Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

» » » » » Kelong Pendidikan Religius (13): Lakiama’mi Linoa, ka Nisirimi Bonena


Pedoman Karya 10:59 PM 0

“Lakiama’mi Linoa, ka Nisirimi Bonena, Lani Pilei, Lamungang Lamattimboa.”

Arti bebasnya: “Tanda kiamat telah tiba karena isinya telah ditapis, tinggal tersisa bibit unggul yang terpilih.” (int)

 




-----------

PEDOMAN KARYA

Rabu, 19 Mei 2021

 

Kelong Pendidikan Religius (13):

 

 

Lakiama’mi Linoa, ka Nisirimi Bonena, la Nipilei, Lamungang Lamattimboa

 

 

Oleh: Bahaking Rama

(Guru Besar Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar)

 

Wabah Garring Pua

 

Wabah penyakit yang melanda kehidupan masyarakat di berbagai belahan dunia, semisal Covid-19, bukanlah kejadian baru. WHO banyak mencatat jenis wabah penyakit yang pernah mengancam kehidupan secara massal dari sejarah kehidupan manusia.

Virus penyakit massal yang belum ditemukan obatnya, oleh orang tua kita dahulu disebut “Garring Pua”. Penyakit berdampak kematian massal dilukiskan dalam Kelong:

“Lakiama’mi Linoa, ka Nisirimi Bonena, Lani Pilei, Lamungang Lamattimboa.”

Arti bebasnya: “Tanda kiamat telah tiba karena isinya telah ditapis, tinggal tersisa bibit unggul yang terpilih.”

Orang tua mendidik generasinya supaya unggul di berbagai aspek kehidupan. Pertama unggul pada aspek kesehatan. Di dalam kandungan, anak dipelihara dengan menjaga  perasaan dan kesehatan ibunya.

Setelah lahir, ASI dan makanan suci, halalan thayyiban menjadi menu, konsumsi utama meningkatkan imun. Kalau ada pandemi, ritual songka bala (menolak bala) menjadi penting.

Tadarrus, yasinan malam Jum’at setiap rumah ramai bersahutan. Kebiasaan hidup bersih ditingkatkan, bahkan menjaga jarak dilakukan dengan isolasi bermukim beberapa hari sekeluarga di kebun atau di tempat lain.

Kedua, generasi unggul pada aspek religius-spiritual. Anak-cucu diajar dan dibiasakan memperkokoh keimanan kepada Allah, beribadah dengan tekun, dan berakhlakul karimah yang agung, melalui keteladanan dan pembiasaan.

Ketiga, generasi unggul pada aspek pendidikan dan keterampilan, dan keunggulan hidup lainnya.

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar, tidak bohong.” (QS. An-Nisa’, 4:9)

Semoga seleksi alam pandemic Covid-19 menyisakan bibit unggul. Kitalah bibit unggulnya dituntut melahirkan generasi unggul yang mampu membangun negara-bangsa dan agama berdasarkan konstitusi. Semoga, Aamiin YRA.

 

Pao-pao Gowa. Kamis, 06 Mei 2021

--------

Artikel sebelumnya:

Kelong Pendidikan Religius (12): Antei Kamma, Adaka Anrinni Mae 

Kelong Pendidikan Religius (11): Jai Bintoeng ri Langi’, Jaiyang Pole Tumappa’linga-lingaya

Kelong Pendidikan Religius (10): Bosi Misse’, Bara’ Misse’, Menteng Misse’ Pa’jeko

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments

Leave a Reply