilang, 212 sebagai reuni yang tak memperlihatkan kelembutan, melainkan kekasaran, hihi. Tapi ntah, karena saya tidak tahu kapan puisi itu ditulis, hih,” tulis Bahar Merdu.

 

Puisi Aslan Biarlah di Habitatnya Sendiri

 

Yudhistira Sukatanya (nama aslinya Eddy Thamrin, salah satu pendiri Sanggar Merah Putih Makassar, serta penulis puisi, drama, cerpen, esai, artikel), menganggap puisi Aslan sebagai puisi kamar, atau puisi auditorium.

Di era digital, dimana bagi pembaca menggunakan gadget, kata Yudhistira, puisi sudah menemukan bentuk lain. Misalnya dituliskan menggunakan grafis, warna, mozaik. Berlatar foto atau panorama alam. Bisa juga dilatari suara musik atau lagu, dan lainnya.

Atau gabungan macam-macam. Jadi perubahan bentuk puisi itu juga keniscayaan. Mungkin puisi Aslan biarlah di habitatnya sendiri. Puisi ala era digital juga biarkan menempati posisi dan atmosfirnya sendiri. Tinggal pembaca yang bersesuai,” kata Yudhistira.

 

Istilah Plegmatis Bukan untuk Menilai Puisi

 

Ishakim (seniman, pelukis, perupa, dramawan) pada diskusi puisi tersebut balik mengkritik ulasan Badaruddin Amir terhadap puisi ‘Pada Sebuah Reuni’ karya Aslan Abidin.

Badaruddin Amir dalam pertemuan itu mengatakan, “Membaca puisi-puisi Aslan Abidin, saya berkesimpulan bahwa puisi-puisi Aslan adalah puisi-puisi plegmatis-melankolis. Puisi-puisi ini kebanyakan bergenre lyric.

Istilah plegmatis yang dikenakan oleh Badaruddin Amir terhadap puisi Pada Sebuah Reuni’, oleh Ishakim dianggap tidak tepat.

Istilah plegmatis bukan dikenakan untuk menilai satu puisi, melainkan digunakan untuk mengolah persepsi dan kepribadian seseorang dalam kesehariannya,” kata Ishakim.

Badaruddin Amir, katanya, tidak memberikan contoh kalimat yang mana di dalam puisi tersebut yang disebut mewakili sifat plegmatis penyairnya.

Justru dalam ilmu psikologi, salah satu sifat ‘jelek dari seseorang yang dianggap berkepribadian plegmatis ialah sulit menerima kritik,” kata Ishakim.

Yang terjadi, katanya, Aslan Abidin justru menyebut bahwa dirinya banyak membuat perbaikan karya setelah mendapatkan kritik.

Jadi di mana letak ciri plegmatisnya puisi Aslan?” tanya Ishakim.

Kepada saya, Ishakim sambil bercanda mengatakan, “Hemat saya, soal pandangan Pak Badar (Badaruddin Amir), biarkan saja begitu. Aslan juga biarkan begitu. Tidak usah ada solusi.”

Dia kemudian menambahkan bahwa dalam buku “Personality Plus karya Florence Littauer, disebutkan, dalam diri manusia selalu ada empat potensi kepribadian yang dia miliki.

Keempat potensi kepribadian tersebut, kata Ishakim, yaitu sanguinis populer (ekstovert, pembicara, optimis), melankolis sempurna (introvert, pemikir, pesimis), koleris kuat (ekstovert, pelaku, optimis), dan plegmatis damai (introvert, pengamat, pesimis).

Yang membuat manusia istimewa nantinya tergantung seberapa dominan ciri tersebut,” kata Ishakim. (bersambung)


-------

Artikel sebelumnya:

Kritik Sastra, Kopi Panas Yang Diberi Sedikit Gula

Plegmatis-melankolis dan Kegetiran Tragis dalam Puisi “Pada Sebuah Reuni”

KRITIK SASTRA. Muhammad Amir Jaya (kiri atas), Anwar Nasyaruddin (kiri bawah), dan Andi Wanua Tangke mengkritik puisi Pada Sebuah Reuni karya Aslan Abidin, pada acara diskusi puisi di Kafebaca, Jl Adhyaksa Makassar, Sabtu, 15 Januari 2022.
 


 



-----

PEDOMAN KARYA

Senin, 24 Januari 2022

 

Catatan dari Diskusi Puisi “Pada Sebuah Reuni” (7):

 

 

Kritik Sastra, Kopi Panas Yang Diberi Sedikit Gula

 

 

Oleh: Asnawin Aminuddin

(Wartawan)

 

Terselip di antara para pendekar sastra, penyair, dramawan, sutradara, dan kritikus sastra dalam “Diskusi Puisi Pada Sebuah Reuni Karya Aslan Abidin, di Kafebaca, Jl Adhyaksa Makassar, Sabtu, 15 Januari 2022, benar-benar telah menstimulir otak saya untuk mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan puisi dan sastra.

Kehadiran Mahrus Andis yang seorang kritikus sastra sebagai pembicara pada diskusi tersebut, juga memaksa saya mencari sejarah dan asal usul kata kritik, serta sejarah kritik sastra.

Dari Wikipedia, saya menemukan bahwa secara etimologi, kritik berasal dari kata Yunani, krites, yang artinya hakim. Krites berasal dari kata kerja krinein, yang berarti menghakimi, selanjutnya muncul kata kritikos yang artinya hakim karya sastra.

Disebutkan bahwa kegiatan kritik sastra pertama kali di dunia dilakukan dua orang Yunani, yaitu Xenophanes dan Heraclitus sekitar tahun 500 SM.

(Xenophanes adalah seorang filsuf Yunani dan juga seorang penyair. Pemikiran-pemikiran filsafatnya disampaikan melalui puisi-puisi. Herakleitos juga seorang filsuf Yunani yang di dalam tulisan-tulisannya, ia justru mengkritik dan mencela para filsuf dan tokoh-tokoh terkenal, seperti Homeros, Arkhilokhos, Hesiodos, Phythagoras, Xenophanes, dan Hekataios).

Xenophanes dan Heraclitus mengecam keras seorang pujangga besar bernama Homerus, yang sering bercerita tentang hal-hal yang tidak senonoh tentang dewa-dewi.

Inilah yang mengawali pemikiran Plato tentang pertentangan purba antara puisi dan filsafat.

Suasana kritik sastra inilah yang mewarnai “Diskusi Puisi Pada Sebuah Reuni Karya Aslan Abidin”. Suasananya sangat berbeda dibandingkan suasana acara syukuran atas pelantikan seorang pejabat, suasana perayaan ulang tahun, dan semacamnya, yang di dalamnya penuh dengan puja puji terhadap orang yang syukuran atau orang yang sedang berulang-tahun.

Dalam diskusi tersebut, para peserta diskusi benar-benar mengkritisi puisi ‘Pada Sebuah Reuni’ dan bahkan ada yang mengecam Aslan Abidin.

Ada juga pujian, tapi pujian itu hanya pemanis tipis, ibarat kopi panas yang hanya diberi sedikit gula, agar tidak benar-benar pahit.

 

Tidak Tertarik Puisi Aslan Abidin

 

Andi Wanua Tangke (penulis produktif dari mulai puisi, cerpen, cerita bersambung, esai, hingga artikel) secara terus terang mengatakan dirinya tidak tertarik dengan puisi Aslan Abidin.

“Terus terang saya bukan penggemar Aslan Abidin. Saya tidak tertarik dengan puisi Aslan Abidin. Saya anggap puisi Aslan Abidin biasa-biasa saja, tapi saya tertarik dengan cerpen-cerpennya, walaupun Aslan tidak produktif menulis cerpen,” kata Andi Wanua.

 

Tidak Menikmati Puisi Aslan Abidin

 

Nada yang hampir sama diungkapkan Muhammad Amir Jaya. Penyair sufistik, cerpenis dan juga penulis produktif asal Kabupaten Selayar, juga mengakui bahwa dirinya sebenarnya tidak terlalu menikmati puisi Aslan Abidin.

“Tapi saya menikmati esainya,” kata Amir Jaya.

Puisi-puisi Aslan Abidin, katanya, hanya sebagian kecil yang sempat ia baca, itu pun hanya puisi yang dimuat di media cetak, sedangkan antologi puisi tunggal Aslan yang memuat sejumlah puisi-puisinya, belum pernah ia membacanya.

“Karena saya memang tidak memiliki bukunya, sehingga tidak bisa menikmatinya secara keseluruhan. Justru yang saya baca tuntas adalah sejumlah tulisan-tulisan esainya yang ada di buku ‘Telinga Palsu’ dan buku ‘Esai Tanpa Pagar’. Saya sangat menikmatinya karena ditulis dengan bahasa yang memang enak dibaca dan sarat dengan referensi,” tutur Amir Jaya.

Terkait puisi ‘Pada Sebuah Reuni’, Amir menganggap itu adalah sebuah puisi yang bertema cinta remaja, walaupun ada nuansa puisi realis sosialnya.

“Biasanya penyair yang sudah berumur 40 tahun ke atas, tidak lagi tertarik dengan puisi-puisi cinta yang keremajaan, tetapi telah bersungguh-sungguh beralih ke tema yang lebih dalam dan luas, terutama dalam hubungannya dengan Sang Khalik. Walaupun tidak semua penyair seperti itu, karena memang puisi-puisi bertema religius ini tergantung dari pengalaman-pengalaman batiniah penyairnya,” papar Amir Jaya.

