Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

 

PEDOMAN KARYA

Sabtu, 23 Oktober 2021

 

Kisah Nabi Muhammad SAW (26):

 

 

Malaikat Jibril Membacakan Surah Al-‘Alaq, Muhammad Diangkat Jadi Utusan Allah

 

 

Penulis: Abdul Hasan Ali Al-Hasani An-Nadwi

 

Makhluk yang datang itu adalah Malaikat Jibril. Ia datang membangunkan Muhammad yang sedang tidur karena kelelahan. Jibril berkata kepada Muhammad, “Iqra (Bacalah)!”

Dengan hati yang masih rasa terkejut, Muhammad menjawab, “Apa yang harus saya baca.”

Kemudian Malaikat Jibril mendekap sehingga Muhammad merasa lemas. Jibril melepaskan dekapannya, lalu berkata lagi, “Bacalah!”

Kejadian itu berulang sampai tiga kali. Kemudian, setelah Muhammad berkata, “Apa yang harus saya baca?” barulah Jibril  membacakan Surat Al ‘Alaq ayat pertama hingga ayat kelima:

 

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,

Surah Al-'Alaq (96:1)

 

خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ

 

Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.

Surah Al-'Alaq (96:2)

 

اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ

 

Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,

Surah Al-'Alaq (96:3)

 

الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ

 

Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam,

Surah Al-'Alaq (96:4)

 

عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

 

Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Surah Al-'Alaq (96:5)

 

Setelah mengucapkan ayat-ayat itu, Malaikat Jibril pun pergi meninggalkan Muhammad yang hatinya terhujam oleh firman Allah tadi.

 

Muhammad mendadak tersentak sadar. Beliau terbangun dari ketakutan sambil bertanya-tanya dalam hati, "Siapa gerangan yang kulihat tadi? Apakah aku telah diganggu jin?"

Beliau menoleh ke kiri dan ke kanan, tetapi tidak ada siapa pun. Muhammad diam sebentar dengan tubuh gemetar. Beliau lalu lari ke luar gua, menyusuri celah-celah gunung sambil mengulang pertanyaan dalam hati, "Siapa gerangan yang menyuruhku membaca tadi?"

Mendadak, Muhammad mendengar namanya dipanggil. Panggilan tersebut terasa dahsyat sekali. Beliau memandang ke cakrawala dan melihat malaikat dalam bentuk manusia. Muhammad tertegun ketakutan dan terpaku di tempatnya. Ia memalingkan wajah, tetapi di seluruh cakrawala, ke mana pun beliau memandang rupa malaikat yang indah itu tidak juga berlalu.

 

Ketulusan Khadijah

 

Di rumah, Khadijah tiba-tiba merasa khawatir dengan nasib suaminya. Beliau mengutus  orang untuk mencari suaminya itu, tetapi tidak berhasil menemukannya.

Sementara itu, setelah rupa malaikat menghilang, Muhammad berjalan pulang dengan hati yang sudah dipenuhi wahyu Allah. Dengan jantung yang terus berdenyut keras dan hati berdebar ketakutan, beliau pulang ke rumah.

"Selimuti aku," pinta Muhammad kepada Khadijah.

Khadijah segera menyelimuti suaminya yang menggigil kedinginan seperti terkena demam. Setelah rasa takutnya mereda, beliau memandang Khadijah dengan tatapan mata meminta kekuatan dan perlindungan.

"Khadijah, kenapa aku?" kata Muhammad.

Kemudian, Muhammad menceritakan semua yang telah terjadi. Beliau juga berkata bahwa ia takut semua itu bukan datang dari Allah, melainkan gangguan jin.

"Wahai putra pamanku," jawab Khadijah penuh sayang, "bergembiralah dan tabahkan hatimu. Demi Dia yang memegang hidup Khadijah, aku berharap kiranya engkau akan menjadi nabi atas umat ini. Sama sekali Allah takkan mencemoohkanmu sebab engkaulah yang mempererat tali kekeluargaan dan jujur dalam berkata-kata. Engkau selalu mau memikul beban orang lain dan menghormati tamu serta menolong mereka yang dalam kesulitan atas jalan yang benar."

Kata-kata Khadijah itu menuangkan rasa damai dan tenteram ke dalam hati suaminya yang sedang gelisah. Khadijah benar-benar yakin bahwa suaminya itu bukan diganggu jin. Beliau malah memandang suaminya itu dengan penuh rasa hormat.

Muhammad pun segera tenang kembali. Beliau memandang Khadijah dengan penuh kasih dan rasa terimakasih.

Tiba tiba, sekujur tubuhnya terasa amat letih dan beliau pun tertidur lelap.

Sejak saat itu, berakhirlah kehidupan tentang seorang Muhammad. Mulai saat itu, kehidupan penuh perjuangan keras dan pahit akan dilaluinya sebagai seorang Rasulullah, utusan Allah.

 

Kabar dari Waraqah bin Naufal

 

Khadijah menatap suaminya yang tertidur pulas itu. Dilihatnya kembali suaminya yang tertidur dengan nyenyak dan tenang sekali. Khadijah membayangkan apa yang baru saja dituturkan suaminya. Firman Allah dan Malaikat yang indah. Luar biasa!

"Semoga kekasihku ini memang akan menjadi seorang nabi untuk menuntun umat ini keluar dari kegelapan," demikian pikir Khadijah.

Saat berpikir demikian, senyumnya mengembang. Namun, senyum itu segera menghilang, berganti rasa takut memenuhi hati tatkala dibayangkan nasib yang bakal menimpa suaminya itu apabila orang-orang ramai menentangnya.

Demikianlah, pikiran bahagia dan sedih terus berganti-ganti dalam benak Khadijah. Akhirnya, beliau memutuskan untuk menceritakan hal ini kepada seseorang bijak yang dipercayanya.

Khadijah pun pergi menemui pamannya, Waraqah bin Naufal, seorang pendeta Nasrani yang jujur, dan menceritakan semua yang didengarnya dari suaminya.

Waraqah bertafakur sejenak, lalu berkata, "Mahasuci Ia, Mahasuci. Demi Dia yang memegang hidup Waraqah. Khadijah, percayalah, suamimu telah menerima 'namus besar' 1) seperti yang pernah diterima Musa. Sungguh, dia adalah nabi umat ini. Katakan kepadanya supaya tetap tabah."

Khadijah pulang. Dilihatnya suaminya masih tertidur. Dipandanginya suaminya itu dengan rasa kasih dan penuh ikhlas, bercampur harap dan cemas. Tiba-tiba, tubuh suaminya menggigil, napasnya terlihat sesak dengan keringat memenuhi wajah.

_______

1) Namus Besar

Namus besar yang dimaksud Waraqah bin Naufal berasal dari bahasa Yunani, noms, artinya kitab undang-undang atau kitab suci yang diwahyukan. Namus bukan istilah dalam Al Qur'an. (bersambung)

MAUDU' LOMPOA. Ini adalah salah satu pemandangan acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Desa Cikoang, Kecamatan Mangara'bombang, Kabupaten Takalar, Ahad, 15 November 2020. Acara peringatan maulid ini diberi nama Maudu' Lompoa yang secara harfiah berarti maulid yang besar. (Foto: Asnawin Aminuddin / PEDOMAN KARYA) 





------

PEDOMAN KARYA

Jumat, 22 Oktober 2021

 

KALAM

 

 

Menyikapi Perbedaan Pendapat tentang Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW

 

 

Oleh: Asnawin Aminuddin

(Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi Muhammadiyah Sulsel)

 

Sudah kodratnya manusia berbeda-beda satu sama lain, mulai dari perbedaan warna kulit, perbedaan bahasa, hingga perbedaan pendapat. Perbedaan tersebut telah disebutkan Allah dalam Surah Al-Hujurat, surah ke-49 dalam Al-Qur’an, ayat ke-13.

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.”

Meskipun berbeda, bukan berarti kita harus berselisih, bukan berarti kita harus berperang satu sama lain. Sebaliknya, perbedaan itu seharusnya membuat kita saling kenal, saling akrab, dan saling bergandengan tangan satu sama lain.

Sayangnya, perbedaan itu kerap menonjol, antara lain dalam menafsirkan suatu amalan agama. Salah satu perbedaan yang kita hadapi sebagai sesama umat Islam yaitu peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Ada yang menganggap acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW atau peringatan hari kelahiran Rasulullah SAW, sebagai bentuk kecintaan kita kepada Rasulullah SAW.

Ada pula yang berpendapat peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sebagai sesuatu yang diada-adakan dan masuk dalam kategori bid’ah, karena tidak ada tuntunannya, tidak pernah diadakan pada zaman Nabi, tidak pernah diadakan pada masa Khulafaur Rasyidin, dan juga tidak pernah diadakan pada masa tabi’in, dan tabi’ut tabi'in.

Empat imam mahzab pun tidak ada yang merayakannya, mulai dari Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, sampai Imam Ahmad. Dengan demikian, kalau memang tidak ada dasarnya, mengapa kita mengadakan acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Maka sejak zaman Rasulullah hingga saat ini, di Arab Saudi, tidak ada acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Lalu mengapa di banyak negara, termasuk di Indonesia, banyak orang yang mengadakan acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW?

Ini terjadi karena berangkat dari alasan atau pandangan yang berbeda, maka timbullah perbedaan pendapat. Pertanyaannya, bagaimana kita menyikapi perbedaan pendapat itu?

 

Allah berfirman dalam Surah An-Nisa, Surah ke-4 dalam Al-Qur’an, ayat ke-59:

“Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”

 

Kalau terjadi perbedaan pendapat, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul. Carilah dalil-dalilnya dalam Al-Qur’an. Carilah dalil-dalilnya dalam hadits.

Kalau ternyata tidak ada dalilnya, tidak ada perintahnya, tidak disunnahkan, maka sebaiknya jangan diadakan, tapi kalau tetap mau diadakan dengan alasan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW adalah bentuk kecintaan kepada Rasulullah, maka silakan diadakan.

Jangan karena perbedaan pendapat itu, lalu kita berselisih. Jangan karena perbedaan itu, lalu saling bermusuhan satu sama lain. Jangan karena perbedaan pendapat itu, lalu kita tidak saling menyapa.

Tugas kita hanya menyampaikan atau mengemukakan pendapat sesuai dalil yang kita ketahui dan kita yakini kebenarannya. Kalau ada pendapat lain, silakan saja.

Kalau mau mengadakan acara peringatan Maulid, silakan saja, tapi kita tetap berteman, kita tetap bersahabat, kita tetap bersama-sama shalat berjamaah di masjid, kita tetap bersama-sama dan akrab sebagai tetangga dalam satu kompleks perumahan.

 

Imam Malik dan Imam Syafi’i

 

Mengenai bagaimana menghadapi atau menyikapi perbedaan pendapat, ada satu kisah menarik yang sangat baik untuk kita contoh. Kisah antara Imam Malik dan Imam Syafi’i. Imam Malik adalah guru dari Imam Syafi’i. Imam Malik wafat pada tahun 179 Hijriyah, sedangkan Imam Syafi’i wafat pada tahun 204 H.

Suatu hari, Imam Malik menyampaikan bahwa rezeki sudah diatur oleh Allah. Rezeki bisa datang tanpa sebab, dan manusia cukup bertawakkal dengan benar, lalu Allah akan memberinya rezeki.

“Lakukan yang menjadi bagianmu, selanjutnya biarkan Allah mengurus yang lainnya,” ujar Imam Malik.

Bukan tanpa landasan, pendapat Imam Malik tersebut berdasarkan hadits Rasulullah, “Andai kalian bertawakkal kepada Allah sebenar-benarnya tawakkal, niscaya Allah akan berikan rezeki kepada kalian, sebagaimana Dia memberikan rezeki kepada burung yang pergi dalam keadaan lapar lalu pulang dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad).

