-----
PEDOMAN KARYA
Ahad, 12 Juli 2026
FIFA Digandeng
Kepentingan Politik dan Rasial
Oleh: Shamsi Ali
Al-Nuyorki
Saat ini,
perhatian dunia tertuju pada perhelatan sepak bola terbesar yang digelar di
tiga negara: Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Saya tidak akan mengulas
kelebihan dan kelemahan tiap tim. Itu adalah ranah komentator sepak bola,
mereka hidup dari analisis itu.
Yang ingin saya
soroti justru sisi sosial dan politik dari ajang olahraga paling heboh di dunia
ini. Piala Dunia kali ini sarat muatan sosial-politik yang sedikit banyak
memengaruhi performa, bahkan hasil pertandingan di lapangan.
Sudah lama FIFA
dikritik karena lemahnya independensi. Kebijakannya sering dianggap sarat
kepentingan politik tertentu. Contoh yang paling disorot: FIFA memboikot Rusia
dari Piala Dunia karena dianggap melanggar hukum internasional di Ukraina.
Namun di sisi
lain, FIFA tetap mengizinkan Israel, negara yang sejak 1948 dituduh melanggar
hukum internasional, HAM, dan melakukan genosida di Gaza dan Palestina, untuk
berpartisipasi di berbagai ajang sepak bola dunia.
Apapun
pembenarannya, dunia tahu FIFA seolah menutup mata. Tidak heran jika FIFA kerap
dijuluki organisasi berstandar ganda.
Borok FIFA lainnya
adalah perlakuan diskriminatif terhadap tim dan perangkat pertandingan
tertentu. Bukan hanya pemain, wasit pun mendapat perlakuan tidak semestinya
akibat tekanan negara kuat, terutama Amerika Serikat.
Beberapa tim dari
Afrika dan Asia diperlakukan tidak etis di bandara. Pemeriksaan berlebihan dan
merendahkan martabat membuat mereka seolah dianggap kriminal.
Contoh paling
nyata adalah Republik Islam Iran. Meski lolos ke Piala Dunia, mereka tidak
diizinkan menetap di AS selama turnamen berlangsung. Padahal beberapa
pertandingan wajib digelar di wilayah AS. Akibatnya, tim Iran harus tinggal di
Meksiko dan bolak-balik setiap kali bertanding. Tentu ini menguras waktu,
tenaga, dan mengganggu persiapan tim.
Selain pemain,
wasit terbaik Afrika, Omar Abdulkadir Artan, juga gagal bertugas. Ia
dideportasi setibanya di AS karena berpaspor Somalia dan dituduh memiliki
kaitan dengan organisasi yang dicap teroris, tanpa bukti yang jelas.
Saya pribadi
adalah penggemar berat sepak bola. Meski tidak mahir bermain, saya selalu
menikmati olahraga ini. Ada daya tarik khusus yang membuat saya menjadi “big
fan”.
Sayangnya, semakin
saya mengamati penyelenggaraan Piala Dunia tahun ini, semakin hilang minat
saya. Bukan karena tim favorit saya, Maroko, kalah dari Prancis. Saya justru
bangga dengan permainan Maroko yang “highly skillful”, dan Prancis bermain
dengan integritas dan profesional.
Yang membuat saya
gerah adalah ketidakberesan yang terjadi secara terbuka. Salah satunya saat
Senegal hampir mengalahkan Inggris. Beberapa pelanggaran Senegal
dipermasalahkan, sementara kesalahan Inggris dibiarkan begitu saja.
Manipulasi yang
paling telanjang terlihat saat Mesir melawan Argentina, juara bertahan. Mesir
adalah “rising star” Afrika dengan permainan memukau. Laga berlangsung sengit.
Mesir sempat unggul 2-0, lalu 3-1. Namun gol ketiga dianulir wasit dengan
alasan pelanggaran.
Argentina kemudian
menyamakan 2-2 di menit akhir, lalu mencetak gol kemenangan 3-2. Publik di
media sosial ramai membicarakan keputusan wasit yang dinilai tidak adil. Banyak
kesalahan Mesir dihukum, sementara pelanggaran Argentina diabaikan. Ketika
pelatih Mesir protes, asistennya diganjar kartu merah dan pelatih utama
mendapat kartu kuning.
Yang memperkuat
dugaan keberpihakan: saat Argentina menang, para petinggi FIFA terlihat
merayakan dengan gembira, seolah jagoan mereka yang menang.
Saya curiga FIFA
memang digandeng kepentingan politik dan rasial. Dari deportasi wasit
terbaiknya, diskriminasi terhadap tim Iran, hingga tersingkirnya tiga tim kuat
Afrika: Maroko, Senegal, dan Mesir, semua mengarah pada dugaan rasisme.
Apapun alasannya
yang berusaha dipakai untuk membenarkan manipulasi yang ada, penyelenggaraan
Piala Dunia tahun ini adalah yang terburuk sepanjang sejarah. Seharusnya
Presiden FIFA mengundurkan diri secara “disgraced” (tidak terhormat).
Jamaica Hills, 11
Juli 2026
…..
- Penulis Shamsi Ali
adalah pecinta Sepak Bola dari Kajang, Bulukumba, dan tinggal di Amerika
Serikat
