-----
PEDOMAN KARYA
Senin, 29 Juni 2026
Presiden Prabowo Memori Orde Baru
Oleh: Maman A. Majid Binfas
(Sastrawan, Akademisi, Budayawan)
Manakala diksi memori dimaknai secara
psikologi, maka ia adalah proses kognitif yang mencakup kemampuan untuk
menerima, menyimpan, mempertahankan, dan memanggil kembali informasi atau
pengalaman masa lalu.
Memori sangat krusial karena memberikan
durasi kesinambungan identitas, memungkinkan untuk belajar dari jejak masa
lalu, dan merespons situasi saat ini bah mode mirror / cermin kehidupan.
Sekalipun, secara harfiah dalam istilah
memori dunia teknologi dan fotografi, mengenai mode mirror / cermin merupakan
fitur yang menampilkan atau menghasilkan gambar yang dipantulkan bah lagi
bercermin.
Bila kita bercermin di mana sisi kiri dan
kanan gambar akan bertukar posisi, dan boleh dibilang bahwa cermin memang telah
membohongi kita. Namun, kita tetap saja selalu bercermin, sekalipun memori
polesan / bungkusan dibohonginya dengan menukar posisi bayangan yang
sesungguhnya.
Sekalipun memori wajah dengan bungkusan
betonan oleh para pihak pendukung dan pejabat di pemerintahan Prabowo di dalam
menepis anggapan, bahwa pemerintahannya merupakan bentuk “reinkarnasi” Orde
Baru / Orba. Bahkan Menteri HAM, Natalius Pigai, melolong dengan halusinasinya
guna menepis isu militerisasi dan kembalinya Orba hanyalah sebuah imajinasi
belaka yang terlalu dibesar-besarkan.
Pemerintahan saat ini menegaskan bahwa
mereka lahir dan berjalan melalui mekanisme pemilihan umum yang sah dan
demokratis sehingga meraih memori jabatan yang diembannya.
Pada 10 Mei 2026, saya menggores tentang
memori “Presiden Prabowo, Dijilatin Demi Jabatan” di Kompassindonesia news;
Mabesnews, dan Pedoman Karya. Di dalam penggalan goresan akan dinukilkan
kembali secara singkat mengenai secuil jejak Presiden Prabowo, yakni sbb.
“Mesti disadari juga, sesungguhnya memori
Presiden Prabowo merupakan buah plus atas jasa dari mantan mertuanya Presiden
Soeharto sebagai ingroup Orde Baru, memang tak bisa dipungkiri menjadi
memorinya. Terutama, saat jadi anggota TNI sehingga pangkatnya bisa melesat
luar biasa hingga mengalahkan senior_seniornya saat itu_yang telah lama
ber_antrian guna menanti peringkatnya. Bahkan, boleh dikatakan memori jejak
Prabowo, juga buah yang telah berguguran jatuh, dan mekar kembali dari jasa
reformasi yang dikibarkan dengan lokomotif utama oleh Prof. Dr. Amien Rais.
Kini, mesti siumanlah jangan pula para
pengikutnya lupa memori akan kulitnya, sehingga berlebihan pikun hingga
berdurasi daratan juga berlautan akan memori tapak jejak sejarah.
Manakala, kini Prabowo telah melesat jadi
Presiden, bukan berarti dibebaskan dari otokritik, baik bersifat hoaks atau
hots dialamatkan kepadanya, demi jabatan mesti dijilatin. Namun, diharapkan
tetap jantan menerima otokritik sebagai memori Presiden Republik Indonesia
untuk tetap dikenang jantan.
Presiden Mesti Jantan
Zaman telah serba terbuka begini tak perlu
gunakan diksi pepatah lama, “lempar batu sembunyi tangan”. Justru diksi
demikian akan tetap dipatahkan dengan logika transparan saat ini.
Kalau jantan sebut saja, bila ada yang
membiayai demo, seperti dioral oleh Presiden Prabowo
Tak perlu bereinkarnasi gaya Orde Baru
lagi hingga terkesan, itu lagu lama yang bermain omon-omon di dalam adu
dengkulan
Sedikit dikit // tuduh sana // tuduh sini
Sedikit dikit // tangkap sini // tangkap
sana
Sedikit dikit // teror sini // teror sana
Bila, Presiden Prabowo masih dikesankan
jantan // ya sebutin saja // gitu aja repotin // Tak mesti dideklarasikan di
dalam orasinya // justru berbuah memori Simalakama dalam pemaknaannya
Simalakama Didemo
Didemo // isu dialihin jadi adu domba // politik
belah bambu berbuah simalakama
antara mahasiswa dengan maha_sewa
didagelani demo
Didemo // isu dialihin jadi adu domba // politik
belah bambu berbuah simalakama
antara Tentara beralih fungsi dengan
polisi didagelani menangani demo
Didemo // isu dialihin jadi adu domba // politik
belah bambu berbuah simalakama
antara Presiden Prabowo dengan Jokowi
berkongkalikongan ijazah palsu didagelani alihin isu demo
Didemo // isu dialihin jadi adu domba // politik
belah bambu berbuah simalakama
antara janji janji ilusian dengan orasi
berapi api penuh memori emosi hampa solusi
Janji Penuh Emosi
Janji janji penuh emosi melimpah ruah juga
tumpah hampa karuan dengan sumpah serapah menimpa negeri
Janji janji penuh emosi berhamburan di
mana mana tanpa bukti nyata menjadi lembaran hampa yang menghiasi negeri
Janji janji penuh emosi terus melolong
dengan retorika lendiran melompong dipertontonkan tanpa moral kemaluan akan
memori jenis kelamin idealisme oleh para pemimpin negeri
Idealisme Sejati
Bila nilai idealisme sejak dini telah
dinodai dengan politik belah bambu
Maka, fakta idealisme nan dijunjung tinggi
pun terbelenggu jadi debu berhamburan hampa makna apapun
Juga, solusi idealisme pun jadi ilusian //
berarti sama mawon bah ampasan saja
Idealisme, itu harga diri sejati berjiwa
nurani, sekalipun maut kematian mesti berhadapan
Idealisme, logika memang cerdas juga mesti
dialogis dikedepankan, menjadi memori reformasi diri
Reformasi Lagi
Dulu, Orde lama berawal gejolak penculikan
para Jenderal oleh PKI dikenal dengan Revolusi akhirnya diganti Presiden
Kemudian, Orde Baru bergaya antikritikan
dibantai dengan tindakan petrus serba diculik para aktivis untuk melenyapkan.
Lalu bangkit istilah reformasi dan
akhirnya Presiden mundur dengan sendirinya
Kini, Orde Reformasi_saling bebas
otokritik berhingga kebablasan, sekalipun hampa argumentasi yang terbalasin
dengan para penjilatan pun diorganisirin
Dan mungkin akhirnya jua, boleh jadi maut
hitam reformasi jilid II akan berkalam
Aduhai, Negeri tercinta kasihan dikau,
selalu dirundung dengan jejak Kelam oleh para hirarki oligarki yang berlogika
ampas ceboan_hanya bertumpukkan dengan demokrasi ala harakiri jilatan jadi
andalan diqurbanin
Qurban, Kematian Bukan Bencana
Bila terjadi sebagian dari kematian
barengan yang menimpa, bukan diidentikkan dengan bencana semata.
Tetapi, boleh jadi, ada bagian dari
suratan semesta yang mesti diterima, karena ulah perbuatan yang menerobos paksa
akan jalur yang telah dilarang oleh Tuhan.
Sekalipun, memang ada juga sebagiannya
dikarenakan bencana alam yang ditakdirkan sebagai ujian, mesti direnungkan
dengan logis dengan keyakinan tulen.
Hal demikian tidak lain, guna mengkoreksi
diri agar sadar sebagai hamba Tuhan yang serba terbatas, dan penuh kelemahan di
dalam mengarungi akan durasi di dalam ber_”fantasyiruu fil ardhi” pada
kehidupan yang fana ini berkalam.
Termasuk, dilema kematian hewan di dalam
pemaknaan qurban beresensi ibadah sebagai hamba secara personal yang lillahi
ta'ala berkalam.
Becana dan atau berqurban digunakan dana
APBN oleh Presiden Prabowo tanpa berkalam dari jejak para Nabi sebagai panutan
yang shahih di dalam bersalam tentu memori reinkarnasi yang karam.
Memori Reinkarnasi Rupiah ‘98
Rupiah semakin melorot, tentu tidak tutup
kemungkinan terjadi memori reinkarnasi reformasi '98 akan berkibar lagi
Bila dolar jadi kiblat, dikarenakan memori
tahun 1998 Rupiah sungguh anjlok, berkisaran Rp16.000 hingga Rp17.000.
Dan bahkan kini, justru lebih merosot di
level Rp17.666 per USD.
Sekalipun, diocehin rakyat di pelosok
dusun tak menggunakan dolar, tetapi itu bukan jalan keluar yang terbaik sebagai
memori pemimpin bangsa sejati sebagaimana diharapkan.
Termasuk, memori niat baik yang berdurasi
otokritik kepada Presiden Prabowo beserta jajarannya yang lagi bertegangan
tinggi, dan mungkin berlebihan khawatirin akan terjadi arus reformasi jilid dua
akan berkibar dan berkalam.
Jadi, sebaiknya Presiden beserta jajaran
tidak perlu berlebihan host untuk membalas diksi otokritik apapun. Akan lebih
elok jujur apa adanya sehingga memori diksi tidak berkeliaran. Tentu, harapan
bersama, adalah tidak lain agar memori Bangsa Indonesia akan lebih berkibar
dengan benar dan jantan.
Memori yang benar-benar kepada akar
keyakinan yang “Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur” / Negeri yang baik
(subur/makmur) yang diridhoi Tuhan_QS. Saba' :15, untuk tetap bersalam tanpa
karam.
Jadi, sekalipun kini Prabowo telah jadi
Presiden di era reformasi, namun tidak boleh juga melupakan sama sekali akan
jejak memorinya sebagai mode mirror dari produk Orba yang telah berjasa
padanya_sekalipun, mungkin tidak tereinkarnasi 100 derajat bersalaman. Wallahu a’lam.***