Namun ternyata Imam Syafi’i, sang murid, memiliki pendapat lain. Menurutnya, seandainya burung tersebut tidak keluar dari sangkar, niscaya ia tidak akan mendapat rezeki.

Menurut Imam Syafi’i, untuk mendapat rezeki, dibutuhkan usaha dan kerja keras. Ia mengatakan, rezeki tidak datang sendiri, tapi harus dicari.

“Wahai guru, seandainya seekor burung tidak keluar dari sangkarnya, bagaimana mungkin ia akan mendapatkan rezeki?” demikian sanggahan Imam Syafi’i.

Keduanya tetap pada pendapat masing-masing, tapi tak nampak rasa kesal dan benci satu sama lain karena perbedaan pandangan tersebut.

Pada suatu hari, Imam Syafi’i berjalan-jalan. Ia melihat sekelompok orang tengah memanen buah anggur. Tanpa diminta, Imam Syafi’i berinisiatif membantu mereka. Setelah selesai, ia diberikan beberapa ikat anggur sebagai imbalan.

Kejadian ini mengingatkan Imam Syafi’i tentang pendapatnya seputar rezeki. Pendapatnya terbukti dengan dirinya yang berinisitif membantu sekelompok orang tadi. Jika ia tidak berusaha membantu, tentu ia tidak akan mendapat beberapa ikat anggur.

Imam Syafi’i senang bukan main. Ia lantas bergegas menemui sang guru. Hendak membenarkan pendapatnya tersebut.

Kemudian dijumpainya Imam Malik yang tengah duduk santai. Sambil menaruh seluruh anggur yang didapatnya, ia menceritakan kisahnya barusan. Dan keduanya pun makan anggur bersama-sama.

Imam Safi’i mengatakan, “Seandainya saya tidak keluar pondok dan melakukan sesuatu, tentu saja anggur itu tidak akan pernah sampai di tangan saya.”

Mendengar ujaran tersebut, Imam Malik hanya tersenyum. Ia kemudian menimpali, “Seharian ini aku tidak keluar pondok dan hanya mengambil tugas sebagai guru, dan sedikit membayangkan alangkah nikmatnya jika di hari yang panas ini, aku bisa menikmati anggur. Tiba-tiba engkau datang sambil membawa anggur untukku. Bukankah ini juga bagian dari rezeki yang datang tanpa sebab?”

“Cukuplah dengan tawakkal yang benar, niscaya Allah akan memberikan rezeki. Lakukan yang menjadi bagianmu, selanjutnya biarkan Allah yang mengurus lainnya,” tambah Imam Malik sambil tersenyum.

Keduanya lantas tertawa bersama. Masing-masing Imam Malik dan Imam Syafi’i dapat membuktikan pendapatnya.

Jadi kalau kita berbeda pendapat, kita sudah kemukakan pendapat masing-masing, kita sepakat saja untuk tidak sepakat, dan selanjutnya kita ketawa-ketawa saja bersama-sama. Tidak perlu berselisih, tidak perlu bermusuhan. Kita ngopi dan ngobrol sama-sama lagi seperti biasa.


REKTOR PERTAMA. Prof Ansar Suyuti, guru besar pada Departemen Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, dilantik sebagai Rektor Institut Teknologi Bacharuddin Jusuf Habibie (ITBH) Parepare, Selasa, 05 Oktober 2021. Ansar sekaligus menjadi rektor pertama pada perguruan tinggi negeri (PTN) tersebut. (ist)





----------- 

Jumat, 22 Oktober 2021

 

 

Ansar Suyuti Rektor Pertama Institut Teknologi BJ Habibie Parepare

 

Buka Prodi Informatika, Prodi Sistem Informasi, dan Prodi Matematika

 

 

PAREPARE, (PEDOMAN KARYA). Prof Ansar Suyuti, guru besar pada Departemen Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, dilantik sebagai Rektor Institut Teknologi Bacharuddin Jusuf Habibie (ITBH) Parepare, Selasa, 05 Oktober 2021. Ansar sekaligus menjadi rektor pertama pada perguruan tinggi negeri (PTN) tersebut.

ITBH Parepare adalah perguruan tinggi negeri yang didirikan oleh Presiden Ketiga Republik Indonesia, Prof Dr Ing BJ Habibie, pada tahun 2015, di sebuah bangunan bekas Gedung Pemuda di Kota Parepare.

Meskipun sudah memiliki gedung dan rektor, ITBH sampai saat ini belum memiliki mahasiswa, karena penerimaan mahasiswa baru angkatan pertama baru akan dibuka tahun akademik 2022/2023.

Ansar Suyuti kepada wartawan di Kampus Unhas, Jumat, 22 Oktober 2021, menceritakan awal mula sehingga dirinya mendapatkan amanah sebagai rektor.

Bermula dari pemberitahuan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) yang diterima oleh pimpinan Unhas untuk mengusulkan satu nama sebagai calon Rektor ITBH.

“Nama saya diusulkan dan saya pun kemudian mengikuti serangkaian tahapan wawancara oleh Kemendikbudristek, hingga akhirnya terpilih dan dilantik menjadi rektor,” tutur Ansar.

Setelah dilantik menjadi rektor, ia pun segera berkoordinasi dengan pimpinan Unhas guna melengkapi struktur kepemimpinan di ITBH, dengan sumber daya manusia berkualitas sesuai susunan organisasi tata kelola institut perguruan tinggi.

“Tahun depan, ITBH harus membuka dan menerima mahasiswa baru. Olehnya itu, persiapan matang perlu dilakukan, agar secara akademik mahasiswa memperoleh pengajaran sesuai standar,” kata Ansar.

Ia mengaku akan memperluas kolaborasi berbagai pihak agar ITBH sebagai ranah institusi perguruan tinggi negeri dapat bersaing dengan institut lainnya.

“Kami akan mempersiapkan tenaga pengajar yang memiliki kualifikasi tinggi dan ahli pada bidang masing-masing. Setidaknya, sudah ada 15 dosen yang menjadi tenaga pengajar dan didukung dengan delapan tenaga kependidikan,” kata Ansar.

Sebagai rektor, ia akan berupaya agar ITBH Parepare bisa berkiprah secara nasional maupun global seperti institut lainnya, dan itu membutuhkan usaha ekstra.

“Kami berharap Unhas membantu kami mewujudkan misi tersebut. Selain itu, kolaborasi bersama pemerintah daerah juga diupayakan secara maksimal, agar kehadiran ITBH Parepare sejalan dengan harapan pemerintah dalam menghasilkan SDM untuk mendukung pembangunan daerah," tutur Ansar.

Kehadiran ITBH, katanya, diharapkan memberikan dampak positif. Selain memperkuat Parepare sebagai kota pendidikan, juga di sektor perekonomian dapat membawa efek terhadap aktivitas ekonomi daerah.

“ITBH Parepare sebagai institut teknologi negeri di Indonesia timur, menjadi harapan baru lahirnya tokoh-tokoh teknokrat Indonesia dari timur Indonesia,” kata Ansar.

 

Tiga Program Studi

 

Ada tiga Program Studi yang dibuka pada program sarjana ITBH yang berkesesuaian dengan hasil review Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Region IX Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tenggara (Sultanbatara), yang akhirnya menerbitkan rekomendasi nomor T/6222/L9/KL.00.00/2019, perihal pembukaan Prodi pada tanggal 24 September 2019.

Ketiga prodi tersebut yaitu Prodi Ilmu Komputer atau Informatika, Prodi Sistem Informasi, dan Prodi Matematika. (asnawin)

DRAFT KERJASAMA. Penjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Gowa, Kamsina (paling kanan), memberikan sambutan pada Pembahasan Draft Kesepakatan Bersama dan Perjanjian Kerjasama antara Pemkab Gowa dengan USAID MPHD, di Ruang Rapat Badan Pengelola Keuangan Daerah Kabupaten Gowa, Kamis, 21 Oktober 2021. (ist)
 



-------

Kamis, 21 Oktobr 2021

 

 

USAID Bantu Turunkan Angka Kematian Ibu dan Bayi di Gowa

 

 

GOWA, (PEDOMAN KARYA). United States Agency for International Development (USAID) Momentum Private Healthcare Delivery (MPHD) Indonesia Private Sector menawarkan bantuan kerjasama kepada Pemerintah Kabupaten Gowa untuk bersama-sama berupaya menurunkan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) di Kabupaten Gowa.

Tawaran itu disambut gembira Pemkab Gowa dan pembahasan draft kerjasama pun dilakukan di Ruang Rapat Badan Pengelola Keuangan Daerah Kabupaten Gowa, Kamis, 21 Oktober 2021.

“Program ini sangat bagus, apalagi program ini tidak menyusahkan kita, karena program ini dibiayai USAID sendiri,” kata Penjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Gowa, Kamsina, saat memberikan sambutan pada Pembahasan Draft Kesepakatan Bersama dan Perjanjian Kerjasama antara Pemkab Gowa dengan USAID MPHD.

Dia mengatakan, program ini tentu akan sangat membantu Pemerintah Kabupaten dalam upaya penurunan angka kematian ibu dan bayi di wilayah Kabupaten Gowa. Olehnya itu, dirinya berharap draft kesepakatan bersama dan kerjasama ini bisa segera diselesaikan.

“Mudah-mudahan dengan hadirnya program ini, betul-betul bisa menurunkan angka kematian ibu dan bayi di Kabupaten Gowa, bisa ditekan, dan kita berharap program ini juga mengatasi masalah stunting,” kata Kamsina.

District Coordinator - MPHD South Sulawesi, Amiruddin, mengatakan program ini untuk mendukung Pemerintah Indonesia, khususnya Kabupaten Gowa, meningkatkan keterlibatan dan efektivitas fasilitas kesehatan swasta yang secara berkelanjutan, untuk menyediakan layanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir yang berkualitas dan berkontribusi menurut AKI dan AKB.

“Goals kita adalah meningkatkan akses dan mutu layanan ibu dan BBL di Fasyankes (Fasilitas Pelayanan Kesehatan). Kebijakan dan peraturan yang lebih baik, yang memungkinkan keterlibatan sektor swasta serta meningkatkan koordinasi dan integrasi sistem kesehatan swasta dan pemerintah di Kabupaten sasaran dalam hal ini Kabupaten Gowa,” tutur Amiruddin.

Amiruddin menyebutkan beberapa intervensi yang akan dilakukan dalam upaya menurunkan AKI dan AKB, seperti Workshop tentang mutu, keselamatan pasien & INM, Workshop Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar (PONED) dan Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK).

Juga Pendampingan Tata Kelola Klinik untuk RS swasta, Penguatan Komite MUTU RS, Pendampingan Tata Kelola Klinik untuk, Klinik swasta/TPMB, Penguatan Bidan DELIMA serta Adopsi E-kohort/MPDN.

Amiruddin mengatakan, lokasi program ini berada di lima provinsi, yaitu Provinsi Sumatera Utara, Banten, DKI Jakarta, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan.

“Kriteria Pemilihan Kab/Kota yaitu merupakan daerah Lokus AKI dan AKB Kementerian Kesehatan, jumlah Penduduk yang besar, jumlah RS Swasta dan Faskes Swasta lainnya dan ada RS jaringan,” rinci Amiruddin.

