Sultan Sumbawa Kirim Utusan ke Rumah Datu Museng

 

“Anakku Datu Museng…. Maggauka dan permaisuri mengutus kami datang kepadamu sebagai pengganti beliau berkunjung kemari. Beliau berharap sangat, sudilah anakku berkunjung ke istana untuk menutupi malu dan meletakkan kepala kedua ayah budanmu di atas bahunya, supaya adikmu Maipa pulih dari sakitnya, sehat kembali seperti biasa.” (int)

 

 

-----

PEDOMAN KARYA

Sabtu, 13 Februari 2021

 

 

Datu Museng dan Maipa Deapati (9):

 

 

Sultan Sumbawa Kirim Utusan ke Rumah Datu Museng

 

 

Oleh: Verdy R. Baso

(Mantan Wartawan Harian Pedoman Rakyat)

 

 

Maggauka sangat terkejut dan gelisah ketika mengetahui hal itu. Apa yang akan diperbuatnya? Kedua suami istri itu pun berunding mencari jalan keluar, agar keadaan jadi baik. Keduanya mencoba menarik rambut dari dalam tepung, tepung jangan sampai terserak dan rambut pun tak putus. Maipa dapat tertolong dan Datu Museng pun tak berkecil hati.

Permaisuri mengeluarkan pendapat yang telah diputuskannya ketika masih berada di dalam bilik putrinya. Dan Maggauka ternyata menyetujuinya.

Pada saat itu juga disuruh panggil penghulu adat dan orang-orang besar pemerintahan menghadap ke istana. Ketika semua telah lengkap hadir, disampaikanlah kejadian yang menimpa Maipa.

Maggauka meminta pendapat seluruh anggota adat. Lalu terjadilah tukar pikiran.yang menghasilkan satu pendapat dan dianggap cukup matang, yaitu dikirim utusan ke rumah Datu Museng dikepalai oleh gelarang, ketua adat.

Utusan ini bertugas memohon kepada pemuda itu agar sudi datang meringankan kaki ke istana untuk menghapus malu dan meletakkan kepala Maggauka di atas bahunya kembali. Dan sebagai pelunak hati, dibekali utusan ini beberapa pesan penting kepada Datu Museng. Sesudah berjanji akan menjalankan perintah, mereka pun mengundurkan diri.

Adapun ketika raga yang disepak Datu Museng melambung tinggi dan jatuh di wuwungan istana, gelanggang pun bubar. Penonton di jendela sudah ribut dan berlarian mengejar sang raga. Sedangkan bola rotan itu, tidak muncul-muncul lagi.

Datu Museng lalu pulang ke rumah bersama kakeknya. Niatnya telah terlaksana, maksud telah tercapai.

Esok harinya, gelarang bersama rombongan utusan, datang ke rumah Datu Museng. Mereka mendapatkan pemuda itu sedang duduk di tiang tengah rumah, menghadapi murid-murid yang sedang mengaji.

Ketika Datu Museng mengetahui ada tamu yang datang, ia pun menyuruh murid-muridnya berhenti mengaji. Lalu pulang ke rumah masing-masing.

Setelah perutusan Maggauka duduk di hadapan Datu Museng, gelarang pun menyampaikan harapan Sultan Sumbawa dan permaisuri.

“Anakku Datu Museng…. Maggauka dan permaisuri mengutus kami datang kepadamu sebagai pengganti beliau berkunjung kemari. Beliau berharap sangat, sudilah anakku berkunjung ke istana untuk menutupi malu dan meletakkan kepala kedua ayah budanmu di atas bahunya, supaya adikmu Maipa pulih dari sakitnya, sehat kembali seperti biasa. Karena perkawinannya sudah dekat benar dengan tunangannya Pangeran Mangngalasa. Beliau berharap anakku meringankan langkah ke sana. Dan ayahandamu Maggauka minta pula anakku memilih gadis lain dari adikmu Maipa. Annaku tak usah khawatir, Maggauka akan senang hati mengurusnya.”

Gelarang berhenti sejenak dan melirik Datu Museng. Ketika di wajah anak muda yang menunduk itu tak terbaca suatu reaksi, ia pun melanjutkan, “Anggaplah Maipa sebagai adik kandungmu, dan malunya adalah malumu pula, serta malu ayahanda Maggauka. Kuharap anakku sudi datang berkunjung ke istana, karena tidak ada orang lain yang dapat memperbaiki keadaan Maipa selain kau. Apa bicaramu, anakku?”

Datu Museng memperbaiki duduk. Lalu ia menukas, “Tuanku gelarang dan pembesar-pembesar yang ada. Hamba memohon dimaafkan karena tak dapat berkunjung ke istana yang tak layak bagi manusia macam hamba ini. Apalagi untuk menaiki tangga berjenjang empat puluh  itu. Hamba takut durhaka sebab turunan hamba belum pernah menginjaknya. Hamba hanya manusia kecil yang hina dina. Sampaikanlah kepada tuanku Maggauka, bahwa hamba tak mungkin menginjak istananya, takut durhaka karena melanggar kebiasaan adat. Bukankah hamba hanya manusia yang berdarah campuran, tak tulen seperti tuanku Maggauka?”

“Tapi bukan itu maksud Maggauka, anakku. Bagi beliau tak ada perbedaan dengan anak muda bangsawan lainnya. Jangan anakku berkecil hati disebabkan Maipa sudah dijodohkan dengan orang lain. Jangan, anakku! Pikirlah baik-baik. Timbanglah masak-masak, karena Maggauka ingin agar kedua belah pihak tidak kecewa dan beliau tidak hilang muka!” tutur gelarang.

“Ah, hamba masih segan mengunjungi istana, tuanku gelarang! Hati hamba melarang!” kata Datu Museng.

“Jangan diperturutkan kata hati itu, anakku,” desak gelarang.

“Baiklah, hamba pikir-pikir dulu. Pulanglah tuanku dulu. Sampaikan pada Maggauka bahwa hamba masih bimbang,” ujar Datu Museng.

“Jika demikian katamu, baiklah. Tapi harap anakku jangan bimbang, tetapkanlah hati mengambil keputusan,” kata gelarang.

Utusan pun meminta diri. Mereka kembali ke istana, menyampaikan hasil kunjungannya. (bersambung)

------

Kisah sebelumnya:

Datu Museng dan Maipa Deapati (8): Bola Raga Menyelinap Masuk ke Kain Maipa Deapati

Datu Museng dan Maipa Deapati (7): Senyum Datu Museng Membakar Piala Hati Maipa 

Datu Museng dan Maipa Deapati (6): Datu Museng Dipermalukan, Kakek Adearangang Cabut Pedang Lidah Buaya 



Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama