------
PEDOMAN KARYA
Jumat, 01 Mei 2026
Guru, Dosen, dan
Masa Depan: Merawat Harapan di Setiap Kata
Oleh: Siti Suwadah Rimang
(Dosen Unismuh Makassar)
Hari Pendidikan Nasional bukan sekadar seremoni tahunan. Ia adalah
cermin. Cermin yang memantulkan kembali pertanyaan mendasar: masihkah
pendidikan kita menjadi ruang untuk merawat harapan, atau ia telah berubah
menjadi sekadar rutinitas tanpa makna?
Menjadi guru dan dosen bukan sekadar profesi. Ia adalah panggilan.
Panggilan yang tidak selalu datang dengan kemewahan, tetapi selalu datang
dengan tanggung jawab yang besar. Sebab di tangan merekalah, arah masa depan
perlahan dibentuk.
Seorang guru tidak hanya mengajarkan cara membaca dan berhitung. Ia
mengajarkan bagaimana melihat dunia. Ia membantu muridnya memahami bahwa hidup
bukan sekadar tentang bertahan, tetapi juga tentang bertumbuh.
Sementara seorang dosen tidak hanya membimbing mahasiswa menyelesaikan
tugas akhir, tetapi juga membimbing mereka menemukan arah hidup, arah yang
mungkin bahkan belum mereka sadari sebelumnya.
Namun, ada satu hal yang sering terlupakan: pendidikan bukan hanya soal
apa yang diajarkan, melainkan bagaimana ia diajarkan.
Di sebuah ruang kelas yang sederhana, seorang guru berdiri di depan
papan tulis. Tangannya mungkin lelah, suaranya mungkin tak selalu lantang,
tetapi di setiap kata yang ia ucapkan, ada sesuatu yang tak kasat mata: harapan.
Harapan yang ia titipkan pada setiap anak didiknya, bahwa suatu hari
nanti, mereka akan melangkah lebih jauh dari tempat ia berdiri hari ini.
Begitu pula di ruang-ruang kuliah. Seorang dosen berbicara bukan hanya
tentang teori, bukan hanya tentang konsep-konsep yang tertulis dalam buku. Ia
sedang menanam benih. Benih pemikiran, benih keberanian, dan yang paling
penting, benih masa depan.
Kata-kata seorang pendidik bisa menjadi jembatan, tetapi juga bisa
menjadi jurang. Satu kalimat bisa menguatkan seseorang untuk terus melangkah,
sementara kalimat lain bisa menghentikan langkah itu selamanya.
Berapa banyak dari kita yang masih mengingat satu kalimat sederhana dari
seorang guru di masa lalu—kalimat yang mungkin terdengar biasa, tetapi
diam-diam mengubah cara kita memandang diri sendiri?
“Mungkin kamu bisa lebih dari ini.”
“Kamu punya potensi, jangan menyerah.”
Atau bahkan hanya, “Saya percaya kamu bisa.”
Kalimat-kalimat itu sederhana, tetapi daya hidupnya panjang. Ia tinggal
di dalam ingatan, tumbuh dalam diam, dan suatu hari menjadi alasan seseorang
untuk bangkit kembali.
Di tengah tuntutan kurikulum, administrasi, dan berbagai beban sistem
pendidikan, sering kali peran kemanusiaan dalam pendidikan mulai terkikis. Guru
dan dosen dituntut untuk menyelesaikan target, memenuhi standar, dan mengejar
capaian. Tanpa disadari, ruang untuk merawat hati mulai menyempit.
Padahal, pendidikan yang sejati tidak pernah lahir dari tekanan. Ia
lahir dari hubungan. Hubungan antara pendidik dan peserta didik. Hubungan yang
dibangun atas dasar kepercayaan, penghargaan, dan kepedulian.
Seorang mahasiswa mungkin lupa rumus yang diajarkan dosennya. Seorang
siswa mungkin lupa materi yang pernah ia pelajari. Tetapi mereka tidak akan
lupa bagaimana mereka diperlakukan.
Apakah mereka pernah didengarkan? Apakah mereka pernah dihargai? Apakah
mereka pernah merasa bahwa keberadaan mereka berarti?
Pertanyaan-pertanyaan itu jauh lebih penting daripada sekadar nilai di
atas kertas. Karena pada akhirnya, pendidikan bukan hanya mencetak orang
pintar. Ia mencetak manusia.
Di era yang serba cepat ini, tantangan pendidikan semakin kompleks.
Informasi bisa diakses dalam hitungan detik. Pengetahuan tidak lagi menjadi
sesuatu yang langka. Namun justru di sinilah peran guru dan dosen menjadi
semakin penting.
Mereka bukan lagi satu-satunya sumber informasi. Tetapi mereka adalah
penuntun arah. Di tengah banjir informasi, siapa yang membantu siswa dan
mahasiswa membedakan mana yang benar dan mana yang menyesatkan?
Di tengah tekanan hidup yang semakin berat, siapa yang membantu mereka
tetap waras dan tidak kehilangan arah? Di tengah dunia yang sering kali bising
dan penuh tuntutan, siapa yang mengajarkan mereka untuk tetap menjadi manusia
yang utuh? Jawabannya tetap sama: guru dan dosen.
Namun untuk bisa menjalankan peran itu, seorang pendidik tidak cukup
hanya menguasai ilmu. Ia perlu memiliki empati. Ia perlu memiliki kepekaan. Ia
perlu hadir—bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional.
Sebab sering kali, yang dibutuhkan oleh seorang siswa atau mahasiswa
bukanlah jawaban atas soal, tetapi seseorang yang mau mendengarkan.
Merawat harapan bukanlah pekerjaan yang mudah. Ia membutuhkan kesabaran.
Ia membutuhkan ketulusan. Dan yang paling penting, ia membutuhkan keyakinan
bahwa setiap individu memiliki potensi untuk bertumbuh.
Seorang guru yang terus menyemangati muridnya, bahkan ketika murid itu
sendiri telah kehilangan harapan. Seorang dosen yang tetap membimbing
mahasiswanya, bahkan ketika prosesnya lambat dan penuh tantangan. Itulah bentuk
nyata dari merawat harapan.
Harapan tidak selalu tumbuh dalam kondisi ideal. Ia sering kali tumbuh
di tengah keterbatasan. Di ruang kelas yang sederhana. Di tengah fasilitas yang
minim. Di antara berbagai kekurangan.
Namun justru di situlah nilai sejatinya. Sebab harapan yang dirawat
dengan tulus tidak membutuhkan kesempurnaan. Ia hanya membutuhkan kehadiran.
Ada satu hal yang perlu kita sadari: masa depan tidak dibangun dalam
satu hari. Ia dibentuk perlahan, melalui proses yang panjang. Dan dalam proses
itu, peran guru dan dosen sering kali tidak terlihat secara langsung.
Mereka mungkin tidak menyaksikan keberhasilan murid-muridnya di masa
depan. Mereka mungkin tidak tahu sejauh mana pengaruh kata-kata mereka. Namun
itu tidak membuat peran mereka menjadi kecil. Justru sebaliknya.
Seperti benih yang ditanam di dalam tanah, hasilnya mungkin tidak
langsung terlihat. Tetapi suatu hari nanti, ia akan tumbuh. Ia akan menjadi
sesuatu yang besar. Sesuatu yang mungkin melampaui bayangan awalnya.
Dan ketika itu terjadi, mungkin tidak semua orang akan mengingat siapa
yang menanam benih itu. Tetapi benih itu tetap tumbuh. Tetap hidup. Tetap
memberi manfaat. Itulah pendidikan. (bersambung)