Kegiatan ini turut dihadiri Kepala Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Gowa, Abdul Karim Dania, Asisten Bidang Pemerintahan Sekretariat Daerah Kabupaten Gowa, Muhammad Rusdi, Kepala Bagian Kerjasama Sekretariat Daerah Kabupaten Gowa Hj Emy Pratiwi Hosen, Kepala Bagian Hukum Sekretariat Daerah Kabupaten Gowa, Mahmuddin, serta perwakilan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) dan perwakilan Dinas Kesehatan Kabupaten Gowa. (yat)


BANTUAN SEMBAKO. Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Sulawesi Selatan kembali berbagi paket sembako di masa pendemi Covid-19. Kali ini puluhan paket sembko dibagikan kepada warga Desa Kalebentang, Kecamatan Galesong Selatan (Galsel) Kabupaten Takalar, Sabtu, 16 Oktober 2021. (ist)





---------- 

Kamis, 21 Oktober 2021

 

 

Pemuda Muhammadiyah Sulsel Berbagi Sembako di Desa Kalebentang Takalar

 

 

TAKALAR, (PEDOMAN KARYA). Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Sulawesi Selatan kembali berbagi paket sembako di masa pendemi Covid-19. Kali ini puluhan paket sembko dibagikan kepada warga Desa Kalebentang, Kecamatan Galesong Selatan (Galsel) Kabupaten Takalar, Sabtu, 16 Oktober 2021.

Pemberian sembako diawali oleh Ketua Pemuda Muhammadiyah Sulsel, Elly Oscar, kepada perwakilan ibu-ibu, disaksikan Plt Kepala Desa Kalebentang, Ilham, selaku tuan rumah, pihak kepolisian serta tokoh masyarakat setempat. Ilham juga merupakan salah satu Wakil Ketua Pemuda Muhammadiyah Sulsel.

Penerima bantuan paket sembako didominasi ibu-ibu, yang beberapa di antaranya datang dengan memakai sandal jepit. Pemberian paket sembako itu merupakan Program Pemuda Muhammadiyah Sulsel Peduli.

Elly Oscar pada kesempatan tersebut datang ke Desa Kalebentang bersama sejumlah anggota Komando Kesiap-siagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (Kokam) Pemuda Muhammadiyah Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar.

Hadirpula tokoh masyarakat setempat, kepolisian dan Plt Kepala Desa Ilham selaku tuan rumah yang juga merupakan wakil ketua Pimpinan wilayah Pemuda Muhammadiyah Sulawesi Selatan.

Plt Kepala Desa Kalebentang, Ilham, mengungkapkan rasa syukur dan terima kasihnya kepada Pemuda Muhammadiyah Sulsel yang telah memilih kampungnya untuk menyalurkan bantuan paket sembako.

“Kami mewakili masyarakat mengucapkan banyak terima kasih kepada Pemuda Muhammadiyah Sulsel, dan kami sangat bersyukur, karena Pemuda Muhammadiyah memilih kampung kami untuk menyalurkan bantuan paket sembako. Tentu ini sangat membantu meringankan beban masyarakat kami. Kami do’akan semoga Pemuda Muhammadiyah selalu hadir dalam kehidupan masyarakat, dan semga pimpinannya selalu diberikan keberkahan hidup dan sehat selalu dalam menjalankan amanah organisasi,” tutur Ilham.

Ketua Pemuda Muhammadiyah Sulsel, Elly Oscar  mengatakan, apa yang dilakukan oleh Pemuda Muhammadiyah saat ini adalah salah satu bentuk kepekaan dan kepedulian kepada warga yang terdampak pandemi Covid-19.

“Semoga ini bisa sedikit meringankan beban hidup masyarakat kita,” kata Elly yang sehari-hari menjabat Wakil Dekan III Fakultas Agama Islam (FAI) Unismuh Makassar.

Ia meminta kepada masyarakat agar selalu mendoakan Pemuda Muhammadiyah, semoga bisa selalu hadir memberi solusi dan berbagi kebahagiaan kepada masyarakat.

“Semoga apa yang kita lakukan pada hari ini bisa menjadi amal saleh dan bisa mendapat keberkahan dari Allah SWT, Sang Maha Pemberi,” kata Elly.

Dia menegaskan, Pemuda Muhammadiyah akan selalu menjalin kerjasama kepada semua pihak, baik pemerintah maupun swasta, atau lembaga yang punya kepedulian yang sama bagi kehidupan bangsa ini. (Hasdar Sikki)