-----
Senin, 09 Februari 2026
Unismuh Makassar Lepas Ratusan Muballigh
Hijrah Selama Ramadhan
MAKASSAR, (PEDOMAN KARYA). Universitas
Muhammadiyah (Unismuh) Makassar secara resmi melepas sebanyak 696 peserta
Program Muballigh Hijrah Ramadhan 1447 Hijriah / 2026 Masehi dalam sebuah
seremoni khidmat yang digelar di Kampus Unismuh Makassar, Senin, 09 Februari
2026.
Para muballigh hijrah terdiri atas beberapa
kategori penugasan, yakni muballigh kampus, muballigh utusan Pimpinan Daerah
Muhammadiyah (PDM) / Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) / Pimpinan Ranting
Muhammadiyah (PRM), muballigh Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting (LPCR),
serta muballigh mandiri yang dikoordinasikan melalui Ma’had Al-Birr Unismuh
Makassar.
Para peserta akan menjalankan berbagai
aktivitas keagamaan, mulai dari imam salat tarawih, khatib Jumat, penceramah
Ramadan, hingga pendamping kegiatan keagamaan masyarakat di wilayah tugas
masing-masing.
Program ini menjadi bagian dari tradisi
dakwah kampus yang mengintegrasikan pengabdian masyarakat, penguatan nilai
keislaman, serta kaderisasi dakwah Muhammadiyah.
Acara pelepasan dihadiri oleh Rektor
Unismuh Dr Abdul Rakhim Nanda, Ketua Badan Pembina Harian (BPH) Unismuh
Makassar Prof Gagaring Pagalung, pimpinan fakultas, lembaga, pusat studi
keislaman, dosen, serta ratusan mahasiswa yang menjadi peserta Mubaligh Hijrah.
Kegiatan pelepasan juga terhubung secara
daring melalui zoom meeting bagi peserta yang telah lebih dahulu berada di
lokasi penugasan.
Program Muballigh Hijrah tidak hanya
diposisikan sebagai agenda seremonial tahunan, tetapih sebagai gerakan dakwah
terstruktur yang menghubungkan kampus dengan denyut kehidupan umat di berbagai
daerah, khususnya selama bulan suci Ramadhan.
Ketua Panitia, Abdillah SPdI MA, dalam
laporannya menjelaskan bahwa seluruh peserta telah mengikuti rangkaian
pelatihan dan pembekalan yang meliputi penguatan keislaman, keterampilan
komunikasi dakwah, serta pemahaman ideologi dan nilai-nilai Muhammadiyah.
“Pembekalan ini bertujuan agar para muballigh
tidak hanya hadir sebagai pengisi mimbar, tetapi sebagai teladan, penggerak,
dan agen pencerahan di tengah masyarakat,” kata Abdillah.
Program ini, menurut panitia, juga menjadi
instrumen dakwah sosial yang menjadikan mahasiswa tidak sekadar pulang kampung
saat libur Ramadan, tetapi hadir sebagai pelayan umat yang aktif membangun
kehidupan religius masyarakat.
Dakwah Humanis dan Citra Kampus
Berkemajuan
Rektor Unismuh Makassar, Abdul Rakhim
Nanda, dalam sambutannya mengatakan, muballigh harus menjadi representasi Islam
yang berakhlak, humanis, dan mencerahkan.
Mengutip QS. Fussilat ayat 33–35, ia
menegaskan bahwa tidak ada posisi yang lebih mulia daripada menyeru manusia
kepada Allah dengan amal saleh dan akhlak yang baik. Dakwah, menurutnya, harus
dilakukan dengan kesabaran, kebijaksanaan, dan pendekatan kebaikan, bukan
konfrontasi.
“Kejahatan tidak dibalas dengan kejahatan,
tetapi dengan kebaikan. Di situlah dakwah menemukan kekuatannya. Dari
permusuhan bisa lahir persahabatan, dari penolakan bisa tumbuh kepercayaan,”
ujar Rakhim.
Para muballigh hijrah, lanjutnya, juga
membawa nama baik Unismuh Makassar sebagai kampus Islam berkemajuan. Sikap,
tutur kata, dan perilaku para mahasiswa di tengah masyarakat akan menjadi wajah
institusi.
“Jadilah duta Unismuh yang menghadirkan
keteladanan. Tunjukkan bahwa mahasiswa Unismuh adalah pribadi yang santun,
berilmu, dan bermanfaat bagi umat,” pesan Rakhim.
Pelepasan mubaligh dilakukan secara
simbolis oleh Rektor Unismuh Makassar dengan pembacaan basmalah, menandai
dimulainya misi dakwah Ramadan 1447 H.
Pesan Keteladanan dan Spirit Pewaris Nabi
Kepala Pusat Pengembangan, Pengkajian, dan
Pengamalan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (P4AIK) Unismuh Makassar, Dr Samhi
Mu’awan Djamal, dalam sambutannya menegaskan bahwa para muballigh merupakan
calon pewaris risalah kenabian.
Ia mengingatkan bahwa dakwah bukan sekadar
aktivitas retorika, tetapi perjuangan moral dan spiritual yang menuntut
keteguhan, keikhlasan, dan komitmen hingga akhir masa penugasan.
“Kalian adalah orang-orang terpilih. Dari
ribuan mahasiswa, kalian diberi amanah untuk membawa risalah Islam ke tengah
masyarakat. Ini bukan tugas ringan, tetapi kehormatan besar,” tegas Muawan.
Ia juga mengingatkan pentingnya
menyelesaikan amanah dakwah hingga akhir Ramadan, sebagai bentuk tanggung jawab
moral dan spiritual kepada umat dan institusi. (asnawin)
