Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah Prof Hamim Ilyas Meninggal Dunia

Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Prof. Hamim Ilyas (kedua dari kanan), saat membuka Pelatihan Kader Tarjih Muhammadiyah Tingkat Nasional (PKTN) Batch I, di Hotel Aryaduta, Makassar, Rabu, 28 Mei 2025, didampingi Sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Muhammad Rofiq Muzakkir PhD (paling kiri), Ketua Muhammadiyah Sulsel Prof. Ambo Asse (kedua dari kiri) dan Rektor Unismuh Makassar Dr. Abdul Rakhim Nanda. (ist)    


------

Sabtu, 23 Mei 2026

 

Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah Prof Hamim Ilyas Meninggal Dunia

 

YOGYAKARTA, (PEDOMAN KARYA). Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Hamim Ilyas, meninggal dunia di RSA UGM Yogyakarta, Sabtu, 23 Mei 2026, sekitar pukul 01.40 WIB.

Almarhum sebelumnya menjalani perawatan di rumah sakit tersebut selama kurang lebih sepuluh hari. Setelah sempat pulang, kondisi beliau kembali menurun dan dirawat lagi sejak Rabu, 20 Mei 2026.

Prof Hamim Ilyas yang kelahiran Klaten, 1 April 1961, sehari-hari adalah dosen dan Guru Besar Fakultas Syariah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar mengatakan, Muhammadiyah kehilangan sosok ulama, intelektual, sekaligus cendekiawan muslim yang dikenal alim, teduh, dan rendah hati.

Pemikiran almarhum tentang Tauhid Rahamutiyah menjadi salah satu gagasan penting dalam pengembangan Islam Berkemajuan di Muhammadiyah.

Tauhid Rahamutiyah merupakan konsep teologi Islam yang menegaskan bahwa Allah Swt Yang Maha Esa memiliki sifat dasar rahmah atau kasih sayang.

“Gagasan yang dipopulerkan Prof. Hamim Ilyas tersebut menempatkan kasih sayang transformatif sebagai inti keimanan dan amal saleh,” kata Haedar, Sabtu, 23 Mei 2026.

Dalam pandangan ini, seluruh ciptaan dan syariat Allah ditujukan untuk menghadirkan kemaslahatan, keadilan sosial, perdamaian, dan kesejahteraan umat manusia. Karena itu, ajaran Islam tidak berhenti pada tataran konseptual dan ritual semata, melainkan harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang membawa manfaat bagi kehidupan.

“Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyampaikan duka cita yang mendalam atas wafatnya almarhum. Semoga Allah Swt. menerima seluruh amal ibadahnya, mengampuni segala khilafnya, serta menempatkannya di jannatun na’im,” ucap Haedar.

Haedar juga mengatakan bahwa saat menjenguk almarhum bersama Direktur Utama RS PKU Muhammadiyah Kota Yogyakarta dr. H. Mohammad Komarudin, Sp.A, dan Direktur Utama RS PKU Muhammadiyah Gamping, dr H Ahmad Faesol, SpRad., MKes., MMR, pada Kamis, 21 Mei 2026, kondisi beliau sudah tidak memungkinkan untuk berkomunikasi secara langsung.

“Semua sudah berikhtiar, tetapi Allah telah menentukan ajalnya. Kita mesti melepas beliau dengan ikhlas,”pungkas Haedar.

Haedar juga mendoakan agar keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan, ketabahan, dan kesabaran dalam menghadapi musibah ini.

 

Ulama dan Cendekiawan yang Menyejukkan

 

Ketua Umum Pimpinan Pusat 'Aisyiyah, Salmah Orbayinah, juga menyampaikan duka mendalam atas wafatnya Prof Hamim Ilyas. Almarhum di mata Salmah adalah sosok ulama dan cendekiawan Muhammadiyah yang rendah hati, dengan tutur kata yang lembut, menyejukkan, namun tetap humoris.

Ia menambahkan, bahwa beliau juga memiliki perhatian besar terhadap pengembangan pemikiran Islam berkemajuan dan nilai-nilai kemanusiaan.

“Prof Hamim Ilyas adalah sosok yang banyak memberikan kontribusi pemikiran bagi Muhammadiyah dan umat. Beliau menghadirkan dakwah Islam yang menyejukkan, penuh kasih sayang, dan berorientasi pada kemaslahatan,” ujar Salmah.

Prof. Hamim, menurutnya juga selalu terbuka berdiskusi terkait isu-isu perempuan dan anak termasuk perspektif GEDSI dalam pandangan Islam dengan 'Aisyiyah.

“Atas nama Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, kami menyampaikan dukacita yang mendalam. Semoga Allah SwT menerima seluruh amal ibadah beliau, mengampuni segala khilafnya, dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya,” tutur Salmah. (asnawin)

 


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama