Mubaligh pun Membalik Post-truth

Kini, mubaligh pun mulai dari hingga berakhir abjad pun demikian. Apalagi preman ber_abjad “A” abu_an berhingga “Z” zionis pun berternak keliaran demi duitan, sekalipun ayat-ayat Tuhan dilelanginnya dengan konyol / absurd. - Maman A. Majid Binfas -

 

-----

PEDOMAN KARYA

Ahad, 15 Maret 2026

 

Mubaligh pun Membalik Post-truth 

 

Oleh: Maman A. Majid Binfas

(Sastrawan, Akademisi, Budayawan)

 

Kini, zaman semakin maju serba canggihan, namun sungguh berbolak_balik pusaran dari pasca-kebenaran/era post-truth menuju sikon absurd / situasi sangat konyol yang tak logis pun ditempuhnya pula.

Kini, era bolak-balik sungguh terbalik, jangankan yang berlogika selancar bebas semau gue yang memang menjadi pilihan kehidupannya. Bahkan, sebagian para akademisi juga mubaligh pun berbalik putar jangka berangka yang dikedepankan.

Dikarenakan kreditornya ocehan di dalam bermimbaran masih dianggap belum memadai kadar kualitasnya, sehingga viral bergegeran untuk menambah saweran, pilih jalan bersampingan dengan reklamean berupa obat gurah lendiran bervitalitas gairah selangkangan lagi.

Apalagi yang berdurasi kaki tangan zionos, baik yang benderang tanpa aling-aling maupun terselubung bertopengan.

Mulai berseragam mengepung omong_omon nan benderang hingga bertameng preman keabu_abuan remang remang ber_abu Lahab nan_”Aba wastakbara; ia (Iblis) enggan dan takabur /sombong.” (QS. Al-Baqarah :34).

Kini, mubaligh pun mulai dari hingga berakhir abjad pun demikian. Apalagi preman ber_abjad “A” abu_an berhingga “Z” zionis pun berternak keliaran demi duitan, sekalipun ayat-ayat Tuhan dilelanginnya dengan konyol / absurd.

Padahal, kelakuan konyol demikian, mereka telah mengetahui akibatnya yang akan dituainya, yakni ditempatkan pada lapisan neraka paling bawah. Sebagaimana di dalam QS. An-Nisa: 145 yang berarti: “bahwa orang-orang munafik (yang salah satu sifatnya mengolok-olok agama) akan ditempatkan pada tingkatan neraka yang paling bawah” hingga jadi abu tanpa ampunan, bila tak segera bertobat.

 

Abu Neraka

 

Tidak perlulah ditebarkan lagi Abu Neraka, dan cukuplah dicelupkan bangkainya di sumur Barhout saja. Tidak lain supaya bangkai virusnya tidak lagi bertebaran menodai dan meracuni logika brilian generasi Rabbani.

Generasi Rabbani yang selalu berpuasa dengan tulus dan tulen hanya kepada Tuhannya, baik di bulan ramadhan maupun puasa sunnah yang lainnya guna memerangi nafsunya.

 

Ramadhan Berperang

 

Ramadhan bukan penghalang untuk berperang dan bahkan perang Badar terjadi pada 17 Ramadhan Tahun 2 Hijriah / 624 Masehi.

Kini, bulan Ramadhan untuk berpuasa yang menjadi momentum berperang guna melawan nafsu keiblisan di dalam diri sendiri.

Di samping, berguna untuk menusuk sasar pusar yang lagi bersesak serak. Akibat dari riak riuhnya gerak kesesatan nan bersorak dahsyat sehingga aromanya semakin tak sedap dan pertanda akan segera meledak dengan mendadak tanpa dikirain pula.

Tentu, mungkin tidak berkaitan erat dengan perang antara Iran dengan Zionis Amerika Serikat yang lagi bergejolak.

Hal itu memang telah terjadi yang mesti ditusuk agar dituai kembali. Termasuk, berperang melawan nafsu di dalam melahap daging kambing dipanggang bah lekung pusaran gunung tambora.

 

Pusaran Tambora Siaga

 

'Iqra'; bacalah  akan tanda tanda, termasuk

kini, pusaran Gunung Tambora pun sedang siaga dua, sebagai pertanda vulkanik bergejolak nan segera berkobar lagi, guna beriqra kedua kalinya.

Semoga, makhluk tak berdosa tidak jadi korban, bah letusan pertama yang meluluhlantakkan dunia hampa batas hingga berimbas ke Eropa.

Di sisi lain, Panglima TNI menginstruksikan untuk siaga satu juga di dalam menghadapi gelombang perang globalisme.

Semuanya, tidak lepas juga dari esensi yang beriqra bermuara kepada akar pusaran. Tentu pertanda demikian, tidak lain supaya berikhtiar di dalam kewaspadaan yang mesti disiagakan menjadi cerminan ber_fardu kifayah di dalam logika tauhidan berkehidupan.

 

Tauhid Kehidupan

 

Memahami agama Tuhan, bukan menyulitkan, dan tidak lain, semata untuk memudahkan jalan kehidupan sehingga berwujud “Baldatun toyyibatun warobbun ghofur”; berarti menggapai; negeri yang baik (aman, subur, makmur) dan Tuhan yang Maha Pengampun. _QS. Saba': 15.

Berhingga menjadi pelita aras mata batin agar tak bergulitaan di dalam mencerahkan arah mata berlogika nyata guna menggapai tapak tilas _"Shiratal Mustaqim :jalan yang lurus" berhingga "Irji'i ila Rabbiki Radhiyatam Mardhiyyah : Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya"_QS_Al-Fajr: 28.

Dan akhirnya bersalaman dengan husnul khotimah yang ber_"innalillahi wa innailaihi raajiuun: Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya lah kami kembali."

Tidan lain, harapannya adalah semoga menjadi hamba Tuhan yang sesungguhnya yang ber_mubaligh yang berkomitmen tulus kepada post-truth  Tuhan secara tulen.

Haqikat post-truth  nan sejati sebagai akhir dari pengabdian yang diabdikan jadi pilihan berakar kepada tauhid kehidupan yang bersalaman di dalam berkalam! Wallahualam

 


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama