Kekuatan Kaderisasi Partai Politik vs Kapitalisasi Tiket Politik

KADER yang bertahun-tahun membesarkan partai harus berhadapan dengan orang yang mungkin baru mendekat ketika kontestasi politik mulai membuka peluang kekuasaan, tetapi datang dengan dukungan finansial yang jauh lebih kuat. 

 

------

PEDOMAN KARYA

Senin, 02 November 2026

 

Kekuatan Kaderisasi Partai Politik vs Kapitalisasi Tiket Politik

 

Oleh: Usman Lonta

(Ketua Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Makassar)

 

Kesamaan nama tidak otomatis melahirkan kesamaan posisi. Kebersamaan di partai politik tidak menjamin kesamaan peluang. Bahkan kesamaan sejarah perjuangan dan pengabdian dalam sebuah partai politik tidak selalu menjadi jaminan seseorang memperoleh tiket pencalonan.

Dalam politik elektoral hari ini, ada satu variabel yang semakin menentukan, yaitu kemampuan finansial. Di negara konoha bahkan ada kandidat yang namanya sama, namun kesempatan mendapatkan tiket jauh sekali antara langit dan bumi. Penyebabnya adalah kemampuan finansial.

Fenomena ini memperlihatkan paradoks yang patut menjadi bahan renungan. Sejatinya partai politik berbicara tentang kaderisasi, loyalitas, ideologi, dan pengabdian. Namun, ketika tiba saatnya menentukan siapa yang akan diusung dalam pemilihan, pertimbangan tersebut kehilangan daya tawarnya.

Kader yang bertahun-tahun membesarkan partai harus berhadapan dengan orang yang mungkin baru mendekat ketika kontestasi politik mulai membuka peluang kekuasaan, tetapi datang dengan dukungan finansial yang jauh lebih kuat.

Dalam situasi demikian, kaderisasi seolah-olah ditempatkan pada tempat pembuangan akhir. Ibarat sampah yang berserakan yang diangkut ke tempat pembuangan akhir. Kata “kader” tetap dipertahankan sebagai bahasa resmi organisasi, namun tetap dicampakkan sebagai pertimbangan utama dalam pengambilan keputusan politik.

Persoalannya bukan semata-mata siapa yang memperoleh tiket pencalonan. Persoalan yang lebih mendasar ialah nilai apa yang sesungguhnya digunakan partai politik untuk menentukan kelayakan seseorang menjadi pemimpin?

Secara ideal, partai politik merupakan institusi yang menyeleksi, mendidik, dan mempersiapkan calon pemimpin. Seseorang memasuki partai politik, mempelajari ideologi, membangun pengalaman, mengasah kemampuan politik, serta menunjukkan komitmen terhadap perjuangan bersama.

Melalui proses tersebut, partai politik seharusnya mengenali kader yang memiliki kapasitas dan integritas untuk menjalankan kekuasaan publik. Namun, logika ideal itu berhadapan dengan realitas politik elektoral yang semakin mahal. Kondisi inilah yang memaksa terjadinya pergeseran ukuran kelayakan.

Kemampuan memimpin yang semestinya menjadi pertimbangan utama dikalahkan oleh kemampuan pembiayaan pertarungan politik. Pengalaman organisasi dinilai tidak menarik dibandingkan kemampuan menghadirkan sumber daya finansial.

Logika dikalahkan oleh logistik. Loyalitas, kompetensi dan integritas kader dianggap tidak penting, karena semua variabel tersebut tidak cukup untuk membiayai mahalnya pertarungan. Uang yang pada awalnya merupakan instrumen untuk mendukung perjuangan politik berubah menjadi penentu arah perjuangan.

Tentu saya tidak ingin berkesimpulan bahwa setiap kandidat yang mempunyai finansil berlebih, tidak kompeten atau setiap kader lama pasti layak memimpin. Kemampuan finansial bukanlah bukti ketidaklayakan, sebagaimana senioritas dalam partai politik bukanlah jaminan kualitas kepemimpinan.

Namun, ketika sumber daya ekonomi mengalahkan rekam jejak, kaderisasi, dan integritas, maka disinilah titik awal partai politik merenda kain oligarki menjadi perisai partai politik dengan konstituennya. Wallahu a’lam bisshawab.

 

Sungguminasa, 01 November 2026

 


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama