------
PEDOMAN KARYA
Sabtu, 02 Mei 2026
Merefleksi Hari Pendidikan Nasional:
Kurikulum yang
Padat, Apakah Ia Menghidupkan?
Oleh: Siti Suwadah Rimang
(Dosen Universitas Muhammadiyah Makassar)
Di ruang-ruang kelas kita, waktu berjalan begitu disiplin. Jam demi jam
diisi dengan materi, target, dan capaian yang telah tersusun rapi dalam dokumen
bernama kurikulum. Dari pagi hingga siang, bahkan hingga sore, peserta didik
diajak berlari mengejar sesuatu yang disebut “ketuntasan belajar.”
Namun, di tengah semua keteraturan itu, ada satu pertanyaan sunyi yang
jarang benar-benar kita dengarkan: apakah semua ini menghidupkan mereka, atau
justru perlahan mematikan rasa ingin tahu yang paling alami dalam diri manusia?
Kurikulum, pada dasarnya, adalah peta. Ia dirancang untuk menuntun
perjalanan belajar agar tidak kehilangan arah. Namun, dalam praktiknya, peta
itu sering kali berubah menjadi beban yang harus dipikul, bukan petunjuk yang
membebaskan langkah. Materi demi materi ditumpuk, kompetensi demi kompetensi
dikejar, seolah semakin banyak yang diajarkan, semakin berhasil pendidikan
dijalankan.
Padahal, belajar bukan sekadar soal banyaknya yang diketahui, tetapi
seberapa dalam sesuatu itu dipahami dan dirasakan.
Kita mungkin pernah melihat seorang siswa yang mampu menjawab soal
dengan sempurna, namun matanya kosong. Tidak ada rasa takjub. Tidak ada rasa
ingin tahu lebih jauh. Atau seorang mahasiswa yang menyelesaikan tugas dengan
baik, tetapi melakukannya hanya karena kewajiban, bukan karena kesadaran.
Mereka hadir secara fisik, tetapi jiwanya seperti tertinggal di tempat lain.
Di titik inilah kita perlu jujur mengakui: kepadatan kurikulum tidak
selalu berbanding lurus dengan kebermaknaan belajar.
Ketika setiap pertemuan diburu oleh target, ruang untuk bertanya sering
kali menjadi sempit. Ketika setiap evaluasi menuntut jawaban yang benar,
keberanian untuk berpikir berbeda perlahan menghilang. Dan ketika nilai menjadi
ukuran utama, proses belajar kehilangan ruhnya sebagai perjalanan menemukan
diri.
Kita terlalu sibuk memastikan bahwa semua materi tersampaikan, hingga
lupa memastikan apakah semua itu benar-benar sampai. Bukan hanya ke kepala,
tetapi ke hati.
Lebih jauh lagi, kurikulum yang padat sering kali mengabaikan kenyataan
bahwa setiap peserta didik adalah manusia yang utuh dengan latar belakang,
emosi, dan ritme belajar yang berbeda.
Mereka bukan wadah kosong yang bisa diisi dengan kecepatan yang sama.
Ada yang membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami, ada yang perlu ruang
untuk bertanya, ada pula yang sedang berjuang dengan hal-hal yang tak terlihat
di balik bangku kelas.
Namun, sistem yang terlalu fokus pada penyelesaian materi jarang memberi
ruang untuk itu. Yang penting selesai. Yang penting tuntas. Yang penting sesuai
jadwal.
Dan tanpa kita sadari, pendidikan yang seharusnya menjadi tempat
bertumbuh, berubah menjadi ruang yang menuntut tanpa benar-benar memahami.
Pertanyaannya kemudian bukan lagi seberapa lengkap kurikulum kita,
tetapi seberapa manusiawi cara kita menjalankannya.
Apakah kita memberi ruang bagi peserta didik untuk merasa? Untuk
bertanya tanpa takut salah? Untuk gagal tanpa kehilangan harga diri? Untuk
menemukan makna dari apa yang mereka pelajari?
Karena pada akhirnya, yang akan mereka bawa dalam hidup bukanlah seluruh
isi buku yang pernah diajarkan, tetapi pengalaman belajar yang mereka rasakan.
Apakah mereka merasa dihargai, didengar, dan dipahami? Atau justru sebaliknya,
mereka merasa kecil, tertekan, dan sekadar menjadi angka dalam sistem?
Kurikulum yang baik seharusnya tidak hanya mengatur apa yang dipelajari,
tetapi juga memberi ruang bagi bagaimana dan mengapa proses itu dijalani. Ia
tidak hanya mengejar keluasan materi, tetapi juga kedalaman makna. Ia tidak
hanya menuntut pencapaian, tetapi juga merawat kemanusiaan.
Mungkin kita tidak bisa serta-merta mengubah seluruh sistem. Namun, kita
selalu punya pilihan kecil dalam setiap pertemuan di kelas: memilih untuk tidak
hanya mengajar, tetapi juga mendengarkan. Tidak hanya menjelaskan, tetapi juga
memahami. Tidak hanya mengejar target, tetapi juga menjaga harapan.
Karena pendidikan yang benar-benar hidup bukanlah yang paling padat,
tetapi yang paling mampu membuat manusia di dalamnya merasa hidup. Dan di
sanalah, sebenarnya, arah pendidikan seharusnya bermula.
Hilangnya Sentuhan Kemanusiaan
Ada sesuatu yang perlahan memudar dari ruang-ruang belajar kita. Ssesuatu
yang tidak tertulis dalam kurikulum, tetapi justru menjadi ruh dari seluruh
proses pendidikan itu sendiri: kemanusiaan.
Di dalam kelas, materi tersampaikan dengan rapi. Slide demi slide
dipresentasikan dengan sistematis. Target pembelajaran tercapai, silabus
dituntaskan, nilai direkap. Dari luar, semuanya tampak berjalan sebagaimana
mestinya.
Namun jika kita berani menengok lebih dalam, ada kekosongan yang sulit
dijelaskan. Sebuah jarak yang tak kasat mata antara pendidik dan peserta didik.
Kita mungkin masih mengajar, tetapi apakah kita masih benar-benar hadir?
Di tengah tuntutan administrasi, capaian akademik, dan tekanan untuk
“mengejar ketertinggalan”, hubungan antara manusia dalam pendidikan perlahan
berubah menjadi hubungan formal semata.
Guru dan dosen berdiri sebagai penyampai materi, sementara siswa dan
mahasiswa duduk sebagai penerima informasi. Tidak lebih. Tidak kurang.
Seolah-olah pendidikan hanyalah soal memindahkan pengetahuan dari satu kepala
ke kepala yang lain.
Padahal, setiap peserta didik datang dengan cerita yang berbeda. Ada
yang belajar sambil menahan beban keluarga, ada yang berjuang melawan rasa
tidak percaya diri, ada pula yang diam-diam kehilangan arah namun tidak tahu
harus bertanya kepada siapa.
Mereka hadir bukan hanya sebagai “murid”, melainkan sebagai manusia utuh
yang membawa harapan, luka, dan potensi yang tak selalu terlihat, namun
sayangnya, sistem sering kali tidak memberi cukup ruang untuk melihat itu
semua.
Kita terlalu sibuk menilai jawaban mereka, hingga lupa memahami
kegelisahan mereka. Kita terlalu fokus pada kecepatan mereka menangkap materi,
hingga lupa bahwa setiap orang memiliki ritme yang berbeda dalam bertumbuh.
Kita terlalu terpaku pada angka-angka di raport, hingga lupa bahwa tidak semua
hal yang berharga bisa diukur.
Di sinilah sentuhan kemanusiaan itu mulai hilang. Bukan karena kita
tidak peduli, melainkan karena kita tidak lagi punya waktu untuk benar-benar
peduli.
Lebih menyedihkan lagi, kehilangan ini sering tidak disadari. Kita
menganggapnya sebagai hal yang wajar, sebagai konsekuensi dari sistem yang
harus berjalan. Padahal, tanpa kita sadari, kita sedang menciptakan generasi
yang cerdas secara intelektual, tetapi rapuh secara emosional.
Mereka tahu banyak hal, tetapi tidak selalu tahu bagaimana memahami diri
sendiri. Mereka mampu menjawab soal-soal rumit, tetapi kesulitan menjawab
pertanyaan sederhana tentang makna hidup mereka.
Pendidikan yang kehilangan kemanusiaan adalah pendidikan yang kehilangan
arah. Karena sejatinya, pendidikan bukan hanya tentang apa yang diajarkan,
tetapi juga tentang bagaimana seseorang merasa saat belajar. Apakah ia merasa
dihargai? Apakah ia merasa didengar? Apakah ia merasa cukup berarti untuk
diperhatikan?
Hal-hal sederhana seperti menyapa dengan tulus, mendengarkan tanpa
menghakimi, atau memberi ruang untuk bertanya tanpa rasa takut, sering kali
justru menjadi pengalaman belajar yang paling membekas. Bukan rumus yang
diingat, tetapi perasaan bahwa dirinya pernah dipahami.
Maka, mungkin yang perlu kita lakukan bukanlah perubahan besar yang
rumit. Kadang, yang dibutuhkan hanyalah keberanian untuk kembali melihat
peserta didik sebagai manusia, bukan sekadar angka atau capaian.
Seorang guru yang berhenti sejenak untuk bertanya, “Apa kabar hari ini?”,
dengan sungguh-sungguh, bisa menjadi lebih berarti daripada satu jam penjelasan
materi yang sempurna. Seorang dosen yang memberi ruang bagi mahasiswanya untuk
berbicara, bisa membuka pintu bagi keberanian yang selama ini terkunci.
Sentuhan kemanusiaan tidak membutuhkan kurikulum baru. Ia hanya
membutuhkan kesadaran baru.
Kesadaran bahwa di balik setiap meja belajar, ada hati yang ingin
dimengerti. Bahwa di balik setiap tugas yang dikumpulkan, ada usaha yang tidak
selalu mudah. Dan bahwa di balik setiap kegagalan, ada seseorang yang
sebenarnya hanya butuh sedikit lagi dukungan untuk bangkit.
Jika pendidikan adalah tentang membentuk manusia, maka kemanusiaan tidak
boleh hilang dari dalamnya.
Sebab pada akhirnya, yang akan diingat oleh peserta didik bukan hanya
apa yang kita ajarkan, tetapi bagaimana kita memperlakukan mereka sebagai
manusia. Dan dari situlah, arah pendidikan kita sebenarnya ditentukan, bukan
oleh kurikulum yang kita susun, tetapi oleh hati yang kita hadirkan. (bersambung)