Amir menyebut penyair Mahrus Andis, sebagai salah satu contoh. Amir menganggap puisi-puisi Mahrus Andis yang terangkum di dalam buku ‘Gelas-gelas Tuhan yang Tak Retak’, sangat sarat dengan tema religi, bahkan sejumlah puisinya merambah ke dimensi tasawuf.

“Saya kira inilah pencapaian tertinggi dalam hubungannya dengan pendekatan makrifat kepada Allah subhanahu wata’ala,” kata Amir Jaya.

 

Puisi ‘Pada Sebuah Reuni’ Terlalu Gemuk

 

Cerpenis dan penulis buku, Anwar Nasyaruddin, pun mengkritik puisi ‘Pada Sebuah Reuni’ sebagai puisi yang terlalu gemuk (10 peragraf, red).

“Puisi ‘Pada Sebuah Reuni’ ini terlalu panjang, terlalu gemuk. Ada beberapa kata atau kalimat perlu dihapus supaya puisi ini jadi ramping tanpa menghilangkan esensi puisi,” kata Anwar, seraya menambahkan bahwa ada puisi pendek-pendek, tapi sudah selesai satu episode.

Anwar Nasyaruddin kemudian mencoba membandingkan puisi Aslan Abidin dengan puisi William Shakespeare yang berjudul ‘Iam Afraid” yang terjemahan bebasnya ‘Aku Takut’, dan puisi ‘Sebuah Madrigal’.

Membandingkan, kata Anwar kepada penulis, bukan berarti membandingkan mana yang baik dan mana yang tidak baik, melainkan membandingkan cara mengungkapkannya. Puisi ‘Pada Sebuah Reuni’, katanya, sebenarnya ada dua tema utama yang disatukan, yaitu reuni dan cinta, sedangkan puisi penyair luar negeri lebih fokus pada satu tema.

“Pemilihan diksi-diksi biasanya menggunakan simbol-simbol, misalnya simbol lelaki adalah pemuda, kemudian simbol perempuan adalah usia. Terjadi dialog keduanya tentang cinta seperti dalam puisi William Shakespeare ‘Sebuah Madrigal’,” tutur Anwar Nasyaruddin.(bersambung)


-----

Artikel sebelumnya:

Plegmatis-melankolis dan Kegetiran Tragis dalam Puisi “Pada Sebuah Reuni”

Aslan Abidin Sangat Menjaga Karya-karyanya dari Kebanyakan Puisi Gampangan

“Kalau saya tidak percayama’ kurasa. Ini banyak sekali kita sebut varian virus corona, jangan-jangan nanti, setelah Varian Omicron akan muncul Varian Sinetron,” kata Daeng Nappa’ sambil tertawa dan keduanya pun tertawa-tawa. 






----- 

PEDOMAN KARYA

Senin, 24 Januari 2022

 

Obrolan Daeng Tompo’ dan Daeng Nappa’:

 

 

Setelah Varian Omicron akan Muncul Varian Sinetron

 

 

“Saya baca-baca di internet, ternyata virus corona, virus Covid-19, sudah banyak kalimi bermutasi, berkembang terus,” kata Daeng Tompo’ kepada Daeng Nappa’ saat ngopi pagi di teras rumah Daeng Nappa’.

“Kudengar adatongmi nama-namanya itu viruska,” kata Daeng Nappa’ dengan nada tanya.

“Betul. WHO, organisasi kesehatan se-dunia, sudah kasi nama. Ada yang dikasi nama Varian Alpha, Varian Beta, Varian Gamma, Varian Delta, Varian Lambda, Varian Kappa, Varian Eta, Varian Iota, Varian Mu, dan Varian Omicron,” sebut Daeng Tompo’.

“Banyaknamo itu di’? Kukira habismi,” kata Daeng Nappa’.

“Belumpi, malah WHO sekarang konsentrasi meneliti gejala infeksi varian baru, terutama Varian Omicron,” kata Daeng Tompo’.

“Kalau saya, sebagai masyarakat biasa, tidak kupedulimi itu informasi mengenai virus corona, kita hidup biasa dan normal saja, karena kalau itu semua yang mau dipeduli, tidak bisamaki’ beraktivitas,” kata Daeng Nappa’.

“Benartongji itu. Cuma memang, WHO sebagai koordinator kesehatan umum internasional, berkewajiban memerangi penyakit menular seperti influenza dan HIV, serta penyakit tidak menular seperti kanker dan penyakit jantung,” kata Daeng Tompo’.

“Kalau saya tidak percayama’ kurasa. Ini banyak sekali kita sebut varian virus corona, jangan-jangan nanti, setelah Varian Omicron akan muncul Varian Sinetron,” kata Daeng Nappa’ sambil tertawa dan keduanya pun tertawa-tawa. (asnawin)

 

#TettaTompo

Senin, 24 Januari 2022


-----

Obrolan sebelumnya:

Terjadi Lagi, Penganiayaan Terhadap Imam Masjid

Negeri Pilih Kasih